
Setelah acara pelulusan selesai, Latya berfoto-foto dengan para sahabatnya, kedua orang tua, temanya dan juga Rey suaminya sebagai kenang-kenangan.
"Ayok kita pulang, sudah selesai kan?" tanya Rey memastikan.
Latya mengangguk. "Ya ayok kita pulang."
"Karena sekarang ada suami kamu, kamu pulang bareng Rey ya, ayah dan bunda pulang sekarang." terang Aris.
"Iya kita pulang duluan ya, bunda udah pegel banget ini." seru Via.
''Ya sudah bunda sama ayah pulang saja, Latya pulang bareng Rey saja." balas Rey.
"Ya sudah kita pulang ya." pamit nya. "Kalian hati-hati di jalan ya kalau pulang." sambung Aris.
"Iya, ayah sama bunda juga hati-hati ya." ucap Latya pada keduanya. Mereka pun mengangguk lalu menaiki mobil nya dan meninggalkan Rey dan juga Latya.
"Ayok mau pulang sekarang?!" ajak Rey setelah melihat kedua mertuanya pergi.
"Ayok." sahut Latya cepat.
Saat mereka akan menaiki mobilnya mereka pun berpapasan dengan salah satu dosen yang selalu mengajar Latya.
"Mau pulang juga pak?" tanya Latya sopan menyapa dosen nya itu.
"Iya Latya, oh ya selamat ya atas kelulusan kamu yang memuaskan itu, bapak sangat bangga sekali pada kamu Latya, karena walaupun kamu tengah mengandung tapi kamu bisa menyelesaikan tugas kampus dengan baik apalagi nilai kamu juga lebih dari para mahasiswa dan mahasiswi di sini." ucap dosen itu memuji prestasi yang telah di dapatkan oleh Latya.
Latya tersenyum manis. "Terima kasih pak, ini juga berkat bapak, karena sudah bersabar mengajar dan membimbing saya, terima kasih saya ucapkan sekali lagi." ucap Latya dengan tulus.
"Itu sudah kewajiban bapak memberikan pendidikan kepada kalian, mengajari kalian sampai kalian bisa, dan ini yang bapak harapkan memiliki murid berprestasi seperti kamu." ujarnya bangga. "Ya sudah bapak pulang ya, selamat menempuh hidup baru dan kembangkan ilmu yang sudah kamu dapatkan." ucapnya dengan tersenyum dan berpamitan.
"Ya pak." balas Latya tersenyum.
"Ayok sayang." ajak Rey yang melihat istrinya itu diam saja.
"Iya." sahutnya seraya masuk ke dalam mobil nya.
"Kenapa tadi malah bengong begitu, ada yang kamu pikirkan?" tanya Rey di sela-sela mengemudi kendaraan nya.
"Aku sedih aja, gak berasa banget sekarang kuliah aku sudah selesai, waktu itu berputar sangat cepat ya. Aku ingat masa aku pertama kalinya masuk ke kampus ini, aku ingat masa orientasi siswa sampai aku bertemu dengan kedua sahabat ku." ucapnya dengan tersenyum mengingat semua kejadian pada waktu pertama kalinya masuk menjadi seorang mahasiswa.
Rey tersenyum melihat istrinya yang sedang mengingat memori masa kuliahnya. "Ya Abang ngerti pasti indah banget ya masa kuliah kamu."
Latya mengangguk membenarkan. "Tapi kehidupan sekarang jauh lebih indah karena aku sebentar lagi punya baby." ucapnya dengan riang.
"Kamu senang cuma mau punya baby aja, sama Abang nya gak gitu!" ucapnya sebal.
"Ya gak juga, ya aku senang kok ada Abang sekarang dalam kehidupan aku, kalau gak ada kamu baby ini gak akan hadir. Jadi Abang itu orang yang berharga dalam hidup aku. Aku juga gak nyangka kalau kita itu berjodoh." ucap Latya dengan tersenyum.
"Kamu serius?" tanya Rey memastikan ucapan Latya itu.
