
Di dalam mobil kini Rey dan Latya sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing, ya setelah Maura tenang dan bisa di tinggal Rey bisa pulang bersama Latya yang dari tadi masih menemani dirinya dengan rasa yang campur aduk di hatinya.
Rey melirik Latya yang berada di samping nya yang hanya diam saja, membuat dirinya semakin serba salah.
"Sayang." panggil Rey lembut seraya menyentuh tangan Latya untuk ia genggam, namun Latya tepis begitu saja membuatku Rey merasa sedih.
"Sayang, maaf." ucap Rey pelan.
Latya menghela nafasnya panjang. Tidak menjawab atau pun dan tidak menggubris ucapan maaf dari Rey, Latya merasa kecewa saat ini dan juga sedih.
Tak lama mereka pun sampai di rumah, Nisa dan Adam sudah lebih dulu datang ke rumah.
Latya langsung masuk ke dalam rumah setelah menutup pintu mobil dengan begitu keras. Rey yang mendengar Latya menutup pintu dengan keras pun menghela nafasnya panjang lalu mengusap wajah nya secara kasar, ia merasa frustasi dengan keadaan seperti ini. Di sisi lain ia sangat mencintai Latya dan tidak mau melepaskan nya begitu saja, tapi di sisi lainnya Rey harus bisa menenangkan Maura yang bisa saja berbuat nekad lagi jika ia tidak bisa memenuhi keinginannya.
"Latya..." panggil Rey seraya mengejar Latya ke dalam kamar.
Latya tidak menghiraukan panggilan suaminya itu. Sedangkan Adam dan Nisa saling pandang melihat pemandangan antara anak dan mantu nya.
"Ayah apa kita harus diam saja seperti ini, melihat hubungannya mereka aku jadi sedih, padahal mereka saling mencintai." ucap Nisa dengan sendu.
"Ayah sebenarnya tidak suka dengan perbuatan Maura tadi, bagaimana bisa dia bisa melakukan hal sebodoh itu, sungguh bukan calon ibu Bayangkari yang baik." ujar Adam merasa tidak suka.
"Lalu kita harus bagaimana yah?" tanya Nisa meminta pendapat dari suaminya itu.
"Kita lihat saja nanti, ayah juga pusing." ujar Adam seraya pergi meninggalkan istrinya yang tengah bingung memikirkan hubungan Rey dan Latya.
"Ish ayah..." kesal Nisa.
Sedangkan di tempat Rey dan Latya, Latya langsung masuk ke kamar yang dulu ia tempati, kebiasaan Latya jika kesal dengan Rey selalu seperti itu, mengunci pintu kamar itu dari dalam agar Rey tidak bisa masuk menemuinya.
Latya menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.
"Sayang buka pintunya, kita bicarakan secara baik-baik." panggil Rey lembut dengan terus mengetuk pintu kamar itu.
__ADS_1
Latya diam tidak menjawab panggilan Rey. Rey hanya mendengar isak tangis Latya di dalam kamar.
Rey lemas mendengar isakan tangis Latya, ia merasa menjadi suami yang jahat pada istri.
"Maaf Latya, aku menyakiti perasaan kamu, tapi sampai kapan pun aku tidak akan membuat kamu menjauh dariku." batin Rey.
Saat malam tiba Latya yang kini sudah mulai tenang karena sudah menangis begitu lamanya, ia pun terdiam saja di dalam kamar.
"Sayang boleh Abang masuk?" ijin Rey setelah ia mengetuk pintu Latya namun tidak ada tanggapan sama sekali sedangkan pintu kamar masih terkunci. "Sayang please Abang mohon jangan membuat Abang semakin sulit, please Abang butuh kamu." ucapnya pelan.
Latya yang mendengar permohonan suaminya yang terdengar sedih pun tidak tega jika ia harus mendiamkan suaminya itu, karena hati kecil nya tahu bahwa Rey melakukan semua itu karena sebuah keterpaksaan.
Dengan langkah gontai, Latya pun membuka pintu itu. Ceklek. suara pintu terdengar di buka membuat Rey merasa senang.
