
Bonus malam minggu πββοΈπββοΈπββοΈ
.
.
.
.
Sedari tadi Chen terus berjalan mondar mandir di depan pintu ruangan Nayla. Ia begitu panik dan khawatir, ia terus merutuki kebodohan dan kesalahan nya. Sungguh ia menyesal dan baru menyadari kesalahan nya sangatlah fatal.
Jangan lupakan nasib Billy, saat ini ia masih mengurus Sisil, namun Chen sudah menunggu saat yang tepat untuk menghajar nya. Karena menurut Chen, Billy tidak lah setia, mengapa ia diam-diam malah bersekongkol dengan orang tuanya bahkan sampai menyembunyikan hal sebesar ini. Tentu saja kabar tentang kehamilan Nayla, Chen begitu terkejut kala melihat Nayla pendarahan dan kini kondisi nya kembali tidak stabil.
Andai ia tau sedari awal bahwa Nayla tengah mengandung, tentu saja ia tidak akan meninggalkan Nayla ke paris. Dan juga setidaknya Chen waktu itu sudah mengajak Nayla namun Nayla tidak mau ikut. Andai waktu itu Nayla juga mengatakan alasan mengapa dirinya tidak bisa ikut, tentu Chen tidak akan jadi pergi dan akan lebih mengutamakan Nayla.
__ADS_1
Nasi sudah menjadi bubur, kini anak fan istri nya sedang berada di ambang kematian akibat ulah nya. Chen terus menangisi kesalahan nya, ia menyesal. Sangat menyesal ...
'Sayang, bertahanlah ku mohon ... Aku yakin kau adalah wanita terkuat dan terhebat, ku mohon bertahan ... ' gumam Chen dalam hati.
'Maafkan Dad mu ini Nak, Dad mohon kamu pasti kuat. Ayo kamu harus bisa kuat seperti Mom mu."
Ratna dan Zainal pun tak luput memandang ke arah Chen yang terlihat sangat khawatir dan merasa bersalah kepada anaknya. Entah mengapa hati Ratna dan Zainal sedikit tersentuh oleh nya. Namun mereka masih takut bila suatu saat Chen akan menyakiti putrinya lagi.
Ceklek!
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Chen menggebu.
"Alhamdulillah kondisi nya sudah stabil," ucap Dokter tersebut, membuat hati semua yang mendengar nya merasa lega.
"Tapiβ" kata Dokter menghela napasnya dengan pelan membuat semua perhatian kembali tertuju ke arah dokter.
__ADS_1
"Tapi apa Dok? anak kami baik-baik saja kan?" tanya Chen lagi.
"Saya mohon, jangan buat Nona Nayla stres, karena kondisi kandungan nya sangat lemah. Sedikit saja dia stres lagi maka saya tidak bisa menjamin kandungan nya masih bisa selamat," ujar Dokter pelan membuat tubuh Chen langsung luruh ke lantai.
"Bolehkah saya masuk ke dalam Dok?" tanya Chen lirih sambil mendongakkan kepala nya ke atas menatap wajah Dokter dengan sendu.
"Silahkan, tapi saya sarankan agar satu per satu yang masuk. Karena pasien butuh banyak istirahat," ujar Dokter lalu pergi.
Chen memasuki ruangan Nayla dengan tubuh sedikit bergetar, hatinya begitu sakit melihat tubuh sang istri yang di penuhi oleh alat medis.
Perlahan ia duduk kan tubuhnya di kursi samping Nayla. Chen pun mulai meraih tangan Nayla yang tidak di infus, ia ciumi tangan itu hingga membuat air matanya kembali luruh.
"Sayang, bangunlah," ucap Chen pelan, lalu ia mengusap perut Nayla dengan lembut.
"Maafkan Dad yang tidak mengetahui kehadiran kamu sayang, Dad janji akan selalu menjaga kamu. Dad mohon bertahan lah demi Mom dan Dad. Jadilah anak yang kuat, Dad akan melakukan apapun untuk kalian berdua. Dad janji akan menuruti semua kemauan kalian berdua asal kalian tetap disisi Dad, Dad mohon," ucap Chen dengan bergetar menahan tangis.
__ADS_1