Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
pulang ke rumah istri


__ADS_3

"Ayok kita pulang!" ajak Rey lembut seraya merebut handphone yang sedang Latya mainkan karena bosan terlalu lama untuk menunggu nya.


"Ish.." Latya berdesis sebal.


"Jangan main handphone terus, gak bagus buat janin, ayok kita pulang, memang nya kamu mau nginap di sini." omel nya tanpa henti.


"Ih sok tahu, apa hubungannya janin sama handphone." cebik Latya kesal.


"Adalah sayang, coba cek aja informasi dari mbah gulugulu pasti ada." balas nya.


"Eitsh.... ini Abang gak apa-apa antar aku pulang, Abang kan lagi tugas!" Latya heran bisa-bisanya suaminya itu santai dan mau mengantarkan ia untuk pulang.


"Tenang aja semua sudah beres, Abang udah dapat ijin kok, dari pihak kepolisian dan dari pihak pak Irham, semua baik-baik aja. Tenang... mungkin memang jalan nya kita harus bersama sekarang." ujar Rey dengan menaikan turunkan kedua alisnya menggoda.


"Ih gak banget, memang nya aku mau gitu!" ucap Latya berpura-pura cuek.


"Iya memang kamu gak kangen apa sama Abang, padahal Abang kangen banget sama kamu." aku nya jujur.


"Hahaha sejak kapan Abang suka bercanda dan menggombal." ejek Latya heran dengan sikap Rey yang sekarang.


"Abang gak suka bercanda apa lagi ngegombal, seperti tidak ada kerjaan saja!" jawabnya datar.


"Hemmm aku mesti percaya apa gak ya." Latya pura-pura berpikir keras.


"Udahlah gak usah di pikirkan, ayok kita pulang!" ajak nya seraya menggendong tubuh Latya dengan cepat.


"Eh... eh... eh mau ngapain?" tanya Latya panik.


"Mau gendong lah." sahut Rey.


"Gendong? Gak!" tolak Latya cepat.


"Kenapa?" tanya Rey bingung. "Kamu tuh lagi hamil dan Abang gak mau kamu lelah dan pingsan lagi!" ucapnya tidak mau di bantah.


"Malu lah bang Rey... ini kampus!" kesal Latya gemas.


"Ya gak apa-apa, tadi aja pas kamu pingsan Abang yang gendong sampai sini, jadi ngapain malu." jelas nya yang membuat Latya semakin kesal.


"Lha tadi kan aku lagi pingsan, masa iya pingsan jalan sendiri!" cebik nya dengan cemberut manyun.


Cup... Rey mengecup sekilas bibir Latya yang sangat dekat dengan wajahnya dengan tubuh Latya yang sudah ia gendong.


"Ih...!" kesal Latya karena suaminya curi-curi ciuman dari nya, seraya menepuk punggung lebar sang suami.


"Hahaha." Rey tergelak dengan tawanya karena sudah berhasil mengecup bibir istrinya.


"Nanti ada yang lihat bang, gak enak." bisik Latya tepat di telinga Rey.


Rey bergidik geli karena bisikan Latya yang seakan menyapu daun telinga nya. "Gak kuat Abang, geli!"


"Ya udah turunkan aku bang Rey...!" pintanya lembut.


"Gak!" tolak nya seraya berjalan keluar.


"Ih aku malu bang! Di sini banyak teman aku."


"Ya terus...apa salahnya?" Rey masih kukuh dengan wajahnya yang cool.


"Saya permisi dok, terima kasih sudah memeriksa istri saya." ucap Rey saat bertemu dengan dokter Gina ketika mereka akan keluar ruangan farmasi sedangkan Latya menyelusup menahan malu.


Dokter Gina pun tersenyum malu melihat tingkah polisi muda yang ada di hadapannya. "Sama-sama pak, semoga kehamilan nya selalu sehat ya Latya." ucapnya tulus.


Latya dengan malu menjawab doa dari dokter Gina itu. "Aamiin, terima kasih ya dok." ucapnya masih dalam gendongan suaminya.


"Kami permisi." sambung Rey.


"Mari dok." ucap Latya.


"Abang ih aku mau turun..." rengek nya.


"Gak!" sahut Rey.


"Isssh." Latya berdesis kesal. Lalu menghirup nafasnya panjang. Ia pasrah saat Rey tetap kekeuh untuk menggendong nya sampai parkiran.


