
"Bang Rey kok belum pulang juga ya. Padahal ini udah malam banget. Pasti lagi sama Maura." ucap Latya merasa sangat cemburu. Dia terus saja mondar-mandir melihat jam dinding yang ada di kamarnya, jam menunjukkan pukul 11 malam namun tidak terdengar tanda-tanda Rey pulang.
Di tempat Maura Rey begitu lelah, ia mengantuk namun ia tahan untuk tidak tidur di sana. Rahma yang meminta ijin hanya sebentar namun begitu lama.
Rey duduk tidak tenang, lalu melihat Maura sudah tertidur. Rey merasa kasihan juga pada Maura, dia sekarang sedang terpukul dan dia butuh teman untuk menghibur. Tapi... Rey harus menjaga jarak dengan Maura, apalagi Rey tahu jika Maura menyukainya.
'Tante Rahma lama banget ya.' ucapnya dalam hati. Rey mengacak rambutnya sedikit frustasi. "Aaaaaaah." teriak nya dalam hati.
Prang... Rey tak sengaja menyenggol benda semacam pas bunga oleh lengannya, membuat Maura yang sudah memejamkan matanya pun terbangun karena mendengar suara pecah.
"Emh Rey kamu tidak apa-apa?" tanya Maura khawatir.
"Oh tidak apa-apa. Aduh maaf ya jadi ganggu istirahat kamu." ucap Adam tidak enak.
"Oh gak apa-apa Rey, udah panggil aja OB untuk membersihkan nya." ucap Maura lembut.
Rey pun meminta seorang OB untuk membersihkan pecahan pas bunga itu.
"Oh ya Maura tante Rahma kapan kembali ya, maaf ini sudah sangat malam aku harus segera ke kantor ada sesuatu yang harus aku urus." Rey mencoba mencari alasan untuk segera pulang.
"Emh ya...ya tante Rahma belum kembali, kemana ya? Ya sudah aku coba telpon ya." ucap nya lembut namun dalam hati ia kesal. Rey lebih memilih untuk pergi meninggalkan nya yang sedang sakit itu.
"Emh tapi Rey kalau kamu memang ada kepentingan pekerjaan kamu bisa tinggalkan aku di sini. Gak apa-apa kok." ucap Maura menampilkan raut wajah yang baik-baik saja.
"Oh gak... gak kamu telpon saja tante Rahma, aku gak mau kalau tinggalkan kamu sendirian di sini." balas Rey merasa kasihan dan khawatir juga jika ia tinggal.
"Oh ya udah aku coba telpon." Maura mencoba menelpon tante nya itu. Dan memang tante nya masih di rumah.
"Tante dimana, kenapa belum kembali?" tanya Maura saat panggilan telepon dengan tante nya terhubung.
"Maura maaf ya tante malam ini gak bisa menemani kamu di rumah sakit. Om kamu sedang dalam perjalanan pulang kesini jadi tante tunggu om kamu dulu, gak apa-apa kan?" ucap Rahma dengan lembut agar Maura tidak merasa di asing kan oleh nya.
"Oh gitu, emh ya udah suruh pelayan rumah datang kesini untuk menemani aku di sini."titah Maura pada Rahma membuat Rahma begitu heran.
"Maura....di sana kan ada Rey, Rey masih menunggu kamu kan?" tanyanya.
"Iya tapi Rey masih ada kepentingan di kantornya, makanya tante suruh pelayan rumah ya." jelas Maura.
"Oh ya udah kalau gitu." Rahma tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat berhubungan dengan pekerjaan Rey yang seorang polisi itu.
Maura menutup panggilan nya. Lalu menatap Rey yang sedang menunggu Jawaban kenapa tante Rahma tak kunjung kembali.
"Bagaimana Maura?" tanyanya penasaran.
Lalu Maura pun menjelaskan kenapa tante Rahma tidak kunjung kembali dan Rey meng oh kan aja.
"Kamu bisa pergi kok Rey, aku tadi sudah meminta pelayan aku untuk datang kesini." ujar Maura.
"Benar kamu menyuruhnya pelayan untuk datang ke sini, untuk menemani kamu di sini?" tanya Rey meyakinkan Maura.
"Iya sudah, jadi kamu bisa pergi gak apa-apa." ucapnya pelan seakan hatinya tidak rela.
'Ayok Rey bilang kalau kamu berubah pikiran, kamu di sini menunggu aku saja.' batin Maura penuh harap.
"Kalau begitu tidak apa-apa aku tinggal sekarang?" tanya Rey memastikan kembali.