"Aku serius sayang..." balas Latya menggoda Rey.
"Coba bilang sekali lagi!" ucapnya merasa senang ia di panggil sayang oleh istrinya.
"Latya yang mengerti apa kemauan suaminya pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Iya sayang..., sayang nya aku." ucapnya selembut mungkin.
"Ah jadi merinding denger nya, jadi pengen ajak kamu cek in ke hotel. Hahaha."
__ADS_1
"Ih mesum!" sebal Latya.
Di tengah perjalanan dan mereka tengah asyik bercanda gurau dengan saling menggoda, Latya tidak sengaja melihat seorang ibu muda tengah menggendong bayi di tangan nya dan Latya melihat ada seorang penjahat yang sedang menodongkan pistol nya pada kepala si ibu muda itu, mungkin penjahat itu akan merampok harta yang di miliki korban.
"Bang Rey berhenti!" cegah Latya tiba-tiba membuat Rey yang tengah asyik mengendarai mobil nya pun berhenti secara mendadak.
"Ada apa sayang?" tanya Rey masih mood yang lembut walaupun Rey terkejut karena Latya menyuruhnya untuk berhenti.
"Itu bang lihat!" tunjuk Latya pada apa yang ia lihat.
Rey pun melihat apa yang di tunjukkan pada dirinya. Rey melihat ada seorang pelaku perampokan di depan nya dan si korban tengah meminta pertolongan. Sedangkan orang-orang di sana mencoba menenangkan si korban dan juga menenangkan si pelaku yang akan berbuat jahat pada si korban.
"Benar-benar!" geram Rey melihat kejahatan di depannya membuat dirinya marah, apalagi korban sedang menggendong bayi di tangan nya.
"Abang mau kemana?" tanya Latya mencoba menahan Rey yang akan pergi keluar mobil.
"Abang harus tolong korban sayang, Abang gak bisa diam saja melihat kejahatan di depan mataku." ucapnya tegas.
"Tapi itu bahaya bang Rey, dia bawa senjata api seperti itu. Aku takut..." lirih Latya merasa cemas.
"Kamu tenang saja ya, Abang juga bawa senjata. Abang harus tolong korban." ucapnya seraya menelpon polisi kota tersebut, walaupun Rey tidak sedang bertugas di kota itu tapi Rey tahu anggota kepolisian di sana.
"Hallo saya membutuhkan bantuan, ada pelaku perampokan di jalan xxx, dia membawa senjata api di tangan nya. Cepat siapkan anggota! Saya akan mencoba mengalihkan perhatian pelaku agar bisa saya lumpuhkan sebelum kalian datang!" ucap Rey tegas.
"Baik terima kasih." ucap Rey seraya menutup panggilan nya.
Rey menatap Latya. "Sayang kamu tunggu di sini ya, Abang akan segera menyelesaikan kejahatan ini. Ingat kamu jangan kemana-mana!" titah nya tegas.
Latya mengangguk. "Abang harus hati-hati ya." ucap Latya khawatir dan Rey mengangguk lalu keluar mobil untuk mencegah penjahat itu melukai korban.
Latya melihat suaminya pergi dengan rasa cemas di hati nya. "Semoga bang Rey baik-baik saja, dan semoga pelaku kejahatan itu bisa di tangkap secepatnya." doa Latya penuh harap.
Rey langsung menuju tempat kejadian perkara, ia melihat korban dan bayinya yang sangat ketakutan.
"Ibu tenang ya saya akan menolong ibu, tolong jangan panik." ucap Rey menenangkan korban yang sangat ketakutan itu.
"Siapa kamu?" tanya si pelaku melihat ke arah Rey yang mencoba menenangkan korban.
"Apa mau anda?" tanya Rey tanpa basa-basi.
"Saya mau merampok!" jawabnya jujur. "Tapi dia terus melawan saya dan tidak mau memberikan apa yang saya mau." terangnya.
"Baik saya akan berikan apa yang anda mau, tapi, tolong lepaskan ibu dan anak itu." pinta Rey lembut mencoba merayu si pelaku.
