Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
tegang


__ADS_3

Kini Latya sedang menuruni tangga di dampingi dengan Via yang menemani dia turun. Semua orang yang hadir di sana melihat Latya dengan kagum karena Latya yang berbalut baju kebaya dengan model modern berwarna putih dengan bawahan kain batik, membuat mereka semakin pangling melihat Latya dengan wajah yang cantik dan mempesona. Tubuh nya yang mungil dan wajah imut nya yang ia miliki.


Semua orang memandangi wajah cantik Latya namun tidak dengan Rey masih betah menundukkan wajahnya, rasa gugup dan tegang membuat dia tidak berani menatap ke arah Latya.


Latya duduk di samping Rey di bantu oleh Via ibunya. Rey semakin gugup saat berdekatan dengan Latya, ntah apa ini?


Pak penghulu yang sadar akan kegugupan Rey pun tersenyum. Dia jadi ingin menggoda calon pengantin yang ada di hadapannya ini.


Rey dan Latya saling menunduk tidak ada yang berani menatap atau pun melihat hanya sekilas melirik itupun tidak terlihat sama sekali.


"Nak Rey apa anda yakin perempuan yang ada di samping anda ini adalah calon istri anda?" tanya pak penghulu menggoda Rey yang terlihat sangat gugup dan tegang.


"Emh...i..iya." jawab nya gugup.


"Apa anda yakin? Coba anda lihat apa benar perempuan yang di samping anda ini benar-benar calon istri anda? Karena jika salah saya tidak akan bertanggung jawab." ucap pak penghulu dengan tawanya.


Rey melirik ke arah wajah Latya yang sangat cantik itu. "I...iya." jawaban cepat.


"Nak Rey anda jangan gugup dan jangan terlalu tegang santai saja." goda nya lagi membuat Rey semakin gugup saja.


'Ah sial kenapa aku gugup begini, memalukan!' batin Rey.


"Hahaha lihat calon pengantin kita mungkin nervous saat ini, maklum ya karena pertama kalinya." goda penghulu itu.


"Oke kalau begitu kita mulai ya ijab qobul nya, apa anda siap nak Reypan?" tanya penghulu menatap ke arah Rey dengan serius.


"Ya saya siap." jawab Rey mantap namun pelan


Pak penghulu mengangguk dan langsung menatap Aris. "Pak Aris apa anda sudah siap sebagai wali dari calon mempelai wanita?" tanya nya pada Aris yang sudah siap menjadi wali bagi Latya.


"Saya sudah siap." jawab nya juga tegas dengan suara beratnya.


"Iya sudah, karena semua sudah siap, calon mempelai sudah ada, wali dari wanita sudah ada dan dua saksi juga sudah siap kita akan mulai. Bismillahirrahmanirrahim." ucapnya nya.


"Saya nikahkan engkau ananda Reypan Mahesa Mahardika bin Adam Ibrahim dengan Latya Putri Ananda binti Aris Pratama dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." ucap penghulu.


"Saya terima nikahnya Latya Putri Ananda binti Aris Pratama dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." jawab Rey dengan gugup.


"Bagaimana saksi, sah?" tanyanya pada saksi.


"Belum sah." sahut orang yang ada di sana karena Rey menjawab dengan gugup dan terbata.


"Hemm kita ulang kembali ya. Jangan gugup nak Reypan dan jangan tegang." ucap penghulu itu, dan Rey pun mengucapkan ijab qobul itu untuk kedua kalinya, namun kedua kalinya pun sama Rey masih tegang dan masih terbata dalam ucapannya sehingga belum sah untuk jadi suami Latya.


"Aduh bagaimana ini pak Aris apa akan di lanjutkan pernikahan ini, sepertinya calon mempelai laki-laki belum begitu siap?" tanya pak penghulu pada Aris, dengan senyum menggoda Rey yang masih tegang.


Semua orang yang menyaksikan ijab qobul Rey pun menjadi panik dan tegang karena Rey berulang kali untuk ijab qobul nya, itu pertanda ijab qobul akan batal dan pernikahan pun tidak akan terlaksana.


"Nak Rey apa anda sudah siap? Ini sudah kedua kalinya belum juga sah, jika ketiga kalinya ijab qobul gagal kembali maka kemungkinan calon laki-laki harus di ganti oleh yang lain." goda pak penghulu. "Apa nak Rey rela jika di gantikan oleh laki-laki lain yang akan menjadi suami nak Latya?" tanya nya dengan tersenyum karena Rey terlihat sangat tegang.


"Jangan, saya sudah siap!" ucapnya mantap menatap pak penghulu.