Sedangkan sahabat Latya yang tadi ijin masuk duluan ke dalam kelas kampus pun meninggalkan Latya sendiri di ruangan farmasi.

__ADS_1


Latya terus menyelusupkan kepala nya ke dada Rey, ia sungguh malu pipinya tiba-tiba merasa panas karena menahan rasa malu, orang-orang sekitar menatapnya dengan berbagai ekspresi, ada yang suka, ada yang merasa iri ada juga yang mencibir.


"Bang aku malu ih!" bisiknya.


"Diam kamu jangan bisik-bisik di telinga Abang geli." omel Rey seraya bergidik geli.


"Aku itu hamil bang, bukan sakit, jadi please turunin aku..." rengek nya malu.


"Gak, diam aja bentar lagi sampai kok ke parkiran." jelas Rey.


"Ih aku malu sama dosen di sini." Latya masih mencari alasan.


"Gak apa-apa, mereka sudah tahu kok kamu istri Abang." sahut nya masih dalam santai.


"Kapan Abang kasih tahu sama dosen aku?" tanya Latya penasaran.


"Tadi, udah ah gak usah di bahas." potong nya malas.


"Ini mobil siapa?" tanya Latya saat sudah sampai di parkiran dimana Rey memarkirkan mobil yang Latya tidak kenal.


"Mobil pak Irham, Abang pinjam sebentar."jawab nya cepat.


"Kok bisa?" Latya heran.


"Udah nanti Abang jelaskan." sahut nya.


"Coba kasih alamat rumah kamu yang." titah Rey setelah masuk ke dalam mobilnya seraya merentangkan kedua tangannya yang pegal karena menggendong istrinya cukup jauh.


"Kenapa bang pegal ya?" goda Latya melihat suaminya terlihat meregangkan otot-otot nya.


"Sedikit." kilahnya.


"Sok-sok an gendong aku, aku kan dari tadi minta turun tapi Abang ngeyel! Pegal-pegal kan jadinya." ejek Latya seraya membantu memijat-mijat lengan Rey yang sedikit berotot.


"Udah pijat nya ntar aja di rumah ya, Abang mau minta pijat yang enak." goda Rey membuat Latya cemberut.


"Ah di kasih hati minta ampela." cebik Latya sebal.


"Minta jantung kali." ralat nya Rey.


"Hehehe, udah mana alamat rumah kamu kita pulang sekarang." potong Rey gemas melihat istrinya itu.


Latya mendengus. "Rumah mertua aja gak tahu, huh mantu durhaka kamu bang." ucap Latya datar seraya melihatkan maps peta alamat rumah nya pada Rey.


"Enak aja, kan kamu tahu sendiri Abang gak pernah ke rumah kamu, ini kali pertamanya Abang kesini." ucapnya tidak terima.


"Hemm kita nikah tapi kayak pacar yang ketemu di medsos, serba dadakan." sambung Latya.


"Udah jangan ngomel mulu, kasihan nih dede di perut kamu dengerin ibunya ngomel-ngomel mulu." Rey menenangkan Latya.


"Biarin ah ini juga gara-gara Abang!" kesal nya.


"Jangan kesal-kesal, ntar Abang cium!" ancam Rey yang membuat Latya mendelikkan kedua matanya dan tidak bicara lagi.


"Nah gitu kan adem lihat nya." ucap Rey saat melihat Latya diam.


Sesampainya di rumah kediaman Latya, Latya langsung turun dan melihat ayahnya yang sudah pulang dari tugas nya berhari-hari.


"Ayah...." teriak Latya memanggil Aris seraya berlari tanpa sadar dirinya sedang hamil.


"Stop nak!" cegah Aris melihat anaknya berlarian seperti itu.


Namun Latya terus saja berlari mendekati ayahnya yang berdiri di depan pintu lalu memeluk nya.


Aris pun memeluk Latya dengan erat sebagai ayah ia pun merindukan putri nya itu karena berhari-hari tidak bertemu.


"Kamu itu sedang hamil, bagaimana bisa kamu berlari-larian seperti itu nak." omel Aris kesal.


"Hehehe aku lupa yah." jawab Latya cengengesan.


"Jangan di ulangi!" tegasnya melarang.


"Siap komandan!" sahut nya.


Rey ke luar dari mobilnya dan menghampiri Aris mertuanya yang sedang di peluk oleh istrinya itu.

__ADS_1


"Rey kamu di sini?" tanya Aris heran.


