Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
pertemuan tidak di sangka


__ADS_3

"Rey kamu di panggil pak komandan di ruangannya." ucap salah satu rekan Rey memberi tahu.


"Ok siap!" sahut nya cepat seraya melenggang ke arah dimana ruangan komandan nya.


Setelah di dalam ruangan komandan, tidak hanya Rey yang ada di sana ada rekannya yang bernama Adit, ia sama-sama di panggil oleh komandan.


"Briptu Rey dan Briptu Adit, besok saya tugaskan kalian berdua untuk pengamanan seseorang yang penting. Beliau adalah bapak dr.Irham SH. Beliau meminta pada pihak kepolisian untuk memberikan keamanan selama ia berkunjung ke salah satu universitas jurusan hukum di kota dimana beliau akan pergi. Karena beliau kan pengacara kondang dan pernah beberapa kali mendapatkan teror dan ancaman jadi beliau meminta penjagaannya yang ketat agar sesuatu yang tidak di inginkan tidak terjadi." perintah komandan.


Dengan tangan memberi hormat mereka berdua pun menjawab. "Siap komandan!"


"Ya sudah kalian bisa keluar, besok persiapkan diri kalian." ucap nya lagi.


"Siap. Permisi komandan!" balas nya dan di angguki oleh komandan nya.


Komandan pimpinan Rey sekaligus ayahnya Rey yaitu Adam pun tersenyum melihat kepergian anak buah nya itu. "Rey ayah harap pergunakan waktu sebaik mungkin saat kamu tugas di sana." ucap Adam penuh harap menatap Rey yang kebingungan. Ntah apa maksudnya itu.


"Siap!" ucap Rey.


Mereka berdua pun keluar. "Dapat tugas kita bisa jalan-jalan sekalian. haha." ucap Adit rekan Rey.


"Jalan-jalan gimana orang kita jaga keamanan orang penting. Jangan main-main elu!" ucap Rey gemas dengan candaan rekannya itu.


"Ada apa Rey elu di panggil pak komandan?" tanya Andre saat melihat Rey keluar ruangan komandan nya.


"Di kasih tugas buat besok, jaga keamanan pak Irham." jelas Rey.


"Pak Irham pengacara kondang yang sering dapat teror dari mantan klien nya itu?" tanya Andre memastikan.


"Ya." jawab Adam cepat.


*


*


*


"Bun aku berangkat ya." pamit Rey pada Nisa, hari ini pukul 5 pagi Rey sudah bersiap untuk berangkat bersama rekan nya menjalankan tugas dari komandan nya.


"Hati-hati kamu Rey, memang kamu dapat tugas dari siapa?" tanya Nisa heran pagi-pagi Rey sudah bersiap.


"Tugas dari pak komandan yang masih tidur di kamar bunda." canda Rey.


"Ayah kamu kasih tugas ini?" tanyanya meyakinkan.


Rey mengangguk. "Iya. Ya udah aku berangkat ya, nanti setelah sampai aku kabari bunda ya." ucapnya.


"Ya wajib jangan lupa!" titah nya tegas.


Rey pun mencium punggung tangan bundanya itu. "Bilang ke ayah ya aku berangkat!" ucap nya.


"Ya udah kamu hati-hati ya di sana. Ingat kabari bunda kalau sudah sampai di sana." ucapnya lagi mengingatkan.


"Ok Bun, assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." jawab Nisa.


Rey pun berangkat menggunakan mobil online yang ia pesan, karena Rey dan juga rekan nya akan berangkat dari rumah pengacara kondang itu.


Sesampainya di rumah pak dr. Irham SH. Rey langsung bertemu dengan beliau yang memang sudah siap untuk berangkat, rekan Rey juga sudah sampai tidak lama Rey saat Rey sampai.


"Kita berangkat sekarang, kita akan naik pesawat." ujar pak Irham memberitahu.


"Siap pak." sahut Rey dan juga Adit bersamaan.


"Semua kebutuhan kita untuk di perjalanan sudah saya siapkan, jadi tidak usah khawatir." ucapnya lagi.


"Saya sebenarnya tidak begitu suka berpergian jauh seperti ini, tapi karena pihak kampus di sana mengundang saya untuk menjadi motivator anak-anak kampus di sana, ya mau tidak mau saya usahakan, makanya saya meminta anggota kepolisian untuk menjaga saya dari segala kemungkinan yang ada. Kalian tahu kan saya pernah menerima ancaman, saya ini pengacara tapi berasa jadi penjahat." jelas nya.


