
Nisa dan Via masih asyik berteleponan, sedangkan Rey curi-curi pandang ke arah dimana Latya terlihat, kini posisi Latya duduk di samping mertuanya namun terlihat dari layar.
Tersenyum melihat istrinya sedang menikmati es krim di tangan nya, dan terlihat cuek padanya, padahal dia tahu jika Rey masih di samping bunda Nisa.
"Bunda Via, boleh Rey bicara sebentar pada Latya? Tolong dong camera nya arahin ke wajah Latya.
Latya cuek tapi pendengaran nya ia tajam kan karena ingin tahu juga ibu dan mertuanya membicarakan apa, tapi saat mendengar permintaan Rey dia langsung keberatan.
"Gak mau!" tolak nya cepat seraya mendorong handphone yang di pegang oleh Via dan menutupi layar itu dengan tangannya.
"Latya suami kamu mau bicara, ini!" ucap Via kembali mengarahkan camera itu. "Gak mau!" ucapnya seraya bangkit dari kursi dan pergi menuju kamarnya, menaiki tangga dengan cepat.
"Latya jangan lari-lari kamu, bahaya!" omel bunda Via melihat tingkah laku Latya, bagaimana jika dia jatuh dan terjadi apa-apa padanya dan juga janin yang sekarang tumbuh di rahimnya.
Via menggelengkan-gelengkan kepalanya. "Dasar anak kecil!" gerutu nya kesal.
"Maaf ya Rey Latya malah masuk kamar, mungkin dia malu dan pengen telponan di kamarnya. Udah kamu telpon aja ke no handphone nya, dia suka begitu!" gerutu nya.
"Ya udah Bun, Rey ke kamar dulu ya." pamit Rey pada Nisa dan juga Via.
Dengan langkah yang gontai karena ia lemas, menaiki tangga dan juga kecewa karena selalu di abaikan oleh istrinya itu membuat Rey tidak semangat.
Masuk ke dalam kamar ia pun mencari handphone nya untuk mencoba menelpon Latya siapa tahu dia menjawab telepon nya.
Panggilan itu berulang-ulang untuk menelpon Latya, namun tidak di jawab. Rey pun mengirim pesan pada Latya. "Yang angkat dong telponnya!"
"Kamu gak kasihan sama Abang, aku sakit lho ini!" pesan pun terkirim.
Latya menarik nafasnya dalam-dalam membaca pesan dari suaminya itu. Lalu ia pun menekan tombol hijau itu. Camera Latya arahkan pada boneka yang ada di kamarnya, otomatis Rey hanya melihat gambar boneka dari pada istrinya, padahal Rey sudah sangat semangat.
"Assalamualaikum sayang... eh gambar nya boneka sih, wajah kamu dong yang!" ucapnya dengan nada kecewa.
"Aku gak mau lihat Abang!" sahut Latya sebal.
"Kok gitu sih, aku lagi sakit lho yang, aku butuh kasih sayang." ucapnya manja.
"Idih geli deh aku dengar Abang begitu!" jawab nya.
"Hehe memang nya gak boleh manja sama istri sendiri?" tanya Rey pura-pura merajuk.
"Istri? Masih anggap aku istri?!" kesal nya.
"Lho kok gitu sih yang ngomong nya, gak boleh gitu, Abang kangen tahu yang." rengek nya.
"Abang sakit tuh di elus kek di sayang kek di usap-usap kek. Jangan galak-galak begitu." ucapnya selembut mungkin.
"Minta aja di elus sama pacar kamu tuh, si Maura!" kesal Latya.
"Oooee. Yang jangan ngomongin dia ah bikin Abang mual pengen muntah." jelas nya seraya memegangi perut nya mulai mual.
"Kenapa?" Latya mulai kepo dengan ucapan Rey. Latya pun mengelus perut nya rata itu.
"Gak tahu kenapa, Abang suka muntah kalau deket dia." jawab nya jujur.
"Hahaha pacar Abang nya bau kali." goda Latya.
"Ih dia bukan pacar Abang!" kesal Rey.
