
Pagi ini Rey yang sedang sangat bahagia itu terlihat senyum-senyum sendiri saat dirinya sedang bertugas di luar.
"Hah cuaca cerah sekali ya Dre." ucap Rey tanpa sadar dengan senyuman yang dari tadi tersungging dari bibirnya membuat Andre berkerut melihat dan mendengarkan ucapan Rey itu.
Andre melihat ke arah luar yang sedang turun hujan, dan Rey baru saja bilang kalau cuaca sangat lah cerah. Andre menempelkan punggung tangan nya pada kening Rey. "Tidak panas!" serunya. "Gila elu lagi kumat Rey, hujan deras begini elu bilang cerah?" tanya Andre heran seraya menggelengkan-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Rey hari ini sangatlah berbeda.
"Kemarin dia marah-marah sama gue gara-gara gue dekat dengan Latya, sekarang dia jadi gila." seru Andre bergidik ngeri.
"Ah gue jadi pengen cepat pulang." gumam nya dengan senyuman yang mengembang.
"Ah Latya..." panggil nya dalam hati. "Kamu istri yang selalu membuat ku merasa bahagia." batin nya lagi.
"Wah kayaknya elu lagi jatuh cinta ya Rey?" tanya Andre saat melihat Rey seperti orang yang sedang jatuh cinta.
Rey mengangguk membenarkan. "Lebih dari itu." gumam nya.
"Wah kabar bagus ini, siapa sih cewek yang bisa membuatnya elu jatuh cinta seperti ini? Apa gue tahu?" tanyanya penasaran.
Rey diam saja tidak menjawab pertanyaan Andre. "Siapa sih gue penasaran nih, cewek mana yang bisa menaklukkan hati elu yang sedingin es." ujarnya semakin penasaran.
"Rahasia." balas Rey seraya pergi meninggalkan Andre yang penasaran.
"Rey... Rey..." panggil nya.
Saat di kantor dimana Latya magang, Latya tengah sibuk dengan kegiatan yang di berikan pembina nya yaitu Bripda Desti, di saat tengah sibuk itu ia menerima sebuah pesan dari kontak nomor yang baru di layar handphone nya.
Latya mengerutkan keningnya saat membuka pesan tersebut. Di dalam isi pesan itu pun membuat Latya semakin bingung setelah ia membuka pesan itu.
"Latya bisa kita bertemu setelah kamu selesai magang? sore nanti. Tante Rahma."
"Latya kalau bisa Tante hanya ingin bertemu dengan kamu saja, jangan sampai Rey tahu kalau tante ingin bertemu dengan kamu."
"Tante tunggu di cafe Alam ya, sampai jumpa nanti sore."
Itulah isi pesan yang di kirimkan dari nomor baru itu dan itu dari Tante Rahma sahabat dari ibu mertua nya.
'Ada apa ya Tante Rahma mau bertemu denganku?' batin Latya penasaran.
'Apa ini ada hubungannya dengan Maura?' batin nya lagi.
'Tapi... kenapa bang Rey tidak boleh tahu kalau tante Rahma mau ketemu aku?' batin Latya terus saja bertanya dalam hatinya.
"Ya sudahlah nanti aku temui tante Rahma, siapa tahu memang ada kepentingan." ujar Latya seraya mengangkat kedua bahunya cuek.
"Tapi apa alasan aku sama bang Rey, kalau nanti bang Rey jemput aku." gumam nya seraya berpikir keras mencari alasan.
"Apa aku pulang cepat aja ya, ijin gitu? Ah gak aku takut ketahuan ijin kemana." pikir Latya kembali.
"Aku balas apa ya sama tante Rahma, apa aku setujui atau jangan?" bingung Latya berpikir.
"Bagiamana Latya apa kamu mau bertemu dengan tante, please..." sebuah pesan dari Rahma ketika ia tahu kalau Latya sudah membaca pesan darinya.
"Ya ampun tante Rahma kirim pesan lagi? Jawab apa aku ya?" gumamnya.
