
Nayla menyimpan kertas dan kalung liontin tersebut ke lemari baju. Lalu dirinya segera keluar untuk bergantian menyusui anaknya sendiri.
"Sayang, dimana anak itu? Aku sudah bicara dengan Mom dan dia akan di bawa ke panti asuhan," ujar Chen lembut sambil menyerahkan anaknya kepada Nayla.
"Tidak perlu Mom, Cahaya akan tinggal bersama kami," ucap Nayla tersenyum.
"Cahaya?" tanya Chen dan mom Yeon bersamaan.
"Anak itu perempuan, dan Nayla suka dengan nya. Mulai sekarang dia akan menjadi anak ku juga, namanya Cahaya," jelas Nayla membuat Chen hendak protes namun segera di cegah oleh Nayla.
"Kalau kamu gak mau menerimanya, silahkan kamu tinggal sendiri dan biar aku yang merawatnya sendirian bersama baby Saka." Nayla menatap tajam ke arah Chen sebagai tanda bahwa keputusan nya mutlak tidak bisa di ganggu gugat.
"Baiklah," kata Chen pasrah, walau sebenarnya dalam hatinya ia tidak ingin.
"Nayla sayang, kamu yakin?" tanya Mom Yeon.
"Iya Mom, Nayla mohon izinkan Nayla mengadopsi Cahaya. Dia butuh orang tua, Nayla hanya merasa kasian dengan Cahaya. Nayla membayangkan bagaimana kalau baby Saka yang di posisi Cahaya danβ" Nayla tidak mampu melanjutkan ucapan nya, air matanya sudah mengalir deras di wajah nya.
"Ssshhh iya iya kita akan mengadopsi baby Cahaya, mulai sekarang kita hidup berempat dan kita akan bahagia," kata Chen memeluk tubuh Nayla.
"Makasih," kata Nayla membalas pelukan Chen.
...π₯³π₯³π₯³...
__ADS_1
Malam hari telah tiba, anak anak sudah tertidur pulas di tempat nya masing-masing. Saat nya Chen bermanja dengan sang istri, sedari tadi Chen sudah menunggu Nayla di kamar nya namun Nayla tak juga kunjung keluar dari kamar mandi.
Sembari menunggu, Chen pun menghubungi Billy untuk menanyakan bagaimana kabar Sisil.
Chen Calling Billy π
"Hallo Tuan," ucap Billy.
"Bagaimana?" tanya Chen to the point.
"Hem Nona Sisil sudah meninggal Tuan," jawab Billy pelan membuat Chen menghela napasnya dengan berat, bohong bila ia tidak sedih atas meninggalnya Sisil. Namun ia juga tak bisa berbuat banyak, mungkin memang ini sudah takdir nya.
"Baik lah, kau urus semuanya sampai selesai, hitung hitung kau menebus rasa bersalah mu karena sudah menghujatnya," ujar Chen santai membuat Billy di seberang sana menggerutu dalam hati.
'Dasar bos gak ada akhlak, aku menghujatnya karena untuk membantu dirinya. Dasar, untung bos kalau gak udah tak huuuum," gumam Billy sambil meremas hape nya dengan kesal.
"Siapa sayang?" tanya Nayla saat keluar dari kamar mandi dan melihat Chen yang baru saja selesai menelfon.
"Billy, dia memberi kabar bahwa ibunya Cahaya meninggal," kata Chen langsung memeluk pinggang Nayla.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun," ucap Nayla menutup mulut nya tak percaya.
"Yank," panggil Chen sambil merapikan rambut Nayla.
__ADS_1
"Hem," jawab Nayla yang masih sibuk memikirkan Sisil.
"Kangen," ucap Chen seperti anak kecil membuat Nayla menahan tawanya.
"Kami merindukanmu," bisik Chen di telinga Nayla hingga membuat Nayla merinding.
"Terlebih dia, sangat sangat merindukan rumah nya," imbuhnya lagi sambil mendekatkan adiknya di depan pintu rumah utama, dan Nayla bisa merasakan itu.
Tanpa berkata apapun, Nayla langsung mendorong tubuh Chen ke atas ranjang dan langsung menindihnya.
"Aku juga sangat merindukan mu," bisik Nayla dengan suara sexy hingga membuat Chen semakin bergairah.
"Sayang, jangan menyiksaku," ucap Chen memejamkan matanya kala tangan Nayla bergerak nakal menjelajahi tubuhnya tanpa menghiraukan adiknya yang sudah minta di sentuh sedari tadi.
Chen hendak mendorong Nayla dan mengubah posisi, namun dengan cepat, Nayla menolak.
"Biar aku yang bekerja," bisik Nayla di telinga Chen hingga membuat tubuh Chen semakin menegang.
Dan akhirnya setelah setahun lebih berpuasa, Adik Chen kembali berbuka dengan yang manis di rumah utama. ππππ
.
.
__ADS_1
Dah intinya buka puasa gitu aja, mommy gak bisa jelasin karena setelah adik Chen masuk rumah, pintu nya langsung di tutup jadi mommy gak bisa ngintip πππ€£π€£π€£