
Rey kembali ke rumah sakit dengan hati yang sangat kecewa, tubuh nya seakan lemas tak berdaya mengingat jika kasus yang sedang ia selidiki semakin rumit, tapi Rey harus semangat, ia tidak boleh mundur di tengah jalan meninggalkan tugasnya sebagai penegak hukum.
Di tempat ruang tunggu, Rey melihat kedua mertuanya masih berada di sana menunggu Latya yang belum sadarkan diri. Latya kini sudah di tempatkan di ruangan inap agar bisa lebih terkontrol oleh keluarga.
Rey menghampiri mertuanya yang berada di luar ruangan. "Ayah bunda kalian masih di sini? Bunda Nisa dan ayah Adam apa mereka sudah pulang?" tanya Rey sopan.
Via tidak menjawab dirinya masih kesal dengan menantunya itu, namun Aris yang mengetahui jika istrinya itu sedang dalam hati yang tidak baik maka Aris lah yang menjawab pertanyaan Rey.
"Kedua orang tua kamu sudah pulang, kasihan Ade kamu sendirian di rumah, lagipula di sini ada ayah dan bunda yang akan menunggu Latya sampai ia sadar." jawab Aris menatap Rey yang terlihat sambil lelah.
"Ayah sama bunda pulang saja, kalian bisa istirahat di rumah, biarkan Rey yang menjaga Latya di sini." ujarnya lembut.
"Tidak perlu, kami saja yang menjaga Latya, kamu kan baru saja pulang tugas pasti capek. Lebih baik kamu saja yang pulang." tolak Aris lembut.
"Tidak ayah, Rey lebih baik menemani Latya di sini. Rey akan menunggu Latya jika tidak sedang bertugas." balas nya dengan sendu.
"Baiklah Rey terserah kamu, yang pasti jika kamu merasa lelah kamu bisa istirahat di rumah jangan menjadi beban kamu untuk menunggu Latya." ujar Aris memberi Rey waktu untuk beristirahat.
"Aku pikir, jika Latya masih belum sadarkan diri lebih baik kita bawa dia ke rumah sakit dekat dengan tempat tinggal kita, supaya kita tidak jauh untuk melihat keadaan Latya." saran Via pada Aris dengan pelan.
Rey yang mendengar ide dari mertuanya itu pun merasa tidak rela, ia tidak akan mau mengijinkan hal itu terjadi. "Kenapa mesti di pindahkan? Di sini rumah sakit yang paling bagus." celetuk Rey menengahi pembicaraan antara Aris dan juga Via.
"Dengar ya Rey, Latya itu anak satu-satunya bunda dan ayah, jadi itu hak kami membawa Latya kemana saja dan kami pun akan membawa Latya ke rumah sakit yang paling bagus di sana!" balas Via kesal seakan ide nya membawa Latya ke rumah sakit dimana ia tinggal nya itu sebuah hal yang salah.
"Maaf bunda memang Latya itu adalah anak bunda dan juga ayah, Rey tahu itu, tapi sekarang Latya istri Rey, tanggung jawab Rey sebagai suami nya. Iya walaupun pernikahan kami masih belum di akui negara." ucap Rey tegas.
"Tapi Latya seperti ini gara-gara kamu Rey, bunda menyesal karena sudah membuat Latya tinggal di rumah kamu!" Via marah dan kecewa pada Rey karena membuat anak semata wayangnya mengalami hal-hal seperti ini. "Bunda itu sudah sangat kecewa sama kamu Rey, kamu yang sudah membuat Latya menikah dengan kamu gara-gara kamu dan sekarang Latya masuk ke rumah sakit sampai tidak sadarkan diri seperti itu pun juga gara-gara kamu Rey." ucap Via dengan nada pelan namun penuh kekesalan.
Rey diam mendengarkan apa yang akan di ucapkan mertuanya itu. Rey mengakui jika dia penyebab Latya yang sampai tidak sadarkan diri. "Maaf bunda Via, Rey memang salah." lirih nya merasa bersalah.
"Ya kamu memang salah!" ucap Via berat bicara seperti itu namun hatinya memang sangat kecewa.
"Sudah sayang jangan bicara seperti itu pada Rey, dia itu menantu kita, Latya istri Rey, jangan pisahkan mereka berdua. Lebih baik Latya di rawat di rumah sakit ini saja, agar Latya tidak perlu bolak-balik." Aris mencoba menengahi perdebatan antara Rey dan juga istrinya itu.
