
"Bang... bang Rey..." panggil Latya lembut. Mereka kini tengah berada di kamar hotel yang Rey pesan untuk memenuhi keinginan konyol Rey pada istrinya itu.
Di tatap nya wajah tampan suaminya itu yang sedang tertidur setelah selesai memuaskan dan memenuhi kebutuhannya saat ini.
Latya masih menatap wajah suaminya yang begitu dekat, lalu ia tersenyum tipis. "Mana mungkin sih aku rela melepaskan suamiku yang tampan ini." gumamnya berseloroh seraya menelusuri setiap pahatan wajah tampan suaminya itu dengan jari lentiknya.
"Aku ingin lihat bagaimana cara nya dan seberapa jauh tante Rahma mendekatkan bang Rey dengan Maura." sambung nya lagi.
"Kalau memang Tante Rahma masih kekeh untuk mendekatkan bang Rey dan Maura, aku juga patut memperjuangkan suamiku! Bang Rey suamiku, ya walaupun aku masih istri sirinya." batin Latya.
Cukup lama Latya memerhatikan wajah tampan suaminya yang sedang tertidur itu, lalu Latya mendengus sebal, suaminya itu malah tertidur pulas di sampingnya karena lelahnya permainan antara mereka berdua.
"Hemm bang Rey gimana sih, tadi ajak aku jalan-jalan tapi malah tidur." gerutu Latya kesal.
Karena kesal Latya pun beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari keringat yang membasahi tubuh nya. Namun ketika ia akan berdiri, tiba-tiba suara getaran handphone suaminya membuat dia menoleh pada handphone yang tersimpan di atas nakas itu. Ia penasaran siapa yang menelepon nya, menganggu mereka saat berolahraga dari tadi.
Di raih nya benda pipih itu, dan terlihat nama yang tertera di layar itu. "Tante Rahma."
"Ya Tuhan, Tante Rahma masih menelpon bang Rey dari tadi." gumam Latya dengan menghela nafasnya panjang. "Ada perlu apa sih dia!" sambung nya heran.
"Aku heran deh kenapa tante Rahma yang begitu semangat untuk mendekatkan bang Rey dengan Maura, apa ini permintaan Maura atau memang tante Rahma yang peduli sama Maura?" tanya Latya dalam hatinya.
"Hah." Latya membuang nafas nya kasar lalu membalikan tubuhnya ke belakang untuk melihat Rey, alangkah terkejutnya Latya saat melihat ternyata suaminya itu sedang memperhatikan dirinya dengan tatapan penuh selidik ketika ia sedang memegang handphone suami nya yang ada di tangan nya, dengan posisi Rey yang sedang dalam posisi miring dan kepalanya yang ia tahan dengan tangan nya ia tekuk.
Latya refleks menepuk bahu suaminya akibat dari terkejutnya ia dengan tatapan suaminya itu dan handphone yang ia pegang pun terjatuh ke lantai begitu saja karena Latya tidak sengaja melepaskan nya.
Prak. suara handphone terjatuh. "Ah bang Rey..." teriak nya saat ia sadar mendengar suara handphone suaminya terjatuh.
"Maaf bang Rey aku gak sengaja jatuhin handphone nya. Maaf ya." ucapnya gugup.
"Tadi ada yang telpon ke handphone Abang, Tante Rahma yang telpon." ucapnya gagap.
Rey masih menatap Latya tanpa ada ucapan apapun, membuat Latya semakin serba salah dan semakin takut apa suaminya itu akan marah karena dia sudah menyentuh handphone nya?
Latya langsung meraih handphone yang tergeletak di lantai itu lalu dengan cepat menyimpan nya di atas nakas dengan cepat.
"Hehe maaf ya bang Rey, aku gak sengaja." ucapnya cengengesan dengan berniat akan kabur meninggalkan Rey yang masih menatapnya tanpa ekspresi.
Brug. Rey menarik tangan Latya dengan cepat ketika melihat istrinya itu akan pergi. Menarik tangan nya sampai Latya terjatuh di pelukan nya, tanpa berkata apa-apa Rey langsung memeluk Latya dengan posesif.
