
"Emh kamu kesini ada perlu apa? Kok bisa kamu bisa ada di kantor polisi begini?" tanya Andre penasaran.
"Aku lagi magang di sini, ini hari pertama aku." jawab nya seraya makan makanan yang sudah di pesankan oleh Rey.
"Oh kamu anak magang, ambil jurusan apa kalau boleh tahu!" tanyanya dengan hati sangat senang.
"Hukum." sahut nya cepat.
"Wah mau jadi pengacara ya?" tanya nya antusias.
"Gak juga sih, yang penting nanti dapat kerja yang berhubungan dengan negara." ujarnya cengengesan dengan mulut penuh makanan membuat Andre semakin kesemsem dengan gadis di hadapannya ini. Dan ia juga melihat ujung bibir Latya ada nasi yang menempel. Membuat ia memberanikan diri untuk membersihkan dengan tisu.
Rey yang melihat gerak-gerik sahabatnya itu langsung refleks mencegahnya. "Mau ngapain elu?" sergah Rey kesal.
"Emh... I...itu emh gak apa-apa! Ini ada minyak nempel di meja." kilah nya salah tingkah.
Rey melirik malas ia tidak percaya alasan sahabatnya itu. Lalu tanpa ba-bi-bu Rey langsung mengambil tissue dan langsung mengambil nasi yang ada di bibir Latya yang menempel itu dengan cara mencomotnya lalu mengelap bibirnya itu dengan tissue yang tadi di ambil nya. "Kalau makan jangan belepotan! Seperti anak kecil saja." ucapnya datar dengan terus makan makanan yang ada di hadapannya itu.
Latya langsung menyentuh bibirnya itu malu rasanya di perhatikan oleh Rey. Perhatian Rey itu tidak ia duga sama sekali. Latya tersenyum kikuk. "Terima kasih bang Rey." ucapnya gugup.
Rey hanya menatapnya saja tanpa menjawab ucapan Latya yang berkata terima kasih itu. Sedangkan Andre mendengus pelan namun sedikit kesal juga.
***
"Eh Des, kamu beneran suka sama Briptu Rey, dia kan cowok yang cuek banget sama perempuan." ujar rekan Bripda Desti saat mereka melihat Rey yang sedang makan siang bersama dengan Latya. Bripda Desti sudah menceritakan hubungan antara Rey dengan Latya itu, dan Bripda Desti meyakini jika Latya adalah adik sepupu dari Rey.
"Iya aku yakin!" jawab nya mantap. "Dan sekarang malah semakin yakin karena aku sekarang dekat dengan sepupunya. Kamu tahu apa itu artinya? Aku akan lebih tahu apa yang di sukai Rey dan apa yang tidak ia sukai dan itu aku bisa dapatkan dari adik sepupu nya itu. Aku akan dekati terus Latya agar aku bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentang Rey." tutur nya menjelaskan seraya tidak melepaskan pandangannya pada arah meja yang di tempati Latya dan juga Rey.
"Hemm, perempuan yang duduk dengan Rey memang serius Ade sepupu nya? Kok aku lihat mereka seperti bukan Ade sepupuan." ujarnya merasa aneh.
"Kenapa memangnya? Ada yang aneh dengan hubungan mereka, aku rasa tidak!" sergahnya.
__ADS_1
Rekannya pun mengangkat kedua bahunya. "Ntahlah." ucapnya acuh.
***
Sore harinya di sebuah parkiran Rey yang sedang menunggu Latya untuk pulang bersama, karena sebelumnya ia mendapatkan pesan berupa perintah dari ayahnya yang tidak bisa mengajak Latya untuk pulang bersama nya karena masih ada pekerjaan.
Mungkin tidak masalah bagi Rey untuk pulang bersama, namun yang jadi masalah nya adalah Rey yang dari tadi menunggu Latya dengan kesal sebab Latya tak kunjung datang menghampiri nya.
Rey berkali-kali melihat jam di pergelangan tangan nya. "Hemm mana sih tuh anak lama banget!" gumam nya kesal seraya mengetuk-ngetuk helm yang ia pegang.
"Hallo Rey." sapa Bripda Ninda rekan Rey lembut menyapa nya.
"Hemm..." sahut nya cuek.
"Lagi nunggu siapa?" tanyanya, memperhatikan dari tadi ia lihat jika Rey masih di parkiran.
"Latya." ucapnya cepat.
"Eh Rey emangnya bener ya kamu sama anak magang itu sepupuan?" tanyanya meyakinkan.
Rey hanya mendelik ke arah rekannya itu tanpa ada niat untuk menjawab. Ninda sadar jika laki-laki yang ada di hadapannya itu laki-laki yang tidak mau di tanya-tanya soal masalah pribadinya. "Ok tidak usah di jawab. Aku akan pergi sekarang!" ucapnya cepat karena Rey semakin menatapnya dengan tatapan tajam.
