
Saat tengah malam, sekitar pukul 12 malam. Latya yang masih belum begitu pulas dalam tidurnya. Tadi Latya dan Rey sempat bersitegang karena Latya yang terus-menerus tidak bisa diam.
Gelisah yang kini Latya rasakan karena dia tidur bersama Rey untuk pertama kalinya baginya. Masih saja matanya tidak terkantuk padahal dia berusaha untuk memejamkan matanya. Latya memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, kasur pun ikut bergoyang mengikuti tubuhnya yang belum bisa diam, untung nya Rey sudah tidur.
Saat ia memiringkan kembali tubuhnya ke arah Rey tiba-tiba Rey membalikkan badannya menghadap ke arah Latya dengan matanya yang masih terpejam. Latya sempat kaget ia takut jika Rey terbangun dari tidurnya namun ketika ia mengintip dengan matanya yang menyipit ia lihat jika Rey masih tertidur pulas.
Di lihat nya wajah suaminya itu dengan seksama dan begitu dekat, Latya terus saja menatap wajah Rey. Setelah beberapa menit memperhatikan wajah suaminya itu Latya tersadar. Kenapa ia tidak berpikir untuk pindah kamar saja, mumpung di luar semua orang sedang tertidur.
Latya bangkit dari tidurnya, lalu dengan pelan ia merangkak melewati tubuh Rey yang terbaring itu. Perlahan tapi pasti Latya melangkah dengan mengendap-endap, layak nya seperti maling yang akan mencuri.
Saat Latya hampir membuka pintu kamar untuk keluar, tiba-tiba saja Rey mengagetkan dirinya. "Mau kemana kamu?" tanyanya.
Latya terdiam, lalu dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Rey yang sedang menatapnya di atas ranjang. "Hehehe kok bang Rey bangun?" tanyanya kikuk.
Rey diam terus menatapnya. "Mau kemana?"
"A...aku... aku mau tidur di kamar ku bang, di sini aku gak bisa tidur. Gak apa-apa kan?" tanyanya meminta ijin dengan wajah penuh harap. "Besok pagi sebelum semua orang bangun aku akan balik ke kamar ini, jadi jangan di kunci ya." ucap Latya membuat Rey mengerutkan keningnya heran.
"Terserah kamu!" balas nya dengan nada ketus dalam hatinya Rey sangat kecewa.
"Ok." sahut Latya bergegas keluar dengan terburu-buru karena ia takut ketahuan oleh orang rumah.
Setelah Latya keluar kamar dan menutup pintu kamarnya Rey kembali menatap pintu yang tertutup itu lalu ia pun menghela nafasnya berat. Ntah apa yang ada dalam pikiran Rey saat ini.
Sedangkan Latya kini sudah berada di dalam kamarnya yang selalu ia tempati, Latya naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya dengan nyaman. "Ah nyaman sekali." gumam nya seraya mengusap kasur itu yang begitu terasa lembut. Tapi tiba-tiba dia melotot kan matanya saat tadi ia terpejam merasakan kenyamanan kamarnya itu padahal sama saja kasur Rey dengan kasur milik nya namun ntah kenapa rasanya sangat berbeda atau mungkin karena dia tidur bersama Rey untuk pertama kalinya.
"Bang Rey kenapa tadi tiba-tiba bangun? Apa jangan-jangan dari tadi dia itu sudah bangun atau dia gak tidur sama sekali?" tanya Latya mulai frustasi, pasalnya saat tadi mereka berhadapan wajah saat Rey membalikkan tubuhnya ia sempat mengusap rambutnya yang menutupi matanya dengan lembut. "Aaaaa." teriak Latya pelan agar tidak ada yang mendengar. "Aku malu..." ucapnya seraya menyelusup di bawah bantal.
Pagi-pagi sekali sekitar pukul 4 pagi dia terbangun, sengaja bangun lebih awal karena biasanya Nisa sudah bangun sebelum adzan subuh, maka Latya dengan cepat keluar kamar dan berlari menuju kamar diman Rey berada.
