Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
hamil?


__ADS_3

Setibanya di rumah Rey langsung duduk di sofa menyenderkan tubuhnya pada belakang sofa, sesekali memijat kepalanya yang terasa berat dengan matanya yang terpejam. "Kenapa aku ini ya, kepala ku pusing sekali." gumamnya meringis. "Tapi mual nya sudah tidak begitu mual, tidak seperti tadi saat dekat dengan Maura, apa karena dia memakai parfum begitu menyengat, buat aku mual saja. Parfum apa sih yang dia pakai!" gerutu nya.


"Kenapa kamu Rey, bukan nya tadi kamu pergi? tanya Nisa melihat anaknya sudah ada di rumah dan melihat nya seperti sedang sakit. "Kamu sakit?" tanyanya lagi dengan nada khawatir seraya mengecek kening Rey dengan telapak tangannya. "Gak panas Rey."


"Aku memang gak sakit bun, tapi gak tahu kenapa tiba-tiba Rey pusing dan perut aku mual. Mungkin karena salah makan atau bagaimana aku gak ngerti." jawab nya dengan suara pelan dan lemas.


"Hemm bunda bikinin jeruk panas ya, mau?" tawar nya. Rey mengangguk lemah. Nisa pun beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan Rey jeruk panas.


Rey mendesah pelan merasakan apa yang tengah ia rasakan saat ini. "Ah Latya..." panggil nya pelan secara tiba-tiba karena ia mengigat istri kecilnya itu.


*


*


*


Di tempat Latya kini dirinya sedang berada di kampus, seperti biasa hari-harinya sekarang adalah pergi ke kampus kembali untuk menyelesaikan semua tugas kampus secara satu persatu.


Di dalam kelas Latya tengah asyiknya bercanda dengan ketiga sahabat nya yang selama ini sudah lama tidak bertemu karena perbedaan nya tempat mereka magang.


"Eh elu berdua udah siapapin bahan skripsi belum?" tanya Geisha salah satu sahabat Latya.


"Udahlah, belum." sahut Latya dan juga Heidi.


"Elu udah Tya, hebat amat elu." kagum Heidi.


"Baru nyiapin bahan sih, dikit-dikit lah, biar cepat kelar." balas Latya.


"Eh tempat magang elu kan di kantor kepolisian banyak polisi dong di sana, dapat kenalan polisi ganteng gak elu di sana?" tanya Geisha penuh dengan semangat.


"Ada banyak, kenapa memang?" tanya Latya.


"Siapa tahu bisa di kenalin ke gue, kayak nya seru dapat pacar polisi, masyarakat aja di lindungi apalagi pacarnya, beuh gue jadi Baper bayangin nya." seru Heidi seraya tersenyum-senyum membayangkan bagaimana dia berpacaran dengan seorang polisi.


Latya tersenyum tipis. "Elu gak tahu aja laki gue di embat sama cewek lain!" batinnya kesal. Ia jadi mengingat pada Rey suaminya yang berprofesi sebagai polisi tampan dan muda.


"Eh Tya elu bawa cermin gak, mata gue kelilipan ni?" tanya Geisha mengucek matanya yang sakit dan mengibas-ibaskan tangannya ke arah mata nya.


"Bawa." sahutnya cepat namun arah pandangan nya layar handphone yang ia pegang.


"Pinjem dong gue!" pintanya.


"Ambil aja nih di dompet makeup gue." jawab nya seraya menyerahkan tas nya kehadapan Geisha. Isi tas makeup nya Latya itu cuma cermin parfum, bedak sama pelembab bibir ya gaes.


Geisha pun meraih tas Latya dan mengambil dompet makeup Latya karena sudah dapat ijin dari sahabatnya itu.


"Latya... ini apa?" terkejut Geisha saat ia melihat dan mengacungkan alat tespesk yang kemarin Latya beli dan ia lupa jika menyimpan nya di sana.


Latya dan Heidi menoleh lalu bersamaan, setelah Latya melihat benda yang di acungkan Geisha Latya langsung dengan cepat merebut benda itu dari tangan Geisha.


Latya merebut barang itu dengan gelagapan karena ia juga terkejut dan takut orang tahu, apalagi tadi Geisha mengacungkan barang itu ke luar di hadapan wajah nya.


"Bukan apa-apa!" kilahnya gugup dan menyembunyikan alat kehamilan itu dan ia masukkan ke dalam sakunya.


Geisha dan Heidi saling pandang, mereka bukan orang bodoh dan tidak mungkin mereka tidak tahu benda yang ada di dalam tas sahabat nya itu.


