
"Lihat saja aku akan membuat pelaku itu menyesal karena sudah membuat orang yang aku sayangi celaka!" batin Rey semakin mantap untuk mencari pelaku itu.
Rey mengusap wajahnya secara kasar, ia merasa menjadi laki-laki tidak berguna karena membuat orang yang ia sayangi celaka seperti ini.
Namun ia sebagai laki-laki ia harus bisa tenang saat menghadapi masalah yang sedang di hadapi. Dengan cepat ia memberi tahukan kabar ini pada Nisa dan juga Adam bahwa Latya mengalami kecelakaan.
"Harusnya aku tidak sampai melibatkan orang yang aku sayangi dalam pekerjaan ku ini, aku yang terus saja bersikeras untuk melanjutkan penyelidikan ini, ini salah ku karena diriku, orang yang berada dekat dengan ku terancam." batin Rey terus saja menyalahkan dirinya sendiri.
"Maaf pak apa anda keluarga dari korban?" tanya salah satu suster yang menangani Latya bertanya pada rey yang sedang diam dalam lamunannya.
"Iya suster ada apa?" ucap Rey.
"Dokter ingin bicara dengan keluarga pasien." seru suster itu.
"Ya baik." Rey mencoba menjawab dengan tenang walaupun hati nya takut sekali terjadi sesuatu pada Latya.
Andre yang berada di sampingnya pun mengikuti Rey ia berniat menemani Rey masuk ke dalam ruangan dokter.
Setelah duduk di hadapan dokter yang menangani Latya dokter itu pun mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada pasien nya itu.
"Apa kalian keluarga dari pasien?" dokter bertanya dengan menatap satu persatu ke arah Rey dan juga Andre dan hanya di angguki Rey.
"Begini ya pak pasien harus segera di operasi karena kecelakaan yang menimpa pasien membuat pasien harus segera di tangani secepatnya." ucap dokter itu menjelaskan. "Dan kami membutuhkan perijinan dan tanda tangan dari seorang wali nya yang akan bertanggung jawab atas segala kemungkinan yang terjadi. Apa ada orang tua atau suaminya begitu?" tanya dokter itu. "Agar operasi nya segara di lakukan."
"Saya suaminya dok! Saya yang akan bertanggung jawab atas pasien. Apapun yang menurut dokter itu yang terbaik, lakukan dok!" ucap Rey serius.
Andre yang mendengar itu pun merasa ada yang aneh dengan hubungan antara rey dan juga Latya. "Suaminya? Istri?" batin Andre semakin penasaran.
Setelah selesai dalam perkara perijinan operasi Latya sudah beres Rey dan dan Andre pun keluar dari ruangan dokter itu.
Andre sebenarnya ingin sekali bertanya pada Rey, sangat penasaran dengan semua ini namun karena Rey masih dalam keadaan yang tidak baik Andre pun mengurungkan niatnya untuk mencari informasi itu, dia merasa tidak enak kepada Rey.
Tak lama Nisa dan juga Adam datang untuk melihat keadaan Latya setelah ia tahu kabar itu dari Rey.
"Rey." panggil Nisa lembut menatap Rey yang terlihat acak-acakan dengan seragam yang penuh dengan darah yang sudah mulai mengering.
"Bunda." Rey berdiri dan langsung memeluk ibu nya itu dengan erat, ia saat ini benar-benar merasa takut dan butuh seseorang yang membuat dirinya tenang.
"Apa yang terjadi Rey, kenapa Latya sampai kecelakaan seperti ini?" tanya Nisa lembut mengusap punggung Rey yang terlihat rapuh.
"Latya di tabrak mobil Bun dan ini adalah salah Rey." lirih Rey merasa bersalah.
"Apa maksudnya nya Rey bunda tidak mengerti?" Nisa pun belum paham atas semua kejadian ini.
Rey pun menceritakan apa yang terjadi selama ini, dan ia sangat merasa bersalah karena dirinya lah yang membuat Latya menjadi korban.
