
Latya masih belum bisa memejamkan kedua matanya setelah memuaskan suaminya itu sampai Rey sekarang sudah terlelap dalam mimpinya di samping Latya dengan tangan yang memeluk Latya dengan erat.
Latya menatap sekilas wajah Rey, dia masih kesal sebenarnya pada suaminya itu.
"Hah." Latya mendesah.
Dengan pelan Latya mengangkat tangan suaminya itu lalu setelah terlepas ia pun beranjak dari kasur nya lalu perlahan meninggalkan Rey pergi ke kamar yang selalu mereka tempati. Latya berniat tidur di kamar itu sendirian.
Tengah malam Rey yang sudah terbangun dari tidurnya dengan matanya yang masih menyipit ia meraba mencari istrinya, namun istrinya itu tidak ada di sampingnya.
"Sayang... sayang?" panggil nya.
"Kamu dimana sayang?" panggil nya seraya mencoba mencari ke kamar mandi, namun tetap masih tidak ia temukan keberadaan istrinya itu.
"Ya ampun kamu kemana lagi sih? Kamu ilang mulu!" gerutu nya kesal.
Dengan lemas Rey pun keluar dari kamar yang dulu Latya tempati menuju ke kamar yang selalu Rey dan Latya tempati.
Rey masuk melihat istrinya yang tertidur di atas kasurnya. "Ck." Rey berdecak. "Jadi kamu di sini ternyata?"
Rey naik ke atas kasur itu lalu memeluk istrinya dengan erat. "Aku tidak akan melepaskan mu sayang supaya kamu tidak bisa kabur lagi!" serunya dengan terus memeluk Latya.
"Emh." Latya bergumam karena pelukan Rey membuat nya terbangun. "Emh lepas ah!" Latya mendorong tubuh Rey yang sedang memeluknya.
Namun Rey tidak mau melepaskan pelukannya itu. "Abang gak akan lepaskan!" memeluk terus dengan mengecup bahu Latya dengan gemas.
"Ah geli." rengek Latya dengan mendorong wajah Rey.
Semakin di dorong, Rey semakin menyerukan pada leher Latya sesekali mengecupnya membuat Latya yang tidak tahan dengan geli ia pun meremang merinding karena bulu-bulu kumis halus Rey menggelitik kulit Latya.
"Abang geli..." ucapnya dengan terus mencegah perbuatan Rey yang terus saja mendusel-dusel bulu halus jambang nya pada leher Latya.
"Ini balasan untuk kamu karena ninggalin Abang di kamar tidur sendirian!" ucapnya dengan terus mendusel-dusel.
"Aaaa... jangan!" cegah nya.
*
*
*
Seminggu kemudian Rey dan Latya menjalankan hidupnya seperti biasa, namun bedanya kini Latya tengah sibuk magang yang sebentar lagi akan selesai dan Rey pun sibuk dengan tugasnya yang semakin banyak akhir-akhir ini.
Mereka bertemu saat subuh menjelang, karena Rey Minggu ini mendapatkan tugas malam, terkadang Latya berangkat bersama ayah Adam karena Rey belum pulang atau karena kasihan sudah lelah dalam bertugas, Latya di tuntut untuk tidak selalu di antar jemput.
POV Latya
Soal tante Rahma dan Maura ntahlah aku tidak ambil pusing, pernah sekali mereka datang ke rumah, Tante Rahma terlihat sekali ingin mendekatkan Maura dengan bunda Nisa, dengan cara mengajak bunda Nisa membuat kue bersama waktu itu atau mengajak berbelanja bersama setiap akhir pekan.
Bunda Nisa mengajak ku tapi tante Rahma terlihat sekali tidak suka dengan keberadaan ku, lalu dengan alasan aku pun mau mengerjakan tugas kuliah ku.
Aku ragu jika harus cerita dengan bunda Nisa tentang Tante Rahma itu, aku takut jika bunda Nisa tidak mempercayai nya dan lebih percaya pada sahabatnya itu.