"Eh Tya gue bukan gak tahu ya itu alat apa, tapi gue kaget di tas elu ada alat begituan! Elu gak lagi hamil kan Tya?" tanya Geisha penuh selidik dan menatap tajam kearah wajah Latya yang gugup itu. "Aduh mata gue perih lagi. Mana cermin nya gue pinjam!" ia hampir lupa dengan urusan nya gara-gara terkejut.


"Iya gue juga tahu itu alat tes kehamilan kan Tya? Jangan bilang elu hamil di luar nikah lagi!" telisik Heidi yang penasaran itu.


"Iya elu cerita deh sama kita, kita kan sahabat elu, jangan ragu buat cerita." ujar Geisha seraya melihat matanya yang kelilipan itu.


"Emh... gue...emh gimana ya gue bingung cerita dari awal." jawabnya ragu.


"Jadi elu beneran lagi hamil Tya?" teriak Heidi tanpa sadar.


Latya langsung dengan cepat membekap mulut Heidi dengan tangan nya. "Jangan teriak-teriak!" bisik Latya kesal.


"Ok. ok." tanpa berucap Heidi hanya jarinya yang membentuk huruf O.


Latya pun melepaskan bekapan itu setelah ia yakin jika Heidi tidak akan berteriak lagi.


Heidi menarik nafasnya dalam-dalam karena merasa engap saat Latya membekap tadi. "Gila elu ah gue gak bisa nafas!" kesal nya dengan terengah-engah.


"Ya elu sih punya mulut tuh gak bisa dikontrol!" omel Geisha gemas melihat sahabatnya itu.


"Sorry..." ucapnya merasa bersalah.


"Ya udah Elu cerita deh sekarang kita bakal denger cerita elu. Tapi bener nih elu sekarang lagi hamil?" tanya Geisha penasaran. Latya mengangguk membenarkan.


Kedua sahabatnya itu pun terkejut mendengar kejujuran Latya itu. "Kedua orang tua elu tahu?" tanya Heidi.


"Tahu, mereka senang banget malahan karena bentar lagi dapat cucu." aku Latya lebih santai, di pikir-pikir kenapa juga dia harus takut toh anak yang dia kandung bukan anak yang haram.

__ADS_1


"What's?" teriak Geisha dan Heidi bersamaan terkejut.


"Mereka gak marah sama sekali?" tanya Geisha memastikan.


Latya pun kembali mengangguk, tersenyum melihat keterkejutan kedua sahabatnya itu.


"Oh my God." ucap Heidi terkejut.


"Elu cerita deh sekarang, kita penasaran banget soalnya. Mumpung dosen belum datang Tya." ucap Geisha penasaran dengan penuh semangat.


"Jadi kalian pengen tahu cerita yang sebenarnya?" tanya Latya melihat ke arah kedua sahabatnya itu dan mereka pun mengangguk bersamaan.


Latya menarik nafasnya dalam-dalam. "Cerita ini panjang sekali, tapi yang pasti janin yang ada di rahim gue bukan anak haram, anak ini buah cinta gue dan suami siri gue." ujar Latya sebelum dia bercerita tentang semua nya.


"What's suami?" mereka berdua pun terkejut kembali banyak cerita yang mereka lewatkan dengan Latya semenjak magang mereka berbeda.


"Syuuuut!" ucap Latya pelan seraya jari telunjuknya ia tempelkan di bibirnya.


Kedua sahabat itu pun melakukan gerakan menutup kunci dan gerakan menarik resleting di kedua bibir nya.


"Ayok cerita Tya gue penasaran!" Heidi semakin penasaran di buatnya.


"Iya gue juga penasaran." sambung nya tidak sabar.


Dengan menarik nafasnya kembali Latya pun menceritakan bagaimana ia bisa hamil dan menceritakan kenapa ia bisa menikah siri apalagi di usianya yang masih muda.


"Gila bener tuh cewek kurang ajar tahu gak!" kesal Geisha mendengar cerita Latya apalagi saat Latya menceritakan perempuan bernama Maura.


"Iya, kalau gue jadi elu udah gue lelepin tuh orang!" geram Heidi merasakan sakit yang di alami Latya.


"Terus suami elu sekarang masih gak ngabarin elu?" tanya Geisha memastikan. Latya mengangguk lagi. "Dia gak tahu elu lagi hamil sekarang?" tanyanya lagi Latya pun menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun kenapa?" tanyanya lagi.