Latya mencoba membuka pintu kamar Rey namun pintu itu terkunci membuat Latya kesal di buatnya. Lalu Latya mencoba membangunkan Rey dengan mengetuk pintu itu dengan pelan agar tidak ada orang yang mendengar. "Bang Rey buka dong pintu nya ini aku Latya." panggil nya dengan pelan seraya terus mengetuk pintu itu. Namun Rey tak kunjung membukanya membuat Latya semakin kesal saja. "Ih aku kan udah bilang jangan di kunci ini malah di kunci! Mana susah lagi bangunnya." gerutu Latya.
Saat Latya terus mengetuk pintu Rey tiba-tiba Nisa datang dari bawah, ia berniat bangunkan Rio untuk shalat berjamaah, Nisa tidak berniat membangunkan Rey dan juga Latya karena mereka pengantin baru, biar mereka bangun sendiri.
Namun saat Nisa akan membangunkan Rio, dia melihat Latya di depan pintu kamar Rey dengan pintu tertutup rapat.
"Latya?" panggil Nisa seraya mendekat ke arah Latya berdiri.
"Eh bunda Nisa." terkejut Latya melihat Nisa sudah berada di dekatnya.
__ADS_1
"Kamu ngapain pagi-pagi udah di depan pintu?" tanya Nisa dengan telisik.
'Mati aku!' batin Latya dalam hati nya. Ia bingung mencari alasan masa ia harus bilang jika pintu kamar Rey di kunci dan itu akan membuat mertua nya itu curiga.
"Latya... kenapa kamu malah diam begitu?" heran Nisa melihat Latya malah bengong.
"Emmh aku... aku... aku mau sholat subuh bunda, mukena aku kan di kamar aku, di kamar bang Rey gak ada mukena." kilah Latya.
"Oh ya sudah kita shalat subuh berjamaah ya, bunda mau bangunkan dulu Rio." ucapnya seraya pergi menuju kamar Rio.
"Huff." Latya bernafas lega karena mertuanya percaya begitu saja tanpa bertanya apa-apa lagi.
Namun saat Latya bernafas lega Nisa yang sudah di depan kamar Rio membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Latya. "Oh ya sayang bangunkan suami mu ya ajak shalat berjamaah juga." teriak Nisa menyuruh Latya.
"Ah i...iya." sahut Latya menjadi panik karena Rey yang dari tadi ia ketuk pintu nya tidak menyahut atau pun membuka pintu kamar.
"Ah nanti aku cari alasan lain lagi lah!" batin nya merasa bingung dan dengan cepat kembali ke kamar nya dan mengambil mukena.
Adzan subuh pun berkumandang, mereka sudah kumpul di sana untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. Latya yang baru saja gabung terkejut melihat Rey suaminya sudah duduk manis di belakang imam, yaitu Adam ayah nya sendiri. Terlihat khusyuk suaminya itu berdzikir.
"Eh ternyata bang Rey udah di sini juga. Ah aman dong kalau begitu." batin Latya lega. "Aman...." gumam nya.
Latya menjadi kikuk. "Aman aku gak telat shalat berjamaah nya hehehe." elak Latya cengengesan membuat Via dan juga Nisa yang sama-sama mendengar pun geleng-geleng saja.
Pagi hari semua berkumpul dalam satu ruang makan untuk menyantap sarapan pagi. Rey yang terlihat cuek sudah bersiap dengan seragam nya begitu rapi dan juga terlihat gagah sedang sibuk menyantap sarapan paginya.
Sedangkan Latya, dia sangat sebal dan juga merasa tidak enak juga jika suaminya itu cuek pada nya terlebih kejadian pagi Rey yang mengunci pintu kamar nya. Tadi pagi Latya tidak kembali lagi ke kamar Rey, rasanya malas saja berhadapan dengannya apalagi berduaan di dalam satu ruangan, dan Latya tidak merasa perlu atau pun butuh pada suaminya itu.
Untung saja hari ini dia masih cuti untuk tidak masuk magang, sedangkan Rey ia tidak memiliki cuti tambahan agar tidak mencurigakan perihal pernikahan yang masih di rahasiakan.
"Oh ya bunda ayah, aku nanti ikut anterin bunda sama ayah ke bandara ya." pintanya dengan menatap wajah Via dan Aris secara bergantian.
