Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
perasaan Rey


__ADS_3

"Terima kasih sayang." Rey mengecup kening Latya dengan lembut setelah mereka selesai mengeluarkan keringat yang membasahi tubuh mereka itu.


Latya tersenyum tipis. "Aku capek bang." keluh nya pelan seraya memposisikan tubuhnya membelakangi Rey yang ada di sampingnya.


"Ya udah kamu tidur ya, maaf sudah membuat kamu lelah." bisik Rey lembut seraya mengecup punggung polos Latya itu yang kini sedang membelakangi nya.


***


Rey terbangun lebih dulu setelah melakukan penyatuan bersama Latya istri kecil nya, tersenyum melihat istrinya itu masih tertidur dengan pulas di sampingnya dengan selimut yang menyelimuti nya sampai leher.


Rey terbangun karena merasakan perutnya yang begitu lapar karena setelah pulang bertugas ia langsung menerkam Latya tanpa mengisi perutnya terlebih dahulu.


Rey melihat jam dinding di dalam kamarnya menunjukkan pukul 20.00 malam. "Sayang..." di elus nya kening Latya dengan lembut, Latya hanya menggeliat saja.


"Hemm dasar kebo." ejeknya dengan senyuman tersungging di bibir manis nya.


Rey langsung beranjak pergi ke dalam kamar mandi sambil sesekali bersiul karena hatinya begitu sangat bahagia.


Tak lama ia membersihkan tubuhnya ia langsung menuju dapur untuk membuat makanan karena Latya masih tertidur ia pun tidak tega untuk membangunkan nya.


"Sudahlah, nanti saja aku bangunkan setelah makanan sudah siap." gumamnya melihat istrinya begitu pulas.


Rey pun menutupi tangga menuju dapur, membuat makanan untuk makan malam untuknya dan juga Latya istrinya.


Rey membuat makanan simpel saja namun masih kategori makanan empat sehat lima sempurna yang selalu bundanya ajarkan.


Tidak lama masakan yang dibuat Rey pun sudah siap, ia pun langsung menuju kamar untuk membangunkan Latya, agar dia pun makan malam juga.


"Sayang bangun..." bisik Rey di telinga Latya seraya menusuk-nusuk pipinya.


"Emh." Latya bergumam lalu menyipit kedua matanya menatap Rey yang ada di sampingnya. "Jam berapa sekarang?" tanya dengan terus menggulung tubuhnya dengan selimut karena ia sadar tubuhnya masih polos.


"Tuh!" tunjuk Rey pada jam dinding.


Latya melototkan kedua matanya. "Hah!" ia terkejut karena ia tidur cukup lama setelah ia dan Rey melakukan hubungan untuk pertama kalinya.


"Abang kok gak bangunin aku." cebik nya.


"Udah, kamu nya saja yang kayak kebo kalau tidur." sahut Rey setengah mengejek.


"Ah masa sih?" balas nya tidak percaya.


"Hemm perlu bukti?" tanya Rey dan di angguki Latya.


"Cup." kecupan dari Rey membuat Latya mengerutkan keningnya bingung.


"Tunggu! Ini maksudnya apa ya?" tanya Latya heran.


Rey malah tergelak melihat kebingungan istrinya itu, ia pun tidak mengerti kenapa mencium istrinya sebagai bukti sungguh tidak masuk akal.


"Ih gak nyambung!" sebal nya menonjok lengan Rey dengan pelan.


"Haha, ayok bangun nanti kita makan malam bersama." ujar Rey mengajak Latya.


"Memang ada makanan?" tanya nya polos.


"Adalah masa gak ada. Ini kan di rumah bukan di hutan." jawab Rey asal.


"Idih." kesal Latya.


Dengan pelan ia pun beranjak untuk turun dari ranjangnya, namun saat ia akan berdiri Latya merasakan sakit luar biasa.


"Aww." rintih nya pelan dan berdesis.


Rey yang masih di samping Latya dan melihat istrinya begitu pun menjadi cemas. "Kenapa sayang?" tanyanya khawatir.


"Sakit..." ucapnya manja seraya mendudukkan kembali pinggulnya di samping sisi ranjang.


"Apanya yang sakit?" Rey pun kembali bertanya lagi.


"Si Siti aku sakit bang." rengek nya.


