
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, kini akhirnya keluarga Chen sudah sampai di bandara internasional Soekarno Hatta.
Cahaya dan Saka terus bergandengan tangan layaknya anak kembar, mereka begitu senang karena akan menempati rumah baru, namun tanpa mereka sadari bahwa sedari tadi ada yang mengikuti mereka dan terus mengintai.
"Saka, aku merasa sedari tadi ada yang mengikuti kita," ucap Cahaya pelan sambil terus berjalan.
"Hah siapa? dimana?" tanya Saka sedikit panik.
"Ssshht jangan takut, jangan perlihatkan ekspresi seperti itu, senyum lah, kau itu sangat kaku!" gerutu Cahaya lalu Saka pun sedikit tersenyum.
"Nah, kamu lirik arah jam 3 orang memakai jaket hitam dan kaos biru, pakai topi dan kaca mata hitam!" jelas Cahaya dan diam diam sambil terus pura pura tersenyum dan mengobrol dengan Cahaya, Saka melihat ke arah yang di tunjukkan oleh Cahaya.
"Siapa mereka? apa kau mengenalnya?" tanya Saka pelan.
"Tidak,tapi aku yakin di antara kita ada yang dia incar," kata Cahaya pelan lalu ia segera masuk ke dalam mobil.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam kini akhirnya mereka sampai di rumah Utama.
__ADS_1
"Welcome!" teriak Nayla saat memasuki rumah utama yang sudah lama ia tinggal.
"Mommy kenapa kau berisik sekali sih," ucap Saka cemberut.
"Suara mommy ini tuh sexy sayang, bagaimana bisa kau bilang berisik ck," decak Nayla tak Habi pikir.
"Sexy dari hongkong," cibir Saka.
"Kau sexy saat mendesah kan namaku sayang," bisik Chen sangat pelan di telinga Nayla sehingga membuat Nayla terkejut sekaligus merinding di buatnya.
"Kakak apa kakak serius ingin bersekolah di sana?" tanya Saka, saat ini mereka sedang duduk di bangku taman samping rumah.
"Hemm, tapi Daddy belum memberikan ku izin," jawab Cahaya lembut. "Saka bantulah kakak mu yang cantik jelita manis dan imut ini yah yah yah," Cahaya mengedipkan matanya beberapa kali membuat Saka tidak bisa berkata tidak.
"Tapi nanti aku akan sendiri," kata Saka lemah.
"Hey, kau itu laki-laki. Laki-laki itu harus kuat!" kata Cahaya cemberut. "Lagi pula nanti setiap libur semester kita bisa bertemu," imbuhnya.
__ADS_1
Dengan menghela napasnya panjang, Saka pun akhirnya berjalan mencari keberadaan Daddy nya. "Daddy," panggil Saka saat ia melihat Chen menuruni tangga.
"Ada apa Nak?" tanya Chen.
"Bisakah kita berbicara?" tanya Saka pelan, sesungguhnya ia tidak rela bila harus berpisah jauh dengan Cahaya. Dia sangat menyayangi Cahaya sebagai kakak nya, begitu pun Cahaya juga sangat menyayangi Saka sebagai adiknya. Meskipun di antara mereka tidak ada ikatan darah, namun ikatan batin antar kedua nya sangat akurat. Mereka benar benar tumbuh menjadi anak yang penuh kasih sayang.
"Ada apa hem?" tanya Chen saat sudah masuk ke dalam ruang kerja nya.
"Apakah Kakak sudah mengatakan keinginan nya untuk pindah sekolah?" tanya Saka pelan membuat Chen menghela napasnya panjang.
Chen sudah tau ke arah mana pembicaraan mereka kali ini, tentu saja Chen sudah tau karena sebelumnya Cahaya bersikeras memohon ingin melanjutkan sekolah nya di Bandung.
"Apa kau mau ikut pindah lagi kalau Daddy menuruti kemauan Kakak kamu?" tanya Chen membuat Saka terdiam.
"Tidak bisakah Saka disini saja?" tanya Saka lemah, karena sejujurnya ia sudah nyaman berada disini. Terlebih saat dirinya bertemu dengan teman baru dan some one yang membuatnya tertarik.
Chen hanya diam menatap anak bungsunya, ia kini sedang di landa dilema. Tidak mungkin ia berpisah dengan salah satu anaknya.
__ADS_1