"Bukan pacar kok di peluk terus!" sindir Latya.
"Siapa ah Abang gak pernah meluk." ucapnya sebal. "Yang lihat wajah kamu dong, biar Abang gak kangen terus. Biar sakit nya cepat sembuh." pintanya lembut.
"Manja deh kamu bang!" pekiknya namun Latya juga sebenarnya merindukan suaminya itu. Lalu perlahan Latya pun menampilkan wajah dan sepotong tubuh nya di depan Rey.
"Owww amazing... Kalau ini sih gak bakal mengobati rasa rindu tapi malah bikin aku rindu dan frustasi karena tersiksa." komentar Rey saat ia melihat penampilan Latya yang hanya menggunakan tank top yang membuat nya tergoda.
"Maksud Abang apa? Yang bikin tersiksa itu Abang, karena udah nyiksa perasaan ku!" tanya besar Latya tidak mengerti.
"Lihat dong penampilan kamu, sengaja ya buat menggoda ku!" goda Rey melihat penampilan yang ia lihat.
__ADS_1
Dengan refleks Latya pun menunduk ke bawah, melihat pakaian nya yang ia pakai, dia tidak sadar jika dia memakai pakaian itu.
Latya buru-buru menarik selimut yang ada di dekatnya lalu membungkus nya dengan cepat. "Ih siapa yang goda-goda." cebik Latya sebal.
"Hehehe aku jadi traveling ini!" serunya. "Mana udah lama puasa lagi, buka puasa sama siapa ya?" goda Rey pada Latya yang cemberut.
"Awas aja ya kalau berani!" ucap Latya ketus. "Ingat ya bang kalau kamu belum selesaikan masalah kamu dengan Maura, aku juga bakal cari cowok lain, yang lebih tampan dan mengerti aku!" ancamnya. "Dan sebelum masalah kamu selesai jangan pernah bertemu dengan aku dan jangan harap bertemu dengan anak kamu nantinya!" ancamnya tegas dan Tut telpon pun ia matikan secara kesal.
"Sayang...." panggil Rey menatap layar handphone.
"Jangan marah dong yang, aku juga lagi berusaha." kirimnya, Rey belum sadar jika Latya tadi mengatakan anak.
"Yang...
"Yang...
"Latya sayang...
***
Selama telponan kemarin Latya benar-benar kesal pada Rey yang tidak tegas, dan selama itu pun Latya tidak pernah membalas atau pun mengirimkan pesan pada Rey membuat Rey semakin kalang kabut, ia jadi mengingat ancaman Latya yang akan mencari laki-laki lain.
"Aaaah." teriak Rey mengacak rambut dengan kasar, ia tidak sadar berteriak di kantin kantor.
"Woy elu Kenapa Rey?" teriak Andre panik melihatnya sahabatnya itu berteriak-teriak seperti orang yang frustasi.
"Gue kesal!" sahut nya dengan menahan nafas yang tersengal-sengal.
"Kesal sama siapa sih elu?" tanya Andre heran.
"Sama hidup gue sendiri!" jawabnya cepat seraya pergi meninggalkan Andre yang sedang terbengong melihat kelakuannya.
"Ada apa dengan dia?" batin nya penuh tanya.
Rey masuk ke dalam toilet, mencuci mukanya, agar dia bisa lebih tenang. Lalu ia menatap ke arah cermin dan memandang dirinya yang di sana.
"Bodoh kamu Rey!" umpat nya.
"Untuk apa Rey, sia-sia hidup elu!" kesalnya lagi.
Rey pun meraih handphone di sakunya dan mengirimkan sebuah pesan pada Maura.
"Maura bisa kita bertemu sekarang?"
Tak lama pesan itu pun Maura balas. "Bisa Rey. Dimana?"
"Cafe coffee di dekat kantor ku."
"Ok."
"Aku harus bilang pada Maura agar dia mengerti kalau aku tidak bisa terus berpura-pura bahagia dengan nya." gumam Rey mantap. "Apapun yang terjadi dan apapun yang akan Maura lakukan." tambah nya.