Pak penghulu pun tersenyum. "Baiklah, kita akan mulai lagi ya pengucapan ijab qobul nya. Semoga ini tidak akan gagal lagi." balas penghulu serius.


Dan ijab qobul yang ketiga kalinya pun akhirnya selesai karena dengan satu tarikan Rey begitu lantang mengucapkan ijab qobul itu. "Bagaimana saksi? Sah?" tanya pak penghulu.


"Sah." jawab semua orang yang menghadiri pernikahan Rey dan juga Latya.

__ADS_1


"Alhamdulillah." serempak semua menjawab.


Semua orang di sana menghirup nafas nya lega tak hanya orang-orang yang ada di sana, Rey yang sebagai pengantin pria pun sangat lah lega yang ia rasakan.


***


Saat malam pun tiba, Latya yang akan pergi tidur ke kamar tidur nya di cegah oleh Nisa.


"Latya sayang kamu mau kemana?" tanya Nisa.


"Emh aku mau ke kamar, aku udah ngantuk aunty." jawab Latya cepat.


"Lho kok ke kamar kamu, sekarang kan kamar kamu di sana." tunjuk Nisa pada kamar Rey ya tertutup rapat.


"Emh aku di kamar aku aja lah aunty." pintanya.


"Hei kamu sekarang sudah menjadi istrinya Rey jadi kamu harus tidur satu ruangan satu ranjang." ucap Nisa tidak mau di bantah. "Dan satu lagi jangan panggil aunty lagi sekarang panggil bunda seperti Rey memanggil bunda." tambahnya.


Latya cengengesan mendengar omelan mama mertua nya itu. "Emh gak bisa di sini aja ya, soalnya barang-barang aku masih di kamar ku." elak Latya


"Besok kita bereskan ya, nanti bunda yang bantu." tawar Nisa kekeh.


'Alasan apa lagi ya, aku gak mau sampai tidur bareng bang Rey. Gimana ini." batin nya.


Latya tiba-tiba memiliki ide, lalu ia pun tersenyum. 'Ini pasti berhasil, aku pastikan malam ini aku tidak tidur sekamar bareng bang Rey.' batin nya penuh keyakinan.


"Emh bunda Nisa... sebelum aku ke kamar bang Rey boleh tidak aku ke kamar bunda Via dan ayah Aris dulu." ijin nya dengan mata penuh mohon.


"Mau apa memang nya? Jangan ganggu mereka sayang, bunda Via dan ayah Aris pasti sudah istirahat." larangnya lembut.


"Hemm baiklah kalau begitu, tapi sebentar saja ya, kalau kedua orang tua kamu sudah tidur kamu harus cepat masuk kamar dan istirahat." titah nya dan mengijinkan Latya untuk ke kamar kedua orang tua nya.


"Ok, makasih bunda Nisa, mertua aku. hihi." goda nya.


"Ih dasar kamu udah berani godain mertua ya..." sambung Nisa seraya tersenyum.


"Hehehe udah ya aku mau ke bunda Via dulu." ijin Latya seraya pergi.


***


Tok tok tok. suara pintu diketuk kini Latya tengah berada di depan pintu kamar dimana kedua orang tua nya berisitirahat.


"Sebentar." sahut nya dari dalam kamar.


"Latya? Ada apa nak?" tanya Via saat ia tahu yang mengetuk pintu adalah anaknya.


"Aku boleh masuk." ijinnya.


Via mengangguk. Dan setelah mendapatkan ijin dari Via Latya langsung masuk ke dalam kamar itu berlari mendekati Aris yang sedang rebahan di atas kasur. Brug... Latya melompat ke atas kasur langsung memeluk ayahnya nya yang terkejut akan perbuatannya itu.


"Latya kamu bikin ayah kaget saja!" kesal Aris mengomel.


"Hehehe. maaf ayah..." ucapnya manja seraya memeluk tubuh ayahnya dengan begitu erat.


"Lihat Bun anak kamu sudah menikah tapi manja nya belum hilang." ujar Aris merasa lucu melihat tingkah laku anak semata wayangnya itu.


Via tersenyum anak nya seperti itu. "Kenapa kamu kesini, bukan masuk kamar lalu istirahat malah keluyuran. Suami kamu tahu tidak kamu ada di sini?" tanya Via.

__ADS_1


"Aku udah dapat ijin kok dari bunda Nisa." jawab nya cepat.


"Dapat ijin dari suami kamu?" tanya nya lagi.


"Aku belum ketemu bang Rey tadi, jadi dia gak tahu." balas nya cuek.


Via menghela nafasnya panjang lalu menatap Aris tapi yang di tatap malah diam saja.


