
"Hallo mom." sapa anak muda itu mencium pipi Rahma dengan lembut serta mengusap punggung ibunya itu.
Rahma menatap anak muda itu. "Kamu baru sampai?" tanyanya.
Dia mengangguk. "Baru saja." sahut nya.
"Oh ya Nisa kenalkan, ini anak ku semata wayang, dia baru saja datang kesini." ujar Rahma memperkenalkan anaknya pada Nisa sahabat nya.
"Dan Faris, ini tante Nisa dia sahabat momy waktu kuliah." ucap Rahma memperkenalkan sahabat nya pada Faris.
"Faris." ucapnya memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya pada Nisa.
Nisa menyambut uluran tangan Faris. "Wah kamu sudah besar ya, ganteng lagi." puji Nisa dengan tersenyum.
Faris tersenyum. "Makasih tante." balas nya.
"Dia masih SMA kalau di Jakarta, nanti jika dia sudah lulus aku akan bawa dia untuk tinggal di sini." ucap Rahma.
"Oh gitu, ya baguslah, jadi Maura akan ada yang menemani di sini." balas Nisa.
"Oh ya Ma aku gak bisa lama-lama, Rey mau berangkat tugas, dan Latya dia akan pergi magang. Sorry ya aku gak bisa lama-lama nememin kamu." tutur nya tidak enak namun ia ingat tadi suaminya yang melarang berlama-lama.
"Iya Nisa gak apa-apa, makasih ya sudah datang ke sini." ujar Rahma dengan senyum yang di paksakan.
"Rey juga pamit ya tante, Maura." ucapnya dan di angguki oleh Rahma dan Maura hanya tersenyum tipis ia merasa kecewa karena Rey akan pergi namun dia sadar jika dirinya tidak bisa memaksa atau meminta Rey untuk selalu bersamanya.
Maura menatap kepergian Rey dan juga Nisa, semakin menjauh dan semakin tidak terlihat dalam hatinya ia berharap bisa bertemu lagi dengan Rey dan bisa dekat dengan Rey. Maura menatap Rey kemana ia pergi sampai benar-benar tidak terlihat, dengan wajah ekspresi sedihnya.
Rahma yang melihat keponakannya itu menatap kepergian Rey seperti itu membuat Rahma semakin yakin jika Maura memiliki rasa kepada Rey.
*
*
*
Di depan mobil, Latya dengan menunggu dengan wajahnya yang di tekuk kesal. "Huh lama banget di dalam!" gerutu Latya kesal.
Tak lama Rey dan juga Nisa pun datang menghampiri nya.
"Sayang kenapa kamu malah tunggu di sini? Tadi bunda cari kamu di dalam." tanya Nisa menatap Latya.
Latya tersenyum kecut. "Udah selesai Bun? Maaf tadi aku tunggu di sini, di dalam tadi gerah." kilah Latya.
__ADS_1
"Hemm sudah, ayok kita pulang." ajaknya, Nisa tahu jika menantu nya itu cemburu melihat Rey yang di peluk oleh Maura tadi, maka dia tidak mempermasalahkan Latya berada di luar.
"Rey antar bunda ke depan saja ya, nanti bunda bisa naik taksi di depan." ujar Nisa.
"Kenapa, Rey antar bunda ke rumah saja." tawar Rey.
"Ini sudah siang, kalian harus berangkat kan? Sudah lah antar bunda sampai depan saja." pinta Nisa tak ingin di bantah.
Beberapa saat kemudian, setelah turun dan naik taksi, akhirnya Rey melajukan kendaraannya menuju kantor kepolisian.
Mereka di dalam mobil saling diam, Rey dan Latya tidak ada yang memulai pembicaraan. Mereka sibuk dengan pikirannya mereka masing-masing.
Rey melirik sekilas ke arah Latya yang terlihat cemberut itu. Rey menghela nafasnya panjang.
"Kamu kenapa?" tanyanya datar.
Latya berdehem. "Gak apa-apa." sahutnya ketus.
Mereka pun terdiam kembali, Rey bingung harus bicara apa untuk memulai nya.
'Beneran gak peka ini orang!' batin Latya jengah.
'Minta maaf kek, rayu kek. Heh ini malah diam aja. Apa bang Rey merasa senang karena di peluk Maura, senyaman itu kah sampai dia lupa kalau di samping nya itu ada seorang istri yang tersakiti.' batinnya lagi.
'Mana mungkin bang Rey cinta sama kamu Latya, sebagai istri saja kamu tidak pernah dia sentuh berarti dia memang tidak menganggap pernikahan ini sungguhan.'
'Eh hati kenapa elu jadi mikir ke situ sih, emang elu mau apa kalau laki elu minta keperawanan elu!' batin Latya.
"Enggak!" teriak Latya tiba-tiba membuat Rey terkejut.
"Kenapa kamu?" tanya Rey khawatir.
"Emh enggak gak apa-apa." sahutnya cepat.
"Terus kenapa kamu tadi teriak-teriak, kesambet?" tanya Rey menggoda Latya dengan senyum manisnya.
Latya tidak menjawab guyonan Rey. Dia mendengus malas menanggapi nya karena masih kesal saja rasa nya. Rey yang tahu jika Latya tidak baik-baik saja pun angkat bicara.
"Kamu cemburu?" tanyanya langsung.
"Aku? Cemburu?" tanyanya dengan senyum sinis. "Untuk apa? Karena hal apa?" tanyanya penuh sarkas.