"Aku yang seharusnya berada di ruang operasi itu Bun, aku yang harus nya menjadi korban. Dan aku seharusnya menghentikan kasus yang sedang aku selidiki." sesal Rey semakin merasa bersalah.
"Sudah Rey kamu jangan terus menyalahkan diri kamu sendiri, lebih baik sekarang kamu harus tenangkan diri kamu agar kamu bisa dengan jernih untuk berpikir dan secepatnya kamu menemukan siapa pelakunya." Nisa menyemangati Rey yang saat ini tengah di liputi kesedihannya.
"Iya Rey kamu harus bisa, kamu harus kuat. Pekerjaan kita memang beresiko Rey, kita tidak hanya mengorbankan waktu tapi terkadang kita harus siap jika hal yang tidak kita inginkan terjadi." sambung Adam mencoba menyemangati Rey.
"Kamu harus segera menemukan pelakunya, agar tidak ada kejadian seperti ini terjadi kembali. Ayah yakin kamu bisa! Jangan lemah, Latya pasti akan baik-baik saja." ucap Adam mengusap punggung Rey agar dia merasa lebih baik.
Rey menghirup nafas nya dalam-dalam. "Iya ayah benar, aku harus segera menemukan pelaku nya itu dan membuat dia menyesal!" ucapnya penuh keyakinan.
"Aku pergi ya ayah bunda." ijinnya cepat ia langsung terpikirkan jika secepatnya Rey mengetahui keberadaan pelaku maka secepatnya ia akan menemukan pelaku itu.
"Kamu mau kemana Rey?" tanya Nisa penasaran.
__ADS_1
"Aku akan segera menemukan pelaku itu! Titip Latya di sini, Rey akan segera kembali." ujarnya serius membuat Nisa bertanya apa yang akan dilakukan oleh putranya itu.
Rey pergi meninggalkan Adam dan juga Nisa di ikuti oleh Andre di belakangnya, Andre juga penasaran apa yang akan di lakukan Rey sahabatnya itu.
"Rey elu mau kemana? Apa yang akan elu lakukan?" tanya Andre di tengah perjalanan nya menuju keluar rumah sakit.
"Gue mau cari pelaku yang membuat Latya celaka!" sahut nya dengan penuh emosi.
"Rey gue tahu elu lagi kalut, marah dan kesal tapi lebih baik elu sekarang bersihin dulu badan elu, biar otak elu bisa seger buat mikir apa yang mesti elu lakuin selanjutnya. Kita pake otak buat nyari tahu keberadaan si pelaku jangan pake emosi itu bikin otak kita buntu buat mikir." urai Andre mencegah Rey agar dia jangan sampai salah ambil dan menyesal.
"Ya elu benar Dre." sahut Rey membenarkan. Lalu Rey pun menelepon salah satu rekan nya membuat Andre keheranan dibuat nya karena ia pikir Rey akan mandi bukan malah menelpon.
Andre menggelengkan kepalanya melihat Rey sahabatnya itu. "Rey... Rey." gumamnya.
"Hallo Arkan elu sekarang dimana?" tanya Rey.
"Gue di kantor, kenapa Rey?" tanyanya balik.
"Ok gue sekarang kesana?" ucapnya cepat.
"Ok."
"Rey elu mau ketemu sama si Arkan?" tanya Andre. Rey mengangguk dengan cepat.
"Elu mau ikut apa gak?" tanya Rey pada Andre.
"Ok gue ikut." sahutnya.
***
"Arkan elu bisa bantu gue? Gue mau elu hacker nomor ini?" Rey memberikan sebuah nomor pada Arkan untuk ia hacker.
"Itu nomor pelaku yang sedang gue selidiki, elu tahu kasus pembunuhan pengusaha yang bernama pak Rangga, dan pelaku itu tadi pagi telpon ke nomor gue." ujarnya.
