
*Secawan madu yang kau berikan
Tapi mengapa kau tumpahkan?
Kau bangun cinta yang menjanjikan
Dirimu pula yang menghancurkan
Tega-teganya ketulusanku
Kau balas dengan kecuranganmu
Pandainya engkau bersilat lidah
Cinta bagimu hanyalah senjata
Semula 'ku mengagumi
Sikap dan ketulusanmu
Hingga diriku jatuh terbuai
Dalam bujuk dan rayumu
Setelah pintu hatiku
Telah terbuka untukmu
__ADS_1
Ternyata aku engkau jadikan
Hanya koleksi cintamu*...
Nayla tengah mendengarkan musik menggunakan earphone sambil mengerjakan tugas kuliahnya di atas tempat tidur. Bahkan ia tidak menyadari bahwa Chen sudah kembali dan sedang menatap dirinya yang sedang konser solo di atas tempat tidur.
Entah mengapa mendengar lirik yang di nyanyikan oleh Nayla membuat Chen merasa tersindir kala mengingat percintaan nya dengan Sisil tadi siang.
Chen pun akhirnya tanpa berkata langsung berjalan menuju kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya.
"Perihhh, sungguh perih bak tertusuk seribu duri." Nyanyian Nayla lagi.
"Hah akhirnya selesai juga." Ucap Nayla merentangkan kedua tangannya ke atas untuk merentangkan otot otot nya yang sedikit kaku.
Saat Nayla hendak turun dari tempat tidur ia melihat Chen yang baru keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk yang di lilitkan di pinggang nya.
"Kapan kau pulang?" Tanya Nayla terkejut.
"Kau itu seperti hantu dateng tiba tiba haiss, untung aku tidak punya riwayat jantung." Ucap Nayla cemberut.
"Makanya punya kuping jangan terus di sumpel dengan earphone." Ucap Chen kesal.
"Jangan memandang ku seperti itu, aku tau bahwa aku memang tampan." Ucap Chen menyeringai sambil terus berjalan mendekat karena melihat Nayla yang terus menatap ke arahnya. Chen mengira bahwa Nayla sudah terpesona olehnya.
Nayla memang menatap nyalang pada Chen, namun fokus nya bukan ke wajah melainkan leher Chen.
"Jangan sentuh aku!" Seru Nayla kini dengan ekspresi datar saat melihat tangan Chen hendak menyentuh pundak nya Nayla langsung beringsut mundur.
__ADS_1
"Tidurlah, aku akan tidur di sofa ruang tv." Ucap Nayla, entah mengapa saat ia melihat bekas kismark di leher Chen, hatinya sedikit terasa ngilu.
"Why?" Tanya Chen bingung. Adakah yang Salah? batinnya.
Nayla hanya menggelengkan kepalanya lalu ia segera melangkah keluar.
"Bodoh bodoh bodoh bodoh. Hey hati kenapa kau merasa sakit hah, dan jantung kenapa kau terasa begitu sesak hanya melihat tanda seperti itu?" Maki Nayla dalam hati.
"Peduli apa kalau dia mau bercinta dengan siapa pun, kan memang sudah kebiasaan dia sering keluar masuk lobang. Dia itu kampret Nayla ingat dia kampret. Jangan pernah menaruh hati dengan nya. jangan terlena dengan kebaikan nya. Oke!" Nayla terus bergumam terus di dalam hatinya.
Sedangkan di dalam kamar, Chen masih bertanya tanya ada apa sebenarnya mengapa Nayla langsung berubah secepat itu. Padahal saat ia keluar dari kamar mandi ia masih berbicara ketus padanya.
"Sungguh aku tidak menyukai perubahan sikap mu seperti ini kelinci kecil. Aku lebih baik kau memarahi ku daripada kau berbicara dengan wajah datar begitu." Gumam Chen sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
setelah memakai baju Chen pun akhirnya memutuskan untuk keluar melihat Nayla.
Ternyata Nayla sedang menangis di sofa sambil matanya menatap ke arah laptop yang sedang menampilkan sebuah film.
"Gak udah nonton kalau cengeng." Ucap Chen langsung menutup kasar laptop Nayla. Percayalah Chen hanya ingin menggoda Nayla, ia rindu berdebat dan bertengkar kecil dengan Nayla. Ia tidak suka Nayla diam dan menampilkan wajah tanpa ekspresi nya.
"Mending kamu pergi." Ucap Nayla tanpa menatap ke arah Chen. Meskipun Chen sudah memakai kaos namun bekas itu masih terlihat jelas membuat hati Nayla semakin berdenyut nyeri.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Chen pada akhirnya.
"Kamu atau aku yang di kamar?" Tanya Nayla.
Mengira tak mendapatkan jawaban, Nayla pun segera beranjak membawa laptop nya dan segera masuk ke dalam kamar serta ia mengunci nya agar Chen tidak bisa masuk.
__ADS_1
"Nayla, Nay!" Teriak Chen sambil menggendong pintu kamarnya.
"Inilah alasan ku tidak mau menikah. Karena wanita hanya membuat pusing kepala saja." Ucap Chen lalu ia pergi.