"Gimana nanti saja ya tante, aku tidak janji tapi Latya akan mengusahakan untuk bisa bertemu dengan tante." tring pesan yang di balas Latya pun terkirim dan langsung di baca oleh Rahma.
"Ok, segera kabari tante kalau kamu bisa." balas nya lagi.
Latya tidak membalas lagi pesan dari Rahma itu, namun ia menghela nafasnya panjang. "Kenapa perasaan aku tidak enak ya, sebenarnya apa yang akan di bicarakan tante Rahma sama aku?" batinnya penasaran.
*
*
*
Sore harinya, ntah kenapa Latya memiliki waktu untuk bertemu dengan tante Rahma, karena Rey mengabarkan jika dirinya akan pulang terlambat dan tidak bisa pulang bersama seperti biasanya. Pekerjaan nya yang tiba-tiba saja mendapatkan tugas, mau tidak mau Rey harus mengabarkan istrinya itu.
__ADS_1
"Istriku, Abang pulang terlambat, kamu gak apa-apa kan pulang sendiri?" pesan Rey untuk Latya.
"Iya gak apa-apa, aku bisa kok pulang sendiri. Abang tenang aja." balas Latya cepat.
"Setelah sampai rumah kabari Abang ya." pesan nya lagi.
"Ya." balas Latya cepat.
"I love you my wife." balas Rey.
Latya tidak membalas pesan Rey karena ia langsung menuju cafe dimana Rahma sudah menunggunya.
"I love my wife?" Rey mengirim pesan lagi.
"I love you my wife?!" Rey terus saja mengirimkan pesan nya lagi.
"Sayang kenapa tidak membalas pesan ku?" tanyanya mulai posesif.
Rey pun langsung memanggil Latya dengan panggilan video call karena Latya tidak membalas pesan nya itu, kekhawatiran Rey pada Latya itu saat ia tiba-tiba ia teringat akan kejadian kecelakaan yang menimpa Latya dulu, Rey takut jika hal itu terjadi lagi ketika dirinya jauh dengan Latya.
"Aduh bang Rey kenapa video call aku sih?!" gumam Latya kesal padahal dirinya sedang berbalas pesan dengan Rahma.
Latya kini sedang berada di mobil online yang sudah ia pesan sebelumnya. Dengan merapihkan duduk dan penampilan nya Latya pun menjawabnya panggilan video call dari suaminya itu.
"Assalamualaikum bang." sapa nya dengan menampilkan senyum manisnya itu.
"Wa'alaikumussalam! Kenapa gak balas pesan Abang?" tanya nya terlihat kesal.
"Hehe aku lagi di jalan, maaf ya Abang ku sayang." goda nya.
"Hemm kamu gak lagi bohong kan?!" Rey menatap dengan penuh curiga.
"Ngapain bang aku mesti bohong, tuh tuh tuh." Latya memperlihatkan ke arah jalanan dimana ia sedang di dalam mobil.
"Coba kamu tunjukkan wajah supir online nya Abang mau lihat." titah nya.
"Wajahnya sayang itu gak keliatan!" seru Rey. Mereka menggunakan headset jadi hanya mereka lah yang mendengar nya.
"Aku gak enak bang." rengek nya.
"Hemm ya sudah, kamu hati-hati ya, ingat langsung pulang!" titah nya.
"Iya." jawabnya pelan.
"Ya udah Abang tugas dulu, i love you." ucapnya.
"Iya." jawab Latya.
"Iya apa? Jawab dong!" titah nya.
"Aku malu bang di sini gak cuma aku." rengek nya.
"Abang gak mau tahu, kamu harus jawab! Kalau gak jawab Abang gak bakal tutup panggilan nya." sergahnya mengancam.
"I love you too." jawab Latya malu-malu.
"Haha nah gitu dong!" love you too sayang nya Rey." sambung nya. "Ingat langsung pulang!!!"