"Tenang pak kami akan memberikan keamanan yang terbaik untuk bapak. Kami akan menjaga sekuat tenaga kami." ujar Adit salah satu rekan Rey.

__ADS_1


"Iya pak, bapak tenang saja." sambung Rey menenangkan.


"Iya terima kasih." ucapnya.


Beberapa jam kemudian. Pak Irham dengan kedua polisi yang menjaganya pun sampai di salah satu universitas terkenal di kota itu, setelah beristirahat sejenak untuk mempersiapkan dirinya berhadapan dengan para mahasiswa dan mahasiswi di kampus itu, atau mungkin di antara mereka akan menjadi pengacara kondang seperti dirinya.


Saat masuk ke dalam kampus, pihak kampus menyambut nya dengan senang hati atas kedatangan pak pengacara kondang itu, karena pihak kampus yang tahu jika pak Irham ini salah satu pengacara yang sangat sibuk, jadi suatu kehormatan bagi pihak kampus dengan kehadiran pak Irham itu.


"Selamat datang pak Irham, mari ikut saya." ajak salah satu dosen yang mengajar di sana yang mana dialah orang yang bertanggung jawab atas kehadiran pak Irham ke kampus dimana dirinya mengajar.


Dosen itu membawa pak Irham ke tempat yang sudah di sediakan oleh pihak kampus untuk penerimaan tamu.


Dengan sopan para dosen mempersilahkan pak Irham beserta kedua polisi itu untuk beristirahat sejenak sebelum acara bersama para mahasiswa dan mahasiswi di mulai.


Rey yang berada di kota dimana Latya tinggal pun jadi mengingat akan istrinya itu, mau mengirimkan pesan tapi tidak enak karena dirinya sedang bertugas.


Rey pun meminta ijin untuk pergi ke toilet sebentar dan di ijinkan oleh pak Irham.


Saat di dalam toilet Rey langsing mengetikkan sebuah pesan pada untuk Latya.


"Sayang, apa kabar? Masih marah?" pesan pun terkirim.


"Kamu tahu saat ini aku sedang berada di kota dimana kamu tinggal, di sini abang sedang ada tugas, Abang harap Abang bisa bertemu dengan kamu." pesan pun Rey kirim.


Pesan itu pun Latya terima, ia membuka lalu membacanya tapi tidak ia balas.


"Hah dia masih marah, lihat saja Abang akan kasih kejutan sama kamu, setelah nanti Abang sudah bisa ambil cuti Abang akan jelaskan semuanya, kamu gak tahu ya kalau Abang sama Maura sudah selesai. Kalau kamu tahu pasti kamu akan senang dan pasti maafin Abang." ucap Rey merasa yakin. Rey tidak sadar jika dirinya lah yang akan terkejut, dia tidak tahu sama sekali jika kampus tempat ia bertugas adalah kampus dimana istrinya menuntut ilmu, karena Rey tidak pernah bertanya nama kampus Latya, ia hanya tahu saja jika Latya berkuliah di kampus di kotanya dengan jurusan hukum, itu saja yang ia tahu.


'Bang Rey lagi ada tugas di sini? Huh sebal baru ada tugas di sini aja mau ketemu aku, padahal kan Jakarta ke sini tuh gak pake berjam-jam deh, alasannya tugas... tugas... aja, sibuk banget sampai gak mau nengokin aku! Aku tuh lagi hamil, perut aku tuh pengen di elus-elus tahu gak!' batin Latya menggerutu.


'Eh tapi kan bang Rey belum tahu kalau aku lagi hamil! Apa aku kasih tahu aja ya bang Rey, siapa tahu kan dia mau mati-matian minta ijin cuti?!' selorohnya jahat.


'Hah gini ni kalau punya suami seorang abdi negara, butuh ekstra menyiapkan hati yang lapang dan lebar untuk menerima jika harus di nomor duakan.' batin Latya berat menerima.


'Eh ngomong-ngomong soal di dua, apa bang Rey udah selesai masalah nya dengan Maura apa belum ya? Kalau belum, kebangetan kamu bang!' geram Latya. 'Aku jadi malas kasih tahu bang Rey kalau aku lagi hamil!' sambung nya.


'Ah bodo aku gak akan balas, biar bang Rey mikir kalau aku udah lelah di gantung.' batinnya kesal.


"Hemm gak ada apa-apa. Cuma suami gue kasih tahu ke gue kalau dia lagi ada tugas di sini." ucap Latya menjawab penasaran nya Geisha.


"Di kota ini maksud Lo?" tanyanya.


"Iya tapi gak tahu daerah mana nya, gue gak nanya." seru Latya.


"Kenapa?"


