
Hari berganti hari dengan begitu cepat, tanpa terasa satu tahun sudah Nayla pergi dari hidup Chen. Chen pun sudah kembali menetap di China sambil fokus bekerja.
Hari hari nya ia habiskan hanya untuk kerja, kerja dan kerja, namun saat malam tiba dirinya akan merenung dan kembali terisak kala mengingat Nayla dan anak nya.
Beberapa saat yang lalu ia mendapatkan kabar bahwa Nayla sudah melahirkan, ia di kirimin foto putra pertama mereka, dan Chen juga yang menamai nya. Chen masih menunggu dan menunggu sampai Nayla mau kembali dengan nya.
Chen sudah tau dimana Nayla berada, hanya saja ia ingin menghargai keinginan Nayla, meskipun ia sangat ingin bertemu dengan mereka. Chen percaya cepat atau lambat keluarga nya akan segera berkumpul kembali. Tugasnya saat ini hanya lah fokus dengan pekerjaan dan berusaha menjadi lebih baik lagi.
"Chen, apa kau masih marah kepada Choi? come on bro dia hanya mabuk waktu itu," ucap Shiming memecah keheningan.
"Aku tidak marah, hanya saja sedang ingin diam," kata Chen datar.
"Hey ayolah Chen, kau tau sejak dulu kalian berdua itu gila. Dan disini posisinya kau sudah sembuh dari gila itu tapi dia belum sembuh, jadi jangan kau masukkan hati ucapan orang gila," ucap shiming membuta Chen menghela napasnya panjang.
"Entahlah Shiming, aku masih ingin diam!" kata Chen menyandarkan kepalanya di sofa dan menatap langit langit.
"Kalau saran ku kau temui Nayla, aku yakin dia sudah memaafkan mu," ucap Shiming.
__ADS_1
"Hem kau benar, dia memang sudah memaafkan ku, tapi dia masih butuh waktu lebih untuk sendiri," ucap Chen pelan.
"Nayla wanita yang kuat, dia akan menepati janji nya, aku yakin itu. Dia bukan type pengingkar janji seperti mu," ucap Shiming.
"Yaa! aku bukan pengingkar janji!" pekik Chen tak terima, selama setahun ini dirinya sudah mencoba bertahan dan menepati janji nya kepada Nayla.
"Ya ya ya, aku berharap secepatnya Nayla akan pulang. Dan soal Choi aku benar benar berharap kau bisa memaafkan nya dan kita bisa kembali berkumpul," ucap shiming sebelum akhirnya pergi dari kantor Chen.
Tok. Tok. Tok. . .
"Tuan, Nyonya menelfon saya dan meminta tolong agar anda mengangkat telfon nya," ucap Billy saat sudah berada di hadapan Chen.
"Hem," jawab Chen sambil matanya masih tetap fokus pada layar monitor di depannya.
"Ada apa Mom?" tanya Chen datar.
"Ada apa ada apa! Kamu tidak lupa kan hari ini pulang ke rumah!" ucap Yeon di seberang sana.
__ADS_1
"Hemm," jawab Chen singkat lalu segera mematikan sambungan telfonnya hingga membuat Yeon semakin marah kepada Chen.
"Dasar anak tidak punya akhlak, main sembarangan saja mematikan telfon!" gerutu Yeon lalu ia kembali mendudukkan dirinya di sofa.
"Kau dengar sendiri kan bagaimana anak itu sekarang? ck," decak Yeon membuat lawannya terkekeh.
"I miss you mom," ucapnya sambil memeluk Yeon dengan erat.
"I miss you too sayang, Mom sangat bahagia karena akhirnya kamu kembali," Ujar Yeon membalas pelukan hangat itu.
...🥳🥳🥳...
Setelah pekerjaan nya selesai, Chen pun langsung beranjak akan pulang ke rumah utama. Namun saat dirinya hendak masuk ke dalam mobil, tiba tiba ia terkejut saat kedatangan seorang wanita dengan membawa seorang bayi tengah menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Tolong bantu aku menjaga nya," ucapnya lirih.
Orang itu lalu menyerahkan bayinya kepada Chen, awalnya Chen tidak mau menerima nya namun beberapa saat kemudian, ia terpaksa karena orang itu hendak melepaskan genggaman tangan nya.
__ADS_1