Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
mulai posesif


__ADS_3

Maura lagi... lagi-lagi Maura." cebik Latya menghentakkan kakinya kesal.


"Maura jadi perempuan gak ada malu nya sih, mepet mulu sama laki orang." ketus Latya seraya membuang napasnya secara kasar. "Hah." Latya mendesah. "Sampai kapan sih aku jadi istri rahasia bang Rey." sambung nya merasa lelah namun Latya bisa apa?


Saat ini Latya sudah berada di kursi tempat ia selalu mengerjakan tugas magangnya. Di saat Latya sedang kesal Bripda Desti datang duduk di sebelahnya.


"Latya..." panggil nya saat ia melihat Latya tengah duduk dengan muka yang terlihat kesal. "Kamu sudah mulai masuk? Gimana keadaan kamu sekarang?" tanyanya.


"Eh kak Desti, aku udah baik kok. Terima kasih ya kak Desti udah jadi pendonor aku saat aku butuh banyak darah waktu kecelakaan kemarin. Maaf juga aku baru bisa bilang terima kasih buat kak Desti." ucapnya berterima kasih. "Sebagai tanda terima kasih aku sama kak Desti, kak Desti boleh minta apa saja sama aku atau aku mau bantuin apa kak Desti bisa bilang. sama aku, insya Allah aku siap kalau aku bisa dan mampu." ujar nya mantap.


"Its ok Latya aku ikhlas kok tolong kamu, untuk masalah apa yang akan aku minta sama kamu, aku akan pikir-pikir dulu apa yang nanti aku ingin kan." ucapnya dengan senyuman penuh.


"Ok, tapi jangan yang susah dan jangan yang aneh permintaan nya ya kak Desti." ucap Latya khawatir dia tidak sanggup untuk memenuhi keinginan Desti.


"Ok." sahut nya santai. "Penawaran yang menarik." batin Desti.


Siang hari waktu untuk mengisi perut yang terasa sangat melilit, Latya sudah tidak sanggup untuk menahan rasa laparnya. Ia pun langsung bergegas menuju kantin, rasanya ia sangat rindu dengan kantin tempat ia magang.


Sendirian yang sering Latya lakukan jika berada di kantor tempat ia magangnya, karena Latya merasa tidak ada yang dekat dengannya di sana selain Rey atau Andre.


Latya mengelilingi kantin namun tidak ada orang yang ia cari. "Bang Rey kemana ya? Apa tugas nya sekarang di luar?" gumam Latya.


Hari ini Latya memesan semangkok soto ditambah nasi dan juga segelas jeruk panas untuk menghangatkan lambung nya siang ini, kebetulan siang ini di luar hujan begitu deras jadi rasanya sangat pas dan cocok untuk Latya makan.


Menunggu sendirian di meja dalam ruangan yang banyak sekali orang berseragam polisi membuat Latya merasa jenuh juga.


Sedangkan Bripda Desti ia seakan jaga jarak dengan Latya di saat beristirahat Desti tidak pernah makan siang bersama dengan Latya, ataupun mengajaknya, mungkin karena Latya ia anggap keponakan dari atasannya jadi bagi nya merasa canggung saat berinteraksi dengan Latya.


"Eh anak magang yang elu bina ternyata udah masuk." ucap rekan Desti yang melihat Latya sedang duduk sendirian di meja kantin.


"Huum." sahut Desti melihat ke arah Latya duduk secara sekilas.


"Dia tahu gak kalau elu pendonor darah waktu dia kecelakaan?" tanya rekan nya itu penasaran.


"Iya, tadi pagi dia bilang makasih sama gue, terus dia nawarin diri untuk melakukan apa aja yang gue mau dan gue pinta." terang Desti mengingat kembali perkataan Latya padanya pagi tadi. "Sebagai tanda balas budi dia sama gue karena gue udah tolong dia." sambungnya.


"Lalu elu minta apa sama dia?" tanyanya penasaran.


Desti menggelengkan kepalanya. "Belum, lagian gue ikhlas kok tolongin dia." sahut nya cepat.


"Ah payah elu, kalau gue jadi elu gue bakalan minta sama dia informasi tentang Rey suka cewek seperti apa, dan gue juga bakal minta dia buat bisa deketin gue sama si Rey." ucapnya membuat Desti terdiam. "Katanya elu suka sama si Rey, gue tahu elu suka dia kan semenjak kalian masuk jadi Akpol dulu." terang nya. "Jadi manfaatkan kesempatan ini dengan baik."


Desti diam dia jadi memikirkan apa yang di ucapkan rekan sekaligus sahabatnya itu. Apa yang di katakan barusan memang ada benarnya. Ini kesempatan dia untuk melangkah lebih jauh untuk mendapatkan cinta Rey yang sudah sangat lama ia rasakan pada laki-laki cuek itu. Namun hati nya kadang lelah untuk mengejar cinta Rey, jangan kan cinta perhatian Rey padanya susah sekali ia dapatkan.