"Malas aja." ucap Latya.


"Masalah elu sama dia belum selesai ya?" tanya Geisha dan di angguki pelan oleh Latya.


"Kalau jauh-jauhan gitu masalah kalian tuh gak bakalan selesai tahu, percaya deh sama gue." ucap Geisha.


"Ya mau ketemu bagaimana, bang Rey nya aja gak pernah kesini!" ujar Latya kesal.


"Ya kan suami Lo polisi, kehidupan dia tuh udah di atur sama negara, kan elu lebih paham Tya, secara elu itu anak seorang TNI." jelas Geisha mengingatkan.


"Ya gue cuma mau dia selesai kan dulu masalah nya sama Maura, setelah itu gue bisa tenang walaupun kita berjauhan. Gue tipe cewek setia kok kalau cowok nya bisa jaga hati, lah ini ketahuan banget kalau ada cewek yang mati-matian mau miliki dia. Sedangkan suami gue tuh gak bisa tegas sama si Maura itu, kesal gue!" Latya kesal dengan sikap Rey dia belum tahu jika Rey dan Maura sudah selesai.


"Ih bumil jangan marah-marah gitu kasihan sama calon bayi elu Tya..." omel Geisha.


"Abis nya gue kesel!" sahut nya.


"Eh gaes...gaes... gaes." tiba-tiba Heidi datang dengan heboh nya setelah ia dari toilet.


"Eh gaes tahu gak tadi gue ketemu sama polisi ganteng, polisi nya ada dua ganteng dua-duanya lagi! Oh my God apalagi yang ah." Heidi sedang membayangkan polisi tampan bernama Reypan di tag namanya.


"Woy!" teriak Geisha menyadarkan Heidi yang tengah sibuk membayangkan polisi tampan. "Sadar elu!" teriak nya lagi.


"Ih sakit tahu kuping gue. Gak usah teriak-teriak kali lu!" kesalnya seraya mengusap-usap telinga nya yang sakit.

__ADS_1


"Mau ngapain ada polisi ke kampus kita, apa jangan-jangan mereka mau razian lagi?!" penasaran Geisha.


"Tadi sih gue lihat mereka barengan sama pak Irham pengacara kondang yang akan jadi motivator kita, kayaknya kedua polisi itu buat keamanan pak Irham deh soalnya kan pak Irham pengacara hebat, beliau sering masuk televisi, sering juga artis kasus nya di tangani oleh pak Irham." jelas Heidi bersemangat.


"Oh gitu, gue jadi penasaran!" ujar Geisha.


Sedangkan Latya dia diam saja, dia tidak menyadari kedua polisi itu salah satu nya adalah suaminya sendiri.


"Tya kenapa muka elu pucet amat, elu sakit?"


"Ya sedikit mual, kepala gue juga agak pusing." ujar nya.


"Elu istirahat gih biar nanti dokter kampus periksa elu." saran Geisha yang membuat Latya langsung menolak dengan cepat.


"Gak, gila aja elu!"


"Kenapa?" tanyanya heran.


"Bisa ketahuan kalau dia lagi hamil, Geisha...." gemas Heidi pada Geisha yang mendadak tulalit.


"Hehehe iya ya. Tapi gak apa-apa juga kali kan elu udah nikah." ujarnya sok tahu.


"Ya memang gue udah nikah tapi kan baru nikah siri, malas lah kalau mesti jelasin kenapa nikah siri. Selama masih bisa ditutupi ya gue tutupi." jelas Latya.


"Ya sampai kapan, perut elu lama-lama bakalan besar Tya, orang juga bakal lihat dan bisa mikir yang macam-macam sama elu." ujar Geisha ada benarnya.


"Ya i...ya nanti lah, palingan kedua orang tua gue yang akan ngomong sama pihak kampus." balas nya.


Tak lama dosen beserta panitia penyelenggara acara ini pun datang ke ruangan yang sudah disediakan dan di tempati oleh para mahasiswa dan mahasiswi angkatan yang akan tengah menyelesaikan pendidikan nya itu.


Ya Latya dan kedua sahabatnya serta para mahasiswa dan mahasiswi lainnya, di aula tempat dimana pengadaan acara yang melibatkan para mahasiswa dan mahasiswi nya.


"Assalamualaikum, anak-anakku yang bapak cintai, hari ini adalah hari dimana ada seseorang yang hebat akan memberikan pelajaran dan juga cara bagaimana menjadi seorang pengacara hebat seperti beliau, kalian semua ini adalah aset berharga bagi negara, ya walaupun tidak semua lulusan jurusan hukum tidak harus menjadi pengacara, tapi setidaknya jika diantara kalian yang bercita-cita menjadi pengacara hebat kalian bisa mengikuti jejak beliau." ucap salah satu dosen yang paling di tuakan dan memang sudah tua juga.