Pintu terbuka menampilkan sesosok perempuan cantik di depan pintu yang terlihat kedua matanya yang sembab karena habis menangis.
"Ada apa?" tanya Latya ketus.
Rey dengan cepat masuk ke dalam kamar lalu mengunci nya, ia takut jika Latya berubah pikiran untuk mengusir nya.
Latya meregangkan pelukan Rey itu walaupun pelan tapi membuat Rey merasa kecewa ia merasa di tolak.
"Aku ngantuk, aku mau tidur." ucapnya dingin.
Rey mendesah pelan. Lalu mengikuti istrinya yang mulai naik ke atas kasur. Namun Rey hanya duduk di pinggiran ranjang ia menangkup wajah sendunya semakin gusar. "Abang tahu Abang sudah membuat kamu kecewa, tapi aku tidak punya pilihan Latya. Kalau saja aku bisa memilih, aku pasti memilih kamu, aku ingin hidup bersama kamu tanpa ada yang menggangu. Please sikap kamu membuat Abang sakit, kamu tahu sendiri aku terpaksa melakukan hal ini." jelas Rey.
Latya terdiam ia menahan rasa sedihnya di depan Rey, air matanya terasa mulai mengering, hanya sedikit mengembun. Mendengarkan apa yang akan di ucapkan suaminya itu.
Namun karena Latya merasa gatel ia pun bicara. "Iya aku tahu itu terpaksa, tapi hatiku tidak bisa bohong, perasaan aku sakit bang." lirih Latya. "Mana ada istri yang merelakan suaminya sendiri untuk perempuan lain." sambung nya.
Rey berkali-kali menarik nafasnya dalam-dalam dan sesekali ia memejamkan kedua matanya. Rasanya ia ingin berteriak sekencang mungkin, meluapkan segala rasa yang ada di dalam hatinya agar bisa lebih baik, namun bukan hati yang tenang ia dapatkan tapi rasa bersalah itu terus saja menghantui pikiran dan perasaan nya.
Latya tidak tega melihat suaminya yang begitu berat dalam memilih, antara dirinya dengan Maura. Latya tidak mau mempersulit keadaan. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca ia pun mendekat ke arah Rey lalu ia memeluk Rey dari belakang dengan erat seraya menyelusup kan kepalanya pada punggung Rey begitu nyaman.
__ADS_1
"Maaf aku mempersulit keadaan, harus nya aku yang sadar, mungkin ini memang ujian di dalam hubungan kita." lirih Latya.
Rey mengusap lengan Latya yang sedang merangkul tubuh nya dari belakang itu, menyalurkan segala rasa yang mereka rasakan saat ini.
"Ikuti saja kemauan Maura bang karena dia lebih membutuhkan Abang." ucap Latya pelan.
"Aku polisi sayang, aku tidak mungkin memiliki istri lebih dari satu, dan aku tidak mau memiliki dua istri." tegas Rey berucap.
Dengan terus memeluk tubuh Rey Latya pun angkat bicara. "Ceraikan aku, lalu menikah lah dengan Maura." ucapnya berat dengan nada suara yang bergetar dengan mata yang berkaca-kaca dan mulai merembes.
Deg... jantung Rey seakan berhenti mendengar ucapan istrinya itu lalu dengan cepat ia memutar tubuhnya menghadap Latya, menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh. "Jangan bicara seperti itu, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan kamu, aku tidak akan menceraikan kamu!" ucapnya marah bisa-bisanya istrinya itu meminta hal yang tidak mau dan tidak mungkin ia lakukan.
Latya membalas tatapan suaminya itu. "Aku tidak mau mempersulit keadaan Abang, lebih baik aku yang mundur." Isak nya mulai tak tertahankan. "Anggap saja kita tidak pernah menikah dan anggap saja jika kita tidak pernah memiliki hubungan, aku akan pergi tinggal bersama keluarga ku, dan aku janji tidak akan menggangu hubungan kalian, aku janji aku akan melupakan semua tentang kita." isaknya mulai pecah.