Dia jadi ingat saat menyatakan perasaannya pada Rey saat mereka baru saja masuk menjadi anggota kepolisian. Desti sebagai calon polwan disana merasa langsung jatuh hati pada pandangan pertama saat melihat Rey kala itu. Seiring berjalannya waktu Desti semakin terpesona dengan Rey yang memiliki karismatik yang ada pada dirinya. Namun sayang saat Desti mengatakan cinta padanya Rey menolak nya dengan tegas alasannya karena ia ingin fokus pada pekerjaan nya. Desti awal nya merasa yakin jika Rey akan menerima cintanya karena hampir semua rekan laki-laki yang lain yang sama-sama polisi menyukainya, tapi berbeda dengan Rey ia malah semakin menjauh saat Desti sudah mengutarakan cinta nya pada Rey.


Dari semenjak itulah Desti hanya bisa mencintai Rey dalam diam, Desti selalu memperhatikan Rey dari jauh, karena dia tidak mau kecewa kembali atas penolakan Rey padanya.


Di meja dimana Latya berada, pesanan makanan yang ia pesan sudah datang.


"Terima kasih." ucap Latya ramah.


"Sama-sama neng silahkan di nikmati." ucapnya juga ramah.


Saat Latya sedang asyik memakan makanannya tiba-tiba ada dua bapak-bapak polisi dengan tubuh mereka yang sudah memiliki lemak di perut nya pertanda mereka adalah polisi senior disana.

__ADS_1


Mereka duduk di dekat meja dimana Latya berada, karena kantin itu bukan berupa kursi melainkan sebuah bangku memanjang.


"Ikutan ya dek bapak duduk di sini." ijinnya salah satu bapak polisi yang sedikit berisi badannya.


"Oh ya silahkan pak." sahut Latya dengan senyum manisnya.


"Wah Ade cantik banget, udah punya pacar belum, kalau belum bapak kenalin sama anak bujang bapak. Mau gak?" ucapnya dengan bercanda.


Latya tersenyum ia tidak mengiyakan atau pun tidak. "Wah senyum nya itu lho bikin saya klepek-klepek" goda nya cengengesan.


"Eh saya serius ya de jangan di ambil bercanda haha." ucapnya lagi.


"Oh ya, ade itu keluarga pak Adam ya?" tanya pak Rudi polisi satunya dengan serius.


Latya mengangguk. "Iya pak." sahut nya.


"Wah serius kamu de. Waduh jangan bilang-bilang ya sama pak Adam kalau saya tadi godain Ade." ucapnya panik, polisi itu belum tahu jika Latya keluarga dari atasannya yang selama ini ia segani.


"Hahaha panik dia de, makanya jangan suka godain perempuan apalagi anak gadis." ucap pak Rudi yang tahu Latya siapa.


"Saya bercanda lho ya de. Serius bercanda bapak." takutnya.


"Iya pak santai saja, bapak masih dalam batas normal kok godain saya nya." balas Latya santai.


"Hehe makasih ya de. Nanti kalau anak bujang saya kesini saya kenalin sama Ade mau gak? Tenang saja dia ganteng kok seperti saya." ucapnya memuji diri sendiri. Bapak ini namanya bapak Syamsuddin.


Latya hanya tersenyum saja menanggapi apa yang ditawarkan oleh bapak polisi itu


"Ah dasar, jangan mau de sama anak dia. Bapaknya jelek begitu pasti anaknya gak jauh bedanya sama dia." celetuk pak pol satu nya yang bernama pak Rudi.


"Ah brengsek elu." kesal nya dia berucap. Pak Syam.


"Banyak faktor yang membuat mereka berselingkuh, salah satunya ya karena tidak puas di atas ranjang." timpal pak pol satunya. Pak Syam.


"Ya bisa lah mereka bicarakan dengan baik-baik kalau merasa tidak di puaskan oleh istrinya gak harus cari perempuan lain di luar sana. Ya memang sih ikan di luar lebih menggoda jika ikan di rumah tidak enak dan tidak mengenyangkan." sambung pak Rudi.


"Ya istri harus mengerti kalau suami itu butuh di puaskan di atas ranjang, karena itu kan sesuatu yang membuat para laki-laki lebih bersemangat. Contohnya ini, kalau istri datang bulan kita yang pusing, di luar lihat cewek bening lah kita jadi traveling kemana-mana." ucap pak Syam tanpa di pilter dengan tawanya yang renyah.


"Uhuk uhuk." Latya tiba-tiba terbatuk mendengar ucapan yang dua bapak polisi itu bicarakan di dekat nya.


"Wah pelan-pelan de makan nya jangan buru-buru." ucap pak Syam itu.


'Bapak yang udan bikin saya keselek, obrolan bapak tadi!' batin Latya sebal.


"Ah Ade pasti dengar ya obrolan kita tadi. Haduh bapak sih ngomong nya kenceng banget." balas pak Rudi.


"Hahaha." gelak tawanya memenuhi ruangan kantin. "Ade anak magang SMA atau kuliah?" tanya pak Syam.


"Anak kuliah pak." sahut Latya cepat.


