
"Nay, udah dong jangan nangis terus aku jadi bingung." Ucap Hanna frustasi karena sedari tadi Nayla terus menangis.
"Gimana aku gak nangis Han, sekarang aku udah gak perawan dan kamu tau si kampret itu sebentar lagi akan ninggalin aku hiks hiks, sebentar lagi aku akan jadi janda Han, Janda bolong lagi hiks hiks." Nayla terus terisak dalam tangisnya, entah sudah berapa banyak tisu Hanna yang ia habisnya hingga membuat kamar Hanna seperti emm seperti itulah bayangin saja sendiri dimana mana di penuhi tisu.
"Tapi Nay, tanaman aja namanya janda bolong harga nya melejit loh Nay, maksud ku gapapa lah janda bolong yang penting masih fresh dan sexy," kata Hanna mencoba menghibur Nayla.
"Hanna!" Seru Nayla dengan kesal lalu kembali menangis.
"Nay, terus aku mesti gimana dong?" Tanya Hanna.
"Hanna aku nginep disini yah hiks hiks," ucap Nayla.
"Tapi nanti suami kamu gimana?" Tanya Hanna bingung.
"Biarin aja, dia juga sudah tidak perduli dengan ku. Dia mempertahankan pernikahan kita cuna buat harta orang tua nya saja hiks hiks," ucap Nayla.
Hanna hanya bisa menghela napasnya pelan lalu ia mulai membereskan kamar nya agar bisa di tiduri berdua dengan Nayla, tentu saja juga menyapu tisu tisu yang berserakan di lantai kamar nya.
...Apartemen...
__ADS_1
"Aaaarrkkkkhh!" Teriak Chen mengacak rambutnya frustasi.
"Jemput enggak, jemput enggak, jemput enggak!" Kata Chen terus terulang sedari tadi. Ia di antara dilema yang berat untuk menjemput Nayla atau membiarkan nya.
"Shitt!" umpat nya dengan kesal karena semakin dilema.
"Kalau kau tak ingin istri mu dekat dengan pria lain, maka buatlah istrimu nyaman di dekatmu,"
"Turunkan gengsi mu sedikit bro, sebelum kau menyesali semuanya."
Ucapan dari Shiming terus terngiang ngiang di telinga Chen sedari tadi. Benarkah dirinya menginginkan Nayla? Benarkah dirinya ketinggian gengsi, semua ucapan itu membuat kepala Chen terasa mau pecah.
Chen membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur berharap melupakan Nayla, namun bayangan bayangan adegan panas nya dengan Nayla malah terus terbayang di pikiran nya hingga membuat adiknya memberontak ingin bermain lagi.
"Enggak, aku tidak bisa seperti ini," Chen pun segera meraih kunci mobil nya dan dompet, lalu ia segera turun dan mencari keberadaan Nayla.
Setelah mengendarai mobilnya kurang lebih satu jam, kini Chen sudah sampai di depan kosan putri tempat Hanna dan Nayla dulu ngekost.
Chen Calling Nayla 📞
__ADS_1
Tuuuttt ....
Tuutttt....
Tuttt....
Tiga kali sambungan tidak juga mendapatkan jawaban, akhirnya Chen pun bertekad masuk ke dalam kosan Hanna.
"Maaf Pak, anda siapa ya dan apa perlu apa?" Tanya seorang penjaga kosan.
"Ah saya mau mencari istri saya, dia dulu pernah ngekost disini dan sekarang sedang berada di kosan teman nya." Jawab Chen.
"Siapa nama istri dan teman istri bapak?" Tanya penjaga kosan dengan menelisik pakaian yang di kenakan Chen.
Bukan apa penjaga kosan tersebut hanya sedikit bingung, pasalnya Chen hanya memakai boxer pendek di atas lutut dan kaos singlet saja.
"Nama istri saya Nayla dan teman nya Hanna," jawab Chen dengan cepat karena dirinya sungguh ingin cepat bertemu Nayla.
"Oh neng Hanna dan neng Nayla," kata oenjaga kosan tersebut.
__ADS_1
"Iya, bisa saya masuk?" tanya Chen tak sabaran.
"Mari saya antar," ucap penjaga kosan laku Chen pun berjalan mengekor di belakang sampai depan kamar Hanna.