
"Aduh gimana ya Sha, kalau si Latya ketahuan hamil sama dokter Gina, pasti dia bakalan ngadu sama pihak kampus terus masalah ini bakalan panjang. Gue khawatir sahabat kita di keluarin dari kampus." ucap Heidi merasa takut.
Mereka saat ini sedang di luar daerah farmasi menunggu Latya yang masih dalam ruangan.
"Ngapain sih elu takut, sahabat kita itu udah nikah jadi tinggal kasih bukti aja sama pihak kampus, selesai sudah!" sahut nya enteng.
"Ya kan baru nikah siri." lanjut Heidi.
"Yang penting kan halal, kita bukan anak SMA kali, wajarlah anak kuliahan nikah. Lagian si Latya masih ada kedua orang tuanya jadi mereka pasti bantu. Udah tenang aja." ucap Geisha semakin santai.
Heidi menarik nafasnya dalam-dalam. "Bener juga sih elu, tumben elu pinter." ejeknya.
"Elu yang ngedadak bege." ejeknya membalas.
"Sue elu!" umpat nya kesal.
"Malahan ya menurut gue semakin pihak kampus tahu, semakin lebih baik kan jadi si Latya gak usah umpet-umpetan kalau lagi hamil." seloroh Geisha. "Hamil kan makin lama makin gede. Gak bakal bisa di tutupi." sambung nya.
"Hooh bener juga ya." ucapnya.
Sedangkan Rey yang masih berada di ruangan farmasi, ia masih sedikit tidak percaya akan apa yang di ucapkan oleh dokter yang menangani Latya saat ini.
"Lalu anda siapa nya Latya, kenapa anda begitu penasaran dengan kehamilan Latya?" tanya nya penasaran.
"Saya kan sudah bilang kalau saya ini suaminya, masa tadi dokter tidak dengar yang saya ucapkan saat saya bawa Latya kesini." jawab nya kesal.
"Tapi kami selaku pihak kampus tidak pernah tahu jika Latya sudah menikah, apa jangan-jangan...?" tuduh nya ragu.
"Jangan berpikir yang macam-macam ya dok saya dan istri saya sudah menikah hanya kami belum mengabarkan ke semua orang kalau kami sudah menikah." jelas nya panjang kali lebar. "Saya dan istri saya orang baik-baik dok, kami tahu dosa!" sambung nya kesal.
"Kalau memang anda suami Latya, silahkan nanti Anda jelaskan pada pihak kampus yang bertanggung jawab, atas apa yang di lakukan para mahasiswa dan mahasiswi." ujarnya menghentikan perdebatan.
"Baik saya akan buktikan!" balas nya.
"Apa saya boleh melihat keadaan Latya sekarang?" tanyanya.
"Silahkan, akan saya antar." ucapnya.
Rey pun mengikuti dokter itu menuju ruangan dimana Latya berada.
Dokter pun menyibak gorden untuk melihat keadaan Latya saat ini.
Dokter dan Rey pun menghampiri Latya yang terbaring lemah dan melihat mereka masuk, dokter Gina pun tersenyum ramah.
"Bagaimana sekarang keadaan kamu apa masih pusing atau mual?" tanya dokter itu memastikan jika Latya sudah lebih baik.
"Sudah agak mendingan kok dok, mual nya aja yang masih terasa." jawab Latya pelan.
"Emh begitu, itu lebih baik, jika mual memang itu hal yang biasa dalam masa kehamilan trimester pertama, sering minum susu ibu hamil aja ya supaya janin tidak sampai kekurangan nutrisi walaupun ibunya sering muntah." terang dokter itu.
Latya mengangguk pelan. "Baik dok terima kasih." sahut nya.
"Ya sama-sama, kalau begitu saya permisi." pamitnya dengan cepat.
Setelah dokter itu keluar Rey menatap ke arah Latya dengan tatapan yang sulit untuk di jabarkan, dengan tangan nya yang ia lipat di dadanya dengan tajam melihat ke arah dimana Latya terbaring.
Latya melengoskan pandangan nya saat di tatap oleh suaminya itu, antara malu serta malas untuk menatap kembali suaminya.
"Sampai kapan kamu akan menyembunyikan soal kehamilan kamu ini sayang?" tanya nya cepat sedikit kesal.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Rey yang terdengar nada kesal Latya pun menjadi kesal. "Apa peduli kamu sih bang?" tanyanya balik.
"Sampai perut kamu membesar baru kamu akan memberitahu ku begitu?" tanyanya Rey lagi. "Aku peduli sama kamu, kata siapa aku tidak peduli!"
"Kamu lagi hamil kenapa tidak memberitahu Abang?" Hah!"
"Ah sudahlah ini kampus aku gak mau debat sama kamu!" ujar Latya dengan malas.
"Aku tidak mengajak kamu untuk berdebat, aku hanya mengkhawatirkan kamu sayang." balas nya lembut.
"Khawatir kok buat aku makan ati!" cebik nya kesal. "Ati ampela sih enak, tapi ini ati manusia!" gerutu Latya.
"Maaf yang... Abang tuh gak ada niat sama sekali untuk nyakitin perasaan kamu, tapi ya kan kamu tahu sendiri Maura seperti apa. Tapi kamu tahu, aku sama Maura sekarang sudah tidak ada lagi drama-dramaan, Maura sudah sangat menerima untuk melepaskan aku dan tidak akan menggangu hubungan kita lagi, jadi kamu mau kan maafkan Abang?" pintanya penuh harap.
"Bohong! Mana buktinya?" ketus Latya.