"Kamu mau kemana sayang, jangan pergi." bisiknya di telinga Latya dengan mengecup tengkuk leher Latya.
"Aku mau mandi, Abang janji kan mau ajak aku jalan-jalan tapi malah tidur." ucapnya sebal.
"Hehe maaf ya, Abang tadi lelah, kan kamu tahu semalam Abang pulang malam banget." kilah nya.
"Lalu Abang cuma mau ajak aku ke hotel, dengan alasan ajak aku jalan-jalan?!" Latya cemberut.
"Kata siapa hemmm?" gumam nya seraya memainkannya rambut Latya. Lalu Rey meraih tangan Latya mengucap punggung tangan nya berkali-kali.
"Ayok kita mandi dan siap-siap, Abang akan ajak kamu jalan-jalan." serunya dengan menggendong Latya membawanya ke kamar mandi.
"Aw Abang, turunin!" rengek Latya namun Rey tidak peduli dengan rengekan itu ia terus membawa Latya ke dalam kamar mandi.
Tidak lama setelah mereka selesai bermain air hingga satu jaman lebih mereka di sana. Kini Latya yang tengah merias dirinya di depan meja rias hotel sedangkan Rey masih asyik memandangi istrinya yang tengah berdandan, berdandan ala anak kampus seperti biasa.
"Abang gak bosen apa mandangin aku terus!" cebik Latya merasa risih saat ia terus saja di perhatikan oleh suaminya itu.
"Tidak akan pernah bosan!" sahut nya tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Latya menarik nafasnya panjang dan mendelik malas pada Rey yang sedang tersenyum menggodanya. "Gombal?" delik Latya. "Kalau cinta nya udah pudar boro-boro mau memandang lihat aja bakalan malas untuk di lihat!" sebal nya.
"Abang gak suka gombal, Abang sukanya sambal." balas nya dengan wajah tanpa ekspresi. "Dan satu lagi cinta Abang gak akan pudar selama kita selalu bersama dan saling mengerti." ujarnya.
"Apa aku harus percaya begitu saja?" telak Latya dengan cepat.
"Tentu, harus percaya seratus persen. Kenapa? Sepertinya kamu kurang percaya sama Abang?" tanyanya dengan penuh telisik.
"Tidak apa-apa." balas nya.
"Bohong!" selidik Rey tidak percaya.
"Apanya yang bohong?" sanggah Latya dan Rey semakin menatapnya dengan tatapan mata yang tajam.
Dengan cepat Latya memeluk tubuh Rey dengan sangat posesif dan begitu erat. "Aku cuma takut. Takut Abang ninggalin aku." ucapnya bergetar pelan terdengar bergumam di pelukan Rey.
Rey berkerut bingung lalu mengelus rambut Latya dengan lembut menghirup aroma harum dari rambut nya. "Tidak usah takut, tidak ada alasan bagi Abang untuk meninggalkan kamu, jika pun Abang harus meninggalkan kamu itupun karena maut." ucap Rey menenangkan. Namum membuat Latya semakin mengeratkan pelukannya pada Rey dan mulai terisak.
"Hei jangan menangis, lebih baik kita bersiap-siap. Sekarang ayok kita jalan-jalan." ajaknya mencoba agar Latya tidak bersedih, Rey tidak mengerti kenapa istrinya menjadi cengeng, atau memang karena Latya manja jadi sikapnya seperti itu. Ntahlah.
Suara handphone Rey berbunyi Rahma masih mencoba untuk memanggil nya.
"Di jawab aja bang, siapa tahu tante Rahma memang ada perlu sama kamu." saran Latya, sedikit kesal dengan sahabat ibu mertua nya itu.
Rey menjawab panggilan telepon itu dan tak lama panggilan itu tersambung.
"Assalamualaikum Rey? Kamu sibuk sekali ya, tante dari tadi telpon kamu tapi tidak di jawab-jawab!" keluh Rahma dengan sedikit kesal.
"Wa'alaikumussalam tante, iya ada apa memang nya?" tanya Rey.