"Iya sayang boleh kok. Tapi hari ini masih ada cuti kan?" tanya Via lembut Latya mengangguk semangat karena ia senang akan akan mengantarkan kedua orang tua nya yang akan pulang ke rumah tempat kediamannya. Latya sih merasa sedih tapi dia ingat keinginan pertama kalinya dia ke Jakarta.
"Kamu jangan merepotkan bunda Nisa, ayah Adam dan juga suamimu ya, yang nurut!" ucap Via lirih.
"Iya." sahut nya pelan dalam hatinya ia ingin sekali pulang bersama kedua orang tuanya namun dia sekarang harus bertahan dulu sampai magang selesai, soal pernikahan nya dengan Rey itu masalah nanti.
Rey berangkat ya." pamitnya setelah ia selesai menghabiskan sarapan nya.
__ADS_1
Rey menciumi ke empat tangan orang tuanya berpamitan untuk berangkat bekerja.
"Rey." panggil Nisa lembut. Rey pun menatap Nisa yang memanggilnya. "Seperti nya kamu ketinggalan sesuatu?" goda Nisa pada Rey yang terlihat sangat cuek pada Latya istrinya.
Rey mengerutkan keningnya bingung lalu berpikir apa yang merasa ia tinggalkan. "Tidak ada." ucapnya cepat.
Nisa menghela nafasnya panjang. "Rey kamu lupa ya kalau sekarang itu kamu sudah punya istri, itu artinya kamu harus pamitan juga dong sama istri." seru Nisa menjelaskan.
"Oh." ucapnya lalu menatap ke arah Latya. "Abang pamit!" serunya dingin.
"Eh Rey masa seperti itu sih!" kesal Nisa pada anaknya itu. Nisa pun mengetuk-ketuk kan keningnya agar Rey mengerti namun salah Rey sama sekali tidak mengerti maksud Nisa menyuruh apa.
"Apa lagi Bun aku gak ngerti maksudnya, aku bisa terlambat ini kalau bunda mau main-main begini, sudah ya." kesal Rey.
Nisa mendengus kesal. "Rey cium kening istri kamu kalau kamu mau berangkat!" perintah Nisa tanpa basa-basi.
Rey menghela nafasnya berat. Lalu mendekat ke arah dimana Latya duduk ia tidak mau berbasa-basi dan terlambat masuk kerja untuk bertugas. Lalu ia pun dengan cepat mencium kening Latya tanpa malu oleh kedua orang tua nya dan juga kedua mertuanya yang menyaksikan itu.
"cup" "Abang berangkat ya!" pamitnya dengan wajah datar nya. Dengan melangkah pergi untuk berangkat.
Cessss tubuh Latya seakan lemas, jantung nya tiba-tiba berdetak dengan cepat merasakan dinginnya bibir Rey yang mencium keningnya.
Keempat orang tua yang menyaksikan itu bersorak gembira sedangkan Latya menahan wajahnya yang tersipu malu.
"Latya ayok antar suami kamu ke depan jangan bingung begitu!" goda Via membuat Latya salah tingkah di buat nya. "Ayok..." titah Via.
"I...iya." sahut nya seraya mengejar Rey yang akan berangkat bertugas.
Di depan pintu, Rey yang sedang memanaskan mesin motornya dan Latya memanggilnya seraya mendekati Rey yang sudah berada di atas motor nya.
"Bang Rey." panggil Latya agak ragu.
"Hemm." cuma itu saja sahutnya.
Latya menyodorkan tangan kanannya, membuat Rey menjadi bingung maksud nya apa dan mengerutkan keningnya.
"Apa?" tanya Rey heran.
"Tangan bang Rey mana?" pinta Latya namun Rey masih tidak mengerti, dengan cepat Latya menarik tangan kanan Rey lalu menciumnya dengan penuh khidmat, mencoba berusaha menjadi istri yang shalihah. "Aku cuma mau salim kok hehehe." ucapnya cengengesan membuat Rey melihatnya gemas dan hampir ia mencubit pipi Latya yang mulus itu namun ia sadar dan tidak melakukan nya sungguh sangat malu jika seorang Rey melakukan hal itu.
__ADS_1