Rey menghela nafasnya panjang. "Rey kamu harus tegas pada Maura supaya Latya dan kamu bisa tenang dalam rumah tangga mu." ucapnya meyakinkan diri.
Rey pun pergi menuju cafe coffee setelah Maura setuju bertemu disana.
Datang lebih dulu, menunggu Maura yang belum sampai. Rey sudah memakai masker dua lapis dengan mengoleskan aroma mentol pada masker itu, ia takut jika bertemu dengan Maura akan merasa mual dan muntah. Sebenarnya Rey merasa tidak enak karena setiap bertemu dengan Maura selalu saja ingin muntah, kasihan juga dengan perasaaan Maura karena Rey pun tidak mengerti dengan keadaannya saat ini.
Tak lama Maura datang dengan wajah yang ceria karena ia merasa senang Rey mengajak nya untuk bertemu di cafe, jarang sekali Rey mengajak nya untuk pergi apalagi untuk bertemu.
"Hai Rey. Sudah lama?" tanyanya seraya duduk di kursi di depan Rey duduk.
"Emh lumayan." balas nya.
"Kamu masih sakit? Masih mual?" tanya Maura.
"Ya masih." sahut nya cepat.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu." ujar Rey cepat tidak mau berbasa-basi lagi.
__ADS_1
"Bicara apa Rey, sepertinya serius?!" tanya Maura.
"Aku mau tegas sama kamu Maura, aku tidak bisa berpura-pura lagi. Kamu tahu kan aku dan Latya tidak bisa di pisahkan, tapi karena adanya kamu dalam kehidupan kami, rumah tangga ku jadi merenggang seperti ini. Jadi. aku mohon sama kamu, lepaskan aku, aku ingin tenang menjalani hidup berumah tangga dengan Latya." jelas Rey tanpa jeda.
Maura terdiam ntah apa yang di pikirannya saat ini. Maura menunduk mendengar perkataan Rey yang begitu menyakitkan.
Maura pun menatap Rey dengan matanya yang berkaca-kaca. Rey pun berusaha untuk tega pada Maura.
"Kamu cantik Maura, akan sia-sia jika kamu terus berharap padaku. Karena aku tidak akan pernah mencintai kamu, aku dan Latya saling mencintai dan aku sudah pernah jelaskan sama kamu kalau kami sudah menikah." sambung Rey karena Maura masih diam.
Maura semakin terpukul dengan pengakuan Rey merasa sakit di dalam hatinya. Namun ia pun memang merasakan jika Rey memang tidak mencintainya.
"Rey. Aku tahu kamu tidak mencintaiku, aku memang bodoh dan sudah jahat karena mengganggu hubungan kamu dan juga Latya. Aku akui aku memang sudah salah memaksa kamu untuk mencintai aku. Tadinya aku pikir kamu akan jatuh hati padaku karena aku mencintaimu dengan ketulusanku, tapi ternyata cinta kamu pada Latya lebih besar karena kamu tidak sedikitpun memiliki perasaan padaku." jelas Maura mengakui kesalahannya.
"Aku salah, aku memaksakan kamu, ya raga kamu memang dekat dengan ku tapi hati kamu jauh untuk aku gapai." lirih Maura sendu.
"Jadi apa keputusan mu Maura?" tanya Rey serius.
"Aku akan melepaskan kamu, dan mencoba untuk melupakan kamu, walaupun itu tidak akan mudah karena aku sekali nyaman dengan satu orang maka itu akan sulit untuk aku, tapi aku rela aku sakit asalkan kamu bahagia dengan Latya." ucap Maura mantap.
Rey tersenyum. "Terima kasih Maura, aku akan mendoakan kamu supaya kamu juga selalu bahagia walau tanpa aku, aku yakin akan ada seseorang yang mencintai kamu dengan tulus, lebih baik di cintai dari pada mencintai." ujar Rey menguatkan Maura.
"Ya kamu benar, terlalu sakit mencintai dengan bertepuk sebelah tangan, terasa sangat menyakitkan bagi ku." ucap Maura sendu.