"Si Siti siapa dia?" tanya Rey bingung.

__ADS_1


"**** * aku bang!" bisiknya malu-malu.


Rey tertawa. "Oh. Aduh kamu lucu sayang, jadi namanya Siti." goda nya seraya menyentuh bagian bawah Latya yang sakit itu.


"Ih Abang." teriak nya kesal. "Sakit tahu, ini gara-gara Abang!" cebik nya seraya mencoba berdiri kembali. "Awww." keluh nya.


"Hemm tapi kamu suka kan?" godanya sambil menggendong tubuh istrinya itu dan membawanya menuju kamar mandi.


"Ih." jawab nya malu-malu dengan wajahnya ia telusupkan ke dada Rey yang menggendong nya.


Rey tergelak gemas melihat istrinya itu. "Mandi bareng yuk!" ajaknya dengan nakal.


"Gak." tolak nya cepat. "Lagian Abang udah mandi, ngapain mandi lagi." sebal nya.


"Kan bantuin kamu mandi." jawab nya dengan menaik-turunkan kedua alisnya.


"Ah gak usah aku bukan bayi, aku mau selesaikan mandi lalu makan, aku udah laperrrrr." ucapnya merengek lelah dan lapar menjadi satu.


"Hahaha ok... ok sayang ku." goda nya. "Ya sudah Abang tunggu di kamar tidur ya, kamu mandi yang bersih." sambung nya seraya keluar dan menutup pintu kamar mandi itu. Kamu yakin bisa mandi sendiri?" tanya Rey dan di angguki Latya.


Setelah Rey keluar kamar mandi. Rey duduk di ranjang lalu melihat handphone nya yang tergeletak di nakas, mengecek ada pesan penting atau tidak dari rekannya.


Perlahan Rey membuka layar handphone nya itu ia melihat beberapa pesan yang ada di sana dan pesan yang paling banyak Rey terima itu pesan dari Maura.


"Maura mengirimkan pesan sebanyak ini?" Rey mengerutkan keningnya heran dan membuka pesan itu tapi hanya satu yang ia baca, di sana juga banyak panggilan dari Maura.


Rey menghela nafasnya panjang. "Mau apa lagi sih Maura ini? Kasus pembunuhan papa nya kan sudah selesai, jadi untuk apa dia menghubungi ku terus." gumam Rey ia merasa risih Maura selalu menghubungi nya setelah ia tahu jika Maura memiliki perasaan, Rey tidak mau ada kesalahpahaman dengan Latya karena Maura yang selalu menghubungi nya.


'Kalau saja Maura tidak sakit, mungkin aku akan memberi tahu Maura soal hubungan aku dengan Latya.' batin Rey.


Saat Rey melamun ia tidak sadar jika Latya sudah selesai mandi. Latya menghampiri Rey yang sedang diam itu dengan menggunakan handuk kimono, karena Latya sudah terbiasa seperti itu jadi dia sudah tidak canggung lagi memakai handuk kimono saja di depan Rey, tapi untuk bertelanjang bulat di depan Rey Latya masih malu karena baru tadi saja ia seperti itu.


Karena Rey sedang melamun, Latya langsung dengan cepat membuka lemarinya dan memakai pakaiannya dengan cepat agar Rey tidak melihat apa yang di kerjakan nya.


"Kenapa bang Rey?" heran Latya melihat suaminya itu diam saja, dia berpakaian saja sampai tidak sadar.


Latya menggoyang tangan nya di depan wajah Rey. "Bang... bang... bang Rey? Hei kenapa bengong?" tanya Latya.


"Abang kenapa bengong?" tanya Latya penasaran.


"Hemm gak apa-apa. Apa kamu sudah lapar?" tanya Rey.


"Huuh aku lapar banget, memang benar ada makanannya?" tanyanya serius.


"Ada, ayok!" ajaknya.


Latya pun tidak banyak bicara ia mengikuti kemana Rey membawanya.


Saat mereka sudah di bawah dimana ruang makan, Rey pun memanaskan kembali makanan yang ia buat karena terlalu lama menunggu Latya selesai mandi.


"Wah ini Abang yang masak semua?" tanya Latya penuh dengan kekaguman melihat makanan yang tersedia di meja makan.


"Iya, memang kamu gak tahu suami mu itu bisa masak." ucapnya bangga.