Rey menatap wajah Latya dengan tatapan tajam, tatapan Rey itu terlihat ada kekesalan, kemarahan dan kesedihan yang terlihat dari mata nya yang mulai berkaca-kaca itu.
"Aku tidak mau!" tegas nya. "Bagaimana bisa kamu punya pemikiran seperti itu sayang, aku mencintaimu Latya, sangat. Kalau saja Maura bisa berbaik hati dan tidak melakukan hal bodoh itu mungkin kita tidak akan sesakit ini." ujarnya dengan kesal. "Aku tidak akan pernah melepaskan kamu." ucap mantap.
"Tapi itu akan membuat Abang semakin bingung dan sulit untuk memilih siapa diantara kita, jadi lebih baik aku yang mundur dan semua masalah akan selesai." ucap Latya menenangkan diri nya.
"Aku tidak mau Latya, aku tidak mau dan tidak akan!" ucapnya tegas.
Tangis Latya mulai pecah ia tidak bisa menahan kesedihannya. Dengan suara yang bergetar ia pun berusaha untuk bicara kembali. "Lalu sekarang kamu mau bagaimana bang, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Latya terisak.
Rey menatap kembali wajah Latya yang sedang menangis itu dengan nafasnya yang mulai tidak bisa ia kendalikan. Lalu dengan cepat Rey mendorong tubuh Latya yang sedang duduk di atas kasur itu dengan pelan, menindih nya dan kembali menatap nya.
"Aku akan membuat mu mengandung anakku, dan melahirkan anak-anak ku nanti!" ucapnya dan tanpa ba-bi-bu Rey langsung mencium bibir Latya dengan cepat dan rakus melampiaskan apa yang sekarang ia rasakan, Latya awal nya menolak dengan apa yang di perbuat suaminya itu dengan terus memukul-mukul dadanya Rey yang bidang itu. Namun Rey tidak memberi celah untuk Latya untuk tidak menerima segala sentuhan-sentuhan nya, setelah istrinya mulai melemah dan tidak lagi menolak Rey pun melakukan hal itu dengan penuh kelembutan memberikan segala kenikmatan yang ia lakukan pada istrinya agar apa yang dirasakan istrinya itu bukan sesuatu yang bisa membuatnya takut tapi lebih kepada suatu kenikmatan.
Dan hubungan halal itu pun terjadi, menumpahkan segala rasa yang mereka rasakan.. Setelah selesai pelepasan itu mereka pun tidak langsung tertidur, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Jangan pernah ucapkan lagi hal-hal yang membuat ku marah sayang, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan kamu, kamu istri ku sebentar lagi kamu akan menjadi ibu Bayangkari ku!" ucapnya berbisik sebelum akhirnya mereka tertidur, Latya menyelusupkan kepalanya ke dada Rey dan memeluknya begitu posesif.
"Maaf." lirih nya, hanya itu kata yang terucap dari bibir Latya.
__ADS_1
Rey mencium pucuk kepala istrinya itu. "Sudah malam tidurlah." titah nya lembut. "Semoga larva yang aku semburkan tadi membuahkan hasil." bisik nya di telinga Latya seraya mengelus perut Latya dengan lembut, Latya auto memerah wajahnya karena mendengar ucapan suaminya itu dan tersenyum tipis, bagaimana tidak memerah ia mengingat jika Rey berkali-kali menyemburkan larva di rahimnya dan detik berikutnya seketika Latya pun melototkan kedua matanya ia baru ingat selama ini ia lupa meminum obat penunda hamil, karena sibuk nya ia untuk menyelesaikan magang terakhir nya dan begitu banyak masalah yang ia hadapi selama ini membuat Latya yang masih muda dan labil pun lupa akan meminum obat itu dan barusan ia melakukannya dengan Rey yang berkali-kali membuat Latya panik.
"Bagaimana ini?" batin Latya merasa was-was. Namun karena usapan tangan Rey yang lembut dan tubuh nya yang lelah pun membuat Latya tanpa lama ia pun tertidur melupakan sejenak apa yang terjadi.