
"Abang!" teriak Latya terkejut saat ia sadar melihat kemeja nya sudah setengah terbuka dan menampakkan tank top yang ia pakai karena ulah perbuatan Rey padanya yang mulai berani.
"Mau ngapain?!" ucapnya dengan tatapan sengit dan membenarkan kemeja yang hampir lepas oleh Rey dengan mencoba menghalangi nya secara posesif.
"Hehe cuma mau bantuin kamu buka kemeja, kamu mau mandi kan?" goda nya dengan otak yang sudah tidak konek.
"Gak!" tolak Latya cepat. Ia takut dengan tatapan Rey yang melihatnya dengan tatapan penuh hasrat.
"Ayok Abang bantuin lah." tawar nya lembut.
"Gak usah, aku bisa sendiri." tolak Latya lembut.
'Hemm aduh otak ku udah benar-benar tidak bisa di kendalikan.' batin Rey merasa tersiksa namun ia tidak mau memaksakan.
"Abang butuh keseriusan kamu, Abang mau kamu jadi milik Abang seutuhnya." bisik nya sudah mulai meracau.
"Ma.. maksud nya bagaimana?" tanya Latya tidak mengerti.
Rey tersenyum nakal. "Aku mau tagih hadiah dari kamu yang tadi kamu bilang." ucapnya.
Latya tergelak ia ingat tadi dia sudah menjanjikan akan memberikan hadiah pada nya. "Memang Abang tahu apa yang akan aku kasih sama Abang?" tanya nya menatap Rey yang terlihat bersemangat untuk mendapatkan hadiah dari Latya.
Rey mengangguk. "Mana?" tanyanya.
"Apanya? Aku gak bisa buru-buru kasih hadiah nya kan aku harus beli dulu ke toko." ucapnya memberi tahu.
Rey mendesah kecewa Latya pikir dia ingin sebuah kado, istrinya itu tidak mengerti apa yang Rey inginkan bukanlah itu melainkan hal yang lain.
"Kamu mau tahu apa yang Abang mau?" tanyanya mendekatkan wajahnya pada wajah Latya membuat Latya memundurkan tubuhnya yang masih terduduk di meja.
Latya mengangguk pelan. "Apa." jawabnya pelan dan lembut membuat otak Rey semakin traveling kemana-mana.
"Aku butuh kamu sekarang!" bisiknya di telinga Latya.
Deg... 'sepertinya bang Rey mulai aneh!' kerutan Latya semakin mengerut. 'Ah aku takut!' tambahnya.
Rey langsung mengangkat tubuh Latya lalu menggendong nya, menaiki tangga dengan Latya yang masih dalam gedongan, sedangkan Latya mengalungkan tangannya pada leher Rey karena ia takut terjatuh.
"Bang turunin aku!" pinta nya. "Dari tadi Abang gendong aku terus, aku kan masih bisa jalan." cebik Latya kesal.
Rey diam saja ia fokus membawa Latya ke kamarnya, sesampainya di kamar Rey langsung merebahkan tubuh Latya dengan pelan. Lalu ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Latya.
__ADS_1
"Kamu berat." ucapnya dengan melihat ke samping Latya berada.
"Suruh siapa gendong aku!" cebik Latya membuat Rey gemas.
Rey langsung menindih tubuh Latya yang masih telentang itu, lalu menatap nya secara intens. Latya merasakan jantungnya yang berdebar-debar. Sama seperti Rey ia pun merasa berdebar-debar menatap kedua mata Latya yang berwarna coklat itu.
Tanpa pikir panjang Rey mengecup bibir Latya pelan, lalu mengecup kembali dengan lembut sampai mereka saling merasakan sensasi yang luar biasa yang tak pernah mereka rasakan selama ini, ini sungguh sangat berbeda mungkin karena rumah yang sepi mereka lebih leluasa melakukannya dengan santai.
"Bang Rey." panggil Latya dengan suara parau setelah tautan itu terlepas.
"Apa sayang?" balas Rey tak kalah lembut dengan suara napas yang memburu.
"Apa hari ini Abang akan meminta hak Abang sebagai suami?" tanya Latya malu dan ragu.
"Iya Abang mau, jika kamu mengijinkan nya." jawabnya santai.
"Apa aku boleh tanya?" tanyanya dengan menatap wajah Rey yang semakin hari semakin tampan di matanya.
"Kenapa Abang gak dari awal kita menikah meminta aku untuk menjalankan kewajiban aku untuk bang Rey sebagai istri kamu?" tanyanya penasaran.
Rey tersenyum lembut merapikan rambut Latya yang menutupi matanya. "Karena Abang takut kamu hamil." jawabnya pelan.
Deg Latya merasa kecewa mendengar nya pernyataan Rey seperti itu. "Kenapa begitu? Apa bang Rey tidak mau memiliki anak dari aku?" cebik Latya cemberut.
"Tapi kan ada ini!" ucapnya seraya memperlihatkan sebuah alat kontrasepsi yang digunakan oleh Latya selama ini. Selama ini Latya menggunakan alat kontrasepsi itu untuk berjaga-jaga dimana dia melakukan hubungan suami istri bersama Rey agar bisa menunda untuk memiliki seorang anak.
Rey tergelak. "Aku kira kamu polos, dan tidak akan tahu hal seperti itu." ujar Rey sedikit terkejut pada istrinya tersebut.