Aku mulai risih dengan kehadiran Maura dalam hubungan aku dengan bang Rey. Aku takut jika nanti bang Rey menyukai Maura. Apalagi nanti setelah selesai magang, aku pasti pulang dan tinggal bersama keluarga ku dan meninggalkan bang Rey di sini karena mana mungkin kan aku mengajak bang Rey tinggal bersama ku dengan keluarga ku karena pekerjaan bang Rey di sini.
Semakin hari aku semakin memikirkan apa yang akan terjadi pada hubungan ku nanti, sehingga aku terkadang lupa dengan keberadaan bang Rey karena aku sering melamun.
"Sayang kamu kenapa sih akhir-akhir ini sering melamun, terus kamu tuh sibuk sendiri aku merasa di lupakan! Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rey saat ini mereka tengah di dalam kamar dan Rey pun baru saja pulang melihat istrinya cuek saja akhir-akhir ini.
"Memang aku kenapa?" tanya Latya menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi.
__ADS_1
"Ck." Rey berdecak. "Jangan menjawab dengan sebuah pertanyaan, Abang lihat kamu itu seperti menyembunyikan sesuatu dari Abang, coba kamu cerita!" ucap Rey dengan memaksa.
Latya menatap wajah Rey dengan serius lalu menghirup nafas nya dalam-dalam.
"Kalau aku cerita Abang percaya sama ucapan aku nanti?" tanya Latya meyakinkan dahulu Rey.
"Ya Abang pasti percaya sama kamu." jawabnya mantap.
Latya sedikit ragu untuk menceritakan hal yang membuat dirinya menjadi sering melamun dan menjaga jarak dengan Rey, bercerita kepada Rey takut nya suaminya itu menganggap dirinya sedang membuat cerita palsu.
"Hei... Sayang." panggil nya karena Latya tak kunjung bercerita malahan terlihat bengong kembali. "Hei malah bengong lagi!"
Latya tersadar saat Rey menggoyangkan tubuhnya. "Ah i...iya. Kenapa?" ucap nya gagap.
"Ayok cerita sayang, Abang akan dengar jangan ada rahasia di antara kita." ujarnya.
Latya menarik nafasnya panjang lalu membuangnya perlahan. "Sebenarnya..." ucapnya ragu.
"Sebenarnya?" tanya Rey tidak sabar.
"Sebenarnya Tante Rahma meminta ku untuk menjauhi bang Rey." ucapnya pelan.
Rey mengerutkan keningnya bingung. "Menjauhi maksud nya?" Rey bingung.
"Ya melepaskan bang Rey untuk Maura." sambung nya lagi.
"Gimana-gimana abang belum paham?" tanyanya semakin bingung.
"Ah Abang jangan pura-pura gak ngerti deh!" kesal Latya merajuk.
Bukan Rey bodoh tapi dia tidak paham kenapa Tante Rahma sampai meminta Latya seperti itu, dia siapa? Ibu nya bukan saudara juga bukan, apa hak dia untuk mengatur hidupnya?
"Bukan seperti itu, apa hubungannya Abang dengan Tante Rahma, dia tidak ada hak untuk mengatur hidup abang dan hubungan kita juga tidak ada hubungannya dengan mereka." jelas Rey ia menjadi kesal karena sahabat bundanya itu mengatur hidupnya.
"Sejak kapan Tante Rahma bilang seperti itu?" tanya Rey.
"Sudah lama." jawab Latya malas.
"Sudah lama? Dan kamu baru bilang sama Abang sekarang?" Rey kesal dan menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan sikap istri kecilnya itu.
"Ya aku pikir Tante Rahma itu hanya menggertak aku aja, tapi semakin kesini aku semakin risih karena Tante Rahma selalu berusaha mendekatkan bang Rey dengan Maura, terus mendekatkan Maura dengan bunda juga." terang Latya.
"Kenapa kamu baru bilang sih, apa tidak percaya nya kamu sama Abang sampai kamu memendam masalah ini?" tanyanya menatap tajam pada wajah Latya.
