Jodohku Seorang Cassanova

Jodohku Seorang Cassanova
Tendangan maut


__ADS_3

Nayla membuka matanya saat merasakan tubuhnya terasa seperti terhimpit beban berat. Sayup sayup ia mendengar suara ngorok seseorang membuatnya bergumam sendiri di tengah kesadaran nya yang belum sempurna.


"Njirr kamu Cha ngoroknya kenceng banget sih." Ucap Nayla sambil memejamkan matanya kembali karena masih mengantuk.


"Ini lagi Hanna gila tangan kamu berat banget." Ucapnya lagi lalu ia menghempaskan tangan yang menurutnya adalah tangan Hanna.


"Ini Ac nya dingin banget sih." Gumam Nayla lagi sambil kembali mencoba membuka matanya.


Deg!


Nayla langsung membulatkan matanya dengan sempurna kala menyadari bahwa kini dirinya hanya memakai tank top.


Wait? Kemana bajunya? Pikir Nayla. Ia pun segera membalikkan tubuhnya dan saat itu juga ia kembali terkejut kala yang berada di samping nya bukan Hanna atau Chaca melainkan Chen suaminya.


Baru Nayla henda berteriak, Chen sudah lebih dulu membuka suaranya.


"Jangan teriak, masih pagi. Berisik!" Ucapnya sambil kembali memejamkan mata.

__ADS_1


"Kampret mesum, ngapain kamu disini? Dimana teman teman ku hah!" Seru Nayla yang langsung menarik selimut agar menutupi area dadanya.


"Buka mata kamu lebar lebar dan lihat sekeliling kamu. Kamu dimana sekarang?" Tanya Chen santai.


"Astagfirullah kampret mesum!" Teriak Nayla begitu kencang kala melihat Chen beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


"Kenapa?" Tanya Chen bingung.


"Kenapa gundul mu. kenapa kau tidak memakai baju dan itu astaga!" Seru Nayla sambil menutup wajahnya dengan tangan, saat itu juga Chen terkekeh karena ia baru menyadari bahwa dirinya hanya memakai boxer dan bertelanjang dada.


Chen pun mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi. ia kembali berjalan menuju ranjang dimana Nayla berada dan masih menutupi wajahnya dengan tangan.


"Chen itu kamu tolong kondisikan. Cepat sana ke kamar mandi. jangan kamu terus menodai mata aku ya!" Sungut Nayla kesal. Percayalah kini wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus kala melihat salah satu anggota tubuh Chen yang terus bergerak gerak tanpa di pandu itu.


"Itu apa sih? Bisa kamu jelaskan itu apa yang kamu maksud?" Tanya Chen dengan senyum miring nya.


Nayla yang geram pun akhirnya memberanikan diri untuk bangkit dari tempat tidur dan segera berdiri tepat di depan Chen. Nayla tidak berani melihat ke bawah, ia menatap wajah Chen sangat dalam dengan aura kemarahan.

__ADS_1


Nayla kembali mengingat dimana Chen yang di peluk bebas oleh perempuan lain di depan nya dan keluarga nya, emosi nya semakin membuncah. Tanpa berkata apapun Nayla langsung menendang adik Chen dengan lututnya hingga membuat Chen memekik kesakitan.


"ITU yang ku maksud!" ucap Nayla lalu ia segera kabur menuju kamar mandi.


"Damn it Nayla!" Pekik Chen sambil memegang adiknya yang terasa sangat ngilu akibat tendangan maut dari kaki Nayla.


(Bayangkan saja, pagi hari adiknya baru bangun dan langsung mendapatkan tendangan maut apa gak nikmat rasanya) 🙈🙈🤣


Dor dor dor


"Nayla buka pintu nya!" Teriak Chen kesal sambil masih tangan satunya memegangi Adiknya yang terasa sangat ngilu.


"Shit. Dasar kelinci kecil sialan. Awas aja nanti!" umpat Chen.


Chen terus menggedor pintu kamar mandi meminta Nayla membuka pintu nya, namun Nayla tak membuka nya. Bodoh bila sampai Nayla membuka pintu kamar mandi itu. Karena sama saja Nayla mengantarkan nyawa nya pada suami kampret nya.


"Rasain tuh emang enak. lagian sih ngegodain mulu." Ucap Nayla terkekeh sendiri di kamar mandi.

__ADS_1


"Eh tapi, bagaimana bisa aku di apartemen yah? padahal semalam aku tidur di hotel sama Hanna dan Chaca. Dan juga kenapa bajuku bisa ganti begini? Siapa yang mengganti nya? Apakah si kampret?" Gumam Nayla sambil melepaskan bajunya dan mulai berendam di dalam bathtup.


__ADS_2