
"Tuan, anda tidak apa-apa?" Tanya Billy saat melihat wajah Tuan nya pucat.
"Tidak," jawab Chen dengan cepat, lalu ia kembali menyandarkan kepalanya ke kursi.
"Oh ya Tuan, ini berkas yang harus anda tanda tangani. Dan juga besok Tuan Arya dari Pranata Grup ingin Tuan ke sana lagi untuk membahas proyek kemarin," ucap Billy memberikan beberapa berkas kepada Chen.
"Hemm," Chen hanya menjawab dengan deheman saja tanpa membuka matanya.
"Tuan, anda yakin tidak apa-apa?" Tanya Billy lagi karena dia khawatir Chen sakit.
"Keluarlah, aku akan istirahat sebentar," ucap Chen, lalu Billy segera keluar dari ruangan Chen.
"Billy," panggil Chen saat Billy hendak membuka pintu.
"Iya Tuan," jawab Billy kembali membalikkan tubuhnya.
"Saya ingin makan Tahu gejrot. Kamu carikan," kata Chen sambil memijit pelipis nya.
"Hah! Tahu? Tahu apa Tuan?" Tanya Billy menggaruk tengkuknya.
"Tahu gejrot," ucap Chen lagi, namun Billy masih tidak mengerti.
__ADS_1
"Dimana saya akan mencarinya Tuan? Dan bentuknya seperti apa itu?" Tanya Billy yang memang belum pernah mendengar nama makanan itu.
"Namanya Tahu ya pasti bentuknya seperti Tahu!" Ucap Chen kesal.
"Tapi jenis tahu ada banyak Tuan, dan saya baru mendengar ada nama makanan tahu, tahu apa itu tadi. Maafkan saya Tuan," ucap Billy menunduk.
"Kau punya Hp Bill, gunakan Hp kamu dan segera cari makanan itu. Ah dan satu lagi, saya ingin yang pedas!" Ucap Chen, membuat Billy segera pergi mencari makanan yang di maksud Tuan Chen. Meskipun Billy tidak tau apa dan bagaimana bentuk makanan itu.
Sebenarnya Chen juga tidak tau bagaimana rasa makanan itu, dia tau makanan itu karena dulu Nayla pernah mengajaknya makan di pinggir jalan. Tentu saja Chen tidak makan itu, dia hanya melihat Nayla yang makan dengan lahap dan sampai menangis karena kepedesan. Dan kini entah mengapa tiba-tiba dirinya sangat menginginkan makanan itu.
—
"Nay, balik sekarang?" Tanya Hanna menghampiri kubil Nayla.
"Kuy," ucap Nayla lalu ia membereskan barang-barang nya.
"Nay, mau makan dimana?" tanya Hanna saat mereka sudah di dalam mobil Hanna.
"Hem pengen ke mall Han," kata Nayla seperti biasa selalu memasang wajah memelas nya.
"Haisss," Hanna memberengut kesal namun juga menuruti kemauan Nayla.
__ADS_1
"Kamu memang terbaik Han," ucap Nayla senang.
Nayla dan Hanna kini sudah berada di salah satu Mall yang tak jauh dari kantor Pranata Grup.
Nayla mengajak Hanna memasuki salah satu restauran korea yang belum lama buka di mall tersebut.
"All you cant eat?" tanya Hanna dan Nayla langsung mengangguk.
"Eh gimana kalau ajak Chaca?" Tanya Hanna.
"Hemm coba saja telfon dia. Paling dia sibuk," kata Nayla sambil memilih bahan bahan makanan.
Beberapa saat kemudian Hanna sudah selesai menelfon Chaca ia kembali menghampiri Nayla yang tampak kesusahan membawa beberapa tempat berisi bahan makanan yang akan mereka masak.
"Astaga Nay, banyak banget!" pekik Hanna.
"Aku penasaran Han, kita cicipi satu-satu. Udah hari ini aku yang traktir," ucap Nayla santai. "Ayo buruan bantu bawain," imbuhnya.
Hanna tak hentinya menatap Nayla dengan horor yang sedari tadi fokus dengan makanan nya.
Hanna tidak menyangka mengapa semua teman teman nya pada rakus saat berbadan dua. Apakah dirinya nanti juga begitu? batinnya.
__ADS_1