Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
kejutan


__ADS_3

"Jadi dokter itu yang selalu memeriksa kandungan kamu selama ini?" tanya Rey sesaat sesudah dokter Kemal pergi berpamitan.


"Iya, kenapa memang nya? Masih muda ya tapi dia sudah jadi dokter hebat, di usianya yang baru menginjak 30 tahun. Dia juga dokter yang di kenal sebagai dokter yang sabar dalam menangani kasus melahirkan. Jadi aku cocok aja gitu kalau di periksa sama dokter Kemal." jelas Latya santai memuji dokter kandungan nya itu.


"Lain kali kamu tidak usah periksa dengan dokter itu lagi, aku akan cari dokter perempuan untuk kamu melahirkan nanti." ucap Rey tegas.


"Kenapa sih? Dokter Kemal baik, ramah dan juga penyabar. Dulu aja aku sempat omeli dia di bandara tapi dia gak marah sama aku, malah aku yang jadi malu sama dia." ujarnya Latya tidak sadar menceritakan tentang pertemuan mereka itu.


"Jadi kamu pernah bertemu dengan nya di bandara? Kapan kejadian itu?" tanya Rey tidak terima.


"Di bandara saat aku pulang dari Jakarta setelah selesai magang, aku kesal banget sama kamu, eh aku nabrak punggung dokter Kemal sampai aku terpental, karena aku lagi kesal-kesalnya, yasudah aku marah-marah aja sama dokter Kemal itu, tapi anehnya dia gak marah sama sekali kalau Abang yang aku tabrak dulu beuh... galak banget plus nyebelin, boro-boro mau minta maaf! Ingat gak bang?" ucap Latya penuh sarkas.


"Eh Abang minta maaf ah sama kamu, jangan suka di lupain ya!" ucapnya tidak terima.


"Ya tapi gak tulus gitu minta maaf nya!" cebik Latya sebal.


"Iya kan kamu juga datang tiba-tiba! Jadi Abang gak sengaja." kilah nya cepat. "Eh tunggu kita lagi bahas dokter tadi ya kenapa jadi bahas kita waktu di bandara!" kesal nya setelah Rey sadar.


"Ah dokter Kemal gak usah di bahas, untuk apa gak perlu kok." jawab Latya.


"Penting ini, pokoknya ya Abang gak mau kamu di periksa sama dokter itu, titik!" ucapnya tidak mau di bantah.


"Kenapa sih memang nya, anak kamu nyaman-nyaman aja kalau di periksa sama dokter Kemal. Iya nak..." ucap Latya seraya mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat.


"Anaknya atau mommy nya, pokoknya Abang gak ijinnin kamu periksa sama dokter itu lagi!" tegasnya.


"Ish..." desis Latya kesal.


"Terserah lah!" sambung nya lagi.


"Bagus! Istri itu harus nurut sama suami." ucapnya dengan tersenyum senang.


"Ayok makan nasi nya." titah Rey melihat istrinya hanya diam saja.


"Aku gak suka makan nasi, suka keluar lagi." ucapnya malas.


"Lalu kamu mau makan apa? Coba bilang saja mumpung Abang lagi sama kamu." ucapnya seraya melahap makanan yang sudah tersaji di hadapannya.


"Apa ya aku bingung, aku lagi gak pengen apa-apa." jawabnya lemas.


"Hemm tapi kamu belum makan tadi, baru minum susu aja kan!"


"Tapi aku gak mau makan!" sahut nya cemberut.


"Jangan gitu, kasihan bayi kita dia pasti kelaparan. Ah kamu mau kerak telur, kamu kan dulu ngidam itu!" tawar Rey.


"Emh gak ah! Udah gak mau!" tolaknya.


"Lalu mau apa dong?" tanya Rey memastikan lagi namun Latya tetap menggelengkan kepalanya.


Rey menghela nafasnya panjang lalu melanjutkan makannya yang tertunda.