"Tapi... aku takut." lirih Via dengan Isak tangisnya.
"Aku janji bunda, ayah. Aku akan menjaga Latya. Aku akan segera menemukan pelaku yang membuat Latya celaka, aku janji tidak akan ada lagi kejadian seperti ini lagi untuk kedua, ketiga ataupun seterusnya." ucap Rey meyakinkan dirinya dan juga meyakinkan kedua mertuanya.
__ADS_1
Via menatap wajah Rey melihat kesungguhannya membuat Via terenyuh hatinya. "Baiklah bunda percaya sama kamu Rey, jangan membuat kami kecewa!" ucapnya dingin.
Rey tersenyum karena mertuanya itu bisa mengerti dan memahami apa yang Rey mau. "Terima kasih karena kalian sudah mau mengerti." balas Rey dengan tersenyum lembut.
Setelah menyelesaikan masalah dengan mertuanya karena mereka sangat kecewa pada Rey, Rey pun masuk ke dalam ruangan dimana Latya di rawat. Dilihatnya wajah pucat sang istri membuat Rey menghela nafasnya panjang. Ia meletakkan tas dan barang yang ia bawakan lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya agar dekat dengan Latya tubuhnya sudah bersih.
Tak lama Rey pun keluar dari kamar mandi itu, aroma sabun yang ia pakai menyeruak memenuhi ruangan itu. Terlihat kedua orang mertua nya pun ada di sana dan menatap Rey saat dia keluar dari kamar mandi.
"Bunda sama ayah pulang saja istirahat, biar Rey yang jaga Latya malam ini." ucap Rey menawarkan dirinya.
"Kamu serius Rey tidak apa-apa kalau harus jaga Latya?" tanya Aris meyakinkan.
"Iya, ayah dan bunda istirahat saja, tadi juga orang rumah menyuruh agar bunda dan ayah istirahat di sana." ujarnya memberi tahu.
"Ok kalau begitu, ayah juga kasihan sama bunda mertua mu ini belum istirahat dari tadi." balas Aris mengiyakan.
"Jaga Latya baik-baik ya Rey, kalau ada apa-apa langsung hubungi bunda." titah nya.
"Iya nanti Rey kasih kabar ya, kalau ada perkembangan dari Latya." sahut nya cepat.
Rey terus memandangi wajah putih dan pucat nya Latya, hari sudah larut malam membuat rasa kantuknya begitu tidak tertahankan apalagi kegiatan nya dari pagi sangat menyita waktu dan juga menguras tenaga nya.
Rey terlelap dalam tidurnya, ia tidur sembari duduk dengan posisi kepalanya yang dekat dengan tangan Latya dan tangan Rey pun menggenggam tangan Latya begitu erat berharap esok pagi istri kecilnya akan segera sadar.
***
Pagi ini Rey akan bertemu dengan rekan-rekan nya yang akan membantu dalam penyelidikan kasus nya itu di perusahaan pak Rangga dimana tempat itu adalah tempat dimana terjadinya pembunuhan.
"Sepertinya aku harus bertemu dengan Maura, aku harus mencari informasi dari Maura." gumam nya.
Saat Rey sedang sibuk dengan pikirannya yang melayang antara menemani Latya dan memproses penyelidikan atas kasus nya, seorang suster datang dengan membawa peralatan untuk membersihkan tubuh Latya.
"Emh maaf pak saya kesini mau membersihkan tubuh pasien, karena darah bekas operasi atau darah yang mulai kering harus di bersihkan." ujarnya menjelaskan kedatangannya.
Rey mengangguk dan mempersilahkan dua suster itu untuk membersihkan tubuh Latya dengan cara mengelap nya.
"Maaf bapak ini siapanya nona Latya ya?" tanya salah satu suster itu.
__ADS_1
"Saya suaminya." jawab nya cepat. "Kenapa?" tanya nya.
"Oh tidak apa-apa pak." jawabnya canggung.
Saat suster itu akan membersihkan tubuh Latya tiba-tiba saja ia tidak rela jika tubuh istrinya sampai di bersihkan oleh kedua suster itu padahal mereka sama-sama perempuan sama seperti Latya istrinya. Apalagi saat suster itu membuka pakaian Latya yang terlihat sangat cepat Rey melihat nya menjadi Khawatir jika itu akan menyakiti tubuh Latya sedangkan tubuh istrinya itu sedang sakit.
