
Chen senantiasa terus menemani Nayla, bahkan sudah dua hari ia tidak mau keluar dari ruang perawatan Nayla, sehingga membuat yang lainnya tidak bisa masuk bergantian.
Dokter pun sudah menyarankan agar Chen bergantian menjaga istrinya, namun ia tetep kekeuh tidak mau berpijak sedikitpun dari posisi nya. Ia terus duduk di samping Nayla sambil menggenggam tangan sang istri.
Bahkan selama dua hari ini juga, Chen tidak makan dengan teratur, hanya sesekali makan roti satu dua gigit sudah, hingga wajah nya pun kini terlihat sedikit pucat, namun ia tetep masih ingin menemani Nayla.
Ia hanya ingin saat nanti Nayla membuka matanya, dirinya lah yang pertama kali di lihat oleh Nayla.
"Jeng saya mohon maafkan anak saya, dan tolong berilah dia kesempatan sekali lagi," ujar Yeon sambil menggenggam tangan Ratna.
"Kau bisa melihat betapa Chen sangat mencintai Nayla Jeng, saya akui dia memang salah namun bukan kah manusia memang tempatnya salah? Saya tidak bermaksud membela Chen karena dia anak saya, tapi saya juga khawatir dengan ksehatan nya Jeng, kau bisa lihat dua hari ini dia masih di dalam menemani Nayla. Dan saya yakin Nayla juga tidak bisa berpisah dengan Chen, saya tau Nayla sangat mencintai Chen. Saya mohon Jeng beri kesempatan untuk Chen memperbaiki semuanya, sekali saja?" ucap Yeon panjang lebar.
"Saya tidak bisa memutuskan sekarang Jeng, kita tunggu sampai Nayla sadar. Saya akan menyerahkan semuanya kepada Nayla, karena dialah yang akan menjalani semua ini." Kata Ratna membuat hati Yeon sedikit lega mendengarnya.
__ADS_1
"Sayang, kapan kamu akan bangun hem?" tanya Chen lirih.
"Kapan kamu akan membuka mata? Apa kamu tidak lelah menghukum ku? belum cukupkah kamu membuat napas ku berhenti saat melihat mu terluka seperti ini hem?" Ucap Chen terisak dengan menciumi tangan Nayla.
"Ku mohon bangun lah yank, kita buka lembaran baru. Kumohon beri aku kesempatan, ku mohon bangunlah," ucap Chen semakin lirih hingga akhirnya ia menutup matanya tertidur.
Pagi harinya, Nayla mulai membuka matanya dan ia merasakan tangannya tengah di genggam seseorang, air matanya kembali menetes kala menyadari bahwa Chen lah yang tengah menggenggam tangannya.
Tangan Nayla terulur untuk mengusap rambut Chen hingga membuat sang empunya bergerak karena merasakan sentuhan di kepalanya.
"Terimakasih, terimakasih karena sudah membuka mata, terimakasih," ucap Chen terus menciumi wajah Nayla sambil tangannya menekan tombol untuk memanggil dokter.
Nayla masih diam menatap Chen yang kini penampilan nya sungguh sangat kacau. Beribu pertanyaan muncul di benak Nayla, mengapa Chen seberantakan ini? apakah ia tidak mandi selama menunggu Nayla? lalu mengapa wajah Chen begitu pucat, bibir nya kering dan mata nya di kelilingi rona hitam mata panda.
__ADS_1
"Chen—" panggil Nayla lirih.
"Apa sayang, kamu mau apa? katakan apa mau kamu? kamu mau makan? atau minum?" tanya Chen beruntun.
"Ha—us," kata Nayla pelan, dengan segera Chen pun mengambilkan air minum untuk Nayla.
"Kamu mau apa lagi sayang?" tanya Chen lembut, namun belum sempat Nayla berkata tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan dokter masuk bersama dengan orang tua Chen dan Nayla.
"Sayang kamu sudah bangun?" tanya Ratna langsung mendekati Nayla dan memeluk anak nya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Chen saat melihat Dokter sudah selesai memeriksa Nayla.
"Nona Nayla sudah lebih baik, kondisinya sudah stabil. Tapi saya sarankan anda lah yang harus istirahat, sudah tiga hari anda tidak tidur dan makan teratur, saya hanya khawatir Nona Nayla sudah sembuh malah bergantian anda yang tidur disini," ujar Dokter membuat Nayla mengerutkan dahinya menatap Chen.
__ADS_1
"Saya sehat Dok, dan saya baik-baik saja," tegas Chen namun tak berapa lama akhirnya dirinya terjatuh dan pingsan hingga membuat semua terkejut begitupun Nayla.