"Aku polos, minim tentang cara prakteknya karena belum tahu bagaimana cara mempraktekkannya, tapi kalau teori aku sudah tahu. Secara aku sudah kuliah, masa iya aku sepolos itu." terang Latya yang membuat Rey tersenyum nakal.
"Emh dasar nakal." ucap Rey mentoel hidung mancung Latya dengan gemas.
"Udah ah minggir, aku mau mandi gerah ini." ucapnya.
"Eh tunggu kamu mau kemana?" cegah Rey saat Latya meronta ingin pergi dari kunkungannya.
"Ih aku mau mandi, awas ah." ucapnya.
"Eh nanti dulu kita selesaikan hal yang penting dulu." cegah nya dengan kedipan mata genit nya.
Latya bergidik ngeri melihat tatapan suaminya itu. "Ih matanya genit begitu, ngeri deh aku lihat nya, ini Abang Rey aku kan?" Latya memastikan laki-laki di hadapannya itu adalah Rey.
__ADS_1
"Iya ini Abang yang asli sekaligus suami kamu." godanya, tanpa ba-bi-bu Rey langsung menerkam Latya dengan lembut dan penuh perasaan setelah ia mendapatkan ijin dari Latya Rey tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Dan pada akhirnya mereka pun saling menyatu, menyalurkan hasrat mereka masing-masing, tanpa ada keraguan lagi di antara mereka.
Walaupun ada drama Latya yang meringis kesakitan akibat ulah Rey dan mundur-mundur seperti undur-undur saat sesuatu Rey mencoba menerobos, namun dengan kelembutan dan kesabaran Rey sehingga pertahanan Latya pun jebol pada akhirnya. Ia mengikhlaskan sesuatu yang ia jaga selama ia hidup dan di berikan pada laki-laki berstatus suaminya itu dengan penuh rasa cinta.
***
Sedangkan di tempat Maura ia tengah kesal dengan Rey yang tidak mengangkat panggilan nya yang dari tadi ia memanggilnya.
"Rey... kamu lagi ngapain sih!" kesal nya dengan terus mencoba memanggil nomor Rey.
"Aaaah." teriak nya frustasi. Maura melemparkan semua barang yang ada di kamarnya, ia merasa sangat kesal.
Maura menangis setelah ia puas melemparkan semua barang-barang nya.
"Tidak ada yang sayang padaku!" teriak nya kesal.
Maura mengamuk saat ia mendapatkan kabar dari pihak kepolisian karena tentang mama nya ya kini sudah menjadi tersangka dan pengadilan pun sudah menetapkan hukuman bagi mamanya itu yaitu semur hidup dan Maura pun sudah tahu jika mamanya itu berbuat seperti itu karena ingin mendapatkan Maura agar harta yang mungkin di dapatkan Maura dari Rangga bisa ia nikmati.
"Semua jahat padaku!" teriak nya. "Aku benci kalian!" sambungnya.
"Dan kamu Rey, aku butuh kamu sekarang ini tapi... kamu kemana Rey?" panggil nya sedih.
"Mama kenapa kamu tega membunuh papa orang yang aku sayangi, papa tidak seperti mama menginginkan aku karena harta, apa aku anak yang tidak di harapkan sampai mama memperlakukan aku seperti ini, aku butuh kasih sayang mah butuh orang yang menyayangi ku dengan tulus." racau Maura merasa sedih akan hidup nya.
"Mama tahu aku merasa kesepian di saat papa tidak ada apalagi sekarang papa sudah tidak ada di dunia ini. Mama tega membiarkan aku sendirian seperti ini." ucapnya dengan Isak tangisnya yang pecah.
Siang tadi Maura menemui mamanya di dalam tahanan sel, Maura ingin tahu kenapa mama kandung nya itu begitu tega membunuh papanya dan Maura sekarang sangat terpukul setelah tahu semua akan kenyataan yang sebenarnya bahwa mama kandung nya itu lebih memilih harta di bandingkan Maura anaknya sendiri.
"Rey... aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu." lirihnya. "Aku tidak mau kehilangan orang-orang yang aku sayangi."
"Rey please jawab telepon dari ku, aku butuh kamu saat ini." Maura terus saja memanggil nama Rey.
Rahma yang melihat kekacauan yang terjadi di rumah om nya itu karena ulah yang dilakukan oleh Maura membuat Rahma sedih melihatnya, ia pun mendengar Maura terus saja memanggil nama Rey. Rahma tahu jika Maura memang sedang terpukul dengan keadaan ini apalagi setelah ia tahu apa alasan mamanya itu sampai tega menghilangkan nyawa papanya.
Kini Maura sedang membutuhkan Rey di sampingnya.
"Maura?" panggil Rahma saat itu a melihat Latya tidak sadarkan diri.
"Maura kamu bangun sayang, ini tante." ucap Rahma begitu khawatir. Padahal Maura baru saja pulang dari rumah sakit masa iya dia harus masuk kembali.
__ADS_1
Haduh... Latya dengan Rey sudah saling menyatukan cinta mereka ya, maaf ni author gak bisa detail dan menjabarkan malam penyatuan mereka, bukan malam sih tapi tepatnya sore hari, ya yang namanya melakukan hal seperti itu tidak perlu malam hari kan asalkan ada waktu yang tidak ada orang yang mengganggu maka akan berjalan dengan lancar. hehehe 🤭🤭🤭