*


*


*


Hari demi hari, Minggu demi Minggu dan bulan pun berlalu dengan begitu cepat. Rey dan Latya menjalani rumah tangga mereka dengan jarak yang jauh, Rey dengan tugasnya di Jakarta sebagai seorang polisi sedangkan Latya ia di sibukkan dengan kegiatannya sebagai mahasiswi tingkat akhir di kota tempat kedua orang tuanya tinggal.


Keduanya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, tapi mereka selalu menyempatkan waktu untuk mereka saling menumpahkan rasa rindu mereka.


Bulan ini, bulan dimana Latya akan wisuda, dengan perut yang sudah terlihat besar ia menggunakan kebaya modern yang di peruntukan untuk ibu hamil, Latya sengaja membuat baju kebaya sendiri dengan model yang sangat pas di tubuh nya yang sedang mengandung.


Dengan rambut yang ia gerai sedikit dan dandanan senatural mungkin dengan usianya sekarang.


Sayangnya ia merasa sedih karena suaminya yaitu Rey tidak bisa hadir untuk menemaninya.


"Suami elu gak datang Tya?" tanya Geisha menatap Latya.


"Gak, dia lagi ada tugas yang belum selesai." jawab Latya sedikit sendu.

__ADS_1


"Hemm gitu ya, tapi kedua orang tua elu datang kan?" tanya nya memastikan.


"Datang lah ini kan hari spesial gue. Kedua orang tua elu berdua datang gak?" tanya Latya mencoba tidak sedih lagi.


"Datang." sahut Heidi semangat.


"Orang tua gue, gak!" sahut Geisha lirih.


Latya dan Heidi saling pandang. Lalu merangkul bahu sahabat nya itu. "Tenang aja nanti kita yang temenin elu." ucap Latya dan Heidi menguatkan.


"Ya iya lah kalian harus temenin gue!" balas nya mencoba untuk kuat seraya menyeka air matanya yang jatuh.


"Kita bakalan berfoto berempat ya." ucap Heidi seraya mengelus perut Latya dengan lembut. "Kamu akan jadi anggota baru kita hahaha." tambah nya lagi.


***


Sedangkan di tempat Rey dia sedang resah gelisah, ia takut terlambat untuk menghadiri wisudaan suaminya itu. Ya walaupun Latya sudah tahu jika Rey sedang bertugas dan pernah bilang jika dia tidak bisa datang untuk menghadiri acara itu.


Tapi karena masa tugas nya sudah selesai Rey berusaha untuk datang ke kampus dimana acaranya di gelar, tanpa memberi tahukan kepada Latya agar menjadi kejutan bagi istrinya yang sedang hamil besar itu.


Setelah berpamitan pada ibu dan ayah nya Rey langsung terbang menuju kediaman Latya, dengan tubuhnya yang lelah setelah bertugas namun demi bertemu dengan istrinya Rey mengabaikan rasa lelah dan capeknya itu.


"Semoga saja aku tidak terlambat." gumam Rey merasa cemas.


Perjalanan Rey cukup cepat dan tidak ada hambatan sama sekali, untung saja dia sudah memesan tiket pesawat sebelumnya ketika dia masih bertugas, dan syukur nya tugas dia sudah selesai dan masih ada waktu untuk pergi ke wisudaan istrinya itu.


Sesampainya di depan kampus, Rey yang sudah menggunakan pakaian kemeja berwarna putih dan bawahan berwarna krem pun terus melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan dimana Latya berada, namun sebelum masuk dan menemui istrinya Rey menyapa dulu para pengajar disana dengan sopan dan ramah.


"Maaf pak apa acaranya sudah di mulai?" tanya Rey pada para panitia di sana.


"Oh sudah pak, tapi belum lama. Anda mau bertemu dengan Latya?" tanya nya memastikan.


"Ya betul sekali, saya langsung dari Jakarta, saya ingin menemani istri saya saat pelulusannya." ujar Rey menjawab.


"Para mahasiswa dan mahasiswa sudah berkumpul didalam ruangan, anda bisa langsung masuk pak jika anda mau." ucapnya mempersilahkan Rey untuk masuk.


