
Chen kini tengah menemani Nayla makan siang. Chen sedikit heran mengapa kini makan Nayla begitu banyak, tidak seperti saat terakhir kali mereka bertemu dulu. Namun Chen tidak berani menanyakan nya ia takut bila Nayla akan tersinggung dan kembali meninggalkan nya.
"Sayang, habis ini kita pulang yah." Ucap Chen hati-hati.
"Enggak, aku mau pulang ke kosan. Aku gak mau ke apartemen atau ke rumah!" jawab Nayla tegas sambil mengunyah makanan nya.
"Sayang, ku mohon." ucap Chen memohon.
"Kalau kamu mau kembali sama aku, berarti kamu harus mau tinggal di kosan sama Aku." Kata Nayla santai.
"Astaga sayang, kosan kamu kan isinya perempuan semua. Itu kosan khusus wanita!" Seru chen tak habis pikir.
"Chen, kamu gak jatuh miskin kan?" tanya nayla serius. "Kamu bisa bayar pemilik kosan itu atau bahkan membelinya agar kamu bisa ikut tinggal di sana." Ucap Nayla datar.
"Aku juga tidak memaksa. Kalau kamu mau silahkan. kalau enggak ya sudah," ucap Nayla tegas, namun dalam hati dag dig dug.
'Ayo ku mohon perjuangkan aku, aku mohon Ya Tuhan," gumam Nayla dalam hati sangat berharap bahwa Chen akan menuruti kemauan nya.
__ADS_1
————
Sampai di kosan, Nayla langsung menghamburkan dirinya ke kasur dan menangis terisak.
Ia begitu kecewa dengan Chen yang ternyata malah pergi begitu saja tidak mau ikut dengan nya. Nayla merasa Chen tidak benar-benar mencintai nya.
"Nay kamu kenapa?" Tanya hanna saat membuka pintu kamar Nayla.
Tadi Hanna hendak memasak mie instan di dapur namun saat melihat Nayla datang dan langsung masuk ke kamar nya membuatnya urung memasak mie instan.
"Hey ada apa? cerita sama aku." Kata Hanna mengusap bahu Nayla agar lebih tenang.
"Tadi aku bertemu sama suami kampret hiks hiks, aku ajak dia tinggal di sini dia gak mau hiks hiks. Padahal dia duit nya banyak hiks tapi dia hiks gak mau ngikutin aku hiks kesini," cerita Nayla sambil terisak.
"Maksud nya kamu ngajak dia tinggal di kosan sini?" tanya Hanna di balas anggukan oleh Nayla.
"Ya Allah Nay, kamu pikir dong kamar kos ini aja gedenya masih kalah sma kamar mandi kamu di apartemen nya, pantas dia nolak astaga Nay," ucap Hanna tak percaya.
__ADS_1
"Ya tapi kan ini bukan kemauan aku Han, aku juga gak tau kenapa tiba-tiba aku mau dia tidur disini. Aku juga gak tau kenapa mau dia tinggal disini. Lihat dia nyuci mobil tiap pagi dan mainan burung di depan kayaknya indah banget." Kata Nayla berkhayal.
"Nyuci mobil? mainan burung? Astaga Nay kata-kata kamu buat otak suci ku traveling." Ucap Hanna menggelengkan kepalanya untuk membuang pikiran negatif nya.
"Iya main burung, aku pengen di kosan ini tuh nanti depan nya itu di gantungin banyak burung biar suasana nya kaya di kampung kita huaaa aku jadi kangen sama kampung Han," ucap Nayla.
"Au ah, main burung suami kamu aja sana daripada nangis ah. Aku laper mau masak mie aja daripada mikirin burung." Kata Hanna ketus.
"Mikirin burung? Pasti otak kamu itu isinya burung A Arlan yah makanya kamu marah begitu aku ngomong burung." Kata Nayla cemberut membuat Hanna seketika reflek langsung melempar bantal ke arah Nayla.
"Hanna!" Pekik Nayla kesal. Ia sedang kesal dengan Chen kenapa malah kini di tambah dengan Hanna.
"Kamu ini lama-lama sama aja ngawur kaya Chaca. Otak dan mulut kalian itu gak jauh dari kata kata sana." Ucap Hanna membuat Nayla terkekeh.
"Oh ya Han, katanya mau masak Mie, yuk aku temenin." Kata Nayla mulai beranjak dan bergelayut manja di lengan Hanna.
"Kalau kaya gini tuh perasaan ku mulai gak enak nih. Kaya ada yang gak beres gitu," ucap Hanna membuat Nayla langsung tertawa dan melupakan kesedihan nya tadi.
__ADS_1