Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
cemas


__ADS_3

"Mereka tidak ada di sini bos." ucap salah satu anggota preman itu.


"Ah berengsek!" umpatnya kesal.


"Ayok kita pergi dari sini, kita cari di tempat lain!"


Para preman itu pun pergi meninggalkan tempat kosong itu. Hari semakin gelap karena karena waktu sudah akan menuju malam.


Rey dan Latya menghirup nafas nya lega. Para preman itu pergi meninggalkan tempat mereka bersembunyi.


Pelukan Latya pada Rey ia renggang kan, karena mereka tidak sampai tertangkap oleh para preman itu.


Rey menunduk menatap wajah Latya sedangkan Latya mendongakkan kepalanya karena lega bisa menghirup udara yang tadi sempat mencekam nya.


Tanpa sengaja mereka saling menatap satu sama lain dan saling mengunci pandangan mereka. Dengan penerangan yang tidak begitu memadai.


"Ayok kita pulang, preman nya sudah pergi seperti nya." ajak Rey seraya melihat ke arah luar dengan perlahan ke kiri dan ke kanan.


Setelah di rasa aman, Rey pun dengan cepat mengajak Latya untuk keluar dari tempat mereka bersembunyi itu.


Meraih lalu menarik tangan Latya dan menggenggamnya. Latya tidak melepaskan pegangan tangan Rey padanya, kini mereka pun berjalan dengan tangan saling berpegangan meninggalkan tempat kosong itu.


"Aman." ucap Rey sudah tidak melihat ada preman di sana.


"Kita mau kemana ini bang?" tanya Latya heran sebab Rey membawa ke jalanan yang tidak pernah sama sekali Latya ketahui.


"Kita cari jalan yang tidak mereka lewati, karena kemungkinan preman itu masih di sana." jawab Rey menjelaskan.


"Kamu bawa handphone Abang gak?" tanya Rey serius.


"Gak, aku kan tadi panik lihat bang Rey di kereyok begitu. Mana sempet aku ingat handphone." jelas Latya.


"Aaaaaaah." Rey berteriak sedikit frustasi, di saat seperti ini ia sangat butuh dengan yang namanya alat komunikasi.


"Kamu bawa handphone kamu sendiri gak?" tanya Rey kembali dan Latya pun menggelengkan kepalanya.


"Aduh Latya kenapa kamu gak bawa tas sama handphone kamu sih saat lari tadi." kesal Rey dengan mengusap-usap keningnya yang tiba-tiba pusing.


"Yaaa maaf, tas sama handphone aku semua di mobil Abang. Aku kan gak sempet bawa pas Abang suruh aku buat nyelametin diri." ungkap nya.


"Mana ini sudah malam lagi. Si Andre pasti dah ada di sana." seru Rey dengan nada gelisah.


"Ayok kita jalan saja mumpung belum begitu gelap,


Rey dan Latya berjalan kaki dengan terus menyusuri jalanan yang belum pernah mereka lewati. Semakin mereka melangkah semakin jauh mereka dari pusat jalanan yang tadi mereka menghentikan mobilnya.


"Bang Rey kita sebenarnya mau kemana sih? Kok kita gak nemu jalan raya." tanya Latya heran. "Ini kok kita kayak masuk pedesaan gini." sambung nya.


Rey melihat ke arah kiri dan kanan, ia sama sekali tidak tahu dimana mereka saat ini. Rey mengusap tengkuk lehernya ia merasa malu karena membawa Latya ke arah yang tidak semestinya. "Sepertinya kita nyasar." ucap Rey santai.


"Apa nyasar?" Latya terkejut mendengar ucapan Rey. "Jadi bang Rey gak tahu kita ini dimana?" tanya Latya kesal.


"Ya maaf, ya kamu juga kenapa gak bawa handphone jadi kita tersesat begini kan?" kilah nya membela diri.


"Ih Abang!" teriak Latya kesal.


"Jangan teriak-teriak nanti ada orang marah." ucap Rey menutup bibir nya dengan telunjuknya.

__ADS_1


Latya celingak-celinguk mencari disana ada orang atau tidak. "Di sini sepi banget bang gak ada orang, berasa horor deh." ujar Latya takut.


Rey tersenyum mengejek. "Kamu takut? Tidak usah takut pada makhluk halus kita lebih unggul dibandingkan mereka." jawab Rey santai seraya terus melangkah.


Latya bergidik ngeri. "Aku capek bang kita istirahat sebentar ya." pintanya seraya duduk dan memukul-mukul kedua kakinya dengan tangan nya sendiri.


"Ya udah kita istirahat dulu." seru Rey.


"Hemm aku gak nyangka bakal nagalamin kejadian seperti ini." keluh Latya.


