Jodohku Seorang Cassanova

Jodohku Seorang Cassanova
Bonchap II


__ADS_3

"Dorr!" Pekik Cahaya mengejutkan Saka dari balik pintu di kamar.


"Kakak!" seru Saka kesal namun ia juga langsung memeluk Cahaya.


"Saka pikir kakak gak jadi pulang," ucap Saka terisak.


"Hey, kamu anak laki laki mengapa cengeng hahaha," ucap Cahaya meledek Saka.


"Habisnya dari tadi Saka mencari Kakak sama Emak dan Abah tapi gak ada, taunya Kakak bersembunyi di sini," ujar Saka cemberut sembari mengusap air matanya.


"Hahaha maaf, Kakak hanya ingin memberikan kejutan untuk kamu," ucap Cahaya.


"Emak dan Abah kemana?" tanya Saka.


"Emak dan Abah sedang pergi kondangan, sejak tadi pagi," jawab Cahaya. "Dimana Mom sama Dad?" tanya Cahaya.


"Mereka masih di bawah," jawab Saka.


"Kalau begitu ayo turun," ujar Cahaya lalu segera menarik tangan Saka menuju lantai bawah.


"Mom, Dad," panggil Cahaya kala melihat Nayla dan Chen.


"Uhh putri Mom cantik sekali," ucap Nayla tersenyum langsung memeluk Cahaya.


"Iya dong, kan anak Mom tentu saja secantik Mom," ucap Cahaya terkekeh.

__ADS_1


"Yah Kakak memang secantik Mom, dan Saka setampan Dad, iya kan Dad?" ucap Saka langsung duduk di pangkuan Chen.


"Tentu saja Sayang, kita berdua paling tampan disini," Kata Chen.


"Ya ya ya, kalian berdua memang paling tampan, tapi mom berharap kau tidak mengikuti jejak Dad kamu," ucap Nayla memutar bola matanya jengah.


"Hahaha," Chen hanya tertawa menanggapi ucapan istri tercinta nya.


"Sayang, berapa lama kamu libur?" tanya Nayla sambil mengusap kepala Cahaya yang kini sudah berkerudung.


"Hemm sepertinya tiga minggu," jawab Cahaya.


"Bagaimana kalau kita ke Jakarta," ujar Nayla lembut.


"Emm Cahaya disini saja Mom," ucap Cahaya lirih, tentu saja Chen dan Nayla tau mengapa Cahaya tidak pernah mau ke Jakarta lagi. Itu karena ia takut akan Oma Yeon.


"Lebih baik besok saja, kau baru sampai nanti kau kelelahan Saka," ucap Cahaya.


"Huufftt baiklah, oh ya Dad Saka ingin kuda putih," kata Saka memohon kepada Chen.


"Bukan kah itu sudah ada kuda dua?" tanya Chen.


"Iya tapi kan warna nya coklat semua, Saka mau kuda putih buat nanti Saka boncengin tuan Putri Saka," entah mengapa tiba tiba Saka menginginkan kuda putih saat mengingat wajah seseorang.


"Mom seperti nya putra Mom sudah puber," ucap Cahaya terkekeh kala melihat wajah sang adik memerah.

__ADS_1


"Kakak," kata Saka malu.


"Woaahh benarkah?" tanya Chen ikut menggoda putra nya.


"Dad, jangan dengarkan ucapan Kakak, dia itu sok tau," ucap Saka cemberut.


"Anak Mom sudah besar rupanya," kata Nayla terkekeh.


"Mom, mengapa kau ikut ikutan menggodaku?" Ucap Saka merengek membuat semua semakin tergelak.


Hari semakin larut, namun Cahaya belum juga bisa memejamkan matanya. Akhirnya ia memilih untuk keluar dari kamar nya dan membuka pintu balkon.


"Tuhan, izinkan Cahaya selalu bahagia seperti ini, izinkan Cahaya untuk membalas semua kebaikan Mom Nayla dan juga Dad Chen. Cahaya juga ingin terus bersama dengan adik Cahaya. Jangan pisahkan kami Tuhan," gumam Cahaya pelan sambil menatap bintang di langit.


"Amin," ucap seseorang dari arah belakang membuat Cahaya seketika langsung membalikkan tubuhnya.


"Mom!" kata Cahaya terkejut.


"Kenapa kau belum tidur hem?" tanya Nayla lembut.


"Entahlah Mom, Cahaya belum bisa tidur," jawab Cahaya pelan.


"Sayang, apapun yang terjadi kamu tetap anak Mom dan Dad, oke!" ujar Nayla.


"Terimakasih karena Mom sudah mau menerima Cahaya," ucap Cahaya langsung memeluk Nayla.

__ADS_1


"Kamu anak Mom, sampai kapan pun!" ujar Nayla tegas. Akhirnya Nayla dan Cahaya menghabiskan waktu dengan bercerita di balkon hingga tengah malam.


__ADS_2