
Rey yang masih menatap wajah Latya yang menegang karena Maura melihat mereka tengah asyik menukar saliva yang saling menuntut.
"Maura bang Rey?" desah Latya dengan perasaan malu, takut dan juga merasa tidak enak.
Rey tersenyum, melihat akan perbuatannya menjadikan bibir istrinya itu menjadi merekah dan juga basah seraya mengusap bibir Latya dengan jari tangan pada bibir istrinya itu dengan lembut.
'Aku hampir tidak bisa mengendalikan diri pada istriku, untung saja Maura datang, kalau tidak, mungkin aku sudah mendapatkan apa yang aku mau, tapi kamu harus kuat Rey beberapa bulan lagi kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan.' batinnya masih menatap wajah Latya, masih dengan posisi Rey di atas tubuh Latya.
"Bang berat...!" rengek Latya saat Rey masih dengan nyaman menindih tubuh Latya.
Rey tersadar, ia segera bangkit dari posisi yang menurut ia merasa nyaman. Lalu duduk di samping Latya di pinggir ranjang. Napas yang tadi sempat naik dengan oktaf yang menegang tinggi pun berangsur tenang walaupun sesuatu yang di bawah sana begitu masih menegang.
"Ah aku malu sekali, selalu saja ketahuan! Bang Rey sih!" ucapnya sebal.
"Siapa yang duluan nyosor?!" goda Rey dengan mata sayu.
"Ih aku enggak ya!" elaknya.
"Bang gimana sama Maura dia lari begitu aja, pasti dia kaget banget melihat kita tadi." ucap Latya.
"Biarkan saja. Memang kenapa? Dia sudah dewasa. Dan dia nya aja kenapa kesini!" sahut Rey cuek seraya mengangkat kedua bahunya tidak peduli. Lalu pergi masuk ke dalam kamar mandi dengan cepat, dalam pikirannya saat ini bukan memikirkan perasaan Maura karena tidak ada gunanya, yang sekarang harus ia lakukan adalah menuntaskan keinginan nya yang tadi sempat tertunda dan memang harus ditunda sepertinya, dan sekarang berakhir bermain sendiri dulu agar si biang kerok bisa tidur dengan tenang. "Abang ke kamar mandi dulu, jangan ganggu!" ucapnya dengan tatapan tajam.
"Jangan ganggu? Memang mau ngapain sih!" Latya penasaran sampai Rey mengancam nya untuk tidak menggangu, ya kali mau mandi saja mesti ada ancaman seperti itu.
"Pokoknya jangan ganggu!" teriak nya seraya masuk ke dalam kamar mandi.
"Ih aneh." gerutu Latya polos.
brug... suara pintu yang di tutup secara cepat dan kasar lalu mengunci pintu kamar mandi itu.
Latya mengernyit melihat Rey suaminya sampai terburu-buru seperti itu. "Bang Rey mau buang air apa sampai buru-buru gitu." heran Latya melihatnya.
Sedangkan Maura yang sempat melihat adegan antara Rey dan Latya itu berlari ke arah dimana tantenya duduk bersama Nisa.
"Ada apa Maura?" tanya Rahma melihat Maura seperti terkejut dan juga terlihat seperti menangis setelah ia dari kamar Latya.
__ADS_1
"Aku gak apa-apa Tante, ayok kita pulang!" ajaknya dengan cepat seraya menarik tangan Tante nya itu dengan terburu-buru dan tanpa mengucap apapun pada Nisa yang menatapnya dengan heran.
"Nisa kita pulang ya. Maaf banget." teriak Rahma karena tangannya yang di tarik Maura membuat Rahma tidak bisa berpamitan pada Nisa dengan baik.
"Ok." balas Nisa cepat. "Kenapa dengan Maura? Seperti melihat hantu saja." gumam Nisa santai.
flash back off
"Nisa jadi bagaimana, kamu setuju kan dengan ideku?" tanya Rahma penuh semangat untuk menjodohkan Rey dengan Maura.
"Emh bagaimana ya." jawab Nisa merasa kelu. Rey kan sudah menikah dengan Latya walaupun pernikahan nya masih dirahasiakan tapi mereka sudah menikah sah secara agama.
"Ya aku gak akan maksa sih. Hehehe tapi apa salahnya jika kita mencoba." ujar Rahma masih kekeh.
Nisa hanya tersenyum menanggapi keinginan Rahma, karena Rey kan sudah menikah. Jika saja Rey belum menikah dengan Latya pun Nisa rasanya berat hati jika menjodohkan Rey dengan Maura. Apalagi dengan mas Adam dia sempat bicara jika Rey jangan terlalu dekat dengan Maura, ntah apa yang membuat mas Adam begitu melarangnya, apa karena Maura anak dari pak Rangga yang dulu sempat menyukainya, tapi Latya juga anaknya Aris, dimana Aris pun pernah membuat mas Adam begitu cemburu.
"Kita lihat saja nanti." balas Nisa dengan senyum manisnya agar Rahma tidak merasa kecewa.
"Rey belum pulang Nis, rumah sepi banget ini." ucap Rahma melihat di rumah Nisa begitu sepi.
Maura hanya diam saja menampilkan dengan wajah manisnya dengan malu-malu saat Rahma menyampaikan keinginannya untuk berbesan dengan Nisa. Untuk menghilangkan rasa canggung nya Maura pun berbicara pada Nisa. "Tante, Latya dimana ya? Aku ingin bertemu dengan nya, sekalian jenguk Latya." sambung Maura meminta ijin pada Nisa.