"Enggak, aku gak pernah lihat Abang masak, ini pertama kalinya aku lihat." jujur Latya menjawab.


"Hehe iya sih karena kan bunda Nisa yang selalu masak. Makanya keberuntungan istri seorang abdi negara itu seperti ini, suami bisa memasak untuk istri. Jadi jangan ada keraguan lagi." ujarnya memuji kembali dirinya.


"Iya deh iya." balas nya cepat. "Ya udah ayok makan aku udah laperrrrr ini." ajak Latya tidak pakai lama mencoba makanan yang Rey masak.


Mereka pun makan malam bersama. Rey tersenyum senang karena istrinya itu sepertinya menyukai masakan nya itu.


"Gimana enak?" tanya Rey di sela-sela mereka makan.


"Huum enak." sahut nya cepat dengan mengacungkan dua jempol sekaligus membuat Rey semakin tersenyum bangga.


"Nanti Masakin lagi ya, kalau bisa setiap hari hehehe." ucap Latya cengengesan.


"Tok... pukulan pelan di kepala Latya ia dapatkan dari Rey.


"Di kasih hati minta jantung. Di baikin malah ngelunjak kamu! Nanti kamu belajar masak." titah nya. "Masa ia suami yang setiap hari masak, memang nya suamimu ini pengangguran!" sambung nya dengan nada sebal.


"Hehe ya kan keberuntungan aku dapat suami seorang abdi negara, jadi boleh dong aku berharap..." balas nya menggoda Rey.

__ADS_1


"Nanti kalau Abang gak pulang karena dapet tugas berhari-hari tinggalin kamu, memang kamu mau gak makan dan nunggu Abang sampai pulang baru makan, gitu?" telak nya.


"Hehehe ya gak gitu juga sih, aku kan bisa minta bunda aja masakin buat aku." jawabnya polos.


Tok... pukulan pelan pun terjadi di beri lagi dari Rey karena gemas istrinya itu menjawab dengan santai.


"Pokoknya nanti kamu mesti belajar masak, ya setidaknya kamu gak kaku saat berhadapan dengan wajan." ujar Rey mengajarkan.


"Kamu calon ibu Bayangkari aku, jadi harus belajar ya." ucapnya tegas. "Ayok makan lagi yang banyak kalau kamu suka." tawar nya.


"Iya..." sahut Latya cepat.


***


Setelah mereka makan malam Rey dan Latya tidak langsung masuk kamar, mereka duduk bersama sambil menonton acara di televisi. dengan Latya tiduran di pangkuan Rey, Rey mengusap rambut Latya dengan lembut.


"Bang, aku boleh tanya gak?" tanya Latya sedikit ragu.


"Tanya apa sayang?" tanya Rey menatap wajah Latya yang ada di bawah tatapan wajah nya.


"Abang tahu gak kalau Maura suka sama Abang?" tanyanya penasaran.


Rey menghela nafasnya panjang sebelum ia menjawab pertanyaan Latya. "Iya tahu." jawab nya santai.


"Terus Abang gimana?" tanyanya lagi.


"Gimana apanya sayang... Hem?" tanya Rey balik membuat Latya gemas ingin mencubit bibir nya itu.


"Perasaan Abang sama Maura, bagaimana?" jelas Latya sedikit kesal.


"Gak ada, gak ada perasaan apa-apa. Abang hanya anggap Maura itu teman saja, tidak lebih dari itu." terang nya namun tidak membuat Latya puas akan jawaban Rey itu.


"Masa sih, Maura kan cantik, badannya juga bagus, dia anak orang kaya lagi, masa Abang gak suka sama Maura!" sergah Latya memuji Maura.


"Ya memang Abang gak suka, Abang kan sudah ada kamu, perempuan imut yang Abang cinta, dan untuk apa Abang cari perempuan lain sedangkan istri Abang aja selalu membuat Abang tergoda." ujarnya jujur dan tegas namun Latya sedikit ada keraguan karena Latya takut jika suaminya itu akan tergoda jika sering di berikan perhatian oleh lawan jenis apalagi perempuan seperti Maura.


"Kenapa malah bengong?" tanya Rey saat Latya hanya diam saja tanpa bertanya lagi.