"Maura Rey, Maura. Dia drop lagi, dan sekarang dia terus memanggil nama kamu terus, please Rey tolong tante, temui Maura, dia ingin sekali bertemu dengan kamu." jelas Rahma memohon pada Rey.
"Maura drop lagi?" tanya Rey memastikan kembali.
"Emh gimana ya tante, aku... aku. Gimana nanti saja ya tante, Rey sedang sibuk, maaf ya." Tut. panggilan itu pun terputus.
Latya menatap ke arah Rey, mendengar perbincangan Rey tadi di telepon ia sudah menduga ini ada hubungannya dengan Maura.
"Kenapa?" tanya Latya penasaran. Lalu Rey pun menceritakan apa yang di bicarakan tadi bersama Tante Rahma itu.
'Apa ini rencana tante Rahma untuk mendekatkan bang Rey dengan Maura? Atau Maura memang benar-benar sedang sakit?' batin Latya.
"Kalau aku egois aku sebenarnya tidak mau bang Rey untuk menemui Maura, tapi... ada sisi lain yang membuat ku merasa kasihan, jika saja memang benar Maura sedang membutuhkan bang Rey, mendengar Maura yang sedang tidak baik-baik saja saat ini.' sambung nya lagi di dalam hatinya.
"Ya sudah lebih baik Abang temui Maura, apalagi Maura sedang tidak baik." ucap Latya yakin.
"Sayang kita kan mau jalan-jalan." balas Rey tidak mengerti.
"Jalan-jalan bisa lain kali, sepertinya Maura memang sedang membutuhkan bang Rey saat ini." sambung nya yakin.
"Kamu serius tidak apa-apa? Are you ok?" tanya Rey meyakinkan Latya.
Latya mengangguk pelan, dalam hati tidak rela tapi demi kemanusiaan. "Iya aku yakin." jawabnya mantap.
"Padahal tadi Abang sudah menolak permintaan tante Rahma itu. Tapi yasudah lah kamu yang memintanya. Kamu juga harus ikut temani Abang untuk menjenguk Maura di rumah sakit. ok!" ucapnya tegas.
Latya menghela nafasnya berat. "Ok."
*
__ADS_1
*
*
Sesampainya di rumah sakit Rey dan Latya langsung menanyakan kamar dimana Maura di rawat pada seorang suster di sana. Lalu sang suster pun memberi tahu kamar nya nomor 005 VVIP.
Rey dan Latya langsung bergegas untuk menjenguk Maura di kamar 005 VVIP. Dan saat dekat dengan ruangan itu Rey melihat tante Rahma di sana, terlihat dia sedang menelpon dan terlihat panik juga.
Rey dan Latya menghampiri Rahma dan Rahma pun menyadari jika Rey datang dan menuju padanya Rahma senang, namun ia melirik gadis yang ada di samping Rey, Rahma yang merasa senang menjadi tidak suka karena kehadiran Latya yang datang bersama Rey.
"Assalamualaikum tante." sapa Rey dengan mencium tangan punggung Rahma dengan sopan Latya pun sama melakukan hal seperti Rey.
"Wa'alaikumussalam Rey, tante senang kamu datang, kamu langsung saja ya masuk ke ruangan Maura, dia tadi sudah di periksa oleh dokter dan karena kamu sudah datang jadi temui Maura sekarang ya." titah nya lembut.
"Ya sudah, Rey masuk kalau begitu." ujar Rey tanpa melepaskan pegangan tangan nya pada tangan Latya.
Rahma yang melihatnya pun merasa tidak suka. "Kamu masuk duluan Rey, karena tadi dokter bilang jangan terlalu banyak orang di dalam ruangan Maura, biar Latya di sini dulu bersama tante ya." ucapnya lembut pada Rey dan melirik tidak suka pada Latya membuat Latya melepaskan pegangan tangan Rey pada tangan nya itu.
"Ya Abang duluan aja, nanti setelah Abang selesai gantian nanti aku masuk." ucap Latya merasa ini memang sebagian rencana tante Rahma untuk mendekatkan suaminya itu dengan Maura.
"Iya begitu, lebih baik." sambung Rahma.
