
Setelah pengakuan Semi asisten pak Rangga yang mengatakan jika nyonya Axel lah yang menyuruhnya, Rey pun segera memberikan surat panggilan terhadap nyonya Axel untuk bisa ditindaklanjuti kembali kasus ini.
Sekarang tidak hanya Semi sebagai tersangka namun nyonya Axel pun akan menjadi tersangka utama dalam kasus pembunuhan pak Rangga, ntah apa motif yang membuat nyonya Axel mantan istri pak Rangga itu sampai tega menghabisi nyawa mantan suaminya, sedikit banyak Rey tahu bagaimana hubungan antara pak Rangga dan juga nyonya Axel dari Maura putri mereka satu-satunya itu.
Apakah kasus ini ada hubungannya dengan hubungan mereka yang tidak baik selama beberapa tahun lalu atau ada unsur lain yang membuat nyonya Axel memiliki dendam khusus pada Rangga, ntahlah pihak kepolisian belum bisa menyimpulkan apa-apa sebelum nyonya Axel memenuhi panggilan dari pihak kepolisian.
Pagi ini Axel sedang menikmati teh hangat nya, ia belum tahu jika Semi sudah di periksa oleh pihak kepolisian.
Seorang pembantu di rumah nya lari dengan tergopoh-gopoh menghampiri dirinya yang sedang menikmati teh hangat di tangan nya membuat dia mengernyitkan dahinya heran.
"Nyonya." ucap pembantu itu dengan napas naik turun karena dia setengah lari untuk menghampiri nyonya nya yang tengah bersantai di taman belakang rumah mewah nya.
"Iya ada apa bi?" tanyanya cepat.
"Ada tamu di depan, mereka bilang ingin bertemu dengan nyonya Axel, katanya sih dari pihak kepolisian." jawab pembantu itu memberitahukan.
Deg... Axel menghentikan kegiatannya yang sedang menyesap teh nya itu. "Polisi?" ucapnya sedikit panik.
"Iya nyonya dan mereka sudah menunggu nyonya di ruang tamu." ujar pembantu nya itu.
Axel menghirup napasnya dalam-dalam mencoba untuk menenangkan dirinya akan kedatangan dari pihak kepolisian. "Mungkin saja mereka hanya meminta informasi tentang mas Rangga, aku kan mantan istrinya." dengan tenang nya Axel bergumam.
Tak lama Axel menemui dua polisi yang tengah duduk di kursi ruang tamu itu.
"Emh maaf ad keperluan apa anda berdua dengan saya?" ucap Axel menatap kedua polisi itu.
"Dengan ibu Axel?" tanya salah satu polisi.
"Iya saya Axel." balas Axel dengan wajah yang tidak ramah.
"Kami kesini untuk memberikan surat panggilan dari pihak kepolisian untuk anda, anda sudah kami catat sebagai tersangka pertama kasus pembunuhan pak Rangga, mantan suami anda dulu." polisi itu menjelaskan maksud mereka datang ke rumah Axel.
"Apa maksudnya? Saya benar-benar tidak mengerti!" elak Axel mencoba berkilah berpura-pura tidak mengerti.
"Anda jangan berpura-pura tidak mengerti maksud kedatangan kami ini, sekarang ibu Axel ikut kami ke kantor kepolisian." ucapnya tegasnya.
"Tapi saya benar-benar tidak mengerti maksud kedatangan anda berdua ini, kenapa saya jadi tersangka saya bahkan tidak pernah bertemu dengan mantan suami saya itu sudah lama sekali." masih Axel mencoba untuk mengelak kembali.
"Anda bisa jelaskan nanti di kantor kepolisian!" balas pak polisi itu dengan wajah yang serius dan terlihat galak.
"Jelaskan bagaimana pak, saya ini bukan pelaku pembunuhan mantan suami saya!" teriak nya mulai frustasi.
__ADS_1
"Sudah ibu Axel, anda tidak perlu membuang tenaga anda untuk berkilah, mari ikut kami!" titah nya tegas.
"Tidak!" tolak nya. "Saya tidak mau!" lanjutnya.
"Ibu Axel jangan mempersulit pekerjaan kami ini, kami mendapatkan tugas dari pihak penyidik untuk membawa ibu memberikan semua keterangan terkait nya dengan kasus pak Rangga itu." jelas pak polisi dengan tegas.
Dengan paksa kedua polisi itu membawa Axel ke kantor polisi untuk memberikan keterangan nya, walaupun Axel terus saja menolak untuk di bawa.
