
Sembilan bulan dimana kini kandungan Latya sudah menginjak usia kehamilan trimester tiga, itu tanda nya Latya sudah akan menunggu ia akan melahirkan bayi, buah cintanya dengan bang Rey suaminya.
"Sayang, bayi kita semakin aktif saja ya, lihat pergerakan nya jika aku sentuh." ucap Rey saat ia mengusap lembut tangan nya pada perut besar istrinya itu.
"Ya alhamdulilah dong bang itu tandanya bayi kita sehat." balas Latya seraya melahap makanan yang ada di hadapannya tanpa henti.
"Sayang apa kamu belum kenyang? Aku lihat dari tadi kamu makan aja gak ada hentinya." melihat mulut istrinya yang terus-menerus melahap makanan nya.
"Kenapa memang nya gak boleh?!" ketus Latya merasa di larang.
"Bukan begitu sayang, cuma Abang lihat nya jadi gimana gitu, kamu yang makan tapi Abang yang berasa begah." jelasnya merasa mual melihat istrinya makan.
"Abang mau bayi kita kekurangan gizi?" tanyanya sebal.
"Jangan dong, Abang kan cari uang untuk kalian bisa hidup sehat hehehe, ya udah deh lanjut aja makannya ya." ucap Rey lembut takut istrinya kesal dan tidak melanjutkan makannya.
"Tuh Abang tahu..." balas Latya cuek saja dan melanjutkan makannya.
Semenjak hamil Latya memang makannya super banyak, membuat Rey kadang geleng-geleng kepala melihatnya, ya seperti saat ini, tapi yang anehnya tubuh Latya tidak begitu membengkak walaupun makan nya begitu banyak. Sering cek up ke dokter kandungan dan keadaan tubuh dan bayi di dalam kandungan nya pun sehat.
Rey sebenarnya tidak mempermasalahkan jika Latya makan nya banyak, toh itu untuk dua orang untuk Latya dan jangan dan juga bayinya, hanya Rey selalu merasa begah dan mual jika Latya makan seperti tidak ada kenyang nya.
"Kenapa sih?" tanya Latya dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Gak ada apa-apa." balas Rey tersenyum manis pada istrinya itu.
"Heran ya aku makan nya banyak?" sarkas nya.
"Hehehe." Rey cengengesan dan menganggukkan kepalanya.
Latya hanya mendelikkan kedua matanya cuek. "Takut badan aku kayak kebo?!" ketusnya.
"Gak ah, malah Abang mau badan kamu kayak gini terus, empuk." goda nya.
"Kasur kali ah empuk." sahut Latya.
"Hehehe bukan, tapi istri Abang yang terlihat ****." goda Rey seraya memeluk tubuh istrinya itu.
"Ah jangan peluk-peluk gerah." di dorong nya tubuh Rey agar menjauh darinya.
Rey menekuk wajahnya sebal. "Kenapa sih gak mau di peluk?!" kesal nya.
"Gerah Abang... aku kan lagi makan juga." kilah nya.
"Ah kesal!" Rey pura-pura merajuk.
"Idih." Latya memutar bola matanya malas melihat Rey merajuk.
"Dulu aja minta di peluk terus, sekarang aja begitu!" Rey masih sebal.
"Hahaha Abang kayak anak kecil deh!" goda Latya. "Ingat lho kita sebentar lagi mau punya anak, jadi Abang jangan kekanak-kanakan seperti itu." gemas Latya.
"Abang kan cuma mau peluk kamu, tapi di tolak." jelasnya.
Latya mendorong piring makanan nya agar ia lebih leluasa memeluk suaminya yang sedang merajuk itu. "Hadeeeeh..." ucapnya gemas seraya menarik tubuh suaminya dan memeluknya dengan erat.
"Nanti kalau bayi kita udah lahir, Abang pasti jarang di peluk sama kamu." ucapnya dalam dekapan Latya.
"Kata siapa?" tanya Latya lembut.
"Teman Abang yang udah punya anak." sahut Rey pelan dan menelusup ke di atas perut Latya.
"Teman Abang bilang apa?" tanya Latya gemas mendengar suaminya yang sedikit cemburu dengan bayi yang bahkan belum lahir itu.
"Katanya, istrinya selalu sibuk dengan mengurus bayinya setelah ia melahirkan dua anak kembarnya, istrinya jarang peluk dia dan kadang teman Abang gak pernah ke urus sama istrinya itu." jawab Rey pelan.
