
Di sebuah kamar dengan penerangan yang redup, sepasang suami istri tengah saling berpelukan setelah pergulatan panas nya. Walaupun mereka sudah menginjak usia yang sudah cukup matang tapi mereka tidak pernah melewatkan hal itu karena bagi mereka berhubungan seperti itu membuat hubungan mereka semakin harmonis dan bisa saling meluapkan isi hati mereka saat mereka sedang lelah dengan pekerjaannya.
"Hemm, sayang... anak kita kan sudah besar dan dia juga sebentar lagi akan lulus kuliah nya. Seperti nya kita harus memberikan dia adik." ucap Aris dengan posisi mereka sedang berpelukan.
Via memukul dada Aris yang sedang ia peluk. "Bang kamu itu gak ingat umur ya." telak Via kesal.
"Kenapa memangnya, umur kita belum tua banget malah kategori hot Daddy dan hot mommy, lagian aku masih kuat jika untuk membuat anak." haha. gelak tawa Aris nyaring di dalam kamar. "Tadi kamu sudah merasakan bagaimana aku membuat mu lemas." godanya.
"Ih kamu ya bang!" balas Via sebal seraya mencubit perut suaminya yang tidak memakai pakaian.
"Aww sakit..." keluh Aris sambil mengusap perut nya itu.
"Ngomong-ngomong soal anak gimana ya kabar Latya di sana? Kok tiba-tiba aku jadi ingat dia." ucap Via menatap Aris.
"Coba kamu telepon ke nomor nya, aku juga kangen sama dia." sambung Aris.
Via bangkit dari tempat tidur nya sambil menaikkan selimut nya yang hampir melorot. Aris tersenyum melihat istrinya sedang sibuk membenarkan selimut itu untuk menutupi tubuhnya yang belum memakai pakaian.
Via memanggil nomor Latya beberapa kali, namun panggilan itu tidak di jawab oleh anaknya itu. "Gak di jawab bang, apa anak kita sudah tidur?" heran Via.
"Coba telpon Nisa tanyakan kabar anak kita di sana apa dia baik-baik saja, apa dia merepotkan Nisa dan juga Adam." tanya Aris menyuruh Via.
Via pun berniat mencoba menelepon Nisa setelah suaminya itu menyarankan seperti itu, tapi saat Via akan memanggil nomor Nisa panggilan dari nomor Nisa memenuhi layar handphone nya.
"Eh bang kebetulan Nisa telpon aku!" Via memperlihatkan panggilan di layar telponnya pada suaminya.
"Angkat!" titah Aris.
Via pun menerima panggilan dari Nisa itu. "Assalamu'alaikum Via." terdengar Nisa mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam Nisa kebetulan sekali kamu telpon aku, padahal aku tadi mau telpon kamu." ujar Via memberi tahu.
"Ah kebetulan sekali ya." sahut Nisa. "Apa aku menggangu kamu Via?"
"Tidak! Ada apa Nisa? Apa Latya baik-baik saja? Apa dia merepotkan kamu?" tanya Via tidak enak. "Aku telpon Latya tapi dia gak jawab panggilan aku." sambung nya.
"Emh Latya baik-baik saja jangan khawatir, mungkin dia sudah tidur." jawab Nisa.
"Emh gitu ya, aku kira dia belum tidur, padahal aku kangen sekali, tiba-tiba saja aku ingat padanya." ucap Via. Ngomong-ngomong kamu ada apa telpon aku malam-malam begini?" tanya Via penasaran.
"Ya ampun Via merasa khawatir dengan Latya, aku jadi merasa tidak enak pada Via dan juga Aris, bagaimana ini?" batin Nisa.
"Nisa... hallo Nisa." panggil Via saat Nisa di sana diam saja. "Kamu masih di situ kan?"
Nisa tersadar saat Via memanggil namanya. "Emh iya iya aku masih di sini. Nisa menghirup nafas nya panjang. "Emh begini Via aku mau mengundang kamu untuk datang ke rumah, aku ingin membicarakan soal Latya apa kalian ada waktu?" tanya Nisa membuat Via mengerutkan keningnya.
Via penasaran. "Ada apa Nisa? Apa ada masalah pada Latya anak ku? Latya baik-baik saja kan?" tanyanya panik.
"Aku tidak bisa menjelaskan ini di telpon, aku dan mas Adam ingin sekali menjelaskan ketika kalian sudah ada di sini dan bertemu dengan kalian." tutur Nisa. "Apa besok atau lusa kalian ada waktu?" tanya Nisa.
"Emh baik lah aku dan bang Aris akan datang ke rumah kamu, aku akan atur waktunya." jawab Via cepat. "Tapi anakku baik-baik saja kan Nisa." tanyanya meyakinkan.
"Tenang saja Latya baik-baik saja di sini, tidak usah khawatir." jawab nya menenangkan.
