
"Assalamualaikum." ucap Adam mengucapkan salam saat ia masuk ke dalam rumah nya dan melihat istri serta Rey menuruni tangga.
"Wa'alaikumussalam." jawab Nisa ketus dan terlihat dengan wajah yang sangat kesal seraya terus menuruni tangga.
"Lho suami baru pulang di sediakan wajah masam begitu, kenapa?" tanya Adam heran pada istrinya padahal ia merasa tidak memiliki salah apapun padanya.
"Anakmu yah bikin aku emosi!" sahut nya seraya memijat pelipisnya.
"Rey kenapa bunda kamu?" tanya Adam menatap Rey, dengan penuh selidik.
Rey hanya diam saja, ia bingung harus menjawab apa pada ayah nya ini.
"Anakmu sudah menghamili seorang gadis!" ucap Nisa sembari masih memijat keningnya yang terasa pusing akibat kejadian yang ia lihat.
"Apa? Maksudnya apa ini?" tanya Adam tidak percaya.
Nisa menghirup nafas nya dalam-dalam lalu ia mencoba menceritakan apa yang terjadi pada Rey dan Latya.
Adam yang mendengar cerita dari istrinya itu langsung naik pitam karena ulah anak laki-laki nya. Adam lalu melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Rey yang terdiam di belakang Nisa. "Kurang ajar kamu Rey!" plak...plak. sebuah tamparan keras melayang di pipi Rey kiri dan kanan. Nisa berteriak histeris dan mencoba menahan suaminya yang terus menampar anaknya itu.
"Kamu benar-benar kurang ajar Rey, ayah dan bunda tidak pernah mengajarkan kamu untuk merendahkan perempuan, bagaimana bisa kamu melakukan hal sebodoh dan sememalukan itu Rey. Ayah benar-benar kecewa pada kamu. Kamu itu polisi Rey bagaimana bisa kamu melakukan perbuatan sebejad itu. Sungguh memalukan!" ucap Adam penuh emosi dengan bertolak pinggang.
Adam yang masih emosi pada anaknya itu belum merasa puas lalu ia pun menampar kembali pada anaknya, namun tangan Adam tertahan di atas melayang karena tertahan oleh Latya yang tiba-tiba muncul dan menahan tangan Adam itu. Karena tadi Latya mendengar Nisa yang berteriak membuat Latya penasaran apa yang terjadi di bawah.
"Om sudah hentikan! Jangan pukul bang Rey lagi, ini semua bukan hanya bang Rey yang salah tapi aku juga." aku Latya dengan air matanya yang mulai jatuh.
Adam pun menarik tangan nya yang akan menampar Rey itu dengan keras. Latya melepaskan tangan Adam. Adam menghirup nafas nya dalam-dalam. "Benar-benar memalukan!" ucapnya dengan mengusap wajahnya frustasi.
"Om ini semua salah paham, aku dan bang Rey tidak melakukan perbuatan seperti itu, ini semua murni tidak ada kesengajaan." jelas Latya takut.
"Jadi maksud kamu ucapan aunty Nisa itu bohong?" tanyanya penuh menatap Latya.
__ADS_1
Latya menelan ludahnya secara kasar. "Emh..." Latya diam ia susah untuk menjawab.
"Jawab!" tanya Adam tegas.
"Emh... sebenarnya ya perkataan aunty Nisa ada benarnya, aunty melihat kami sedang..." jawab nya terpotong karena ia sangat malu untuk mengatakannya. "Tapi ini semua tidak seperti yang aunty pikirkan, aku dan bang Rey tidak melakukan nya, demi Allah om, aunty." ucapnya meyakinkan mereka berdua dengan menatap satu persatu wajah Nisa dan Adam.
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan, kalian sudah melakukan dosa besar." ucap Adam lalu ia menatap wajah Rey yang tertunduk dengan bibir mengeluarkan darah segar karena tamparan keras yang dilakukan dirinya pada Rey. "Ayah sungguh sangat kecewa." ucapnya penuh kekecewaan seraya pergi meninggalkan Rey dan Latya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Nisa menepuk bahu Rey. "Sebagai laki-laki kamu harus bertanggung jawab." ucapnya pelan. "Obati luka kamu." tambahnya seraya mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar.
Rey pergi saat kedua orang tua nya pergi dengan ekspresi penuh kekecewaan, karena kedua orang tua nya tidak mempercayainya, padahal mana mungkin Rey melakukan hal itu.
Latya melihat kepergian Rey, ia tahu hatinya pasti sedang merasakan kekecewaan sama seperti dirinya.
Latya pergi untuk mengambil obat, obat itu ia akan berikan pada Rey, Latya sempat melihat jika bibir Rey tadi mengeluarkan darah. Ia pun beranjak untuk mencari keberadaan Rey setelah ia mengambil obat itu. Di cari nya Rey dan ia dengan mudah mendapatkan keberadaan Rey. Rey sedang duduk di belakang rumah, ia terlihat sedang memandangi rumput yang dan tanaman yang berada di belakang rumah, kini ia sedang duduk di bangku tanam belakang rumah nya.