"Tunggu!" Cegah nya. "Biarkan saya saja yang membersihkan tubuh istri saya!" pinta nya tegas.
"Tapi pak ini sudah tugas kami, bapak bisa menunggu kami menyelesaikan tugas." ucapnya tidak perlu.
"Saya suaminya, saya yang berhak atas pasien!" sergahnya tidak mau di bantah.
"Baik pak, tapi anda harus hati-hati dan pelan saat mengelapnya." ucapnya menjelaskan.
Rey yang mendengar penjelasan suster itu sedikit kesal, padahal tadi ia melihat saat salah satu suster itu membuka piyama rumah sakit yang Latya pakai begitu cepat terlihat kasar.
"Saya suaminya, tidak mungkin saya menyakiti istri saya sendiri!" ujar Rey kesal.
"Maaf pak kalau begitu kami pamit dulu, jika ada yang bapak butuhkan panggil kami." ucapnya sopan, takut dengan tatapan Rey yang terlihat sangat kesal walaupun wajahnya sangat tampan dua suster itu tidak berani melihat wajah Rey, mereka hanya bisa melirik saja.
Kedua suster itu keluar dari ruangan dimana Latya di rawat, meninggalkan Rey sendirian disana dengan peralatan untuk membersihkan tubuh Latya.
Di raihnya washlap berwarna pink itu dan di basahi dengan air lalu ia peras agar tidak begitu banyak air dan tidak begitu basah nantinya pada tubuh Latya saat ia mengelap nya.
Saat washlap itu sudah siap untuk Rey elapkan pada tubuh Latya yang pakaian nya sudah di buka kancing nya oleh suster tadi, tiba-tiba tangan Rey bergetar ia merasakan gugup saat melihat tubuh Latya yang terlihat jelas di hadapan, apalagi saat Rey melihat dua buah gundukan kenyal yang tidak terbungkus oleh apapun membuat Rey menelan ludah nya kasar. Ia benar-benar sangat gugup, ini kali pertamanya ia melihat tubuh istrinya yang selalu ia tutupi kepadanya.
Kalau saja istrinya itu tidak sedang sakit Rey pastikan istrinya akan merasa malu jika dia tahu Rey sekarang sedang melihat aset pribadinya itu dengan begitu jelas dan terpampang di hadapannya.
Dengan memberanikan diri tangan Rey yang bergetar pun mencoba mengelap tubuh Latya dengan sangat lembut, Rey tidak mau istrinya sakit karena usapan tangannya itu.
Berkali-kali Rey menghirup nafas panjang menetralisirkan perasaan dan otaknya yang sedang bekerja keras memikirkan antara keinginan otak dan juga hatinya yang berlainan itu.
"Huh akhirnya selesai juga membersihkan tubuh kamu Latya sayang." ucap Rey menghela nafasnya lega. "Kamu tahu ini kali pertamanya aku melihat tubuh kamu istriku, dan itu membuat ku berdebar-debar. Aku benar-benar deg degan. Maaf aku sudah melihat tubuh kamu." lirih Rey ia merasa pilu hatinya melihat istrinya tidak berdaya seperti itu.
"Kalau kamu sehat pasti kamu akan marah dan menamparku karena aku sudah berani melihat tubuh kamu ini. Maaf ya." gumam Rey merasa berdosa melihat tubuh istrinya tanpa ada ijin dari istrinya itu. Bukan rasa hasrat atau nafsu yang saat ini Rey rasakan setelah ia melihat istrinya yang pasrah tubuh nya ia jamah walaupun niat menjamah nya karena hanya membersihkan tubuhnya saja. Tapi rasa sayang yang amat dalam dari hati Rey.
"Abang kangen kamu Latya, Abang kangen dengan celoteh kamu yang manja, Abang kangen bikin kamu kesal dan juga bikin kamu cemberut." gumam Rey menatap wajah Latya yang terlihat damai setelah ia selesai mengancingkan pakaian Latya. "Aku merindukan kamu sayang." bisik Rey tepat di telinga Latya. "Sangat merindukanmu." lirih nya.
__ADS_1