"Tidak akan menunggu lama untuk bertemu dengan beliau, karena beliau sudah berada di sini. Mari kita panggil Dr. Irham S.H., LL.M, M. Hum. Untuk masuk ke dalam ruangan. Dr. Irham kami persilahkan!" ucap dosen itu.


Dr Irham pun masuk ke dalam ruangan di ikuti oleh Briptu Rey seorang, karena Briptu Adit berjaga di luar untuk melihat keamanan di luar kampus atau sekitar kampus.


Semua para mahasiswa dan mahasiswi pun menyambut dengan antusias kedatangan pengacara kondang itu, mereka sangat senang di datangi oleh orang hebat seperti dr Irham itu, pasalnya dia adalah pengacara yang sering membantu klien nya tidak hanya dari kalangan atas tapi juga dari kalangan orang miskin tanpa dibayar jika memang klien nya tidak bersalah dia akan bantu, makanya Dr Irham itu sangat di idolakan sebagai pengacara hebat di mata masyarakat.


Apalagi polisi tampan yang mengikuti nya dari belakang membuat para mahasiswi semakin antusias di buatnya.


Latya pun dan kedua sahabatnya pun antusias, tapi Latya lebih antusias melihat Dr Irham ia tidak memperdulikan polisi di sampingnya ia fokus saja pada Dr Irham SH itu, namun setelah melihat dengan jelas laki-laki yang mengikuti dr Irham itu adalah suaminya, laki-laki yang selama ini membuat dirinya gegana, galau gelisah merana pun terkejut bukan main.


"Bang Rey...!" gumamnya pelan seraya mendudukkan wajah nya agar Rey tidak melihatnya.


"Semoga saja bang Rey gak lihat aku di sini." batin Latya penuh harap. Padahal Latya lebih berharap jika Rey tahu jika dirinya di sini.


Aula itu sangat luas, bisa menampung 2000 orang di sana. Rey belum menyadari jika Latya berada di sana.


Latya semakin menunduk agar Rey tidak melihatnya. Namun karena Rey seorang polisi kedua matanya yang tajam menangkap sesosok orang pun langsung menatap dengan tajam ke arah dimana Latya duduk. Sosok yang ia lihat adalah sosok wanita yang selama ini ia rindukan.


"Latya..." batin nya terkejut. "Jadi ini tempat kuliah istriku. Bodoh kamu Rey! Kenapa hal ini saja kamu tidak tahu!" batinnya dalam hati.


Saat Latya curi-curi pandang untuk melihat Rey di depan dan di saat itulah Rey pun menatapnya dengan penuh kerinduan dan saat itu juga Rey memberikan senyuman pada Latya membuat Latya auto panik dan malu karena ketahuan sedang menatap suaminya itu.


Latya membuang muka ke arah lain untuk menghilangkan rasa gugupnya dengan menggigit-gigit jempol jarinya. "Duh kenapa aku gugup seperti ini sih, padahal kan dia suami ku. Huh suami menyebalkan!." batin nya.


"Eh polisi ganteng itu senyum-senyum ke arah kita, ke gue apa ke elu ya. Senyum nya manis banget. Eh tapi kok rasanya gue pernah lihat ya tapi dimana ya?" Geisha pun berbisik dekat Latya seraya sedang berpikir dimana ia bertemu dam melihatnya.


"Laki gue itu!" gumam Latya pelan namun terdengar oleh telinga Geisha.


"Apa? Laki elu seriusan!" tanyanya memastikan.


"Nih!" Latya menyerahkan handphone nya dan memperlihatkan foto suaminya yang memakai seragam polisi dengan foto yang waktu ia perlihatkan saat mereka ingin tahu.


"OMG... Latya..." kejut Geisha, jangan di tanya soal Heidi ia masih melongo karena duduk mereka agak jauh jadi dia gak sadar.


Latya mengangguk membenarkan. "Percaya?" tanyanya singkat dan Geisha mengangguk tanda jika dirinya percaya.

__ADS_1


"Suami elu ganteng banget apalagi pakai seragam begitu beuh ganas hahaha." goda Geisha. "Pantes aja elu uring-uringan hahaha."


Latya memonyongkan bibirnya sebal lalu tidak sengaja menatap kembali ke arah depan dan disana pun Rey masih menatapnya dengan tubuh yang berdiri tegap dengan posisi istirahat di tempat.


__ADS_2