
"Tuan ada yang ingin saya sampaikan dari Tuan Adinata," ucap Billy pelan.
"Dad?" tanya Chen dengan dahi mengerut.
"Iya Tuan," jawab Billy.
"Aku harus pergi," ucap Chen kepada Sisil.
"Kemana?" tanya Sisil menahan tangan Chen agar tidak pergi. "Tidak bisakah kalian berbicara disini?"
"Maafkan saya Nona," ucap Billy sopan.
"Segeralah kembali karena anak mu tidak ingin jauh terlalu lama dari mu," ucap Sisil lirih.
Chen hanya menghela napasnya dengan kasar, berulang kali ia katakan bahwa dirinya bukan ayah dari bayi yang di kandung Sisil, namun Sisil tidak percaya. Sisil tetap menganggap Chen suami nya karena saat ia membuka mata, hanya Chen lah yang ia lihat untuk pertama kali nya.
"Katakan!" ucap Chen dingin, saat ini ia dan Billy sudah berada di luar ruangan Sisil.
"Tuan Adinata menyuruh Tuan untuk kembali ke indonesia saat ini juga," ucap Billy.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Chen bingung. "Bukankah Dad tau apa yang kita lakukan disini?"
"Nona Nayla membutuhkan anda Tuan," kata Billy.
"Nayla," gumam Chen lirih. Dirinya juga sangat merindukan Nayla namun bagaimana dengan sisil? Sisil sudah tidak memiliki keluarga lagi disini. Meskipun dia sudah tidak mencintai Sisil namun setidaknya dirinya pernah menjadi orang spesial untuknya.
"Nona Nayla masuk rumah sakit lagi," kata Billy seketika membuat Chen menajamkan matanya ke arah Billy.
"Apa maksud mu lagi!" seru Chen mencengkram kerah baju Billy. Pasalnya ia selalu mendapatkan laporan dari Billy bahwa Nayla baik-baik saja, tapi apa kata Billy barusan? Lagi? berarti sebelumnya Nayla sudah masuk rumah sakit. batin Chen.
"Ma—maafkan saya Tuan, saya hanya menjalankan perintah Tuan dan Nyoya. Dan juga Nona Nayla melarang kami untuk tidak memberi tau nya." Billy mengucapkan itu dengan tubuh bergetar karena melihat Chen begitu marah.
...🦋🦋🦋...
"Nayla!" panggil Ratna lembut saat membuka pintu ruang rawat Nayla. Ratna begitu khawatir saat mendapatkan kabar bahwa Nayla masuk ke rumah sakit.
"Mamah," kata Nayla tersenyum senang karena kedatangan sang Mama. "Mana Papa?" tanya Nayla.
"Papa sedang mengobrol sebentar sama mertua kamu. Kenapa kamu bisa masuk kesini lagi hem?" tanya Ratna lembut.
__ADS_1
"Mama, Nayla mau pulang ke Bandung," ucap Nayla lirih.
Ratna hanya diam dan menatap anaknya dengan kasian. Ia juga merasa bersalah mengapa duku ia menerima perjodohan ini. Dulu, Ratna dan Zainal memang tau bahwa Chen nakal, tapi menurut mereka senakal nakal nya Chen paling hanya minum alkohol dan judi saja seperti masa muda Adinata dulu. Zainal begitu kecewa saat tau bahwa ternyata Chen suka bermain perempuan. Tapi nasi telah menjadi bubur Zainal dan Ratna tidak bisa memaksa Nayla untuk bercerai dengan Chen saat mereka tau nayla hamil.
Disitulah penyesalan terdalam orang tua Nayla, kini ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak nya.
"Kamu yakin sayang?" tanya Ratna.
"Iya Mah, Nayla kangen sama Mama. Nayla gak mau disini. Nayla mau pulang sekarang juga hiks hiks." tiba-tiba saja Nayla terisak dan secepat kilat Ratna langsung mendekap tubuh anak nya tersebut.
"Nay hiks Nayla mau pulang Mah hiks," ucap Nayla di sela tangis nya.
Saat Ratna tengah menenangkan Nayla, tiba-tiba terdengar suara gaduh keributan di luar membuat Nayla langsung melepaskan pelukan ibu nya.
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka dan Nayla juga Ratna begitu terkejut kala melihat seseorang masuk dengan wajah yang eum mungkin berantakan.
Dan jangan lupakan juga dengan beberapa orang yang di belakang nya.
__ADS_1