"Hemmm mungkin istrinya bukan gak mau mengurus dan peluk suaminya itu, tapi ya karena anaknya kembar jadi repot dan lelah, apalagi jika mengurus bayinya sendirian. Udah ah jangan percayaan sama orang apalagi tentang rumah tangga, kan kita yang jalani." Latya mencoba menenangkan suaminya itu dengan terus mengusap punggung lebar suaminya yang sedang manja akut.
"Kamu gak akan gitu kan?" tanya Rey masih nyaman nya di pelukan Latya.
"Ya gak akan lah Abang ku sayang, ya walaupun mungkin perhatian aku akan terbagi dua sama Abang dan juga bayi kita." ujarnya.
"Tuh kan!" sela Rey.
"Ya tapi aku akan berusaha menjadi istri Abang yang baik dan jadi ibu yang baik juga." ucapnya mantap.
Rey melepaskan pelukannya dan menatap ke arah istrinya dengan tatapan serius. "Janji?" ucap nya seraya menunjukkan jari kelingking nya dan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Latya.
"Janji." jawab Latya cepat dan mengaitkan jari kelingking nya dengan erat.
Rey pun tersenyum menatap istrinya yang juga sama-sama sedang tersenyum.
"Hadeeeeh kalian itu lagi apa sih?!" tiba-tiba suara bunda Nisa membuyarkan tatapan suami istri itu.
__ADS_1
"Ah bunda ganggu aja." canda Rey.
"Kalian itu seperti anak kecil saja, main kelingking begitu, geli bunda lihat nya, kamu juga Rey, mana ada polisi seperti kamu!" cibir Nisa melihat kelakuan anaknya.
"Ada, kata siapa gak ada." balas Rey.
"Siapa?" tanya bunda Nisa kepo.
"Aku." jawab Rey cepat dengan pedenya.
Nisa memutar bola matanya malas mendengar kepedean anaknya itu. "Anak bunda yang kayak es salju mencair karena matahari terlalu panas." ucap Nisa seraya pergi meninggalkan anak dan mantunya itu.
Latya hanya cekikikan saja melihat mertuanya yang terlihat sebal meninggalkan mereka.
***
Esok harinya sebelum Rey berangkat ia tidak pernah lupa akan kebiasaan nya pada Latya istrinya.
"Abang berangkat ya." pamit nya seraya mencium kening istrinya dengan lama.
"Iya, hati-hati ya." balas Latya dengan lembut.
"Kalau ada apa-apa jangan diam saja, cepat hubungi Abang." titah nya.
"Iya. Abang tenang aja kan di rumah aku juga sama bunda, jadi Abang gak usah khawatir." Latya menenangkan Rey.
"Ya udah, Abang berangkat ya. Assalamualaikum." ucap nya seraya mengusap perut Latya dan mengucapkan salam pada calon bayi nya itu. "Nanti malam kita bertemu." ucap Rey dengan tatapan mata nakal saat melihat ke arah istrinya itu.
"Hisss." Latya mendesis karena mengerti akan maksud suami nya dan Rey memainkan kedua alisnya itu untuk menggoda istrinya.
"Siap-siap ya." bisik nya di telinga Latya.
Plak... sebuah pukulan tangan Latya pada lengan Rey, Rey tidak mengaduh kesakitan melainkan senyuman yang ia tampilkan.
"Udah berangkat sana!" usir Latya gemas. Rey tergelak melihat pipi istrinya memerah.
"Ya Abang berangkat!" ucapnya seraya menaiki motor ninja nya yang sudah ia panaskan mesinnya.
Setelah Rey berangkat Latya pun masuk ke dalam rumah nya, dan merasakan perutnya yang tiba-tiba sakit, namun hanya sedikit dan tidak lama rasa sakit itu pun hilang.
"Aw..." ringis nya sembari mengusap lembut perut nya itu. Dut. tendangan kuat yang di rasakan Latya oleh kaki kecil bayi dalam perutnya.
"Aduh nak pelan-pelan dong kalau mau nendang." gumam nya dengan tersenyum dan terus mengelus perut besarnya itu.
Latya yang baru pertama kali mengandung dan belum banyak mengerti tentang kehamilan, walaupun dia sering sekali di beritahukan oleh Nisa ataupun Via ibunya tetap saja ia tidak begitu menyadari bahwa sakit perut nya yang ia alami itu adalah kontraksi dini.
Latya santai saja, karena sakit nya masih bisa ia tahan, dokter kandungan bilang jika Latya di perkirakan akan melahirkan dua Minggu lagi. Makanya ia santai saja, tanpa berpikir jika saat ini ia sedang kontraksi dan mungkin saja sudah pembukaan.