"Cuih." penjahat itu meludah ke samping tubuhnya. "Memang nya saya bodoh! Saya tidak sebodoh yang anda pikirkan, tidak mungkin kalian melepaskan saya setelah saya melepaskan ibu dan anak ini. Hahaha kalian yang bodoh!" ejeknya tidak ada takutnya.
"Sial, ternyata dia tidak sebodoh yang aku pikirkan!" batin Rey merasa kesal di buatnya.
"Lihat!" ancamnya seraya terus menusukkan ujung pistol itu pada kepala si korban dan si korban pun meringis sambil terus mendekap anaknya dengan begitu erat, ia takut jika penjahat itu melukai bayinya.
"Tolong lepaskan bayi saya, biarkan bayi saya hidup jika anda ingin menembak saya silahkan tapi jangan sakiti bayi saya." lirihnya takut dengan suara yang bergetar, korban sudah pasrah jika dirinya memang akan di tembak dan tewas di tangan penjahat itu.
"Hahaha." penjahat itu tertawa puas mendengar korban meringis ketakutan karena ulah nya. "Coba tadi kamu langsung memberikan apa yang saya mau mungkin kejadian nya tidak akan seperti ini." ucapnya penuh penekanan.
"Ya saya minta maaf, tolong jangan sakiti bayi saya, saya mohon..." ucapnya dengan bergetar karena takut sekali.
Waktu penyelamatan pun cukup alot karena pelaku terus saja menodongkan senjata api itu pada kepala korban dan sesekali mengancam korban dengan ucapannya.
__ADS_1
Rey tidak bisa gegabah dan sembarangan menembak pelaku, karena korban yang begitu dekat dengan tubuh pelaku. Rey takut menyakiti korban karena salah sasaran saat menembak.
Rey terus bernegosiasi dengan pelaku perampokan itu, tapi tetap dia bersikeras terus mengancam korban. Saat si pelaku sedang lengah, tangan pelaku bergerak untuk membenarkan senjata api nya itu di saat itu lah Rey pun mengambil kesempatan untuk menembakkan senjata api yang ia pegang lalu DOR suara tembakan itu pun menggema menembus lengan si pelaku, dan si pelaku pun melepaskan senjata yang ia pegang itu, lalu para warga yang menyaksikan drama menegang kan itu pun langsung membawa ibu dan bayi yang terlepas dari gendongan ibunya karena ibu muda itu tidak sadarkan diri karena mungkin keterkejutan nya mengalami kejadian itu.
Si pelaku perampokan itu pun meringis kesakitan dan menahan lengannya yang bersimbah darah karena terkena tembakan dari Rey. "Sialan! Beraninya elu tembak gue!" umpat nya kesal dan marah, si pelaku tidak tahu jika Rey adalah seorang polisi.
"Siapa elu sebenarnya?" tanyanya dengan penuh dendam.
"Saya polisi." jawab Rey menunjukkan identitas kepolisian nya itu.
Deg..."Po..polisi." batin si pelaku terkejut sekaligus takut.
Sedangkan di tempat Latya yang sedang menunggu suaminya itu pun merasa sangat khawatir, takut dan juga cemas. "Bang Rey lama banget sih, apa yang terjadi di sana?" gumam Latya tidak sabar.
"Aaaaaahhh" teriak Latya histeris saat ia mendengar suara tembakan yang sangat keras itu. "Ya Tuhan apa yang terjadi di sana? Apa itu suara tembakan bang Rey?" gumam Latya sungguh sangat khawatir dan takut terjadi sesuatu pada suaminya itu.
Latya pun membuka kaca mobil nya ia penasaran apa yang terjadi di tempat kejadian perkara itu, namun warga sekitar yang penasaran apa yang terjadi, menyaksikan di sekitar kejadian membuat Latya tidak bisa melihat suaminya itu dari jarak yang ia tempati.
"Aduh gak keliatan sih!" gumam Latya kesal. "Apa aku kesana saja ya?"gumam nya lagi.