"Oh Latya ada di kamarnya, mungkin dia sedang istirahat." ucap Nisa.
"Emh boleh aku temui Latya tante?" ijin Maura.
"Ya silahkan Maura, Latya pasti senang bertemu dengan kamu, kalian bisa ngobrol. Kamar Latya di atas dekat jendela ya." ujar Nisa memberi tahu kamar yang di tempati oleh Latya.
Setelah Nisa mengijinkan Maura dan menjelaskan dimana kamar Latya, Maura pun dengan cepat menaiki tangga menuju kamar atas untuk bertemu dengan Latya di sana.
Namun sesampainya di kamar dimana Latya berada ia begitu terkejut melihat Rey ada di sana dan lebih terkejut lagi, Rey dan Latya sedang bermesraan dalam satu ruangan yang dinamakan kamar itu.
flash back on
"Ada apa Maura, kenapa kamu tidak berpamitan pada tante Nisa?" tanya Rahma pada Maura saat mereka di tengah perjalanan pulang. "Tante Nisa pasti menilai kamu sebagai anak perempuan yang tidak punya sopan santun." omel Rahma pada keponakannya itu.
__ADS_1
Maura hanya diam saja mendapatkan pertanyaan dan omelan dari tantenya itu dengan muka di tekuk kesal karena merasa sakit hati.
'Ada hubungan apa mereka ini? Kenapa mereka sampai berani melakukan hal seperti itu apalagi di rumah.' batin Maura tanpa memperdulikan Rahma yang sangat penasaran sekaligus kesal karena merasa di diamkan.
'Apa mereka pacaran? Sejak kapan mereka berpacaran.' desah Maura kesal mengingat Rey laki-laki yang saat ini membuat nya merasa bahagia sedang bercumbu dengan perempuan lain.
"Maura, Its ok?" tanya Rahma merasa heran melihat Maura seperti sangat begitu kesal.
Maura mendelikkan matanya pada Rahma kesal tantenya terus saja bertanya. Lalu seperdetik kemudian Maura menatap Rahma. "Tante. Tante tahu Latya? Ada hubungan apa Latya dengan Tante Nisa?" tanya Maura serius menatap tante Rahma.
"Latya? Emh tante Nisa bilang dia itu anak dari sahabatnya, Latya tinggal di rumah Tante Nisa karena dia sedang magang di sini." jelas Rahma. "Kenapa memangnya dengan Latya?" tanya Rahma heran Maura tiba-tiba menanyakan Latya, gadis cantik yang tinggal bersama Nisa sahabat nya.
Maura diam, dia belum bisa berbicara karena hatinya yang terlihat kesal membuat Rahma sebagai Tante merasa ada sesuatu yang terjadi di kamar saat Maura berniat bertemu dengan Latya.
"Maura ada sesuatu yang terjadi tadi? Atau kamu cemburu pada Latya karena dekat dengan keluarga Nisa dan juga Rey?" telisik Rahma menatap ke arah Maura yang diam saja.
"Tante tahu! Tadi aku lihat Rey sudah ada di rumah tapi kita gak sadar, dan aku juga lihat Rey dan Latya sedang berciuman bibir di dalam kamar Latya." ucap Maura menjelaskan apa yang terjadi tadi yang membuat dirinya begitu marah.
"What? Kamu serius Maura?" tanya Rahma dengan sangat terkejut.
"Iya, makanya aku syok. Mereka itu ada hubungan apa sampai mereka berani berciuman dan bercumbu seperti itu di dalam kamar!" kesal Maura mengingat kejadian tadi.
"Nisa harus tahu kelakuan Rey dan Latya, Tante harus bicara sama Nisa, jangan sampai anaknya melakukan zinah, apalagi di dalam rumah nya." Rahma menjadi tidak respek pada Rey.
"Aku yakin jika Rey tidak akan memulai melakukan hal seperti itu, pasti Latya yang menggoda Rey terlebih dahulu." Maura bicara dengan nada sedikit tidak suka pada Latya.
Rahma menghela napas nya panjang ia tidak tahu mana yang menggoda dan mana yang tergoda.
"Lalu kamu sekarang mau bagaimana? Kamu masih memiliki perasaan pada Rey setelah apa yang kamu lihat tadi?" tanya Rahma meyakinkan Maura.
Maura menatap Tante nya sekilas. Lalu menghirup napas nya panjang. "Aku cinta sama Rey tante, Rey laki-laki yang membuat aku bahagia di saat aku sedang terpuruk seperti ini, di saat aku kehilangan papa, laki-laki yang sangat aku sayangi." lirih Maura dengan mata yang berkaca-kaca. "Dan aku yakin jika Rey adalah laki-laki baik dan bertanggung jawab, dewasa dan penuh perhatian, walaupun sifat Rey yang tidak peka tapi aku tahu Rey laki-laki yang mampu menjaga perasaan hati perempuan." puji Maura dengan raut yang terlihat sangat memuja.
"Kamu yakin Maura?" tanya Rahma menatap Maura dengan serius.
Maura mengangguk pasti. "Iya aku sangat yakin, aku cinta Rey." jawabnya mantap.
__ADS_1