"Dan tolong gue pengen lihat cctv depan kantor!" ucapnya lagi dan di iyakan oleh Arkan.
"Gue mau bersih-bersih dulu, setelah gue selesai, gue harap semua yang gue pinta tadi sudah selesai!" titah nya.
"Iya siap bos..." ucap nya santai dan langsung mengerjakan apa yang di inginkan Rey.
Rey pun pergi untuk membersihkan dirinya dari darah Latya yang mengenai seragamnya, dan juga untuk menyegarkan otak nya agar dia lebih tenang dalam menghadapi masalah yang akan ia hadapi.
Setelah selesai Rey pun dengan cepat menghampiri Arkan dan juga Andre yang sedang mengerjakan tugas yang di berikan Rey padanya.
"Bagaimana? Apa elu bisa?" tanya Rey tidak sabar membuat Arkan mendengus.
"Sabar bro." ucap Arkan.
"Iya sabar Rey, ngehacker nomor itu butuh waktu." sambung Andre, Rey menghela nafasnya panjang dan mengacak rambutnya frustasi.
Sebelum pekerjaan Arkan selesai Rey mencoba menelpon Nisa untuk mengetahui bagaimana kabar nya sekarang apa operasi nya lancar atau tidak.
"Hallo Bun apa Latya sudah selesai di operasi nya?" tanya Rey saat panggilan telepon nya itu di jawab oleh Nisa.
"Emh Rey, La... Latya belum selesai di operasi nya, dokter bilang kita harus menyiapkan darah untuk Latya sebanyak mungkin karena dia banyak sekali mengeluarkan darah, sedangkan darah Latya stok di bank darah sedang kosong, bagaimana ya Rey, bunda bingung. Darah bunda juga tidak cocok dengan darah Latya, ayah juga sama Rey." ucap Nisa dengan suara bergetar.
Rey menghirup nafas nya dalam-dalam mencoba untuk tenang. "Apa ayah Aris dan bunda Via tahu Latya kecelakaan?" tanya Rey.
"Iya, bunda baru saja memberi kabar kepada mereka, karena mereka harus tahu bagaimana keadaan Latya sekarang." jawab Nisa lirih.
__ADS_1
"Lalu siapa yang darah nya sama dengan Latya Bun apa ayah Aris atau bunda Via?" Rey kembali panik mengingat istrinya itu sedang dalam masa kritis.
"Bunda belum tahu nak, tapi mertua kamu sebentar lagi sampai." ucap Nisa memberi tahu Rey.
"Rey akan cari pendonor darah yang cocok dengan Latya. Kabarin terus keadaan Latya pada Rey ya Bun. Kalau ada apa-apa segera kabari Rey." ucap Rey dengan nada semakin khawatir.
"Iya Rey."
"Gimana Laya Rey apa dia baik-baik aja?" tanya Andre sama cemas mendengar obrolan Rey di telpon tadi.
Rey menghirup nafas nya berat ia menggeleng. "Latya masih kritis Dre sekarang dia butuh pendonor darah yang cocok untuknya, golongan darah Latya A+ di bank darah stok sedang tipis dan jenis golongan darah ini langka, sedangkan Latya masih butuh pendonor darah." urai Rey dengan raut kecemasan.
"A+ ya?" tanya Andre seraya berpikir. Tak lama ia pun menemukan orang yang bergolongan darah ya sama. "Seingat gue Bripda Desti golongan darah nya A+. Dia kan sering ikut menjadi pendonor kalau kantor sedang mengadakannya, nah gue pernah dengar percakapan antara Bripda Desti dengan dokter itu, ya mungkin karena golongan darah itu langka Bripda Desti menanyakannya pada dokter." jelas Rey.
"Elu punya nomor dia gak?" tanya Rey cepat karena dia tidak mau membuang waktu lagi.
"Gue punya!" celetuk Arkan yang tengah sibuk mengerjakan tugasnya.
