
"Hanna, kamu mau kemana?" Tanya Nayla saat melihat Hanna buru buru membereskan bukunya saat kelas telah usai.
"Aku mau makan siang sama A' Arlan." jawab Hanna tanpa melihat Nayla.
"Yahh, padahal aku mau mengajak mu cari buku." Kata Nayla memanyunkan bibirnya.
"Hehehe sorry Nay, aku mau ketemu sama camer, doain yah." Ucap Hanna tersenyum ke arah Nayla.
"Huufftt ya sudahlah, semoga lancar deh." kata Nayla sedikit kecewa.
"Udah sih ajak laki kamu, aku yakin dia pasti mau." ucap Hanna.
"Hemm ya sudahlah aku samperin aja ke Hotel." kata Nayla.
"Ya udah yuk ke depan bareng, apa kamu mau bareng sekalian? Kayaknya kita searah." Ucap Hanna.
"Kamu bawa mobil?" Tanya nayla.
"Enggak, tapi di jemput A Arlan, dia sudah di depan makanya aku buru- buru." Ucap Hanna.
"Ya udah lah aku nebeng, itung itung hemat ongkos." Ucap Nayla terkekeh lalu ia segera masuk ke dalam mobil Arlan.
Setelah sampai di Hotel CNN, Nayla pun segera turun dan menuju ruangan Chen yang berada di lantai paling atas.
Ting!
Pintu lift terbuka dan Nayla segera keluar dari lift lalu berjalan santai menuju ruangan Chen. Namun saat Nayla hendak mendorong pintu yang tidak tertutup rapat itu, Nayla mendengar sayup sayup ucapan Chen sedang berbincang dengan seseorang.
"Bahwa itu anakku?" ucap Chen yang di dengar oleh Nayla membuat hatinya bergemuruh dan tanpa sadar air matanya menetes begitu saja.
__ADS_1
Brak!
Nayla langsung membuka pintu dengan kencang hingga membuat ketiga manusia dia dalam ruangan itu terkejut dan langsung menatap nya, termasuk Chen.
"Sa—sayang," panggil Chen sedikit terkejut dan langsung berjalan ke arah Nayla.
"Sayang dengerin dulu penjelasan a—" ucap Chen berusaha menjelaskan, namun Nayla tidak menjawab nya. Ia malah berjalan melewati Chen sambil matanya menatap datar ke arah Sisil yang ia tau bahwa itu mantan kekasih suaminya.
"Berapa bulan?" tanya Nayla datar saat sudah berada di hadapan Sisil.
"Enam minggu," ucap Sisil singkat.
"Selamat," ucap Nayla dengan tersenyum getir dan mengulurkan tangan nya ke Sisil.
Choi dan Chen pun saling menatap bingung dan syok dengan apa yang Nayla lakukan.
"Se bajingan apapun orang tua nya, anak itu tidak bersalah. Mau semurah apapun juga ibunya anak itu tetap suci dan bersih. Lahirkan anak itu dan besarkan. Jangan jadikan dia seperti mu," ucap Nayla dingin membuat hati Sisil terasa tertusuk ribuan jarum, begitupun dengan Chen.
"Dan kamu Chen, tanggung jawab lah bila memang itu anak kamu!" ucap Nayla datar.
"Sayang, apa maksud kamu?" tanya Chen tak habis pikir.
"Apa?" tanya Nayla balik, percayalah ia sedang mencoba menahan air mata nya agar tak tumpah di depan Chen dan Sisil.
"Mengapa kau menyuruh ku menikahinya!" Seru Chen dengan kesal.
"Bisa bisanya kamu menyuruh suami kamu menikahi perempuan lain, dan itu adalah mantan kekasih suami kamu. Nayla kau gila!" pekik Chen emosi.
"Apa ini cara kamu agar bisa pergi dariku hah! Apa kau tidak bersungguh sungguh mencintaiku?" Tanya Chen dengan suara meninggi.
__ADS_1
"Hahaha kamu lucu Chen, sangat lucu." Ucap Nayla tertawa lalu ia mendongakkan wajahnya ke atas agar air matanya tak tumpah.
"Bisa bisa nya aku menyuruh suami ku menikahi mantannya? Hahaha lalu bagaimana dengan mu? Bisa bisa nya kau menghamili mantan pacar kamu disaat kamu sudah memiliki istri!" Teriak Nayla pada akhirnya dan air mata nya lolos. Saat itu juga Chen langsung diam dan menatap wajah Nayla dengan lekat.
Hati Chen begitu sakit saat melihat istri nya menangis namun masih berusaha tegar seperti ini. Sedangkan Choi dan Sisil hanya diam melihat sepasang suami istri yang sedang bertengkar.
(Emang sisil gak ada akhlak yah) 🙈🤣
"Ceraikan aku dan menikahlah dengan nya. Toh perjanjian kita hanya tinggal 3 minggu lagi usai kan?" tanya Nayla lirih membuat Chen mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Aku rasa ini memang jawaban dari Tuhan bahwa kita memang tidak berjodoh. Terimakasih sudah pernah membuat aku merasakan bahagia walau sesaat," ucap Nayla lalu ia segera melangkahkan kaki nya pergi.
"Nayla!" Teriak Chen berusaha mengejar Nayla namun tangannya langsung di cekal oleh Sisil.
"Lepas!" Bentak Chen.
"Enggak Chen! Kamu harus menikahi ku, ini anak kamu. Dan istri kamu sudah meminta cerai jadi tidak ada alasan untuk kamu tidak menikahi ku." Ucap Sisil membuat amarah Chen semakin memuncak.
"Jangan pernah berpikir bahwa aku dan Nayla akan bercerai. Karena sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan nya apalagi menikahi mu. Cihh mimpi!" Ucap Chen dingin lalu ia segera menepis tangan Sisil dan mengejar Nayla.
"Chen!" Teriak Sisil menangis.
"Kan ku sudah kata, percuma! Dan kau lihat betapa baik nya Nayla? Bahkan dia rela mengorbankan suaminya demi anak kamu."
"Apa kau pikir pantas di bandingkan dengan Nayla? Sangat jauh Sil, kau bagaikan batu yang keras tak berharga, sedangkan Nayla? Dia itu berlian. Permata yang begitu berharga dan memiliki hati seluas samudra." Ucap Choi terkekeh sendiri karena meledek Sisil.
"Selamat menikmati kesengsaraan mu." Ucap Choi lagi lalu ia juga memilih pergi meninggalkan Sisil yang tengah menangis di lantai.
Choi sudah mendengar penjelasan dari Sisil, ia memang awalnya sangat terobsesi ingin kembali dengan Chen dan ia rela melakukan segala cara untuk mendapatkan Chen lagi. Hingga akhirnya ia berusaha membuat dirinya hamil agar Chen bisa menikahinya. Dan ia tidak menyangka bahwa Nayla akan berkata seperti itu, Sisil memang memiliki niat menghancurkan rumah tangga Chen dan Nayla. Namun Sisil juga punya hati, dan hatinya begitu terenyuh saat mendengar Nayla berkata seperti tadi. Kini dirinya begitu menyesal karena telah menjebak Chen.
__ADS_1