"Ah syukurlah kalau begitu."
__ADS_1
Telepon dari Nisa pun selesai, Via langsung mendapatkan pertanyaan dari suaminya itu. Dan Via menjawab apa yang di katakan Nisa.
"Mungkin Lusa kita ke rumah Nisa dan Adam." ucap Aris dan di angguki oleh Via.
***
Pagi hari semua berkumpul dalam satu meja makan, menyantap makanan untuk mengisi perut mereka di pagi ini. Semua tampak tidak ada yang mau berbicara, terlihat sangat serius berbeda seperti kemarin-kemarin yang terasa hangat, namun hari ini berbeda setelah kejadian kemarin terjadi suasana hari ini begitu sepi hanya dentingan sendok yang bersentuhan dengan piring yang terdengar.
Nisa yang terbiasa berbicara dengan anak-anak nya merasa begitu gatel sekali karena menahan untuk tidak berbicara, maka ia membuka pembicaraan agar suasana di meja makan terasa hangat.
"Emh Latya besok kedua orang tua kamu akan datang kemari, mungkin mereka akan datang pagi-pagi atau siang tergantung penerbangan mereka. Jadi kamu bisa meminta ijin dulu untuk tidak masuk magang ya agar kamu bisa bertemu dengan kedua orang tua kamu nanti. Dan sekaligus kita akan membicarakan bagaimana kedepannya untuk kalian berdua." ujar Nisa menerangkan.
"Aunty serius akan menceritakan hal ini pada ayah dan bunda ku?" tanya Latya lirih.
"Iya aunty dan om serius sayang, karena kedua orang tua kamu harus tahu apa yang terjadi. Karena bagaimanapun Rey dan juga keluarga aunty harus bertanggung jawab atas kejadian ini." tutur Nisa mantap.
"Apa aunty sama om masih percaya jika aku dan bang Rey melakukan perbuatan itu?" tanya Latya meyakinkan Nisa dan juga Adam.
Nisa menghela nafasnya panjang. "Sayang, di sisi lain memang aunty tidak percaya jika kalian akan berbuat seperti itu, karena kalian adalah anak-anak yang baik di mata kita, tapi... di sisi lain saat aunty melihat langsung apa yang aunty lihat kemarin, membuat aunty tidak bisa mengelak karena kalian terbukti melakukan hal itu. Aunty berat sekali jika harus percaya kalian melakukan nya tapi kenyataannya seperti itu." ucap Nisa dengan nada kecewa.
"Rey dan kami akan bertanggung jawab atas semua ini, ya walaupun aunty tahu kedua orang tua kamu pasti marah dan sangat kecewa pada kami. Kami akan siap apapun yang akan dilakukan oleh kedua orang tua kamu." sambung Nisa.
"Aunty dan om mohon maaf sama kamu ya Latya, jika kami harus bertindak seperti ini." tambah Nisa berkata.
Latya hanya diam saja mendengar ucapan Nisa. Pasrah saja jika sampai kedua orang tua nya akan marah dan mungkin tidak akan mengijinkan nya lagi yang berjauhan dengan mereka.
***
Di tempat dimana Latya magang dia sekarang jadi diam saja, ia jadi terpikirkan soal masalah kemarin yang membuat nya terus memikirkannya. Latya mendengus. "Ah kenapa aku ingat terus, aku takut jika nanti ayah akan marah padaku dan tidak mengijinkan aku untuk magang di sini." batin Latya penuh ketakutan.
"Kamu kalau lagi kerja itu harus fokus jangan banyak melamun, ya walaupun kamu hanya di sini hanya anak magang tapi hitung-hitung ini sebagai latihan kamu jika nanti kamu terjun langsung pada dunia kerja." omel nya kesal namun pelan ia takut jika mengomel pada Latya dia akan tidak suka padanya secara ia ingin mencari informasi tentang Rey.
"I...iya ma...maaf Bu Desti." ucapnya merasa tidak enak.
"Jangan panggil aku bu Desti panggil aku kak Desti aja, aku risih di panggil ibu berasa aku tua saja." ucapnya tidak terima.
"Emh baik kak Desti."
Siang hari Latya duduk sendirian di kantin, karena hari ini Rey tidak ada tugas pagi jadi mau tidak mau dia sendirian, di sana Latya tidak begitu mengakrabkan diri pada orang-orang.
"Hallo." terdengar sapaan seorang laki-laki yang datang menghampiri nya saat Latya sedang duduk sendirian dan melamun lagi seperti pagi tadi.
Latya mendongakkan wajahnya melihat siapa suara laki-laki itu. "Eh bang Andre." ucap Latya setelah ia tahu Andre yang datang menghampiri nya itu.
"Sendirian aja nih sudah pesan makanan nya?" tanyanya.
Latya menggelengkan kepalanya. "Belum, aku lagi malas untuk makan." seru nya dengan nada malas.
