
"Assalamualaikum sayang lagi apa?" sapa Rey di dalam telepon video call.
Ya Rey dan Latya mau tidak mau harus LDR-an karena kegiatan mereka yang berbeda kota.
"Wa'alaikumussalam bang. Aku lagi di kamar aja, ngerjain tugas seperti biasa." jawab Latya apa adanya.
"Belum selesai juga? Kapan kamu wisudaan?" tanya Rey ingin tahu.
"Beberapa bulan lagi bang, kenapa?" tanya Latya dengan muka cueknya.
"Emh kamu lupa ya,. sebentar lagi kita kan nikah jadi kamu harus persiapkan diri kamu." jelas Rey.
Latya menghirup nafas nya dalam-dalam. "Memang Abang mau kita nikah aku udah hamil besar? Apa kata orang nanti?" ucap Latya meyakinkan.
"Gak apa-apa, acara nikahan kan cuma sekali seumur hidup yang, apa salahnya kita harus meresmikan pernikahan kita." terang Rey kekeh.
"Tapi kok aku mulai takut ya." ucap Latya lemas
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Rey penasaran serta meninggalkan kerutan di keningnya.
"Aku takut nanti tes, apalagi virgin test, kalau itu jadi masalah bagaimana?" tanya Latya terlihat sedikit tidak bersemangat.
"Kamu tenang aja, masalah itu Abang udah yakin 100% kalau kamu virgin, kan Abang yang udah tes nya." goda Rey di tengah kebimbangan yang di rasakan Latya.
"Ih Abang malah ngeguyon deh!" sebal Latya.
"Siapa yang guyon sih, kan memang benar kamu tuh udah lulus tes kevirginan sama Abang, kamu lupa?" Rey mengingatkan nya pada kejadian mereka pertama kalinya melakukan hubungan dan itu membuat wajah Latya memerah seketika karena malu hal itu di bahas lagi.
"Udah ah jangan bahas itu." balas Latya gugup.
Rey tersenyum. "Kenapa?" Rey pura-pura tidak mengerti.
"Malu ah." balas Latya.
"Hahaha, ini ni yang Abang suka sama kamu perempuan yang masih memiliki rasa malu, padahal Abang suami kamu masih malu aja." goda Rey membuat Latya mendelikkan kedua matanya.
"Ya iyalah bang aku malu bahas begituan!"
"Hahaha iya-iya maaf ya mommy nya anak ku..." goda Rey. "Kapan nih kamu ke Jakarta, Abang kangen ini?" tanya Rey.
"Aku masih sibuk bang aku belum bisa ke Jakarta. Memang harus ya ke Jakarta?" tanya Latya.
"Ya harus lah yang, kita kan harus nikah kantor, Abang pengen cepat selesai dan kita sudah sah menjadi suami istri, jadi pas kamu lahiran nanti kita sudah gak di sulitkan dalam surat menyurat. Ya walaupun sepertinya kita akan sulit juga soal data kelahiran anak kita." jelas Rey serius dan Latya pun mengerti apa maksud Rey.
"Iya seharusnya kita bisa menahan dulu, agar aku gak hamil dulu, tapi ya mau gimana lagi aku udah hamil karena keteledoran aku." sendu Latya berucap.
"Abang gak nyesel kok kamu hamil, malah Abang senang sekali, hanya saja pekerjaan Abang lah yang mempersulit semua itu, walaupun anak kita bukan hasil di luar nikah, ya mungkin akan sedikit di permainkan dalam isi data nya nanti supaya tidak jadi masalah ke depannya." ucap Rey menjelaskan. "Kamu tenang saja masalah itu Abang yang urus!" sambung nya menenangkan.
Latya mengangguk lalu tersenyum. "Semoga tidak ada masalah ya bang, aku kok malah khawatir." lirih Latya.
"Tenang saja, aku akan meminta ayah Adam untuk membantu Abang nanti." ucapnya meyakinkan. "Udah kita tutup dulu ya, Abang harus berangkat ada panggilan urgent." ucapnya.
"Iya." ucap Latya terdengar sedih.
"Jangan sedih gitu dong sayang, nanti Abang telepon kamu lagi ya. Assalamualaikum sayang Miss you. Dadah." Tut panggilan itu pun terputus.
"Wa'alaikumussalam." jawab Latya masih menatap layar handphone nya itu.
"Semoga semuanya akan baik-baik saja." gumam Latya penuh harap.
*
*
*
"Alhamdulillah ya akhirnya selesai juga." ucap Rey setelah beberapa saat kemudian saat mereka menyelesaikan beberapa keperluan untuk syarat pernikahan yang mereka ajukan.
"Akhirnya kita sah sayang, lihat akte nikah kita dan surat-surat ini!" tunjuk Rey memperlihatkan perlengkapan semua yang berhubungan dengan pernikahan mereka.
"Ya semua nya lancar ya, aku sempet deg degan waktu nikah dinas kemarin, aku takut kalau aku gak bisa nikah sama Abang gara-gara ada yang kurang dan ada yang tidak aku penuhi syarat nya." ucap Latya lega.