Maura kecewa mendengar ucapan Rey itu. "Iya tidak apa-apa, pelayan aku sebentar lagi datang kok." jawabnya ragu.
"Ya sudah kalau begitu aku pergi ya. Istirahat yang cukup jangan terlalu banyak pikiran yang membuat kamu stres." ucap Rey sedikit perhatian.
Maura tersenyum. "Iya Rey aku mengerti." sahut nya.
***
"Ah ngantuk sekali." Latya terus saja menguap menahan rasa ngantuk nya, ia berniat menunggu Rey pulang.
Tap tap tap. Terdengar suara langkah dari tangga oleh Latya karena posisi saat ini Latya sedang mendekatkan telinganya di daun pintu kamarnya.
"Apa itu bang Rey ya?" gumam nya terus menempelkan telinganya pada pintu itu.
Latya langsung berlari menuju ranjang dan meloncat ke atas nya lalu berpura-pura tertidur, menyelimuti dirinya dengan selimut karena dia mendengar suara pintu akan di buka. Latya yakin jika itu adalah suaminya yaitu Rey. Dan Latya tidak mau ketahuan jika dirinya sedang menunggu nya pulang.
Ceklek suara pintu terbuka dan lampu di luar kamar yang masih menyala itu menyoroti ke arah Latya yang sedang berpura-pura tidur itu.
Rey masuk lalu melihat ke arah Latya ia tersenyum. Menghampiri nya lalu membuka selimut Latya yang ia pakai itu. Latya sedikit terkejut namun ia menahannya.
'Bang Rey mau ngapain?' batin Latya dengan hati yang berdebar-debar.
__ADS_1
Cuppp. Ciuman bibir Rey mendarat pada kening Latya sentuhan itu terasa dingin, karena Rey yang baru datang dari luar udaranya begitu sangat dingin.
Latya mengerutkan keningnya saat sentuhan itu terasa di kening nya begitu lama.
Rey menjauhkan bibir nya itu lalu menatap wajah Latya yang tengah memejamkan mata nya. "Abang sayang kamu." bisik nya di telinga Latya.
Hap. Latya menangkup wajah Rey dengan cepat, dengan kedua tangannya lalu menguncinya. Rey terkejut ternyata istrinya itu belum tidur. Mereka saat ini sedang saling menatap satu sama lain.
"Coba ucapkan sekali lagi bang, aku gak denger." goda Latya.
"Ucapan apa?" Rey berpura-pura tidak mengerti, Rey sedikit malu karena perbuatannya yang sering ia lakukan saat Latya tertidur, kini ketahuan oleh Latya.
Latya masih menangkup wajah Rey dan menatap wajahnya secara dekat bahkan napas mereka pun terasa begitu hangat menyapu kedua wajah mereka berdua.
Latya menampilkan wajah yang cemberut karena Rey tidak mau mengungkapkan lagi kata-kata tadi yang ia dengar.
Perlahan wajah Rey, Latya lepas karena merasa kecewa jika kata-kata tadi tidak di ucapkan nya lagi.
Rey mengulas senyum dari bibirnya melihat Latya tengah cemberut. "Aku sayang kamu." bisiknya lagi lalu langsung pergi melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Latya diam mematung, mendengar ucapan dari suaminya dan punggung suamiku yang melenggang pergi ke dalam toilet.
"Aku kan tadi mau marah, tapi kenapa jadi gak jadi." gumam Latya.
***
Esok paginya Latya sudah bersiap untuk pergi magang yang selama ini ia tinggalkan karena keadaannya yang masih belum begitu pulih. Ini kali pertamanya ia masuk kembali untuk menjalankan magang nya.
Latya berdiri di depan cermin melihat dirinya yang sudah bersiap, sedangkan Rey ia masih bergelut dengan selimut yang menyelimuti dirinya.
"Dih bang Rey kenapa belum bangun sih." gerutu Latya melihat Rey masih terlelap dengan damai nya. "Tumben!" tambahnya.
Latya mendekat ke arah Rey yang masih tertidur lalu menusuk-nusuk pipinya oleh jari tangan nya. Rey menggeliat dan bergumam. "Angkat tangan!" gumamnya.
Latya mengerutkan keningnya mendengar gumaman Rey, mungkin Rey masih dalam mimpinya. Ntahlah mimpi apa?
Latya keluar dari kamarnya, menuruni tangga, jam masih menunjukan pukul 6 pagi masih ada waktu untuk Rey melanjutkan mimpi nya yang indah.