'Tante Rahma semakin kesini dia seperti seorang ibu tiri saja, baik sama bang Rey mendelik tidak suka sama aku. Tatapan nya seperti mengajak ku dalam Medan peperangan!' batin Latya kesal dengan sikap Rahma padanya.
"Sayang Abang duluan ya jenguk Maura, kamu gak apa-apa kan Abang tinggal sebentar?" ucapnya lembut membuat Rahma yang melihatnya begitu tidak percaya, jika Rey begitu lembut pada Latya padahal selama Rahma kenal Rey, Rey itu tidak pernah menampakkan kelembutan nya seperti menatap Latya tadi, Rahma sering melihat ekspresi Rey yang selalu tegas dan juga serius. Tapi... tidak saat berhadapan dengan Latya, itu sangat berbeda.
Latya mengangguk pelan. "Ya aku gak apa-apa. Tenang aja. Ya sudah sana!" usirnya lembut dengan mendorong pelan tubuh Rey untuk masuk ke dalam ruangan Maura.
Dengan berat Rey melangkahkan kakinya menuju ke ruangan dimana Maura di rawat.
Setelah Rey masuk ke dalam ruangan Maura, Tante Rahma pun menghampiri Latya yang sama sekali tidak berniat untuk mengajak berbicara dengan nya.
"Latya." panggil nya dengan menampakkan wajahnya seramah mungkin.
Latya menoleh pada Rahma yang memanggilnya itu. "Ya Tante." sahut nya.
"Kamu ikut tante!" ajaknya cepat seraya menarik tangan Latya untuk mengikutinya, Rahma dan Latya berdiri di depan ruangan Maura.
"Lihat Latya!" tunjuk Rahma pada pintu dimana disana terlihat Rey tengah berdiri di dekat Maura yang sedang duduk di atas bed nya dengan senyuman terlihat tersungging di bibir Maura.
"Lihat Maura begitu lemah, dia sakit, dia butuh Rey." ucap Rahma penuh penekanan.
Latya diam saja ia hanya melihat interaksi antara suami nya dengan Maura yang terlihat bahagia bersama dengan Rey.
Latya memejamkan kedua matanya lalu membuka nya. "Iya aku tahu tante, Maura sakit, dan aku melihatnya itu." ucap Latya datar.
"Lalu kenapa kamu masih saja berdekatan dengan Rey, Tante kan sudah bilang sama kamu dan tante meminta dengan cara baik-baik." tutur Rahma.
"Iya aku tahu." balas nya pelan tanpa ekspresi.
"Ck." Rahma berdecak kesal dengan sikap Latya itu.
"Tidak mudah Tante untuk aku melepaskan bang Rey begitu saja, apalagi hubungan kami sudah begitu dekat." ujar Latya berucap.
"Tante memang mudah meminta aku untuk melepas bang Rey dan menjauhi bang Rey, tapi untuk aku itu sulit tante. Jadi jangan paksa aku!" ucapnya lembut.
"Tante gak sangka ternyata kamu gadis yang tega ya, tante pikir kamu gadis yang baik dan akan berbaik hati untuk bisa melepas Rey dan membuat Maura bahagia. Ternyata kesempurnaan yang kamu memiliki tidak membuat kamu lebih peka terhadap orang lain yang kurang beruntung dalam kehidupannya." sindir Rahma yang membuat Latya merasa bersedih atas ucapan Rahma yang nyeletuk ke dalam hati, Latya merasa menjadi orang yang jahat saat ini.
Latya terdiam dan terus menatap Rey dan Maura yang sedang berbincang di dalam sana.
__ADS_1
"Lihat Latya. Lihat! Apa kamu mau jika kamu dalam posisi Maura. Dan kamu tidak ada yang peduli di saat kamu terpuruk!?" tanyanya. "Coba kamu bayangkan bagaimana rasanya jadi Maura? Hah!" ucapnya lagi.
Latya tersenyum sinis. "Lalu bagaimana dengan Maura, jika dia dalam posisi aku? Apa Maura akan melakukan yang sama seperti aku atau justru dia akan mengikuti permintaan tante yang memaksakan kehendaknya sendiri?" telak Latya yang membuat Rahma diam seketika.