Rey menatap pada wajah Latya lalu tersenyum. "Takut banget ya gak bisa nikah sama Abang?" godanya. "Secinta itu ya kamu sama aku?" goda nya lagi.
Latya mendelikkan kedua matanya dengan jengah mendengar kepedean suaminya itu tapi ya walaupun itu benar namun tetap saja Latya sebal mendengar nya.
"Ya kalau aku gak nikah sama Abang lalu anak yang di dalam perut aku bagaimana nantinya, lahir tanpa bapak." jelas Latya ketus.
"Ya bapak nya tetap aku lah, kan Abang yang goyang nya juga, sampai jadi begitu!" ucapnya cepat.
"Ihhhh." balas Latya seraya mencubit perut six pack nya sedikit membuat Rey mengaduh kesakitan.
__ADS_1
"Awwww sakit, sakit, sakit." teriak nya seraya mencoba menepis tangan istrinya yang lentik dan berkuku itu yang sedang mencubit perutnya.
"Kdrt kamu yang!" kesal Rey seraya mengusap-usap perutnya yang terasa panas.
"Habisnya Abang ngomong gak di saring, aku kan masih sekolah hahaha." Latya malah tergelak tawa nya renyah padahal suaminya kesal.
"Sekolah! Ya masih sekolah tapi goyangan nya udah hot." sinis Rey.
"Hahaha kan Abang yang ajarin aku begitu, ya abang harus siap aku membalas Budi." ucap Latya enteng.
"Huh dasar, tapi Abang suka hahahaha." Rey pun jadi ikut bar-bar seperti Latya yang masih labil. "Kapan mau balas Budi nya?" goda Rey menagih.
"Ajarin itu yang ikhlas dan jangan pamrih begitu pake minta balas Budi segala huh!"
"Ya Abang kan minta hak Abang sebagai orang yang berjasa." balas nya tak mau kalah.
"Serah Abang ah." Latya malas menanggapi.
"Idih kalah kamu!" ucap Rey merasa menang.
"Sayang kira-kira acara resepsi kita mau kapan dan dimana?" tanya Rey serius.
"Memang perlu ya? Apa penting juga?" tanya Latya.
"Kalau menurut Abang sih perlu walaupun tidak penting." jawabnya.
"Apa perlunya?" tanya Latya.
"Supaya semua orang tahu kalau kamu istri nya Abang Rey." jawab nya dengan tersenyum bangga.
"Tapi aku masih sibuk, terus anak kamu ini kan semakin tumbuh besar di perut aku." jelas Latya merasa keberatan.
"Gampang kita adakan acaranya saat kamu sudah lulus kuliah dan anak kita lahir. Bagaimana?" tanya Rey menawarkan.
"Apa gak sayang sama dana yang akan kita keluarkan?" Latya masih dalam keberatan.
"Tidak, Abang sudah siapkan." balas Rey santai.
"Emhh kita lihat saja nanti ya, apa ada acara resepsi atau tidak usah." terang Latya yang membuat Rey terlihat kecewa.
"Kok gitu sih yang?"
Rey menghela nafasnya panjang. "Ok lah."
"Ya sudah kamu mau makan apa dan dimana? Mumpung kamu lagi di Jakarta jadi apapun yang kamu mau akan Abang penuhi." tawar nya.
"Seriusan?" tanyanya memastikan dan Rey mengangguk mengiyakan.
"Kalau aku mau nikah lagi gimana?" tanya Latya bercanda.
Rey yang semula dengan bibir sumringah menawarkan pada Latya langsung cemberut kesal mendengar permintaan aneh istrinya itu. "Silahkan kalau kamu mau aku bunuh laki-laki yang akan jadi suami kamu itu!" ancamnya terdengar geram.
"Wisss serem ah aku dengar nya ha-ha-ha." Latya malah semakin menggoda kekesalan suaminya itu.
"Sebelum dia kamu jadikan suami Abang yang akan jadikan dia mayat!" kesalnya.
"Hahaha serius amat sih bang, aku kan cuma bercanda." ucap Latya sedikit takut melihat ekspresi suaminya itu, tidak menyangka Latya jika suami nya lebih terlihat dingin dan menakutkan.
"Bercanda? Abang gak suka bercanda!" sambung nya bikin bergidik ngeri.
"Eh kok jadi serius begini sih!" Latya gugup.
"Kamu yang mulai!" kesal nya seraya turun dari mobil dan masuk ke tempat makan yang di tuju tanpa melihat Latya yang masih di dalam mobil.
"Ih dia ngambek pemirsa." gumam Latya tersenyum tipis seraya mengikuti Rey young sedang mencari tempat duduk untuk mereka makan.
Mereka pun duduk Rey terlihat marah dan kesal dan mencuekan Latya yang sedang menatapnya dengan serius.
Lalu Rey langsung memesan makanan nya untuk dirinya dan juga istri nya tanpa menanyakan keinginan istri nya dulu.
"Nak ayah kamu marah sama bunda, bunda di cuekin, gimana kalau kita pulang aja lah, ngapain di sini juga." sindir Latya seraya mengelus perutnya.