Rey pun mencium punggung tangan mertuanya. "Iya yah kebetulan sedang ada tugas di sini." jawabnya. "Kebetulan sekali bisa bertemu dengan Latya." sambung nya.


"Lalu kenapa kalian bisa bertemu, apa tugas kamu di daerah sini?" tanya Aris.


"Tugas bang Rey di kampus aku yah, kebetulan banget ya, kalau gak ada tugas gitu mana mau bang Rey kesini." ucap Latya membuat Rey menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.


Aris mengerutkan keningnya. "Begitukah Rey?" tanyanya membuat Rey gugup.


"Emh, ya karena ayah tahu kan pekerjaan aku tidak mudah untuk ambil cuti, jadi mesti bersabar." jelas nya menghilangkan kegugupan nya karena istrinya sengaja memojokkan dirinya.


"Ya benar kamu Rey, pekerjaan seperti kita memang tidak mudah untuk bisa bersama dengan keluarga." ujar Aris membenarkan.


Rey merasa di atas angin karena alasan nya itu masuk akal oleh mertuanya itu sedangkan Latya mencebik kesal karena merasa sudah kalah telak dengan suaminya itu dan kesal juga karena Rey tersenyum mengejek padanya saat ayah Aris membela nya.


"Ya sudah kita masuk, bunda sedang di dapur dia pasti belum tahu kamu datang kemari." ujar Aris merangkul bahu Rey untuk mengajaknya ke dalam rumah.


Latya masuk lebih dulu dan menemui bundanya yang sedang di dapur.


"Bunda..." seruan Latya membuat bundanya terkejut.


"Aduh Latya kamu bikin bunda kaget aja sih!" sebalnya. "Lho kenapa jam segini kamu udah pulang?" tanyanya heran.


"Aku tadi pingsan Bun di kampus." jawab Latya.


"Apa pingsan?" Via terkejut.


"Iya, jadinya sekarang pihak kampus tahu kalau aku lagi hamil." jelas Latya.


"Lalu bagaimana?" bunda Via penasaran.


"Aku gak tahu, bang Rey yang jelaskan sama pihak kampus." jelas nya memberi tahu.


"Rey?"


"Ya bang Rey mantu bunda." balas Latya semakin membuat Via penasaran.


"Rey ada di sini?" tanya Via dan di angguki oleh Latya.


"Mana sekarang?" tanya Via.


"Tuh di depan lagi ngobrol sama ayah."


Via pun berniat bertemu dengan mantunya itu, melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana mantu dan suami nya sedang mengobrol.


"Rey kamu datang kesini kok gak bilang-bilang, apa kabar kamu Rey?" tanya Via merasa senang


"Alhamdulillah Bun baik, maaf aku dadakan datang kesini." ujar Rey.


"Tidak apa-apa sih, kapan saja kamu mau datang bunda sama ayah senang kok, cuma ya bunda jadi gak siap-siap bikin apa gitu buat kamu." ujar Via.


"Gak usah Bun, aku gak mau merepotkan bunda." tolak Rey lembut.


"Bunda gak repot kok, tapi kamu malam ini menginap kan di sini?" tanyanya memastikan.


"Emh kalau bunda dan ayah menginjinkan." ucapnya dengan senyumnya.


"Boleh lah kamu kan suami Latya." jawab Via membolehkan.


"Tapi aku belum mengijinkan ya!" celetuk Latya keluar dari kamarnya.


"Kenapa? Bukan nya kamu kangen sama Rey, setiap hari selalu uring-uringan kalau suami mu itu tidak mengirimkan pesan." goda via menggoda Latya.


"Ih bunda, apa sih!" balas nya gugup.


"Ngaku aja gak usah malu, ntar malu-maluin tahu!" Via semakin menggoda anaknya karena terlihat gengsi untuk mengakui bahwa dirinya merindukan suaminya.


"Ih tahu ah!" ucapnya seraya pergi kembali ke atas ke kamar nya.


"Maaf ya Rey Latya suka begitu, gengsinya gede." ucap Via.


"Iya seperti bundanya." celetuk Aris datar.


"Idih ayah suka ikut campur." kesal Via dan Aris pun tergelak.

__ADS_1


"Perempuan memang seperti itu ya Rey, kalau mau bilang nya gak usah padahal di hati nya mau. Memang nya laki-laki itu bisa membaca pikiran dan hati." Aris curcol pada Rey dan Rey hanya tersenyum saja melihat tingkah laku kedua mertuanya itu.


__ADS_2