Bukan itu yang ingin ia dengar oleh Rey saat ini, ia ingin mendengar jika Latya menjawab iya aku cemburu tapi ternyata tidak, membuat Rey merasa kecewa. Rey menghela nafasnya berat.
__ADS_1
"Apa kamu tidak cemburu melihat suami kamu di peluk oleh perempuan lain?" tanyanya, Rey ingin tahu bagaimana reaksi Latya mendapatkan pertanyaan langsung itu padanya.
"Enggak!" jawab nya bohong.
"Enggak? Kamu yakin?" tanya Rey lagi.
"Enggak! Untuk apa aku cemburu!" kilah nya lagi.
Mendengar jawabannya seperti itu kekecewaan Rey semakin ia rasakan. Lalu dengan cepat ia menepikan kendaraan ke pinggir jalanan dan berhenti di sana membuat Latya heran.
"Kenapa berhenti? Ini masih jauh!" ucap Latya ketus.
Rey menatap ke arah depan jalanan dengan raut muka yang sulit di artikan.
"Bang Rey kenapa sih berhenti di sini?" tanya Latya semua kesal karena Rey hanya diam saja.
Rey menatap Latya dengan tatapan seperti marah dan kecewa. Lalu Rey mendekat ke wajah Latya, dengan cepat ia mencium bibir Latya dengan rakus dan kuat membuat Latya yang tidak siap di serang seperti itu sampai tidak bernafas. Dengan kuat Latya mendorong tubuh Rey yang sedang kesetanan itu namun Rey semakin menekan kepala Latya menahannya agar ciuman itu tidak lepas.
"Emmmm." Latya terus mendorong tubuh Rey.
"Emmmm Mbang mrey." ucapnya.
Rey melepaskan ciumannya itu saat mereka memang tidak bisa bernafas. Setelah Rey melepaskan nya Latya langsung menghirup nafas panjang dengan menatap wajah Rey yang datar itu dengan kesal.
Lalu Rey kembali menatap wajah Latya dan mendekatkan wajahnya lagi, Latya mundur dia tidak mau adegan ciuman itu kembali terjadi lagi. Namun Rey tidak gentar ia terus saja maju membuat Latya menjadi semakin panik.
"Bang jangan, ayok kita jalan saja." cegah Latya takut, ia benar-benar takut dengan bang Rey nya yang seperti itu. Karena tanpa ijin dan tanpa banyak bicara Rey melakukan hal itu padanya sungguh tidak mengerti. "Ini di jalan bang Rey apa bang Rey gak malu nanti ada orang yang melihat." gagap Latya berbicara karena Rey semakin terus mendekati nya.
Saat Rey sudah dekat dengan wajah Latya, bahkan nafas hangat mereka pun sampai terasa. Rey menatap wajah panik dan takut nya Latya akan perbuatannya tadi yang cukup membuat Latya ketakutan.
Rey terus mendekat, Latya semakin mundur dan terpojok di pintu mobil membuat Latya tertahan untuk menghindar. Rey tersenyum merasa menang dan cup ciuman itu mendarat kembali pada bibir Latya, namun saat ini Rey melakukan nya dengan lembut, tanpa sadar membuat Latya pun ikut menikmati nya. Ciuman itu semakin mendalam. Naluri laki-laki dewasa nya pun keluar ia semakin tidak bisa mengendalikan dirinya saat mencium istrinya itu.
Keinginannya dari kemarin yang ia tahan pun kini sudah ia rasakan, bukan Rey tidak mau menyentuh istrinya itu, namun banyak pertimbangan yang Rey pikirkan. Rey mau melakukannya saat mereka sudah bisa menikah secara resmi agar semua nya bisa dengan tenang menjalankan hubungan suami-istri seperti yang lainnya dimana mereka tidak hanya sah secara agama namun secara negara dan juga kantor dinas. Tinggal menunggu beberapa bulan lagi untuk melakukan hal itu.
Rey melepaskan ciumannya itu lalu menatap wajah Latya yang terlihat memerah. Rey tersenyum karena ciuman mereka sama-sama menikmati, membuat Latya semakin malu dan salah tingkah di buatnya.
"Udah bang ayok jalan! Kita bisa terlambat." ucapnya mengalihkan perhatian Rey.
Rey tersenyum menatap wajah cantik istrinya itu, lalu mengusap bibir Latya dengan lembut, karena lipstik yang istrinya pakai jadi berantakan karena ulahnya. Bibir istrinya itu semakin terlihat menggoda saat tidak memakai lipstik karena terlihat merah alami. Latya pun refleks mengikuti apa yang di lakukan suaminya itu dan mengeluarkan cermin di dalam tas yang ia bawa lalu mengambil lipstik di dalamnya.
Rey menahan kegiatan istrinya itu. "Sudah tidak usah memakai lipstik lagi." cegah nya dengan senyum tipisnya seraya memasukkan kembali lipstik itu ke dalam tas istrinya.
Latya menurut saja toh itu cuma lipstik untuk melembabkan bibir nya saja. Latya kini menjadi salah tingkah dia bingung apa yang di pikirkan suaminya itu. Latya diam saja selama perjalanan menuju tempat magang nya itu.
__ADS_1
Rasa kesal, malu dan bingung kini ia rasakan. Kenapa bang Rey nya itu melakukan hal itu apa dia sudah mulai jatuh cinta padanya tapi kenapa dia tidak pernah mengungkapkan jika dia mencintai nya. Kata l love you selama ini yang Latya inginkan terlontar dari bibir suaminya itu.