"Ya karena gue kesel sama dia, gue juga udah minta bunda dan ayah jangan cerita dulu sama siapapun kalau gue lagi hamil." ujarnya. "Dengan alasan karena gue mau kasih kejutan, tapi tahu sampai kapan? Karena sekarang hubungan gue sama suami gue juga gak jelas." lirih nya.


"Gue jadi pengen tahu dan penasaran sama suami elu dan juga cewek yang jadi pelakor diantara hubungan kalian. Elu punya foto suami elu gak?" tanyanya.


"Ada. Sebentar!" ucapnya seraya mencari-cari di galeri foto nya.



"Ini foto suami gue, gue ambil saat dia gak sadar gue foto dia, soalnya dia susah kalau di ajak foto." ujar Latya memperlihatkan foto suaminya pada kedua sahabatnya.


Kedua sahabatnya itu pun dengan semangat melihat foto yang di perlihatkan oleh Latya.


"Iya ganteng banget, paling bisa elu dapet yang ganteng begini." puji Heidi. "Lagi gak berpose aja ganteng begini apalagi kalau lagi berpose beuh meleleh deh kayaknya hati gue." sambung nya.


"Suami gue ini, elu jangan jadi pelakor lagi!" ketus Latya menoyor pelan kepala Heidi karena Heidi memuji suaminya dengan tatapan mendamba.


"Sembarangan elu, gue gak akan jadi pelakor ya, terlalu rendah untuk gue banggain!" kesal nya tidak terima.


"Hahaha." gelak tawa dari Geisha karena kekesalan Heidi.


Latya tersenyum. "Bagus kalau elu sadar!" ucapnya cengengesan.


*


*


*


"Rey kamu yakin mau berangkat tugas?" tanya Nisa pada anaknya itu. Terlihat jika Rey sudah rapi dengan seragamnya dan siap untuk berangkat padahal tadi Nisa lihat jika Rey masih terlihat lemas.


"Yakin Bun, aku gak bisa mangkir juga." sahut nya ada benarnya.


"Lalu gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Nisa khawatir.


"Masih mual sih, tapi agak mendingan." balas nya.


"Hemm syukur lah, nanti kalau kamu mual lagi kamu minum aja wedang jahe. Atau kamu minum obat maag aja, mual itu karena kamu lagi maag." tawar Nisa untuk meringankan rasa mual nya, padahal ia tahu jika Rey tidak suka yang pedas-pedas.


Rey mengangguk pelan. "Iya. Aku berangkat ya." pamit nya dengan nada lemas.


"Iya kamu hati-hati Rey." ucap Nisa lembut. Rey mengangguk.


***


"Kenapa kepalaku masih pusing sama perut juga masih mual padahal tadi udah minum obat." gumam Rey pelan yang tengah berada di tempat ia bertugas.


"Rey..." panggil Andre.


"Ada yang nyariin elu tuh di depan." ucapnya memberi tahu.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Rey mengerutkan keningnya.


"Pacar elu, si Maura." ucapnya lagi.


"Maura? Mau apa dia kesini?" tanyanya pada Andre.


"Mana gue tahu, yang pasti mau bertemu dengan elu." sahut Andre cuek.


"Bilang aja gue gak ada." ucap Rey meminta Andre untuk menyampaikan.


"Tapi gue udah bilang elu ada, gimana dong?" jawabnya yang membuat Rey menghela nafasnya gusar.


"Ah elu parah!" balas Rey kesal seraya melangkah kaki nya untuk menemui Maura yang sedang menunggu nya.


Maura yang tengah berdiri di depan sebuah taman kantor dengan menenteng sebuah kotak makan di tangan nya, dengan mengunakan pakaian secantik mungkin.


Rey melihat Maura berdiri di sana lalu menghampiri nya karena jika tidak di temui Maura akan terus menunggu nya sampai Rey menemui nya.


Namun beberapa jarak Rey dan Maura hampir dekat, Rey yang tajam akan penciuman akhir-akhir ini mencium aroma dari Maura pun kembali merasakan mual nya lagi bahkan ini lebih hebat karena ia ingin segera mengeluarkan kembali isi di perutnya itu.


"Hai Rey." sapa Maura dengan tersenyum manis seraya mendekat ke arah Rey.


Semakin Maura mendekat semakin aroma tubuhnya tercium oleh Rey dan semakin itu juga Rey merasakan mual sekali seakan Maura itu seperti bangkai. haha. Padahal Maura cantik dan wangi tentunya.


"Jangan mendekat Maura!" cegah nya.


Maura mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanyanya heran dan sedikit kesal.


"Aku mual!" ucapnya cepat.