"Maaf ya, karena Abang semua ini terjadi." lirih Rey merasa tidak enak hati.


"Ini semua bukan karena Abang, tapi gara-gara para preman itu yang kejar-kejar kita. Sebenarnya mereka itu mau apa sih?" tanya Latya penasaran.


Rey menghirup nafas nya dalam-dalam. "Mereka mengancam Abang untuk menghentikan penyelidikan kasus kematian papanya Maura." jelas Rey serius.


"Apa? Jadi kejadian ini ada hubungan dengan kasus yang bang Rey tangani?" Latya kembali bertanya untuk meyakinkan.


Rey mengangguk membenarkan. "Iya." jawabnya cepat.


"Terus bang Rey masih mau penyelidikan itu terus di selidiki?" tanya Latya menatap Rey.


"Tentu, malah aku jadi semakin penasaran siapa orang yang merencanakan pembunuhan pada pak Rangga." ucapnya semangat.


"Abang melakukan penyelidikan ini karena papa Maura yang mengalami nya jadi bang Rey semangat begini, sampai muka babak belur juga Abang rela begitu?" tanya Latya sedikit merasa cemburu.


"Bukan, Abang ini polisi Latya sewajarnya jika Abang harus bisa menangani kasus sampai selesai, jangan setengah-setengah. Bukan karena papa nya Maura. Itu semua gak ada hubungannya. Mau papa Maura atau pun papa nya orang lain bang Rey akan tetap menyelidikinya, karena ini tugas bang Rey dari atasan." ujar Rey menjelaskan.


Latya mendelikkan kedua matanya, masih belum yakin akan jawaban dari Rey.


"Kenapa? Kamu cemburu?" goda Rey merasa senang.


Rey tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Latya yang berjalan dengan cepat. "Hei tunggu! Kamu gak takut itu jalan sendirian?" teriak Rey karena Latya jauh melangkah.


"Bang Rey lama!" teriak nya.


Rey pun dengan setengah berlari mengikuti langkah Latya. Setelah sejajar langkah nya dengan Latya ia menarik tangan Latya. "Jangan cepat-cepat Abang takut kamu hilang." cegah nya.


"Memang nya aku anak kecil apa?" kesalnya.


"Justru karena kamu bukan anak kecil, bagaimana kalau ada genderewo yang culik gadis, di sini kan sepi banget." Rey menakuti Latya agar dia jalan berbarengan, tapi kalau beneran hilang kan berabe juga.


"Ah jangan nakutin aku!" Latya mulai terpengaruh.


"Ya makanya jangan jauh-jauh dari Abang." senyum licik dari bibir Rey karena Latya memeluk lengan nya dengan menempelkan dada empuknya di lengan Rey, membuat Rey jadi gugup di buat nya. Berniat mengerjai Latya tapi malah sebaliknya Rey yang menjadi gugup dan takut.


Saat mereka berjalan mencari pertolongan akhirnya mereka menemukan sebuah warung, dan bersyukur nya di sana juga ada orang yang sedang mengobrol.


"Ah akhirnya ada orang juga. Ayok Latya kita minta pertolongan." ucap Rey senang dan di angguki Latya yang sudah sangat lelah.


Rey dan Latya pun meminta bantuan pada mereka dengan meminjam handphone untuk menelpon Andre. Mereka sempat tidak percaya saat Rey menceritakan kenapa mereka bisa tersesat, namun karena Rey yang memakai seragam kepolisian pun akhirnya mereka percaya.


Ketika menunggu di warung tersebut, Latya dan Rey di beri makanan dan juga minuman hangat.


Mereka duduk di sana menunggu Andre dan rekan lainnya yang akan menjemput mereka.


"Bang aku kesana dulu ya." ijinnya dan di angguki oleh Rey.

__ADS_1


Latya meminta tukang warung air hangat dan juga kain lembut untuk membersihkan luka lebam Rey yang ada di wajah nya.


Tak lama Latya membawa baskom berisi air hangat itu pada Rey yang sedang duduk dan menikmati minuman hangat nya. "Sini bang aku bersihkan ya luka di wajahnya." tawar Latya merasa khawatir juga karena darah bekas lukanya mulai mengering.


"Emh gak usah, nanti setelah pulang akan Abang bersihkan di rumah." tolak nya lembut.


"Gak apa-apa biar aku aja, pulang masih lama sedangkan luka nya mesti segera di bersihkan, bahaya lho bisa infeksi. Memang nya Abang mau mukanya jadi infeksian!" Latya menakuti Rey agar dia mau di bersihkan.


"Ih kamu kalau bicara jangan sembarangan!" takut Rey. "Ya sudah ini bersihkan!" titah nya.


"Nah gitu dong!" ucap Latya tersenyum licik karena dia sudah berhasil membuat Rey takut.