Sore menjelang magrib Latya yang sudah merasakan tidak nyaman dengan perutnya itu pun terus meringis kesakitan, pasalnya ia rasa sakit nya itu semakin lama semakin sering dan semakin sakit yang ia rasakan.
"Aw... aduh sakit..." rengek nya pelan.
Latya pun keluar dari kamarnya dengan kaki berjalan pelan karena Miss vi nya pun sudah tidak nyaman.
"Bunda..." panggil nya pelan dan dengan meringis kesakitan.
"Bunda..." panggil nya pada Nisa mertuanya yang ia tahu ada di rumah. "Bunda Nisa kemana sih?!" gerutu nya dengan sesekali mendesis.
"Bunda..." panggil nya lagi.
"Ada apa sayang? Bunda tadi lagi sholat." tanya Nisa menuruni tangga dan menghampiri Latya.
"Perut aku sakit bunda." rengek nya dengan wajahnya yang pucat dan keringat yang membasahi kening nya.
"Apa mungkin kamu mau melahirkan?" tanya Nisa panik melihat menantunya itu terlihat kesakitan.
"Aku gak tahu Bun, sakit nya dari pagi, tapi sekarang malah tambah sakit, aw..." rintihnya di tengah ia berbicara.
"Kenapa kamu gak bilang dari tadi pagi." gemas nya Nisa punya menantu masih muda. "Ayah...!" panggil Nisa pada Adam yang kebetulan sudah pulang dari tugasnya.
"Ada apa sih Bun teriak-teriak!" sebal Adam dengan kebiasaan istrinya itu.
"Latya mau melahirkan ayah, ayok cepat kita bawa Latya ke rumah sakit." jawab Nisa cepat.
"Apa? Melahirkan?" Adam pun ikut panik karena melihat Latya terus meringis memegang perutnya yang besar itu.
"Ayok ayah siapkan mobil, kita harus segera bawa Latya ke rumah sakit." Nisa yang menenangkan hatinya agar ia tidak panik seperti ini.
"I... iya sebentar ayah bawa kunci mobil dulu." ijinnya seraya pergi ke kamar karena kuncinya ia simpan di kamarnya.
"Ayah buruan!" teriak Nisa.
"Iya sebentar." sahut Adam dengan cepat menuruni tangga.
__ADS_1
"Ayok, ayah gendong ya." tawar Adam melihat menantunya meringis dan seperti susah untuk melangkahkan kakinya.
Adam pun mencoba menggendong tubuh Latya. "A... aduh... be...ra...t." ucapnya saat menggendong Latya.
Latya tersenyum sambil meringis karena ayah mertuanya kewalahan menggendong tubuhnya.
"Maklum ayah udah mulai tua." ucapnya di sela ia tengah menggendong Latya.
"Maaf." lirih Latya tidak enak namun perut nya yang begitu sakit ia tidak bisa menolak nya dan Latya dengan terus meringis kesakitan di gendongan Adam ayah mertuanya.
"Sudah tidak apa-apa." balas Adam mencoba menenangkan Latya.
"Bun tolong bukakan pintu mobilnya!" titah Adam pada Nisa dan dengan cepat Nisa pun membuka pintu belakang mobil lalu Adam pun segera memasukkan tubuh Latya ke dalam mobilnya, Nisa pun duduk di belakang untuk menemani Latya.
Sedangkan Rio Nisa sudah ia titipkan pada bi Mimin pembantu rumah nya karena khawatir Rio tidak ada yang menemani.
Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, tiba-tiba saja jalanan macet, biasanya jalanan yang biasa mereka lalui tidak begitu macet seperti ini.
"Ayah kenapa berhenti sih, kita harus cepat bawa Latya ke rumah sakit!" omel Nisa pada suaminya itu dengan nada panik.
"Lihat Bun jalanan macet begini, mobil ayah gak bisa jalan!" jawab Adam begitu panik juga.
Nisa pun menatap ke arah luar kaca depan, samping dan belakang. "Masa Allah macet begini, bagaimana ini yah? Kenapa bisa macet begini sih?!" kesal Nisa seraya terus mengusap lembut perut Latya yang terus meringis membuat Nisa dan juga Adam semakin panik.
"Aduh yah cari jalan kenapa?" kesal Nisa melihat Adam yang masih mengegrutu.
"Jalan kemana Bun ini jalanan macet, mobil ayah gak bisa mundur ataupun maju." jelas Adam tidak sabar.