Latya mendekat lalu menghampiri Rey yang sedang duduk sendirian. Latya tanpa basa-basi ia duduk di samping Rey. Mengeluarkan obat yang ia bawa tadi.
"Aku obati ya." tawarnya lembut.
"Aku minta maaf ya bang Rey, gara-gara aku takut kecoak kejadian ini jadi terjadi, aku gak nyangka sampai akan seperti ini." tutur Latya pelan dengan terus membersihkan darah yang ada di bibir Rey.
Rey menatap wajah Latya dengan begitu dekat sangat dekat, ia pun melihat wajah Latya yang cantik itu lalu ia melihat bibir Latya yang sedang berbicara, ia jadi mengingat kejadian dimana mereka bersentuhan bibir. Terasa manis walaupun hanya dengan waktu yang singkat.
"Tapi gara-gara bang Rey juga sih, iseng sama aku!" kesal nya dengan mulut yang manyun membuat Rey tersenyum gemas melihat nya.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Latya melihat bibir Rey yang ia sedang obati bergerak dan menyungging.
"Kamu masih salahkan Abang?" tanyanya serius.
"Bukan, tapi kecoak tadi, kenapa pas ada aunty Nisa dia malah menghilang padahal itu bukti sebagai saksi hidup." sebal Latya dengan muka cemberut.
__ADS_1
"Ya kamu juga kenapa lompat dari kasur? Abang jadi refleks buat nangkap kamu karena kamu terlihat akan jatuh." sesalnya.
"Ah tahu ah, pertama kalinya aku seperti itu malah ketahuan dan jadi bikin masalah." gumam nya.
Rey tersenyum mendengar gumaman Latya. "Jadi itu ciuman pertama kamu?" goda Rey. "Kuliah sudah mau akhir tapi kamu belum merasakan sensasinya." goda nya terus.
"Ih itu bukan ciuman nama nya ya!" kilah Latya malu dengan nada ketus.
"Lalu apa dong, sentuhan bibir namanya? muah muah muah gitu" Rey menggoda terus Latya yang bersemu merah di wajahnya dan Rey dengan muka datar yang ia miliki.
Latya salah tingkah. "Obatin sendiri!" ucapnya sebal seraya melemparkan kapas yang ia pegang untuk membersihkan luka pada wajah Rey dengan pergi begitu saja tanpa mendengarkan Rey yang memanggilnya.
"Apa sih bang Rey ngomong nya begitu, aku kan jadi malu." gerutu Latya kesal sekaligus malu.
Rey hanya tersenyum saja mendengar gerutuan Latya yang terdengar oleh nya, dengan kapas yang tadi Latya lempar ke arahnya.
"Ah gilaaaa kenapa gue jadi sering jahilin dia sih!" gumam nya tidak percaya menatap Latya yang menghilang masuk ke dalam rumah.
***
Sedangkan di tempat dimana Nisa dan Adam, mereka sungguh sangat kecewa dengan perbuatan anaknya nya itu. Adam dan Nisa masih tidak menyangka jika anaknya akan melakukan hal itu apalagi pada Latya, yang mereka anggap seperti anaknya sendiri dan Rey juga dia sudah menganggap Latya seperti adiknya sendiri karena mereka begitu dekat dari kecil ya walaupun Rey selalu membuat Latya menangis tapi dia selalu menjaga dan menyayangi nya.
"Ayah, lalu kita sekarang harus bagaimana?" tanya Nisa lembut.
"Ntahlah... yang pasti mereka harus segera di nikah kan, lebih cepat lebih baik." ujar Adam menghela nafasnya berat.
"Lalu bagaimana dengan Aris dan juga Via, apakah mereka akan setuju jika anak kita menikah?" tanya Nisa pada Adam, Nisa takut jika Aris dan juga Via tidak akan menerima usulan mereka.
"Ayah takut jika Aris dan juga Via akan marah pada kita sayang, kamu tahu kan bagaimana Aris menjaga anak gadisnya itu. Dan sekarang anak gadisnya hamil, dan pelaku nya adalah anak kita sendiri." sesal Adam pun semakin merasa bersalah. "Ayah benar-benar kecewa dan juga malu akan perbuatan anak kita, kita sudah gagal sayang dalam memberi pendidikan untuk Rey. Dan jangan sampai gagal kembali mendidik Rio." sambung nya.
"Iya aku juga begitu, itu yang aku takutkan." balas Nisa.
__ADS_1
"Besok, kamu undang Aris dan juga Via untuk datang kesini." titah Adam pada Nisa. Mereka semenjak dekat panggilan mereka pun tidak se formal dulu.
"Mereka harus tahu kejadian ini, dan kita harus merencanakan bagaimana baiknya untuk Rey dan juga Latya selanjutnya." ucap Adam serius menatap wajah Nisa. Dan Nisa pun mengangguk pelan mengiyakan apa yang di perintahkan Adam suaminya.