"Kirim ke gue sekarang!" pintanya tidak sabar.
Setelah menerima nomor dari Arkan Rey akan menelpon Desti untuk meminta tolong padanya. Namun Rey terlihat ragu dan itu tidak lepas dari penglihatan Andre yang sedang memperhatikan Rey.
"Kenapa elu Rey ragu begitu?" tanya Andre mengerutkan dahinya.
"Gue gak enak sama Bripda Desti, soalnya tadi sore gue sempet kesal sama dia karena susah banget buat jawab Latya dimana." jelas Rey menceritakan apa yang membuat dia ragu.
Andre menghela nafasnya panjang. "Makanya jadi orang tuh jangan marah tiba-tiba, slow gitu. Udah gak usah ragu mendingan cepat elu telpon, tapi elu minta maaf dulu sebelumnya sama dia."
Rey berdecak kesal malas rasanya untuk meminta maaf dan meminta bantuan pada orang yang sudah jelas jika Bripda Desti tertarik padanya takut akhirnya akan meminta balasan nantinya. Namun karena ini sangat mendesak dan Rey sangat membutuhkan darah itu demi Latya yang sedang meregang nyawa mau tidak mau Rey pun harus meminta bantuan itu pada Desti.
Dengan keyakinan penuh, Rey menelepon rekan perempuan itu untuk meminta dia sebagai pendonor bagi Latya tapi sebelumnya Rey juga meminta maaf pada Desti soal sikap nya tadi sore dan akhirnya Desti pun mau menjadi pendonor darah untuk Latya.
Rey lega untuk itu karena ia bisa menemukan pendonor darah untuk Latya.
"Ah gue lega Desti mau bantu gue." ucapnya lega penuh syukur.
"Iyalah dia pasti mau bantu elu secara dia naksir elu dari dulu!" cibir Andre mengingatkan Rey akan perasaan Desti padanya.
"Udah lah jangan pernah bahas masalah begituan!" malas Rey menanggapi nya.
"Gimana udah dapat belum?" tanya Rey mengalihkan pembicaraan pada Arkan yang sedang mencari tahu pemilik nomor yang ia akan di hack.
"Sedikit lagi Rey." sahut nya.
"Mendingan elu sekarang jemput Bripda Desti, urus dulu Latya yang sekarang lagi butuh darah soal masalah ngehacker nomor sama cctv biar gue sama si Arkan yang urus." ucap Andre menawarkan diri kepada Rey.
Rey berteriak frustasi rasanya pusing, di sisi lain dia begitu khawatir dengan keadaan Latya di sisi lainnya dia juga ingin segera mendapatkan informasi tentang pelaku itu.
"Ok gue urus Latya dulu, setelah urusan gue beres gue ke sini lagi. Arkan elu tugas malam kan sekarang?" tanyanya dan di iyakan oleh Arkan secara cepat.
Rey pun pamit untuk membereskan masalah pendonoran, ia berniat menjemput Desti di rumah nya, setelah mendapatkan alamat tempat tinggal Desti Rey langsung menemui Desti.
Tak lama Rey dan Desti sampai di rumah sakit dimana Latya di rawat. Rey langsung menemui kedua orang tua nya yang sedang menunggu disana. Dan Sepertinya kedua mertuanya belum datang karena belum terlihat di sana.
"Gimana Rey kamu sudah menemukan pendonor darah yang sama dengan golongan darah Latya?" tanya Nisa cepat saat ia melihat Rey datang menghampiri nya.
"Sudah Bun, Bripda Desti ini yang akan mendonorkan darahnya untuk Latya." ucap Rey memberi tahu.
"Ah terima kasih sebelumnya ya nak, semoga pertolongan kamu membuat Latya bisa terselamatkan." ucap Nisa lembut menatap Desti. "Ayok jangan di tunda lagi!" sambung nya.
__ADS_1
Desti tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu menemui suster untuk di ambil darah nya.