"Kalau anak kuliahan sih udah wajar dengar begituan, itung-itung sebagai referensi nanti jika sudah menikah." terang pak Syam. "Cantik itu gak cukup bagi perempuan yang sudah menikah kalau gak bikin suami puas, nanti suami bisa cari makan di luar kalau di rumah gak kenyang." jelasnya lagi.


"Hehehe siap pak." jawab Latya cepat.


"Eh tapi nanti lho de kalau sudah menikah referensi ini di lakukan kalau sekarang janganlah berbahaya!" cegah nya.

__ADS_1


"Hehe siap pak!"


'Masa iya sih istri harus begitu, kalau menurut aku bagiamana suaminya saja, dia tukang selingkuh atau bukan.' batinnya. 'Eh tunggu bang Rey gimana ya? Apa dia juga bakal selingkuh, secara aku dan bang Rey belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri. Apa bang Rey bakal cari cewek lain? Ah tidak-tidak.' batin Latya merasa cemas dan takut juga


"Hai Latya." Andre menepuk pundak Latya yang sedang melamun itu membuat Latya terkejut dan memuntahkan makanan yang ada di mulutnya.


"Eh maaf Latya." ucapnya seraya memberikan minum air mineral yang ia bawa sebelum tadi menghampiri Latya yang duduk sendirian.


Latya meminumnya dengan cepat setelah menerima air minum itu.


"Abang bikin aku kaget aja." sebal nya.


"Ya maaf hehe." Andre cengengesan merasa tidak enak.


"Bang Rey mana ya?" tanya Latya.


"Rey tadi lagi pergi ke toilet dulu." jawab nya seraya makan kerupuk udang yang di hadapannya ntah kerupuk siapa ia main embat.


"Siang pak syam, pak Rudi." sapa Andre melihat di sampingnya ada seniornya.


"Mereka hanya manggut-manggut karena sedang menikmati makanannya.


Saat Latya meraih gelas yang berisi jeruk panas tiba-tiba gelas itu tumpah mengenai tangan Andre yang akan mengambil kerupuk di depannya.


Pyur... tumpah lah jeruk panas itu. " Aduh panas-panas." Andre mengibas-ibaskan tangannya yang panas karena minuman Latya.


"Eh maaf-maaf." ucap Latya seraya membersihkan tangan Andre dengan mengusap-usap oleh tangan nya.


Andre diam mematung mendapatkan sentuhan dari tangan Latya yang menurutnya lembut padahal tangan nya begitu panas karena akibat terkena air jeruk panas milik Latya.


Latya terus saja mengusap bahkan meniup-niup tangan Andre yang terlihat memerah. "Aduh bang maaf banget ya aku tadi gak sengaja." ucapnya pelan merasa tidak enak.


"Aku cari obat dulu ya." ijin Latya cepat, ia langsung berdiri dan pergi untuk mencari obat tanpa mendengarkan cegahan Andre.


"Tidak usah Latya." ucap Andre namun Latya tidak mendengar nya.


Tak lama Latya datang dengan membawa salep dan juga perban ntah dari mana ia dapatkan.


"Sini bang tangan nya aku kasih salep ya takutnya tangan Abang melepuh." ucap Latya dengan menarik tangan Andre lalu mengolesi nya dengan salep dan ia akan tutup tangan itu dengan perban yang ia bawa tadi.


"Tidak usah Latya, Abang gak apa-apa." cegah nya saat Latya mencoba mengobatinya.


"Udah Abang diam aja, aku obati kan ini juga gara-gara aku." ucapnya dengan serius mengobati tangan Andre.


Saat Latya mengobati Andre tiba-tiba Rey datang dengan raut wajah yang sangat kesal melihat Latya istrinya itu sedang memegang tangan seorang laki-laki.


"Ekhemm." Rey berdehem kesal. Rey langsung menepis tangan Andre yang sedang Latya beri salep.


"Aww." aduh Andre saat tangan nya tiba-tiba di tepis Rey dengan kasar.


"Aduh, Abang apa-apaan sih!" kesal Latya melihat Rey begitu kasar.


"Ngapain kamu pegang tangan laki-laki lain?" telisik Rey tak terima.


Latya kesal ia tidak menjawab pertanyaan Rey Latya meraih tangan Andre kembali untuk ia perbani tanpa memperdulikan Rey yang sedang menatapnya dengan tatapan mata yang tajam.

__ADS_1


Andre yang merasa tidak enak hati pun angkat bicara. "Maaf Rey Latya cuma mau obatin tangan gue aja, tadi Latya gak sengaja numpahin jeruk panas ke tangan gue." jelas Andre pada Rey yang terlihat sangat marah. Andre tidak tahu apa yang membuat Rey begitu marah apa karena Latya Ade sepupu nya sampai Rey begitu posesif.


Rey diam tanpa mau mendengarkan penjelasan Andre padanya, Rey saat ini sedang kesal karena Latya dengan santainya memegang tangan laki-laki lain di depannya, dan ia terus saja memperhatikan Latya yang sedang mengobati tangan Andre dengan serius. Yang saat ini ia butuhkan adalah penjelasan dari Latya.


__ADS_2