"Pagi bunda." sapa Latya.
"Pagi sayang." sahut nya seraya melihat Latya yang menghampirinya. "Lho kamu mau kemana udah rapi begitu?" tanyanya.
"Hemm kamu yakin kamu udah pulih benar?" tanya Nisa.
"Huum aku yakin bunda, lagi pula aku udah bosen diam di rumah mulu." ujar nya dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Ok deh iya, suami kamu mana kok belum kelihatan?" tanya Nisa heran mencari-cari Rey.
"Bang Rey masih tidur bun." jawab Latya santai.
"Masih tidur, ini udah siang lho, memang Rey gak lagi ada tugas?" tanyanya.
"Emh kayak nya ada deh Bun, kan sekarang bukan hari libur." sahut nya cepat. "Aku tadi udah coba bangunin bang Rey eh malah bang Rey bilang angkat tangan tapi matanya masih merem gitu." urai Latya sebal.
Nisa tergelak mendengar cerita Latya. "Masa sih Rey sampai ngelindur begitu?" ucap Nisa tak percaya dan di angguki cepat oleh Latya. "Ya sudah coba bangun kan lagi suamimu, nanti terlambat lagi." lanjutnya.
Latya mengangguk dan melangkah kan kakinya menaiki tangga untuk membangunkan Rey, dengan membawa sarapan yang ia makan. Di kamarnya saat Latya masuk Rey masih belum bangun.
"Ya ampun bang Rey, tidur apa pingsan sih, ini udah siang tahu." Latya mencoba membangunkan Rey dengan menggoyangkan tubuhnya itu, Rey menggeliat lalu membuka kedua matanya yang tampak menyipit karena sinar pagi hari sudah mulai muncul.
"Bangun bang ini udah siang, mau nanti terlambat." Latya memberi tahukan Rey jika hari sudah siang.
Rey melihat Latya yang sudah siap dan sangat cantik serta harum. "Kamu mau kemana?" tanyanya dengan air khas orang bangun.
"Mau mulai magang." jawab nya dengan cepat dan masih mengunyah makanannya.
Rey melihat Latya yang penuh dengan makanan di mulutnya dan memegang roti di tangan nya membuat Rey merasa gemas, Latya itu istrinya tapi melihatnya seperti itu ia jadi merasa memiliki adik perempuan.
"Ayok bang mandi siap-siap sana!" titah nya. "Aku gak mau telat apalagi hari ini hari pertama dimana aku masuk lagi." terang nya.
Latya pun membereskan semua peralatan yang ia butuhkan dengan mulut menggigit roti di mulutnya. Rey yang melihat geleng-geleng kepala lalu sebelum pergi bersiap dia menggigit roti yang ada di mulut Latya dengan bibir nya itu. Latya tercengang dengan perbuatan Rey padanya sekaligus tersipu malu juga.
"Abang jorok deh belum juga gosok gigi udah main gigit roti aku!" cebik Latya berpura-pura marah padahal dalam hatinya bersemu.
"Hehe roti nya menggiurkan." goda Rey seraya mengunyah roti itu lalu pergi ke kamar mandi.
"Ih jorok!" ucap nya lagi namun dengan wajah malu-malu.
__ADS_1
***
Di dalam mobil Rey dan Latya kini berada. "Emh bang, Maura gimana keadaan nya?" tanya Latya ingin tahu ya walaupun malas rasanya.
"Maura sudah terlihat baik-baik saja pas semalam Abang tinggal. Kenapa?" tanyanya balik.
"Kenapa Maura bisa masuk rumah sakit?" tanyanya pelan.
"Maura syok karena dia sekarang tahu siapa pembunuh papanya itu. Dan kamu tahu... mamanya lah yang merencanakan pembunuhan itu." jelas Rey dengan serius. "Dan orang yang mungkin mencoba mencelakai kamu adalah suruhan mama nya Maura." sambung nya.
"Kok ada sih seorang perempuan apalagi seorang ibu yang berniat jahat seperti itu? Terus yang jadi korban mantan suaminya. Memang apa motif mama nya Maura sampai merencanakan pembunuhan itu?" Latya penasaran juga pada akhirnya.
"Masih dalam penyelidikan, mama nya Maura nyonya Axel itu masih bersikeras untuk tidak mengakuinya kalau dia bukan pembunuh nya. Padahal semua bukti sudah sangat jelas." urai Rey. Latya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Rey.
Sesampainya do kantor Latya dan Rey turun berbarengan lalu Andre yang melihat langsung menghampiri nya.