"Emh baiklah, terima kasih." balas Rey dengan tersenyum.


Rey berniat masuk ke dalam, namun ia melihat seorang perempuan yang sangat mencolok, selain paras nya yang cantik tubuhnya yang terlihat membuncit dan terbalut dengan pakaian yang pas ia kenakan, sungguh terlihat sangat cantik ketika Rey melihatnya, apalagi dengan rambut yang sengaja perempuan itu gerai hanya hiasan jepitan sederhana di rambut Curly nya yang menghiasi kepalanya.


Sebelum Latya pergi keluar, ia mengaduh kepada kedua sahabatnya ia merasa tidak nyaman duduk terus menerus disana, mungkin karena kehamilan nya yang mulai terasa penuh.


"Eh gue keluar dulu ya, nanti gue balik lagi kesini." ijin Latya pada mereka.


"Mau gue temenin gak?" tawar Geisha.


Latya menggeleng. "Gak usah gue cuma sebentar kok cari angin, soalnya kepala gue tiba-tiba pusing, bokong gue juga terasa panas." adu Latya pada sahabat nya itu.


"Ok deh kalau begitu, kalau butuh apa-apa telpon gue ya." tawar nya.


"Okk." gumam Latya seraya mengangkat telunjuknya berupa huruf O.


Latya pun keluar dengan menggunakan pintu satunya lagi, dan Rey yang dari pintu berlainan pun mengikuti kemanapun Latya melangkah tanpa sepengetahuan Latya.


Latya melangkahkan kakinya menuju kantin, tenggorokannya yang kering membuat Latya langsung menuju kantin kampus.


"Ah kayaknya aku harus makan es krim ini." gumam nya seraya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


Latya menuju tempat penjual es krim, ia pun memilih-milih es krim yang ia mau. Setelah mendapatkan es krim yang ia mau, Latya pun membayar nya pada saat ibu kantin yang menjaga.


"Udah berapa bulan neng hamil nya?" tanya Bu kantin.


"Menginjak trimester ke tiga Bu." jawab Latya dengan tersenyum.


"Wah udah mau menjelang lahiran dong ya, si neng pas lulus gak cuma dapat gelar S1 tapi juga punya bayi." ucapnya Bu kantin, ntah dia menyindir atau dia kagum yang pasti Latya hanya menjawab dengan senyuman nya saja.


"Ini Bu uang nya." Latya menyerahkan uang pada Bu kantin untuk membayar es krim yang ia ambil.


"Ya terima kasih ya neng." ucapnya.


"Sama-sama Bu." balas Latya.

__ADS_1


Setelah membeli apa yang dia mau, Latya pun mencari tempat duduk, di kantin itu ada para orang tua murid yang sedang makan ataupun minum.


Latya duduk di kursi yang kosong di tempat biasa dia dan sahabat nya duduk. Di pojokan kursi yang paling nyaman baginya.


Latya membuka kemasan es krim itu, es krim rasa coklat vanila yang sekarang ia sukai. Namun sebelum ia memakan es krim itu, Latya mencoba menghubungi suaminya yang ia ingat.


"Huh kenapa panggilan aku gak di angkat sih!" kesal Latya panggilan telepon nya tidak di jawab oleh Rey.


Rey yang tahu istrinya menelpon pun sengaja tidak menjawabnya ia malah tersenyum dan terus memperhatikan istrinya dari jarak yang tidak jauh dimana Latya duduk.


"Bang Rey masih sangat sibuk ya???" pesan pun terkirim Rey semakin tersenyum.


"Bang?"


"Bang?"


"Bang?!!"


"Huh masih saja gak di baca, masih sibuk kali ya, tapi gak ada kabar sama sekali sih dari kemarin, sesibuk itu kah?" gumamnya seraya menghela nafasnya panjang.


Latya pun memulai untuk memakan es krim yang mulai meleleh itu. Dengan santai sembari sibuk dengan handphone nya Latya menikmati apa yang sedang ia lakukan.