"Mual?" heran sekaligus banyak bingung dengan sikap Rey akhir-akhir ini, karena hari ini kedua kalinya Rey tidak mau berdekatan dengan dirinya karena Rey mual..


"Tapi aku mau kasih ini sama kamu." ucapnya seraya memberikan kotak makan yang ia pegang.


"Simpan saja di sana." ucapnya menunjuk meja yang ada di hadapannya. "Sudah ya kalau tidak ada yang penting lebih baik pulang." usir nya lembut takut Maura sakit hati berabe lagi.


"Tapi Rey..." panggil nya merasa berat.


"Oeee." Rey semakin tidak tertahankan akan rasa mual nya walaupun ia tahan. "Aku mau ke kamar mandi." ijinnya tanpa jawaban Maura Rey pun bergegas dengan cepat untuk ke kamar mandi.


Dengan ekspresi yang ingin memuntahkan sesuatu di dalam mulutnya dan perut nya yang ia pegang, serta terlihat wajah Rey begitu pucat Maura pun pergi dengan penuh kekecewaan dan rasa sakit hatinya karena Rey yang terlihat seperti jijik saat bertemu dengan nya.


"Kenapa elu Rey tadi muntah-muntah?" tanya salah satu rekannya yang melihat Rey muntah.


"Tahu ni masuk angin kali." sahut nya lemas.


"Minum obat lah Rey. Salah makan kali elu." balas nya lagi.


"Gue udah minum obat tapi gue masih aja mual." jawab Rey.


"Bu jeruk panas nya satu ya, agak asemin!" titah nya, ya kini Rey dan rekannya sedang berada di kantin.


"Wah seger nih kalau maka ginian." mata Rey berbinar saat ia melihat mangga mentah dan juga kedondong untuk bahan rujakan si penjual kantin.


"Jangan Rey nanti perut elu tambah sakit kalau makan asem kan elu lagi mual begitu." ujar salah satu rekannya lagi.


"Iya gimana sih elu Rey.


"Ah bodo amat perut gue lagi gak enak pengen yang seger-seger." ucapnya ngeyel.


"Serah elu ah." pasrah rekan Rey berucap.


"Wah ada yang lagi rujakan, siapa nih yang ngidam?" tanya Andre yang tiba-tiba datang dan melihat di atas meja ada rujak.


"Tuh si Rey ngidam." sahut nya menunjukkan ke arah Rey yang tengah habis mencuci tangan nya di wastafel.


"Seriusan ini punya elu Rey?" tanya Andre memastikan.


"Kenapa memang?" Rey malah balik tanya seraya memakan rujak pesanan nya itu dengan memakai cabe merah.


"Aneh! Setahu gue elu itu gak suka sama pedas dan ini kali pertama gue lihat elu makan rujak begini." ujar Andre merasa ada yang salah dengan sahabatnya itu.


"Gue pengen coba aja, siapa tahu mual gue ilang. Lagian ini cabe nya dikit kok, gue juga gak berasa kepedasan." sahut nya dengan terus memakan dengan asyiknya.


"Si Rey kayak gue ngidam waktu istri gue hamil dulu. Perut mual tapi di kasih obat maag pun gak kerasa masih aja mual." celetuk rekan Rey yang sudah menikah. "Ya emang bener sih obat nya ya rujakan gini." sambung nya.


"Si Rey kan belum kawin jadi gak mungkin kalau dia ngidam, aneh aja elu!" sebal dengan ucapan rekannya itu.


"Ya gue kan bilang ciri-ciri nya kayak gitu bukan bilang si Rey ngidam, waktu istri gue hamil kan gue yang ngidam dan muntah-muntah." ujarnya memberi tahu. Rey cuek dengan perdebatan Andre dan rekannya itu ia masih aja asyik melahap rujak itu.


"Apa jangan-jangan elu pernah hamilin anak orang dan dia hamil elu gak tahu Rey." celetuk Andre yang membuat Rey keselek dan batuk-batuk.


"Tuh kan elu panik." goda Andre dan rekannya pun tertawa. Andre pun mengusap punggung Rey yang terbatuk-batuk itu.

__ADS_1


Bukan dia kaget di tuduh menghamili anak gadis, ya jelas dia sudah pernah berhubungan dengan istrinya yang masih perawan namun Rey terkejut apa ini ada hubungannya dengan Latya, apa dia sedang hamil?


Rey menepis semua itu. "Latya istriku tidak mungkin hamil, aku tahu dia kan minum obat pencegah kehamilan. Jadi gak mungkin Latya hamil." batinnya merasa yakin.


__ADS_2