Latya pun dengan keberanian nya dan penasaran nya pun turun dari mobil karena ia ingin tahu apa yang terjadi, ia mendekati kerumunan dan masuk membelah kerumunan itu dengan tubuh nya yang sedang berbadan dua itu.
Ia melihat korban sudah di tolong oleh para warga yang dekat dengan nya sedangkan si pelaku terlihat sudah tertembak di bagian lengan tangan kanannya dan tengah mengumpat karena kekesalan nya pada Rey yang sudah di menembakkan peluru nya.
Saat Rey akan menangkap pelaku setelah korban sudah warga jauhkan dari pelaku, Rey pun mendekati si pelaku namun si pelaku yang masih bisa menahan rasa sakit di lengan kanannya pun dengan cepat meraih kembali senjatanya yang terjatuh itu oleh tangan kirinya lalu dengan cepat ia menodongkan senjata nya ke arah Rey.
"Angkat tangan!" titah nya dengan suara berteriak.
Rey yang berjarak sangat dekat pun melakukan apa yang di perintahkan si pelaku itu.
Rey mengangkat kedua tangan nya ke atas udara. "Jangan macam-macam anda, jika anda masih bersikeras melawan pihak yang berwajib anda akan mendapatkan hukuman jauh lebih berat, jadi menyerah lah, jika anda ingin selamat." ucap Rey tenang namun penuh dengan penekanan.
"Cuih!" si pelaku meludah mengejek Rey. "Polisi bodoh!" ejek si pelaku dengan sesekali ia meringis kesakitan karena lengan kanannya terus mengeluarkan darah.
Ketika Rey akan meraih senjatanya lagi dan bersiap untuk menembak kembali saat si pelaku mulai lemas, tapi si pelaku menyadari nya dan ia pun menembakan peluru itu tepat ke arah Rey. "Siap-siap elu mati!" ucap si pelaku seraya menembakkan peluru itu.
Latya memperhatikan terus adegan antara Rey dan si pelaku itu. Latya sungguh sangat takut.
"Awas...bang Rey..." teriak Latya setengah berlari mendekati Rey. "DOR..." Suara tembakan itu pun menggema kembali di tempat itu dan tembakan itu pun menembus pada bahu kiri Latya yang tengah berusaha menyelamatkan suaminya itu.
"Bang Rey." ucapnya lemah.
"Berengsek! Kurang ajar! Saya tidak akan membuat mu hidup!" geram Rey marah dan penuh dengan emosi. Ia pun dengan cepat meraih senjata yang ada tempatnya itu dan Rey pun menembakan peluru nya pada si pelaku.
"DOR"
"DOR"
Rey menembakkan peluru itu pada si pelaku dan menembus tangan kiri dan dada si pelaku. Rey sungguh marah kesal dan juga tidak terima karena pelaku itu sudah menembak istri tercinta nya.
Semua orang yang menyaksikan mereka di sana pun berteriak histeris mendengar suara tembakan yang terus menggema dengan keras, walaupun mereka menyaksikan dengan jarak yang cukup jauh. Sungguh kejadian ini sangat mengerikan.
Dan di saat penembakan itu pun para polisi yang bertugas pun berdatangan dan mengamankan si pelaku kejahatan itu yang sudah terkapar lemah tidak berdaya, ntah mati atau hanya tidak sadarkan diri. Yang ada di pikiran Rey saat ini adalah keselamatan istri dan juga anak yang ada di dalam kandungannya.
"Sayang..." panggil Rey dengan menahan tubuh istrinya yang tiba-tiba terjatuh pada pelukan nya.
"Sayang bangun! Latya...!" Rey terkejut melihat darah yang merembes dari bahu Latya. "Sayang bangun sayang." Rey terus mencoba membangunkan Latya dengan menahan bahu nya yang terus basah karena darah yang keluar.
__ADS_1
"Cepat panggilkan ambulans!" teriak nya.
Dan para warga serta polisi di sana pun menelpon ambulans dan juga menolong Latya segera.