"Lho kenapa nanti kamu sakit kalau kamu gak makan bentar lagi istirahat mau selesai, Abang pesan makanan ya untuk kamu?" tawarnya seraya beranjak berdiri namun dengan cepat Latya mencegahnya.
"Jangan bang, makasih aku lagi malas makan. Jadi percuma makanan nya gak akan aku makan." terang nya.
Andre kembali duduk tidak jadi pergi untuk memesan makanan lalu melihat gadis di hadapannya itu melamun dan terlihat tidak ceria. "Apa kamu sedang ada masalah?" tanyanya. "Kalau kamu butuh teman untuk mendengarkan kamu cerita aku bisa kok jadi pendengar yang baik, ya siapa tahu aku bisa bantu kamu." ujar nya.
"Emh tidak ada masalah kok hanya masalah pribadi ku saja." balasnya lembut.
__ADS_1
"Oh ok, kalau kamu keberatan untuk menceritakan padaku tidak apa-apa." ucapnya kecewa karena Latya tidak mau bercerita.
Latya hanya tersenyum saja, ia tidak mau cerita tentang pribadi apalagi masalah ini berhubungan dengan keluarganya dan keluarga nya Rey.
Sore hari setelah jam magang selesai Latya bergegas untuk untuk pulang, ia dari tadi sudah mendapatkan pesan dari Rey bahwa dia akan menjemputnya.
Di parkiran Andre yang hendak pulang bertemu dengan sahabat nya itu di parkiran. "Hai Rey elu mau jemput Latya?" tanyanya.
"Hemmm." sahut nya cuek dan mengangguk.
"Oh ya dari tadi gue merhatiin Latya ngelamun aja, sepertinya dia sedang ada masalah, apa elu tahu masalah dia apa?" tanya Andre penasaran.
Rey hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari Andre. "Pasti dia memikirkan masalah kemarin." batin Rey.
"Woy elu di tanya malah ikut bengong lagi, elu tahu gak Rey? Gue kasihan lihat nya begitu!" ucap Andre perhatian pada Latya.
"Mana gue tahu, gue kan seharian gak ketemu dia." elaknya cepat.
Saat mereka berbincang Latya pun datang menghampiri mereka yang sedang di parkiran. Rey sudah melihat Latya mendekati nya. "Sudah selesai?" tanyanya dan di angguki Latya dengan pelan.
Latya pun naik ke motor Rey lalu melihat Andre di sana. "Bang Andre aku duluan ya." pamitnya dengan wajah yang sendu.
"Iya hati-hati ya, oh ya jangan lupa makan ya, tadi kan kamu gak makan siang, Abang khawatir kamu nanti kenapa-kenapa!" titah Andre lembut dan perhatian.
Rey yang mendengar Andre begitu perhatian pada Latya merasa tidak suka jika sahabat nya seperti itu. Lalu dengan cepat ia pun menghidupkan mesinnya dan pergi. Ntah apa yang sekarang Rey rasakan dia pun tidak mengerti.
Di tengah perjalanan pulang Latya tidak bicara apa-apa, membuat Rey juga bingung harus bicara apa padanya dia tahu pasti masalah kemarin yang membuat di seperti ini.
Tanpa banyak bicara Rey menghentikan laju motor nya pada sebuah rumah makan karena ia memikirkan ucapan Andre yang mengatakan bahwa Latya belum makan.
"Lho bang kok berhenti di sini sih, aku udah mau pulang ini!" kesal Latya cemberut.
"Turun!" ucap Rey.
"Gak mau ah aku mau pulang!" rengek nya.
"Turun!" titah nya tegas.
"Gak! Lagian kenapa sih berhenti di sini?" kesal Latya.
"Cepat turun! Kita akan makan dulu." ucap Rey dengan nada tinggi.
"Gak usah bang kita makan di rumah saja bentar lagi juga sampai." sahut nya.
Rey membalikkan lehernya ke kiri dan menatap dengan tajam pada Latya yang masih duduk di atas motor nya membuat Latya dengan pasrah turun dari motornya dengan ekspresi kesal dan wajah nya yang cemberut.
Lalu mereka pun masuk ke dalam rumah makan. Dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.
"Mau makan apa?" tanya Rey ketus.
Latya memutar bola matanya malas. "Abang ajak aku makan apa ajak aku berantem sih!" kesal Latya.
"Kita pesan ini saja mbak." tunjuk Rey pada buku menu, ia tidak mau berdebat di depan pelayan yang sedang menunggu nya memesan makanan.
"Uh dasar pemaksaan!" gumam Latya dengan muka sebal nya.
__ADS_1
Rey menyandarkan punggungnya pada kursi dan melipat kedua tangannya di depan dadanya lalu menatap ke arah Latya yang sedang mendumel itu, perhatian nya di salah artikan oleh Latya.