
"Sudahlah Bro, tidak perlu terpuruk terus seperti ini. Kau tau masih banyak wanita di luaran sana yang lebih cantik dan sexy tentu nya," ujar Choi sambil menyesap minuman di tangannya. Saat ini ketiga kampret sedang berada di salah satu club langganan mereka. Yups saat ini Chen berada di China karena ada suatu pekerjaan.
"Tidak akan ada yang bisa menggantikan Nayla," ucap Chen dingin.
"Come on bro, nikmatilah hidupmu. Sambil menyelam minum air, selagi istrimu belum kembali kau bisa bersenang-senang terlebih dahulu." Choi terus menggoda dan menghibur Chen agar tidak lagi terpuruk atas kepergian Nayla.
"Lagian apa yang kau suka dari dia Chen? body nya rata bahkan untuk di sentuh pun tidak bisa nyangkut. Lebih baik kau pilih salah satu wanita disini, mereka begitu sexy dan body mereka wow," ujar Choi lagi sambil tertawa.
Brakk!
Chen menggebrak meja nya dan langsung berdiri, ia menatap tajam ke arah sahabat nya tersebut.
"Tutup mulutmu!" bentak Chen menunjuk wajah Choi dengan marah karena sudah membanding-bandingkan Nayla nya dengan para pelac*r di Club ini.
"Hahaha kenapa? Kau marah? bukankah Aku bicara kenyataan?" tanya Choi tertawa.
__ADS_1
"Istri mu itu sangat payah, come on bro ini dunia bebas, hanya karena mantan dia ninggalin lo dan sok jual mahal. Cih sehebat apa memangnya dia di ranjang sampai bisa membuatmu begitu tergila-gila dengan nya?" ucap Choi mencibir.
"Kau lihat penampilan kamu sekarang? kau itu seperti tengkorak hidup, hanya karena memikirkan istrimu kau sekarang berubah menjadi lebih murung dan dingin," imbuhnya.
"Aku gak nyangka, gadis kampung berbodi rata sepertinya bisa membuat seorang Cassanova seperti mu bertekuk lutut hahaha, aku jadi penasaran seperti apa rasanya?" kata Choi semakin membuat amarah Chen meledak.
Bug.
Bug.
Bug.
"Sekali lagi kau berbicara seperti itu tentang istriku aku tidak akan segan menghabisi mu!" sentak Chen menunjuk wajah Choi yang sudah babak belur.
"Sudah Chen, tenangkan dirimu?" ucap Shiming yang sedari tadi diam kini akhirnya mulai bergerak melerai kedua sahabat nya.
__ADS_1
"Hahaha, kau baru mengenalnya Chen, tapi kau bgitu tergila-gila dengannya. Sedangkan kita sudah mengenal begitu lama, dan kau bisa berbicara seperti itu hahaha," ucap Choi tertawa.
"Sudahlah Choi, kau sudah mabuk lebih baik kita pulang!" kata Shiming berusaha menarik Choi agar tidak lagi mengeluarkan kata-kata nya.
"Chen, sorry aku akan mengantarkan Choi karena keadaan nya lebih memprihatinkan," ujar Shiming menepuk bahu Chen.
Chen tidak menjawab, ia hanya diam lalu kembali menghempaskan tubuhnya di sofa nya lagi.
Chen memejamkan matanya sejenak, lalu bayangan kenangan nya bersama Nayla kembali melintas di pikiran nya. Tidak ingin berlarut, akhirnya Chen memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.
"Kamu dimana sayang? apakah kau juga merasakan apa yang ku rasakan? Aku sangat merindukan mu." Lagi dan lagi, Chen kembali terisak sambil mengendarai mobilnya.
"*Ya Tuhan, kembalikan Nayla kepada ku, izinkan aku memperbaiki semuanya, izinkan kami bahagia Tuhan, ku mohon."
"Pasti saat ini dia tengah susah karena ngidam nya. Jagoan Dad semoga kamu kuat dan tidak rewel ya, bantu mom mu untuk tetap bisa bertahan sampai saat kita bertemu lagi*," Gumam Chen pelan, tanpa sadar kini dirinya sudah sampai di rumah, lalu ia pun segera memasuki rumah dan istirahat.
__ADS_1