"Aku cuma gak mau masalah ini semakin panjang, aku pikir aku bisa mengatasinya sendiri. Tapi ternyata aku gak bisa." lirih nya.
Rey menghela nafasnya panjang. "Abang gak sangka kalau tante Rahma bisa bicara seperti itu. Ingat Latya Abang cuma cinta sama kamu dan kamu harus tahu kamu perempuan kedua yang ada di hati Abang setelah bunda, tidak ada perempuan lain di antara kamu dan juga bunda." aku nya sejujur-jujurnya.
"Aku tahu." balas Latya dengan senyum tipisnya. "Tapi Maura sepertinya memang sangat cinta sama bang Rey, apa Abang gak akan luluh jika Maura terus-menerus mendekati Abang?" tanyanya sendu.
"Tidak akan!" jawab nya mantap seraya menatap wajah sendu istrinya itu.
"Hah bohong kamu bang?" telak nya tidak percaya.
"Kamu gak percaya?" tanya Rey Latya mengangguk.
Rey mendengus. "Perlu bukti?" tanya nya lagi Latya mengangguk kembali.
"Mau bukti apa?" tantang nya dan Latya mengangkat kedua bahunya acuh.
Semenjak Rey tahu jika tante Rahma seperti itu, ia lebih menjaga jarak dengan Maura, karena Rey tidak mau jika Latya merasa cemburu dan marah padanya dan ini sebagai bukti jika Rey memang benar-benar mencintai Latya dengan sepenuh hati nya.
__ADS_1
*
*
*
"Rey awas...!" teriak Maura ketika ia melihat sebuah mobil dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Maura berlari mendekat dimana Rey berada, dengan bersamaan mobil melaju tanpa melihat adanya orang di depan mobilnya. Maura mendorong tubuh Rey dengan cepat sedangkan tubuh nya kini yang terhantam oleh sebuah mobil.
Brug... Maura tertabrak oleh mobil itu untuk menyelamatkan Rey yang tadi akan tertabrak.
Rey terjatuh di pinggiran jalanan dan terkejut melihat Maura yang malah tertabrak karena berniat untuk menolongnya. "Maura." Rey terkejut melihat Maura tidak sadarkan diri di tengah jalanan.
Rey mendekat ingin melihat bagaimana keadaan Maura saat ini. Semua orang di sana sudah mulai berkerumun melihat Maura yang sudah tergeletak di jalanan, sedangkan sopir mobil yang menabraknya sudah di amankan oleh para warga yang melihat kejadian di sana agar sopir tidak melarikan diri.
"Maura." panggil Rey seraya menepuk-nepuk pipinya agar ia tersadar, namun Maura tidak kunjung sadar, membuat Rey dengan segera membawa Maura ke rumah sakit agar Maura mendapatkan penanganan lebih cepat.
Sebelum kejadian Rey tengah berada di suatu tempat yang sedang ia kunjungi untuk penanganan kasus yang tengah ia jalankan, dia menerima sebuah laporan dari warga sekitar jika membutuhkan keamanan dari pihak kepolisian, namun dia tidak menyadari jika Maura sedang berada di sana, Rey hanya melihat jika Maura mungkin sedang berbelanja di sebuah supermarket yang tidak jauh dengan keberadaan Rey karena ia melihat Maura membawa belanjaannya yang berhamburan di jalanan.
"Rey elu mau kemana?" teriak rekan nya yang ia tinggalkan melihat Rey pergi begitu saja lalu ia pun menghampiri Rey yang tengah sibuk menolong seorang gadis yang tidak ia kenali.
"Gue bawa dia dulu ke rumah sakit, nanti setelah dia mendapatkan penanganan dokter gue balik lagi kesini." ucap Rey memberi tahu rekannya itu.
"Ok, Kalau perlu bantuan hubungi gue." serunya. Rey mengangguk paham. "Si Rey tahu aja kalau korban nya cakep." cibir rekan nya itu, ia tidak tahu jika Rey mengenali korban.