"Eh si cantik sudah mulai masuk? Sudah sehat?" tanyanya dengan ramah.
"Eh, hallo bang Andre, apa kabar?" tanya Latya berbasa-basi.
"Kabar Abang baik, kamu makin cantik aja, kita udah lama ya gak bertemu." puji Andre dengan senyum menawan nya, Latya akui jika Andre polisi yang termasuk kategori tampan.
"Bang Andre gak pernah ke rumah sih." balas Latya menggoda Andre.
"Ah iya benar Latya, Abang sibuk ni akhir-akhir ini." sambung nya.
"Ekhemm." Rey berdehem merasa cemburu dan merasa di cuekan oleh Latya dan juga Andre.
"Sudah reunian nya?!" kesal Rey pada dua orang yang ada di hadapannya. "Latya kamu jangan tergoda sama rayuan polisi yang ada di depan kamu ini." cebik nya.
"Hahaha Rey, gue lupa kalau ada elu." ejek Andre semakin membuat Rey kesal. "Eh gue gak lagi merayu memang kenyataannya Ade sepupu elu cakep." pujinya lagi.
"Gue juga kan kangen sama Ade sepupunya elu Rey jadi gak apa-apa dong gue ajak dia ngobrol." terang Andre santai.
"Jangan lah gak penting juga kan ngobrol sama elu!" ketus Rey berucap.
"Ayok Latya kita masuk!" ajak nya dengan menarik tangan Latya dengan cepat.
"Eh Rey tunggu gue kan belum beres ngobrol sama Ade sepupu elu, Rey...!" panggil nya setengah berlari mengikuti Rey dan juga Latya yang di tarik oleh tangan Rey.
Saat mereka tengah berjalan dan akan masuk ke dalam kantor, Seorang tukang kurir menghampiri salah seorang rekan Rey dan menanyakan atas nama Reypan. Dan rekan Rey pun memanggil Rey.
"Rey." panggil nya. Rey, Latya dan juga Andre yang sedang kejar-kejaran pun menoleh bersamaan.
"Ada apa?" tanya Rey melihat ke arah rekannya dam terlihat disana ada seorang kurir pengirim.
"Cari elu." tunjuk nya pada seorang kurir tersebut.
"Dia mas yang namanya Reypan yang di cari." ucapnya pada kurirnya itu.
Tukang kurir pun segera menghampiri Rey yang sudah melihatnya. "Dengan pak Reypan?" tanyanya.
"Iya saya, ada apa ya?" tanya Rey.
"Ini ada paket makanan untuk pak Reypan." jawab nya dengan menyerahkan sebuah kotak yang berisi makanan.
"Makanan? Siapa yang kirim makanan, saya perasaan gak pesan makanan apa-apa." heran Rey.
"Seseorang yang mengirim makanan ini untuk pak Reypan itu mba Maura." ucapnya memberi tahu.
"Maura." ucap Rey dan Andre bersamaan. Sedangkan Latya mendengus sebal.
"Ya tolong di terima pak makanan nya sudah di bayar kok." jelas tukang kurir nya.
Rey meraih makanan itu tanpa berkata apa-apa.Dan tukang kurir nya pergi setelah tugas nya sudah selesai ia kerjakan.
"Wah mantap pagi-pagi ada yang kirim makanan, kayak nya sih enak kecium aromanya. Dari Maura gadis yang kasus nya elu tangani kan?" Andre meyakini Rey.
"Ekhemm... ekhemm." Latya berdehem. "Aduh kok tenggorakan aku tiba-tiba kering ya, mesti cari minum. Bang Andre aku duluan ya." pamitnya pada Andre sedangkan pada Rey Latya tidak karena sebal.
"Eh ya Latya semangat ya kerjain tugas magang nya." Andre menyemangati Latya karena ia tidak tahu jika Latya sedang cemburu pada Rey karena Rey sudah di bawakan makanan oleh Maura.
"Maura lagi... Maura lagi. Mau apa sih dia!" gerutu Latya kesal seraya pergi.
"Latya tunggu Abang." teriak nya menyadari istrinya sedang kesal padanya. "Ini buat elu!" makanan itu Rey berikan pada Andre yang dan Andre dengan bingung menerimanya.
"Eh Rey kenapa elu kasih ke gue?" tanyanya heran.
__ADS_1
"Buat elu, gue udah kenyang." jawabnya lalu dengan cepat ia mengejar Latya yang sedang kesal untuk menjelaskan padanya.