"Maaf Maura, aku minta maaf. Tapi jujur itu lebih baik walaupun menyakitkan." sambung Rey dengan perasaan bersalah nya.
Maura tersenyum lega. "Tidak apa-apa Rey, aku yang harus meminta maaf sama kamu, begitu banyak hal bodoh yang aku lakukan untuk bisa mendapatkan cinta kamu, aku malu Rey apalagi dengan Latya sungguh aku malu." ucapnya dengan tersenyum getir.
"Latya akan mengerti, tidak usah malu, aku akan jelaskan pada Latya kalau kamu sudah mau berubah. Terima kasih Maura." ucap Rey dengan tulus.
"Ya aku sadar sekarang, maaf Rey aku baru menyadari hal ini setelah aku menyakiti hati kamu dan juga Latya. Aku pernah bermimpi tentang papaku, di dalam mimpi itu papa ku seperti marah padaku, papa bilang jangan menyakiti perasaan orang karena papa tidak menyukai itu. Setelah aku pikir-pikir, mungkin kalian lah yang aku sakiti." jelas Maura merasa sedih mengingat mimpi nya.
Rey tersenyum lega. "Ya tidak apa-apa, semua sudah terjadi, kita buka lembaran baru saja, aku yakin kamu akan menemui laki-laki yang akan mencintaimu dengan tulus." ucap Rey.
"Rey apa aku boleh memeluk kamu? Sebagai sahabat." ucapnya.
Rey tersenyum tipis lalu merentangkan kedua tangannya menyambut Maura untuk memeluknya.
Maura pun dengan cepat menghampiri ke arah Rey dan memeluknya dengan erat.
Rey menahan rasa mual nya yang begitu terasa tidak enak di dalam perutnya ketika memeluk Maura.
"Apa kamu mual aku memeluk kamu?" tanyanya dengan masih memeluk Rey.
"Hehe iya. Tidak apa-apa aku akan menahannya." ujar Rey agar Maura tidak sakit hati.
Maura melepaskan pelukannya pada Rey. "Aku heran dengan penyakit kamu, kenapa dekat dengan aku kamu mual dan muntah, apa sejijik itu dekat dengan ku!" cebik nya merasa sakit hati.
"Aku juga tidak tahu Maura, mungkin aku tidak kuat dekat aroma parfum kamu." kilah nya tidak mengerti.
"Maaf ya." ucap Rey.
"Tidak apa-apa sepertinya Latya hamil tapi kamu yang mual." celetuk Maura. "Ya sudah aku pulang ya, tolong sampaikan maaf aku pada Latya." pinta nya.
Rey tersenyum lega. "Ok, maaf aku tidak bisa mengantarkan kamu pulang, aku masih bertugas." terang Rey.
"Its ok no problem. Aku bisa pulang sendiri. See you Rey." ucapnya berlalu pergi.
Rey tersenyum lega. "Akhirnya masalah aku dengan Maura selesai, hah kenapa tidak dari kemarin aku bicara seperti ini pada Maura." batinnya merasa lega. "Latya tunggu Abang! Latya i am coming..." batin nya senang dengan tersungging senyuman di bibir nya.
"Kenapa sih semua orang menyangkut pautkan rasa mual dan muntah ku hubungan dengan kehamilan Latya, padahal aku yang tahu jika Latya tidak mungkin hamil karena obat penunda." gumam Rey.
Rey kembali ke kantor setelah ia dari cafe dan memastikan jika Maura sudah mendapatkan alat transportasi.
Dengan senyum yang mengembang membuat Andre yang melihat Rey seperti itu bergidik ngeri.
"Elu sehat Rey?" tanya Andre langsung menepuk punggung Rey.
Rey mengerutkan keningnya. "Gue sehat. Kenapa?" tanyanya heran tiba-tiba Andre menanyakan hal itu padanya.
__ADS_1
"Tadi elu marah-marah sampai teriak-teriak. Sekarang elu senyum-senyum kayak orang gila." ujarnya aneh.
"Gue lagi seneng. Udah jangan ganggu hidup gue kalau hidup elu gak mau di ganggu!" ujarnya seraya pergi.