Sesampainya di kantor polisi Axel langsung diperiksa oleh Rey dan juga rekan lainnya yang bertanggung jawab atas kasus pak Rangga.
Di dalam ruangan yang sama di saat Semi kemarin di periksa, Axel masuk dengan langkah yang berat.
"Ibu Axel silahkan masuk dan silahkan duduk!" titah Rey saat melihat Axel ibu dari Maura.
"Saya benar-benar tidak mengerti kenapa saya di periksa seperti ini, dan kenapa saya di tetapkan menjadi tersangka kasus pembunuhan mas Rangga memang ada hubungan apa saya dengan pembunuhan itu!" terang Axel merasa tidak terima dirinya menjadi tersangka.
"Anda tenang ya Bu Axel, ada seseorang yang anda sangat kenali, dia sudah mengakui kepada kami bahwa dia di suruh oleh anda untuk membunuh pak Rangga dengan cara meracuni pak Rangga dengan sebuah racun yang sangat berbahaya yaitu racun ******* yang di berikan oleh anda pada pak Semi asisten dari pak Rangga." jelas Rey mengingatkan atas perbuatannya terhadap mantan suaminya itu.
Axel menyeringai. "Pak Semi, siapa dia saya sama sekali tidak mengenalinya?" kilah Axel membela dirinya.
"Anda jangan berpura-pura tidak kenal dengan pak Semi, jelas-jelas anda menjanjikan kepada pak Semi dengan cara merestui dia berhubungan dengan putri anda yaitu Maura." jelasnya lagi.
"Saya akan memutar sebuah rekaman yang saya dapatkan dari percakapan anda dengan pak Semi. Tolong anda dengarkan!" ucap Rey sudah mulai tidak sabar karena Axel terus saja mengelak.
Lalu Rey pun memutar hasil rekaman itu dan disana terdengar dengan jelas suara Axel dan Semi yang sedang berbicara dengan baik.
"Itu bukan suara saya!" kilahnya kembali membuat Rey geram karena tidak sabar.
Rey tidak habis pikir dengan ibu kandung Maura ini dia sangat begitu licik, sudah bersalah masih saja berkilah dan semua bukti sudah ada tapi tetap saja dia tidak mau mengakui.
Pantas saja Maura seperti membenci ibunya sendiri dan terlihat lebih menyayangi papa nya, sekarang Rey mengerti apa yang membuat Maura tidak nyaman dengan sikap ibunya. Dan sekarang Maura akan sangat terpukul setelah ia tahu jika ibunya lah tersangka utama pembunuhan papa nya itu.
***
Kini Maura sedang menangis histeris saat ia tahu jika mama kandung nya lah yang menjadi tersangka utama. Maura dan keluarga nya sungguh tidak menyangka jika Axel lah yang menjadi dalang pembunuhan itu.
"Aku benar-benar gak nyangka mama tega membunuh papa." isak tangis Maura mengingat tega nya mama kandung nya itu.
"Aku gak tahu apa yang membuat mama Axel sampai membunuh papa, apa salah papa dia laki-laki yang baik dia begitu sayang padaku dan dia juga memberikan kasih sayang nya padaku. Papa juga tidak sampai menikah lagi setelah bercerai dengan mama. Lalu kenapa mama begitu tega!" tangis Maura pecah ia sungguh sangat terpukul dan juga sangat sedih atas kehilangan papa tercintanya.
"Maura kamu harus tenang, kami masih mencari alasan apa yang membuat mama kamu sampai membunuh papa kamu, karena sekarang Bu Axel masih bersikukuh tidak mengakui jika dia yang membunuh pak Rangga. Tapi sekarang untuk sementara Bu Axel masih dalam tahanan kota sebelum ketua hakim dari pengadilan memberikan hukuman yang pantas untuk Bu Axel setelah kami bisa membuat Bu Axel mengakuinya." jelas Rey pada Maura.
__ADS_1
Maura semakin menangis histeris. Membuat tubuh nya yang lemah karena terlalu sakit untuk menerima kenyataannya yang sebenarnya dan tak lama Maura pun pingsan seperti biasa nya namun, pingsan saat ini lebih lama membuat Rahma sebagai tante begitu sangat khawatir, sehingga membuat mereka langsung membawa Maura ke rumah sakit.
