Jodohku Seorang Cassanova

Jodohku Seorang Cassanova
Bonchap III


__ADS_3

"Kenapa belum tidur hem?" tanya Chen yang tiba-tiba memeluk Nayla dari belakang.


"Astaga kamu ini," pekik Nayla terkejut dan spontan memukul bahu suaminya.


Cup


Sebuah ciuman mendarat dengan sempurna di pipi kanan Nayla, membuat sang empunya merona karenanya.


"Sayang, lihat deh bintangnya, bagus yah?" tanya Nayla sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.


Saat ini, keduanya tengah berdiri di balkon kamarnya, menikmati pemandangan langit berbintang, di temani hembusan angin malam.


"Lebih indah kamu," ucap Chen berbisik di telinga Nayla.


"Gombal, udah tua juga!" saut Nayla cemberut namun juga tersenyum senang.


"Sayang, kelak aku ingin menjadi salah satu bintang yang bersinar di sana. Aku ingin, bila saat itu tiba kamu masih bisa menikmatinya dari sini," ucap Nayla tiba-tiba sambil tersenyum menatap langit berbintang.


"Apaan sih? aku gak suka kamu bicara seperti itu!" kata Chen tiba tiba melepaskan pelukannya dan membalik tubuh sang istri agar menatapnya.


"Hey, itu cuma angan-angan. Jangan terlalu serius ah, jelek tahu," goda Nayla yang mengusap rahang tegas sang suami. "Aku mencintai kamu, suamiku. Aku tidak menyangka bahwa kita bisa se bahagia ini," imbuhnya.


"Aku berharap, kebahagiaan ini akan abadi," kata Nayla kembali memeluk Chen dengan erat.

__ADS_1


"Amin," hanya itu yang keluar dari mulut Chen. Ia masih begitu kesal dengan ucapan Nayla tadi.


"Jangan marah dong," ucap Nayla merengek, membuat Chen menghela napasnya dengan panjang.


Chen pun langsung mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke tempat tidur.


Perlahan ia baringkan tubuh istrinya, lalu ia ikut berbaring di sebelahnya.


"Tidur, besok aku ada kejutan buat kamu." Chen mengecup bibir istrinya singkat lalu mereka kembali berpelukan menuju alam mimpi.


...🥳🥳🥳🥳...


"Morning Mom, Dad!" suara bariton dari anak laki-lakinya itu seketika mengganggu adegan romantis Nayla dan Chen yang sedang bermesraan di dapur pagi itu.


"Biarkan, anak itu sudah besar," jawab Chen enteng.


"Besar dari mana! jangan mengajarkan anakku hal yang tidak benar! buruan lepasin ah!"


"Tak apa Mom, Saka sudah TERBIASA!" jawab Saka cuek sambil mendudukkan dirinya di kursi makan.


"Tuh kan, dia saja sudah biasa kok," kata Chen yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Astaga! Aku heran dulu mom ngidam apaan sih waktu hamil kamu!" Nayla begitu risi di peluk terus seperti ini oleh suaminya. Dia yang hendak mengangkat piring ke meja makan pun jadi susah karenanya.

__ADS_1


"Entahlah, memangnya apa yang kau inginkan waktu ngidam Saka? mungkin sama," jawab Chen santai.


"Jangan samakan Saka sama Daddy dong!" saut Saka tak terima, karena dia tidak semesum Daddy nya.


"Kau itu anakku Son, jadi kita sama!" kata Chen kini akhirnya melepaskan pelukannya dari Nayla.


"No! aku sama seperti Mom, bukan Dad!" ucap Saka.


"Ya ya ya, terserah kau saja!" cibir Saka melengos membuat Saka dan Nayla terkekeh.


"Ciee ngambek," goda Nayla setelah meletakkan nasi goreng nya di meja. Lalu ia berpindah dan memeluk leher suaminya dari belakang.


"Saka, mengapa Dad mu begitu jelek saat merajuk seperti ini?" tanya Nayla menahan tawanya.


"Memang Dad jelek, mengapa dulu Mom mau dengan Dad?" saut Saka juga menahan tawa.


"Son, wajahmu itu 80% dari Dad. Saham yang Dad berikan saat membuatmu itu lebih banyak, jadi kalau Dad mu ini jelek, otomatis kau pun jelek!" sungut Chen kesal.


"Utu utu utu, maca cih," goda Nayla lagi, ia semakin gemas saat melihat wajah merajuk suaminya.


"Kenapa kalian jadi kompak menggoda Daddy hem?" tanya Chen cemberut.


"Karena kami Sayang Daddy!" seru Nayla dan Saka bersamaan, lalu Saka segera beranjak dan ikut memeluk Chen seperti Nayla.

__ADS_1


__ADS_2