Latya menggelengkan kepalanya setelah panggilan nya terputus, rasanya malu sekali bermesraan di dengar oleh orang lain.
"Pacar nya ya mba yang telpon tadi?" tanya sopir yang tiba-tiba bertanya dan sok dekat.
Latya tersenyum kikuk. "Suami saya pak." jawab Latya.
"Oalah mba nya udah nikah toh, saya kira pacar nya, mba masih muda sih jadi saya pikir itu bukan suami mba." pikir sopir nya itu.
"Gak apa-apa pak." senyum Latya dengan manis.
__ADS_1
'Maaf ya bang Rey aku bohong, aku gak langsung pulang.' lirih nya dalam hati.
Tak lama Latya pun sampai, dan tante Rahma pun dari tadi terus saja mengirim pesan menanyakan keberadaan nya dimana.
"Maaf tante aku terlambat." ujar Latya tidak enak karena tante Rahma lebih dulu datang ke cafe itu.
"Ya tidak apa-apa, tante mungkin yang datang lebih awal ke sini." balas Rahma ramah.
"Silahkan duduk!" titah nya mempersilakan Latya untuk duduk di depannya. "Kamu mau pesan apa?" tanyanya lagi.
"Aku minum aja tante." ucap Latya.
"Oh ya sudah, tante pesan minuman untuk kamu." ujarnya seraya memanggil seorang pelayan untuk memesan minuman.
Latya mengangguk pelan dengan senyum tipisnya. "Aduh kenapa aku deg degan ya. Perasaan aku kok gak enak begini." batin nya.
Rahma tersenyum melihat ke arah Latya dan Latya pun membalasnya senyuman itu. "Latya kamu cantik ya, pantas saja Rey menyukai kamu." puji Rahma dengan lembut.
"Terima kasih tante." balas Latya dengan senyum nya.
Rahma menghela nafasnya panjang. Ia terdiam mengumpulkan sesuatu yang akan ia sampaikan pada Latya.
"Emh Latya, maaf ya tante sudah meminta kamu untuk menemui tante." ucap Rahma pelan. Latya masih diam mendengarkan apa yang akan di ucapkan oleh Rahma selanjutnya.
"Tante..." ucapnya menjeda. "Hanya ingin meminta kamu untuk... melepaskan Rey untuk Maura." ucapnya menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan.
Deg. Latya terdiam mendengarkan apa yang di katakan oleh Rahma.
"Ma... maksud tante?" tanya Latya tidak mengerti.
Rahma menghirup nafas nya dalam-dalam. "Latya kamu adalah gadis yang sangat cantik, pintar, dan juga sehat. Mendapatkan kasih sayang yang kamu bisa dapatkan dari kedua orang tua kamu, karena kedua orang tua kamu masih hidup dan juga mereka sangat menyayangi kamu. Kamu tidak memliki penyakit yang berbahaya juga. Kamu sungguh gadis yang sangat beruntung sekali, Latya." ucap Rahma lembut.
"Maksud tante, aku harus meninggalkan bang Rey dan mendekatkan ia dengan Maura?" tanyanya dengan nada bergetar.
Rahma mengangguk. "Iya, apa kamu bisa?"
"Tante tahu kamu dan Rey memiliki sebuah hubungan percintaan, tante tahu jika kamu dan juga Rey hanya sebatas bertunangan? Iya kan? Nisa yang memberi tahu tante jika kamu dan Rey sudah bertunangan. Saat tante meminta Nisa untuk mendekatkan Maura dengan Rey, tapi tante kecewa karena jawaban Nisa seolah menolak permintaan tante untuk mendekatkan Rey dengan Maura." ucap Rahma kecewa dengan Nisa dan sedikit geram bisa-bisa Nisa tidak menyetujui hubungan antara Rey dan Maura, padahal mereka sudah bersahabat sangat lama.
Latya menunduk dengan matanya yang mulai berkaca-kaca, Latya belum bisa menjawab apa yang harus ia lakukan.