Saat Latya lengah dan terlihat sibuk dengan handphone yang ada di tangan nya, Rey mencoba mendekat ke arah Latya dengan pelan agar istrinya tidak tahu apa yang di lakukan Rey. Dengan pelan Rey pun duduk di samping Latya, lagi Latya tidak menyadari kedatangan Rey ia tengah sibuk dengan handphone nya sedangkan es krim yang ada di tangan kiri nya pun hampir meleleh karena Latya begitu fokus pada benda pipih itu.


"Hap." Rey yang tengah gemas duduk di samping Latya dan melihat es krim yang tak kunjung Latya makan pun langsung ia melahapnya dengan penuh sampai hanya menyisakan sedikit.


Latya pun langsung menengok kemana arah orang yang melahap es krim nya itu karena terkejut siapa yang berani memakan es krim yang ada di tangan nya, sungguh kurang ajar!


Namun saat ia menengok ke arah samping kirinya ia pun terkejut. "Bang Rey...." kejut nya tidak menyangka.


"Hallo..." sapa Rey dengan wajah kalem nya.


"Ih abang ada di sini?" tanya Latya heran.


"Kenapa, memang nya gak boleh? Abang kan mau nemenin istri Abang yang mau di wisuda." jelasnya santai.


"Kok Abang gak bilang sama aku kalau Abang mau kesini?" tanyanya meminta penjelasan.


"Kejutan." sahut Rey cepat seraya mengusap perut istrinya itu. "Mommy mu cantik nak." puji nya dengan menatap perut Latya yang ia usap.


"Ish dasar." ucap Latya malu-malu namun hatinya sungguh senang. Senang karena suaminya datang di hari spesial nya dan senang juga karena Rey memuji nya.


"Kenapa? Memang cantik kok. Apalagi lagi hamil begini cantik nya kuadrat, berlipat-lipat." ucapnya lagi.


"Ih... berlebihan deh!" ucapnya tidak terima namun malu-malu suka.


"Tidak berlebihan nyata nya memang benar kok, kamu sekarang semakin cantik." puji nya menatap Latya dengan serius.


"Apa sih bang! Udah ah aku jadi malu." ucapnya pelan dengan wajahnya yang merona merah.


"Hahaha lucu kamu yang, kangen deh Abang sama kamu." ucapnya mengusap rambut Curly nya. "Duh kapan ini acaranya selesai?" tanyanya.


"Kenapa? Acaranya saja baru di mulai." jawab Latya bingung.


"Masih lama dong. Kita pulang aja yuk!" ajaknya bercanda.


"Ih abang aneh ah, masa kita pulang, ini kan acara nya aku sebagai mahasiswi di sini." ucapnya menolak keras.


"Hehehe Abang bercanda, tapi kalau kamu mau Abang akan bawa kamu pulang." ucapnya cengengesan.


Latya memukul lengan Rey dengan gemasnya. "Gila kamu bang!" sebal nya.


"Aku bisa gila karena kamu yang buat Abang gila." balas nya.


"Eh aku gak mau punya suami orang gila." jawab nya cengengesan.


Rey hanya tersenyum saja tanpa mau menjawab. "Boleh gak Abang peluk kamu?" ijinnya.


"No, ini tempat umum, kampus juga, aku gak mau malu untuk kedua kalinya lagi ya!" tolaknya tegas.


"Hehehe gak apa-apa Abang kan suami kamu." balas Rey.

__ADS_1


"No, tetap aja aku malu karena sudah mengumbar kemesraan di tempat umum." tolaknya.


"Hemmm ok...ok." Rey pasrah saja saja istrinya menolak ia peluk, walaupun merasa kecewa. Ntah kenapa Rey jadi tidak ada rasa malu saat dekat dengan istrinya ia benar-benar tidak bisa menahan rasa rindu nya pada istrinya itu, mungkin karena ia jarang bertemu rasa rindu nya pun menjadi berat.


__ADS_2