"Heh aku kan penasaran saja! Apa susah nya sih tinggal jawab ia atau tidak!" gerutu Bripda Ninda kesal seraya melangkahkan kakinya untuk pergi menjauh. "Untungnya dia ganteng dan anak dari pak Adam. Coba kalau dia jelek udah aku maki karena bikin aku kesal!" tambahnya.
Tak lama setelah rekan Rey itu pergi Rey melihat Latya berlari-lari kecil ke arahnya. Dengan nafas tersengal-sengal karena lari-lari tadi. "Maaf bang Rey aku udah bikin bang Rey nunggu aku." ucapnya tak enak hati.
Rey menghirup nafas nya dalam-dalam. "Kenapa sih lama banget, cuaca udah gelap ini gak lama bakal turun hujan." omelnya.
"Maaf bang Rey tadi aku bereskan dulu tugas aku." aku Latya sejujur jujurnya.
"Ya sudah naik!" titah nya dengan dagu ia angkat menunjukkan pada arah belakang motor.
__ADS_1
Tanpa ragu dan cepat Latya pun naik ke motor Rey agar Rey tidak terus marah padanya. Di berikan nya sebuah helm pada Latya dan Latya pun dengan cepat meraihnya dan memakai nya. Dan Rey pun menjalankan motor nya itu.
Saat di tengah perjalanan tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya, membuat Rey dengan cepat menepi ke sisi jalanan untuk meneduh terlebih dahulu. "Turun, kita meneduh dulu hujan nya deras banget." ucap Rey datar.
Berhenti di depan sebuah toko yang sedang tutup namun di sana bukan hanya Rey dan Latya saja yang meneduh tapi ada banyak orang juga di sana yang sama-sama meneduh dari lebatnya hujan pada sore hari itu.
Sedikit basah pada pakaian Latya karena dia tidak memakai jaket hanya kemeja putih saja yang menempel di tubuhnya. Dan tadi ia sempat kehujanan sedikit membuat kemeja putih yang ia pakai memperlihatkan pakaian dalam Latya yang berwarna hitam itu, mengeplak di tubuh nya karena kemeja nya basah. Terlihat sekali pakaian yang ia pakai transparan dan terekspos dengan jelas.
Latya mengusap-usap lengan nya dan meniup-niup kedua tangannya itu, ia merasa kedinginan karena hujan semakin lebat dan dan ada angin.
Rey yang melihat Latya merasa kedinginan dan terlihat pakaian dalam Latya yang mengeplak pun dengan cepat langsung membuka jaketnya lalu memberikan nya pada Latya dengan langsung memakaikan nya pada tubuh belakang Latya.
Latya terkejut akan perbuatan Rey padanya itu ia pun refleks menyentuh jaket yang diberikan Rey pada nya. Namun bukan jaket yang ia sentuh melainkan tangan Rey yang masih membenarkan jaketnya itu pada kedua bahu Latya, otomatis Latya menatap sedikit mendongak kepalanya ke atas ke arah wajah Rey dan Rey pun sama menatap ke arah Latya walaupun sedikit menunduk karena perbedaan tinggi badan mereka.
"Bang Rey gak usah, jaketnya pakai aja sama bang Rey." ucap Latya tidak enak juga rasanya seraya melepaskan sentuhan tangan mereka berdua tadi.
Rey berdehem menetralisirkan kegugupan nya saat mereka saling pandang tadi, seperti ada gelenyar aneh pada hatinya saat mereka berpandangan dengan tatapan yang sangat dekat. "Pakai saja!" titah nya cuek.
"Tapi nanti bang Rey yang malah kedinginan terus gimana kalau nanti bang Rey sakit." ucapnya lagi.
"Aku lebih kuat dari pada kamu, sudah lah pakai saja. Lagi pula selain jaketku ini bisa membuat kamu hangat jaket itu juga bisa menutupi apa yang kamu perlihatkan tadi." ucapnya tanpa menatap ke arah Latya, ia bicara namun matanya melihat air hujan yang jatuh.
Latya mengerutkan keningnya bingung, ia tidak mengerti apa yang di maksud oleh Rey.
"Maksud bang Rey apa aku gak ngerti?" tanyanya penasaran.
"Kemeja kamu basah dan BH kamu tadi kelihatan, warnanya hitam kan?" bisik Rey di telinga Latya.
Latya yang mendengar bisikan Rey yang memberi tahukan itu pun langsung melotot merasa terkejut sekaligus merasa malu karena ucapan Rey yang langsung tanpa di saring itu. Lalu dengan cepat Latya langsung memakaikan jaket Rey itu di tubuhnya karena ia malu sekali dengan kejadian ini. Dengan erat ia merekatkan jaket itu pada tubuhnya.
"Lain kali kemanapun akan pergi bawa jaket jangan hanya pakai baju begitu saja. Kegunaan jaket itu bukan hanya menghangatkan tubuh kita tapi jaket bisa menutupi saat sedang kita butuhkan, ya seperti sekarang ini." ujar Rey panjang kali lebar dengan senyum tipis saat ia melihat ekspresi terkejut nya, sangat terlihat lucu.
__ADS_1
"Iya." sahut nya, ia merasa malu sekali membahas soal jaket.