"Latya... tante mohon sekali sama kamu, tolong pikirkan permintaan tante ini, Maura sangat membutuhkan Rey di sisinya saat ini. Kamu tahu kan akhir-akhir ini Maura mendapatkan kesedihan yang bertubi-tubi dalam waktu yang sangat dekat, apalagi dengan tubuh nya yang sekarang ini ia begitu lemah dan sering drop. Tante khawatir dan begitu cemas dengan keadaan Maura saat ini, ia sungguh sangat kehilangan orang-orang yang ia cintai. Kamu tahu Maura tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang lengkap dari semenjak ia kecil bahkan sampai dewasa Maura tidak pernah merasa di sayangi oleh ibu nya itu. Dan sekarang Maura harus kehilangan papa tercintanya oleh ibu kandungnya sendiri, bagaimana Maura tidak merasa sedih, coba kamu bayangkan Latya bagaimana sedihnya kehidupan Maura." urai Rahma menceritakan pahitnya kehidupan Maura.
"Jauh sekali dengan kehidupan kamu yang sangat beruntung, Latya. Dan sekarang Rey memilih kamu, apa kamu tega melihat Maura semakin terpuruk karena tidak bisa memiliki Rey." lanjut Rahma.
"Tapi aku dan bang Rey saling mencintai tante, kami sudah saling mengikat dengan perasaan kami. Dan bang Rey pasti akan menolak Maura juga. Cinta tidak akan pernah bisa di paksakan tante!" Latya mencoba mempertahankan apa yang ia miliki.
"Perasaan cinta akan hadir seiring berjalannya waktu, tante yakin jika Rey terus selalu bersama rasa cinta Rey pada Maura akan tumbuh dan kamu bisa melepaskan Rey secara perlahan. Kamu harus menjauhi Rey agar Rey tidak selalu fokus pada kamu." ujar Rahma masih kekeh.
Rahma meraih tangan Latya dan menggenggamnya dengan erat. "Tolong Latya, tolong tante, Maura sakit, ia butuh Rey, Rey penyemangat untuk Maura saat ini." ucapnya lagi dengan memohon.
"Aku harus bagaimana tante, ini semua tidak akan mudah." Latya bingung.
"Kamu cukup jauhi Rey dan melepaskan Rey secara perlahan." ucap Rahma memberi tahu.
"Aku tinggal satu rumah bersama bang Rey, lalu aku harus bagaimana?" tanya Latya pada Rahma. 'Bahkan satu kamar.' batin nya.
"Sebisa mungkin kamu menghindari dari Rey dan kamu jangan pernah katakan pada siapapun kalau Tante meminta hal seperti ini, tante akan membuat Rey dekat dengan Maura dengan cara tante." ujarnya.
"Kamu setuju kan Latya?" tanya nya serius. "Tante harap kamu mengerti dan tante yakin kamu gadis yang baik, kamu tidak akan tega melihat Maura kehilangan semangat hidupnya." sambung nya lagi.
"Kamu pikirkan saja dulu jika memang ini membuat kamu terkejut, tapi tante sangatlah berharap sekali sama kamu." ujarnya. "Tante duluan ya, tante akan menemani Maura di rumah sakit." ucap nya lagi.
Latya mengangguk pelan dan menatap kepergian Rahma yang meninggalkan nya dalam kesedihan atas permintaan anehnya itu.
Latya tersenyum sinis. "Tante Rahma bilang aku bukan gadis yang tega melihat Maura sakit, begitu yakin sekali tante Rahma itu. Lalu dia? Dengan tega nya memintaku untuk menjauhi bang Rey! Apa dia memikirkan perasaan aku saat ini?" gumam Latya dengan perasaan yang sendu.
Latya mendesah panjang merasakan sakit yang luar biasa di dalam hatinya itu, sungguh sangat menyakitkan!
__ADS_1
"Ya Tuhan aku harus bagaimana sekarang? Aku bingung?" desahnya.