"Ayah, bunda aku boleh gak tidur bareng di sini." tanyanya seraya tidur di tengah-tengah antara Via dan juga Aris.


"Lho kenapa mau tidur di sini? Kamu itu sudah menikah jadi kamu harus tidur di kamar bersama suami kamu!" omel Aris pada Latya.


"Tapi kan aku kangen sama ayah dan bunda, aku kangen tidur bertiga begini." ujarnya sambil muka cemberut.


"Tapi sekarang beda kamu sudah menikah, lagian kamu mesti nya malu ini kan bukan di rumah kita." omel Via yang tidak mengerti dengan kelakuan anaknya itu.


"Sudah sana kamu ke kamar Rey tidur di sana!" titah Aris tegas.


"Ih bunda sama ayah jahat ah." sebal Latya dengan cemberut nya.


"Udah sana istirahat, ayah sama bunda mau istirahat juga." usir Aris lembut.


Latya beranjak turun dari atas kasur setelah mendapatkan sebuah usiran dari kedua orang tua nya dengan wajah kesalnya. Ia pergi dengan hati yang sangat kesal, karena orang tuanya tidak mengerti apa yang ia inginkan.


"Ayah sama bunda kok begitu! Terus aku sekarang tidur dimana dong?" gumam nya kesal.


'Mau gak mau aku harus tidur bareng bang Rey."batinnya. "Dia udah tidur apa belum ya?" gumamnya.


Latya pun dengan pelan melangkahkan kakinya itu, setelah berada di depan pintu kamar Rey ia pelan-pelan membuka pintu, memasukan kepalanya sedikit ke dalam kamar itu. Ia berniat mengintip ke dalam, apa Rey ada di kamar atau tidak. Dan ternyata Rey belum terlihat sama sekali di sana.


Latya tersenyum. "Yes aku aman!" ucapnya girang.


Latya langsung naik ke ranjang Rey lalu ia menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut. "Aku harus tidur lebih dulu dari bang Rey!" ucapnya dengan mencoba memejamkan matanya.


Saat Latya mencoba memejamkan matanya, Rey masuk ke dalam kamarnya tanpa dia tahu jika Latya sudah berada di dalam kamarnya.


Latya langsung membuka kembali kedua matanya yang setelah ia coba untuk di pejamkan namun tidak berhasil. Namun Latya masih dalam posisi di selimuti oleh selimut tanpa terlihat sama sekali.


Rey pun menyimpan handphone nya setelah tadi ia pakai untuk membalas pesan dari temannya.


Ia pun berniat untuk tidur, di tatap nya di samping kirinya ia seperti melihat gundukan yang terhalang oleh selimut tebal, di rabanya sebuah guling itu lalu ia peluk dengan erat. "Aaaaa, emh." teriak Latya dan juga Rey, namun Rey langsung menutup mulut Latya dengan tangannya. Mereka sama-sama, terkejut apalagi Rey saat yang di peluk itu seperti manusia dan bergerak-gerak. Dan Latya terkejut karena sebuah tangan melingkar di tubuhnya secara dadakan.


"Shuuut.... jangan teriak-teriak berisik! Nanti kira orang sangka aku ngapain kamu lagi!" seru nya.


"Bang Rey juga kenapa bikin aku kaget!" kesal nya. "Kenapa bang Rey masuk sih?" gerutu nya.


"Hei bocah, ini kamar Abang jadi seharusnya Abang yang tanya itu sama kamu!" ujar Rey kesal juga jadi nya.


"Aku di suruh bunda Nisa untuk tidur di sini, padahal aku gak mau tidur di sini." ucapnya jujur namun terasa menyakitkan bagi Rey.


"Kalau kamu tidak mau ya sudah sana keluar dari kamar ku!" usirnya datar.


Latya menghela nafasnya panjang kesal karena merasa di usir. "Jadi bang Rey usir aku!" tantang nya.


"Tadi kamu bilang kamu tidak mau tidur di sini ya sudah pergi saja." ucapnya cuek seraya memejamkan matanya.


Latya cemberut kesal, jika saja bukan permintaan mertuanya untuk tidur di sini dia lebih memilih tidur di kamarnya. Dengan cepat Latya langsung merebahkan kembali tubuhnya yang tadi sempat terduduk karena terkejut dan akan pergi ke kamarnya sendiri, namun ia urungkan. Kini Latya tidur di samping Rey, mereka saling membelakangi. Rey yang tahu jika Latya tidak jadi keluar kamarnya pun tersenyum tipis dengan matanya yang masih terpejam.

__ADS_1


__ADS_2