Rey mengantarkan Rahma dan membawa Maura ke rumah sakit, sebenarnya dalam hati Rey ia merasa malas dan takut jika Latya tahu kalau sekarang ia sedang bersama dengan Maura dia bisa marah dan salah paham. Namun masa ia Rey diam saja saat ada orang yang membutuhkan bantuannya apalagi Tante Rahma dan Maura bisa terbilang dekat dengan keluarganya.
Sebelum kejadian Maura menelpon Rey untuk datang ke rumah nya, Maura ingin tahu sudah sampai mana penyelidikan kasus papa nya itu berjalan apalagi dia tahu jika asisten papanya itu ada kaitannya dengan kasus tersebut, yang sedang Rey tangani.
Maura di periksa di dalam ruangan oleh dokter yang biasa menangani Maura.
Rey menemani Rahma di ruangan tempat menunggu. Rahma terlihat jelas sangat panik karena akhir-akhir ini Maura sering pingsan, itu tidak bagus untuk kesehatan nya. Karena dokter sering mengingatkan jangan sampai Maura pasiennya itu selalu merasa sedih dan tertekan apalagi sampai sering tidak sadarkan diri seperti ini.
"Rey tante khawatir sekali dengan keadaan Maura sekarang ini, dia lebih sering masuk rumah sakit." cemas Rahma pada Rey. "Masalah kasus papanya yang meninggal dan ibunya yang menjadi tersangka pasti membuat Maura sangat syok dan susah untuk ia terima begitu saja." jelas Rahma dengan menghela napas nya berat.
"Kasihan Maura." sambung Rahma.
Rey diam saja ia hanya menjadi pendengar yang baik saja bagi Rahma, Rey pun pasti merasakan apa yang dirasakan Maura jika hal itu terjadi padanya.
"Tante harus ada di dekat Maura, karena Maura membutuhkan Tante saat ini." ujar Rey menguatkan Rahma agar selalu ada untuk Maura.
"Rey...." panggil Rahma lembut dan menatap nya. "Kamu tahu yang sekarang Maura butuhkan?" tanyanya. "Maura saat ini butuh kamu Rey." lanjutnya.
Rey mengerutkan keningnya lalu seperdetik kemudian dia mengerti apa maksud dari Tante Rahma berbicara seperti itu padanya.
"Iya Rey tentu akan membantu Maura mendapat keadilan atas meninggalnya pak Rangga, karena itu kan yang Maura butuhkan saat ini. Rey pasti bantu." ujar Rey.
"Bukan Rey. Tapi... maksud tante itu Maura butuh kamu sebagai laki-laki yang dia cintai." terang Rahma menjelaskan maksud nya itu. "Sebagai kekasihnya." tambah Rahma.
Rey sedikit terkejut, sahabat dari ibu nya itu masih bersikeras untuk menjodohkan dia dengan Maura.
"Hemm itu, tidak mungkin tante." ucap Rey pelan.
"Kenapa Rey?" tanya Rahma.
"Karena Rey dan Latya sudah menjalin sebuah hubungan." ucap Rey jujur.
Rahma membuang napasnya kasar, dia merasa kecewa mendengar ucapan jujur dari Rey. Dia lebih memilih Latya daripada Maura keponakannya. Padahal sudah jelas jika Maura memiliki segalanya yaitu kecantikan nya si jelas Maura sangat cantik dan terlahir dari orang berada hanya saja Maura terlahir dengan tubuh yang sakit itu yang membuat Rahma semakin kecewa sekali dengan jawaban Rey.
"Kenapa kamu lebih memilih Latya, padahal Maura sangat mencintai kamu Rey tante tahu itu karena Maura akan selalu tersenyum saat dekat dengan kamu, apa karena Maura terlahir dengan tubuh yang tidak sehat? Sampai kamu tidak mau mencintai Maura." sarkas nya. "Penyakit Maura tidak akan menular pada orang kok!" Rahma sedikit kesal karena kekecewaan nya pada Rey.
"Tante bukan maksud Rey seperti itu, aku dan Latya lebih dulu menjalin hubungan sebelum Rey kenal dengan Maura." Rey beralasan seperti itu agar Rahma tidak bisa merasa kesal pada nya tapi memang seperti itu kebenarannya.
Rahma diam Rey berkata seperti itu mungkin ada benarnya, tapi bagaimana dengan Maura jika tahu kalau Rey menolaknya dan memilih berhubungan dengan Latya yang memang terlihat sangat sempurna. Rahma saja sebagai Tante nya merasa sangat kecewa dan rasanya ingin marah apalagi dengan Maura yang sudah sangat nyaman dengan adanya Rey di dekatnya.
__ADS_1