"Lalu kita diam saja seperti ini sampai jalanan kembali normal, itu kelamaan ayah...!" kesal Nisa tidak sabar.
"Sebentar Bun jangan buat ayah semakin panik!" balas Adam mendesah.
Adam pun mencoba menelpon nomor Rey, ia ingat jika Rey sedang bertugas di jalanan sekitar jalanan yang di lalui kendaraan nya.
"Ya ampun ayah malah telepon, nelpon siapa sih?" Nisa masih mengegrutu karena sikap suaminya itu.
Adam menyuruh Nisa untuk diam dengan jari nya ia tempelkan di bibirnya karena ia akan menelpon Rey. Nisa pun langsung terdiam.
"Rey, kenapa jalanan macet seperti ini? Apa yang terjadi? Cepat kamu dan rekan kamu urus!" titah Adam cepat.
"Ada kecelakaan yah, aku sedang menangani kecelakaan itu, ayah sedang dalam perjalanan? Memang ayah mau kemana?" tanya Rey heran karena ayahnya tadi sudah pulang.
"Istri mu mau melahirkan Rey dan sekarang kita di tengah perjalanan dengan jalanan macet seperti ini, ayok cepat Rey segera bertindak!" titah Adam dengan tegas.
"Latya mau melahirkan?" tanyanya terkejut. "Kalian sekarang ada di jalan mana? Rey akan segera kesana?" ucapnya cepat.
"Kita di jalanan xxx, cepat Rey Latya sudah kesakitan!" ucap Adam mulai panik.
"Awww sakit bunda, aku udah gak kuat!" rintih Latya dan itu terdengar oleh Rey yang sedang menerima panggilan dari ayahnya.
"Latya..." ucap Rey ikut panik mendengar rintihan Latya yang kesakitan.
Tanpa bicara satu katapun Rey langsung menutup panggilan telepon itu dan langsung menuju jalanan dimana kedua orang tua dan istrinya berada.
"Jalanan macet seperti, bagaimana bisa jalanan kembali normal dengan segera." gumam Rey frustasi melihat jalanan begitu macetnya walaupun rekannya juga sedang bertugas untuk melancarkan laju kendaraan, karena kecelakaan ini membuat jalanan macet total.
"Ya Allah aku harus bagaimana?" gumam nya seraya berpikir.
Tanpa pikir panjang lagi Rey meminta ijin kepada rekan-rekanya dan meminta kasus kecelakaan ini di tangani dahulu oleh rekannya itu, setelah rekan nya menyanggupi Rey pun segera berlari ke tempat dimana Latya berada.
Rey terus berlari sesekali melihat jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jalanan ini lumayan agak jauh, aku butuh setengah jam untuk kesana." ucapnya dengan nafas terengah-engah karena berlari.
Dua puluh lima menit Rey datang dan langsung menghampiri ayahnya yang sedang menunggu di luar mobil nya.
"Ma... mana La... Latya yah?" tanyanya dengan nafas ngos-ngosan dan mencoba mengatur nafasnya.
"Rey kamu lari?" tanya Adam karena ia tidak melihat ada kendaraan yang Rey bawa.
"Tidak ada waktu lagi yah, aku harus bawa Latya dengan segera." jawabnya seraya membuka pintu mobil dan ia langsung melihat istrinya dengan wajah pucat dan meringis kesakitan.
"Ayok sayang, Abang gendong kamu!" ucapnya seraya mengeluarkan tubuh Latya agar memudahkan ia untuk menggendong istrinya itu.
Latya menurut saja karena ia sudah tidak kuat untuk menolak atau pun berdebat di pikiran nya saat ini adalah segera sampai ke rumah sakit.
"Rey kamu serius membawa Latya tanpa kendaraan?" tanya Adam memastikan.
"Aku yakin yah, ini hanya sampai depan saja, nanti setelah melewati jalanan macet ini aku akan membawa Latya dengan mobil dinas." jelas Rey tanpa jeda.
"Ya sudah, ayah percaya sama kamu." ucap Adam penuh keyakinan.
"Ok Rey bawa Latya ya semoga tidak terjadi apa-apa." ucap Rey meminta doa dan di aminkan oleh kedua orang tua nya.
"Sayang kamu harus kuat ya, tahan sebentar Abang akan berusaha membawa kamu ke rumah sakit." ucap Rey pelan di tengah Latya yang sedang di gendong oleh nya. Latya mengangguk dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Rey dengan erat dan sesekali Latya pun meringis saat kontraksi datang dan Latya tidak bisa menahan rasa sakit nya.
__ADS_1