Latya pun dengan pelan membersihkan luka Rey dengan penuh kelembutan, sebenarnya sih ngilu juga melihat luka di wajah suaminya itu, tapi demi kesehatan Latya pun membersihkan nya dengan hati-hati.


Rey menatap wajah Latya yang sedang serius mengelap wajah nya dengan sebuah kain lembut dengan tatapan penuh. Rey yang duduk di bangku sedangkan Latya yang berdiri di hadapannya dengan tubuh nya yang begitu dekat dengan tubuh Rey. Ini kali pertamanya mereka jauh dari keluarga, untung saja mereka sudah menikah.


Tak lama ada mobil yang datang, mereka adalah Andre dan juga Adam yang sangat khawatir saat ia tahu jika anak dan mantu nya itu di kejar para preman dan sampai tersesat di


Di tempat kejadian rekan dari kepolisian sudah di kerahkan untuk mencari para preman itu namun sayangnya para preman itu sudah tidak ada di tempat saat para polisi menyisir tempat kejadian perkara. Mungkin mereka tahu jika para polisi akan datang kesana.


"Rey, Latya kalian tidak apa-apa?" tanya Adam khawatir dan cemas apalagi Nisa yang sedang di rumah mengetahui kabar Rey dan juga Latya.


"Kita baik-baik aja ayah." jawab Rey cepat.


"Baik bagaimana sih kamu Rey wajah lebam begitu kamu bilang tidak apa-apa!" ujar Adam semakin khawatir melihat keadaan Rey. "Ayok kita pulang!" ajaknya.


Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan uang untuk orang yang membantu nya mereka pun pulang meninggalkan tempat itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi kenapa kalian bisa di kejar sama para preman itu?" tanya Adam penasaran saat mereka sudah di dalam mobil menuju pulang.


"Para preman itu mengancam Rey untuk menghentikan penyelidikan kasus kematian nya pak Rangga." jelas Rey serius.


"Apa? Jadi ini ada hubungannya dengan kasus pak Rangga." ucap Adam.


"Iya ayah, jadi jelas sekarang jika kematian pak Rangga itu ada unsur kesengajaan dan terencana." ucap Rey merasa yakin.


"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Adam ingin tahu bagaimana Rey mengatasi masalahnya itu.


"Rey akan terus menyelidiki kasus ini, aku penasaran siapa pelaku dan motif nya. Karena aku yakin pelaku nya adalah orang yang paling dekat dengan pak Rangga." jelas Rey semakin mantap untuk menyelesaikan kasus yang sedang ia tangani.


"Tapi kamu harus hati-hati Rey, seperti nya memang benar pelaku nya adalah orang terdekat pak Rangga, karena tidak mungkin kan jika pelaku tahu kasus nya sedang di selidiki dan dia juga sampai menyuruh preman untuk mengancam kamu." sambung Adam membenarkan ucapan Rey.


"Iya benar Rey, mereka merasa terancam karena kasus pembunuhan itu akan terbongkar siapa pelakunya, makanya pelaku mengancam agar elu untuk menghentikan kasus itu." ucap Andre.


"Ayah akan menyuruh rekan kamu untuk menjaga lebih ketat lagi, seperti nya pelaku bukan orang sembarangan, bisa jadi hal buruk terjadi, tapi ayah harap ini ketakutan ayah tidak akan terjadi Rey, kamu harus lebih hati-hati lagi." ujar Adam merasa sangat khawatir pada anaknya itu.


"Iya aku tahu." sahut Rey pendek seraya menghembuskan nafasnya berat dan menyenderkan punggungnya pada kursi mobil.


Latya yang dari tadi diam saja dan hanya mendengarkan apa yang mereka bahas pun angkat bicara. "Jadi bang Rey dalam bahaya?" cemas nya menatap Rey yang memejamkan matanya itu.


Rey yang memejamkan matanya langsung membuka kembali matanya lalu menatap Latya. "Tenang saja aku akan baik-baik saja." hiburnya dengan senyum tipisnya.


Latya tidak percaya begitu saja, Rey pasti hanya untuk menghibur nya saja.


Andre yang mendengar ada kecemasan dari nada Latya berucap pun hanya melirik ke arah spion melihat di belakang dimana Latya dan Rey duduk di sana. Merasa ada yang aneh dengan nada Latya.


"Tenang saja Latya, pihak kepolisian tidak akan tinggal diam jika rekan nya merasa terancam, ayah akan memerintahkan anak buah ayah untuk memperketat keamanan dalam penyelidikan kasus ini." ujar Adam menenangkan Latya agar tidak terlalu cemas dan khawatir.

__ADS_1


Andre mengerutkan keningnya. "Ayah?" batinnya ketika Adam atasannya itu menyebutkan ayah untuk Latya.


__ADS_2