"Dengar ya Latya istri ku, aku itu tidak mudah untuk mencintai seseorang, apalagi Abang sekarang sudah punya istri yang cantik dan menggemaskan, ya walaupun manja nya gak ketulungan, tapi Abang suka." jelas Rey mengusap rambut Latya dengan sayang, ia tahu jika Latya sedang dalam mood cemburu.


"Serius?" tanyanya.


"Ya serius." balas Rey cepat.


"Apa buktinya dan sejak kapan Abang cinta sama aku?" tanya Latya meminta bukti.


Rey menghirup nafas nya dalam-dalam. "Kamu tahu gak kenapa Abang diam saja saat kita dulu di nikahkan dengan paksa oleh kedua orang tua kita?" tanya Rey menatap serius dan Latya menggeleng.


Rey tersenyum. "Abang memang mau menikah sama kamu, yang walaupun Abang gak terima jika kita di tuduh melakukan apa yang tidak kita lakukan." ujarnya mengingatkan kejadian sebelum mereka di nikahkan.


"Kalau Abang gak cinta sama kamu mungkin Abang akan menolak keras pernikahan kita ini, kita bisa buktikan pada orang tua kita kalau kamu masih perawan dan tidak Abang sentuh sama sekali, ya setidaknya Abang bawa kamu untuk cek apa kamu hamil atau tidak, tapi Abang biarkan saja kan, karena memang Abang menerima pernikahan kita, tapi Abang gak mau caranya seperti itu, tapi ya mau gimana lagi orang tua kita sudah menuduh seperti itu." jelas Rey mengeluarkan isi hatinya.


"Sejak kapan Abang cinta sama aku?" tanya Latya di sela Rey yang sedang bercerita.


Rey berpikir sebelum menjawab. "Sejak kamu masih dalam kandungan Abang udah cinta sama kamu." ujarnya namun Latya tidak langsung percaya begitu saja.


"Ih Abang ngarang jawabnya." Latya malah mengejek.


Rey langsung menyambar ejekan Latya yang tidak mempercayai nya. "Bunda Nisa pernah cerita sama Abang, kalau aku itu suka cium perut bunda Via saat kamu masih dalam kandungan bunda Via, dan aku suka elus perut bunda Via dan berbisik Abang sayang kamu." jelas Rey menceritakan dulu saat ia masih kecil.


"Hahaha masa iya sih bang, aku gak percaya, mungkin aja bunda Nisa ngarang, aku kan tahu kalau Abang suka jahilin aku waktu kecil, jadi mana mungkin Abang begitu." ucap Latya tidak mengerti.


"Bunda Nisa serius sayang, bunda Via kan suka ke rumah ketemu bunda Nisa, mereka kan sahabatan." urai Rey membenarkan. "Abang dulu jahil sama kamu tuh karena Abang suka cemburu, kamu selalu asyik main boneka dengan beruang kesayangan kamu itu, yang selalu kamu panggil dengan nama si bear. Abang ngerasa di duain kalau kamu udah main sama boneka beruang kamu itu!" cebik Rey kesal saat mengingat Latya dulu.


"Makanya Abang suka jahilin kamu dan jahatin kamu supaya perhatian kamu itu tertuju sama Abang aja, jangan ada yang lain." sambung nya.


"Latya tersenyum mendengar penuturan Rey, ia ingat memang kalau sudah main dengan Boneka beruang itu Latya suka lupa dia selalu asyik main boneka. "Ya kan aku perempuan, wajar dong kalau aku main boneka." kilah nya.


"Ya wajar, tapi ya kalau lagi main sama Abang ya boneka nya simpan dulu kek di kamar jangan Abang yang di cuekin!" kesal nya.


"Hehehe aku baru tahu." jawab nya cengengesan. "Tapi Abang suka cuek sama aku pas aku udah mulai tinggal di sini!" sambung nya tidak terima.


"Cuek itu ya karena Abang suka grogi kalau dekat sama kamu." jelas nya membuat Latya cemberut tidak terima. Rey mengecup bibir Latya itu dengan gemas. Lalu melepasnya. "Jangan ragukan lagi perasaan Abang sama kamu, ok." ucapnya menatap wajah Latya dan Latya pun tersenyum mengangguk lalu tanpa meminta ijin lagi Rey mencium bibir Latya dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2