Rey diam saja ia malah asyik dengan handphone nya.
Latya berdiri berniat untuk ke toilet.
"Mau kemana kamu?" tanya Rey ketus.
"Mau pulang!" balas nya ketus juga.
"Ngapain pulang?" tanyanya kesal.
__ADS_1
"Ya abang cuekin aku!" jawab nya tak kalah kesal.
"Kamu yang mulai!" Rey tidak terima.
"Aku kan cuma bercanda tadi!" balas Latya kesal.
"Bercanda nya gak lucu!" balas Rey masih kesal.
"Ya maaf aku kan bukan komedian." ketus Latya.
Rey menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan untuk menetralisirkan perasaannya yang kesal.
"Duduk!" titah nya tegas.
"Gak mau!" balas Latya keras.
"Duduk!" ucap Rey sedikit lembut.
"Gak!" tolak Latya.
Rey kembali menghirup nafasnya dalam-dalam dan membuangnya kasar. Ia harus mengalah karena dia tahu sifat istrinya yang masih manja itu, ya Latya semakin keras jika di keraskan.
"Ok Abang minta maaf." ucapnya mengalah.
"Apa, aku gak dengar?" ucap Latya pura-pura.
"Abang minta maaf." ucap nya lagi.
"Ikhlas gak? Kok aku dengar gak ikhlas sih!" goda Latya dengan senyum tertahan melihat ekspresi suaminya yang masih menahan kekesalan nya.
"Ya Latya sayang Abang minta maaf ya." ucapnya selembut mungkin.
"Ok aku terima maaf nya." ucap Latya Latya santai seraya berdiri melangkahkan kakinya untuk pergi ke toilet.
"Mau kemana kamu?" tanya Rey takut jika Latya pulang.
"Aku mau ke toilet udah gak kuat, Abang cegah aku mulu." terang nya.
"Jadi kamu tadi mau ke toilet?" sarkasnya.
"Iya." jawab nya cengengesan.
Rey mengeram geram lalu menghela nafasnya berat. "Ya sudah sana jangan lama-lama, nanti makanan nya sebentar lagi datang." ujar Rey mencoba bersabar padahal ia tadi takut istri nya itu benar-benar pulang dia kan agak nekad.
"Ok."
Detik menjadi menit Rey menunggu Latya yang tengah pergi ke toilet.
"Lama sekali sih!" gerutu Rey saat belum melihat istrinya dari toilet.
Rey pun pada akhirnya memutuskan untuk menyusul Latya, ia khawatir terjadi sesuatu pada istrinya itu.
Namun saat ia menyusul ia melihat Latya tengah berbicara dengan seorang laki-laki yang sedang membelakanginya.
Rey mematung menyaksikan kedekatan antara istrinya dengan laki-laki itu.
"Siapa laki-laki itu?" Rey cemburu dia mulai panas hati nya. Semakin dia memperhatikan semakin dia kesal melihat istrinya dan laki-laki itu.
Rey mendekat ke arah dimana Latya berada, menghampiri nya dengan langkah yang cepat.
"Sayang." panggil nya dengan mesra dan menciumi pipi Latya, Rey sedang cemburu dan ia tidak mau perempuan yang sangat ia cintai dengan laki-laki lain. Rey sedang menegaskan bahwa Latya adalah milik nya seorang.
"Eh bang Rey kenapa susul aku ke sini?" tanya Latya gugup ia malu saat Rey mencium nya di depan orang lain.
"Kamu lama yang, pas aku lihat ternyata kamu ada di sini." ucapnya seraya membenarkan poni istrinya dan mengelap keringat yang ada di kening istrinya. "Kamu kan lagi hamil anak aku aku khawatir kamu kenapa-kenapa di dalam sana." ucapnya lagi.
"Oh, bang Rey berlebihan deh." balas Latya tidak sadar jika suaminya sedang cemburu buta.
"Ah ini siapa?" tanya Rey menatap ke arah laki-laki yang ada di hadapannya itu dengan sikap nya yang dingin.
"Oh ya, kenalin bang ini dokter Kemal, dokter yang selalu memeriksa kandungan aku, aku gak nyangka bisa bertemu dengan dokter Kemal di sini, dan ternyata dokter Kemal asli orang sini bang cuma sedang bertugas di rumah sakit kota aku sekarang." jelas Latya dengan santainya. "Dan dokter Kemal ini suami saya bang Rey." sambung nya memperkenalkan.
Rey kesal namun menahannya dengan sepenuh jiwa dan hati nya.
"Saya dokter Kemal." ucap dokter muda itu seraya mengulurkan tangannya pada Rey namun Rey tidak langsung menerima uluran tangan itu, sehingga membuat Latya menyenggol lengan Rey.
Rey dengan malas menerima uluran tangan dokter muda itu. "Reypan, suami Latya." ucapnya menegaskan.
Dokter Kemal pun tersenyum dengan ramah. "Senang bertemu dengan Anda pak Reypan." ucapnya.
Mereka saling terdiam setelah berkenalan dan saling menyapa, kecanggungan pun terjadi di antara mereka.
__ADS_1