Sesampainya di rumah sakit Rey berteriak memanggil seorang perawat di sana, karena ia khawatir juga Maura tidak kunjung sadar, lukanya yang berdarah terlihat sedikit hanya lecet-lecet saja di bagian kaki, tapi yang ia takutkan Maura terbentur di bagian kepalanya sehingga membuat Maura sampai sekarang tidak sadarkan diri.
Luka di kepala akan lebih berbahaya jika tidak mengeluarkan darah takut darah di kepala menggumpal dan membuat Maura semakin berbahaya jika itu terjadi.
"Ya Tuhan..." desah Rey pelan secara mengusap wajahnya frustasi. Ia takut jika sesuatu terjadi pada Maura, kecelakaan ini terjadi karena dirinya, karena Maura sudah menolongnya dari musibah ini.
"Hah." Rey membuang nafas nya kasar, menunggu dokter yang sedang menangani Maura di dalam sana dan tak kunjung keluar.
Rey mencoba menelepon tante Rahma, dan setelah tante Rahma mendapatkan kabar ini pun ia sangat terkejut mendengarnya, karena Maura tadi berpamitan untuk berbelanja kebutuhan nya di supermarket tanpa di temani oleh Rahma karena Maura bersikeras untuk pergi sendiri.
"Rey kamu serius? Apa yang tante dengar tidak benar kan Rey?" tanya Rahma meyakinkan Rey jika ia salah dengar.
"Tante maaf, Rey tidak bohong, Maura sekarang sedang di tangani oleh dokter karena dari kecelakaan terjadi Maura belum sadarkan diri." jelas Rey semakin membuat Rahma semakin terkejut mendengarnya.
Isak tangis Rahma terdengar di telpon. "Baik Rey tante ke sana sekarang." ucapnya lemas.
Tak lama Rahma pun datang bersama anaknya Faris yang baru saja datang dari luar negeri, dengan langkah terburu-buru menghampiri Rey tengah menunggu di ruang tunggu.
"Rey bagaimana keadaan Maura?" tanyanya khawatir.
"Masih di tangani tante. Dokter yang menangani Maura belum keluar dari ruangan nya." jelas Rey menjawab.
"Bagaimana ceritanya Maura bisa mengalami kecelakaan Rey? Dan kenapa kamu bisa bersama Maura?" tanya Rahma penasaran di sela mereka tengah menunggu Maura.
Rey pun menceritakan kronologi kecelakaan Maura sampai mengalami kecelakaan itu, dan menjelaskan kenapa dirinya berada di sana.
"Jadi, Maura berniat menolong kamu saat melihat kamu di sana?" Rahma memastikan cerita Rey itu benar.
Rey mengangguk membenarkan. "Ya ampun Maura kamu benar-benar membuat tante khawatir." isaknya. "Lihat Rey bagaimana Maura mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan kamu, tapi kamu sama sekali tidak memperdulikan Maura yang jelas-jelas sangat mencintai kamu." ucap Rahma penuh kekecewaan karena Rey menolak perasaaan Maura terlihat dari sikap nya yang selama ini selalu menghindari keponakannya itu.
"Tenang mom, mom harus tenang." ujar Faris menenangkan Rahma. "And you jangan sok ganteng karena udah nolak kak Maura." ucapnya sinis pada Rey.
Rey melengoskan pandangan nya menahan kesal, apa salahnya jika dia menolak karena memang Rey tidak memiliki perasaan pada Maura, apa harus perasaan itu di paksa.
Rey menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan keluarga Maura, sebenarnya dia malas bertemu dengan tante Rahma yang selalu merasa kecewa karena perasaan Maura yang tidak terbalaskan. Namun karena Maura yang sudah menolongnya tadi Rey merasa tidak enak jika dirinya tidak peduli dengan Maura, walau bagaimanapun Rey tahu apa arti membalas Budi.
__ADS_1
'Semoga Maura tidak apa-apa, dan tidak terjadi sesuatu yang serius pada keadaan Maura.' batin Rey penuh harap.