"Hemm ini!" tunjuk nya sebuah rekaman permintaan maaf dari Maura yang Rey terima saat setelah Rey mengatakan yang sejujurnya pada Maura. Rekaman itu ada di handphone Rey yang ia simpan sebagai bukti jika Maura benar-benar sudah tidak akan menggangu.
isi rekaman video dari Maura
"Hallo Latya apa kabar? Aku harap kamu dalam keadaan yang baik-baik saja ya, aku mau menyampaikan sesuatu sama kamu. A...aku minta maaf karena aku sudah menjadi duri dalam rumah tangga kamu bersama Rey, aku sadar sekarang, aku sudah egois sekali memaksa Rey untuk mencintai aku dan membuat kamu pergi dari kehidupan Rey. Sekali lagi aku minta maaf, aku janji aku tidak akan menggangu kamu lagi dan Rey. Aku akan pergi ke luar negeri bersama Tante Rahma, aku akan tinggal disana dengan hari yang baru, doakan aku ya semoga aku bisa bahagia disana dan bisa mendapatkan pengobatan yang baik juga di sana. Salam manis untuk kamu Latya. Dadah..." ucapnya terlihat sendu di dalam video itu.
Latya terdiam, setelah melihat video itu hatinya yang lembut merasa tidak enak hati pada Maura, ia selalu merasakan jika bagaimana kalau dirinya dalam posisi dimana Maura berada, mungkin kah ia akan melakukan hal itu juga???
Latya menghela nafasnya panjang. "Aku jadi kasihan sama Maura. Aku bersyukur terlahir sempurna dan tidak memiliki penyakit apapun, tapi terkadang aku lupa untuk bersyukur. Maura perempuan hebat walaupun dia keras kepala." ujarnya sendu, ia mengingat bagaimana Maura menghadapi kesedihan yang bertubi-tubi dari ujian hidupnya.
"Kamu percaya kan sekarang? Jadi kamu mau maafkan Abang kan?" tanya nya antusias.
Latya mengangguk. "Iya aku terima kata maaf nya, tapi ingat jangan di ulangi lagi!" ancam nya.
"Siap!" ucapnya senang.
"Oh ya kan Abang tahu kalau kamu itu pernah meminum obat penunda hamil, tapi kenapa kamu bisa hamil?" tanyanya penasaran.
"Eh bukan begitu yang, jangan marah Abang kan cuma tanya. Apa salahnya?"
"Pertanyaan nya ya memang gak salah tapi nada nya itu, Abang kayak nuduh aku yang selingkuh!" cebik nya tidak terima.
"Abang gak bilang kamu selingkuh ah, kamu ini sensitif banget sih!" sebal Rey.
"Latya kesal. "Udahlah Abang pergi sana!" usirnya.
"Kamu usir Abang, ok! Tapi cium dulu!" ancam nya penuh syarat.
"Ish... ogah!"
Rey memaksa meminta ciuman dari Latya bibir nya pun sudah ia monyongkan ke arah Latya. "Ih abang ini kampus!" cegah Latya terus mendorong bibir monyong Rey itu, namun saat seperti itu dosen penanggung jawab atas murid nya pun datang dan membuat Rey langsung tegak berdiri kembali dalam sikap cool nya.
"Ekhemm, ada apa pak?" tanya Rey dengan suara tegas nya ia kembali menjaga imagenya yang cool, tegas dan pemberani, tidak seperti tadi kekanakan, dan juga mesum membuat Latya gemas melihatnya.
"Anda di sini pak Rey?" tanya dosen itu.
"Iya, tadi saya membawa Latya kesini karena dia pingsan tadi. Apa ada perlu dengan saya?" tanya Rey memastikan.
"Saya tadi mendengar kabar dari dokter Gina jika Latya tidak sadarkan diri, dan saya juga mendapatkan kabar kalau Latya ini hamil, dan saya juga mendapatkan kabar lagi jika anda mengaku suaminya Latya. Apa itu benar?" tanyanya memastikan benar atau tidaknya.
"Iya benar pak." jawab Rey cepat.
"Apa anda bisa membuktikan nya? Karena yang kami tahu Latya ini belum menikah dan tidak ada kabar apapun soal pernikahan nya, dan tiba-tiba saja Latya hamil, jika anda tidak bisa membuktikan nya mungkin Latya akan kami berikan sebuah sanksi karena sudah hamil di luar nikah dan itu akan membuat nama baik kampus ini tercoreng, jadi tolong buktikan jika memang Latya istri anda." ujarnya tegas.
__ADS_1
"Baik saya akan buktikan!" tantang Rey.
Rey pun memberikan bukti berupa foto-foto pernikahan nya bersama Latya pada dosen tersebut, dosen tersebut melihatnya dengan berkerut-kerut.
Setelah lama melihat semua bukti yang di perlihatkan oleh polisi yang dia ketahui sebagai pengawal pengacara yang pihak kampus undang.
"Baiklah saya percaya, tapi kenapa pernikahan kalian tidak di sebarluaskan, agar orang-orang tidak salah paham.
"Belum saatnya pernikahan kami di ketahui banyak orang." jawab Rey cepat.
"Apa alasannya?" tanya dosen itu penuh selidik.
"Anda tidak perlu tahu pak masalah pribadi saya, yang terpenting saya sudah membuktikan bahwa saya dan Latya sudah menikah dan Latya tidak hamil di luar nikah seperti perkiraan anda." jelas Rey.
Dosen itu pun terdiam sejenak lalu ia pun manggut-manggut. "Baiklah maaf bila saya sudah lancang menanyakan hal itu pada anda."
Dosen itu pun menatap ke arah Latya yang sedang terduduk di bad ia tempati. "Latya saya harap tidak ada kesalahpahaman seperti ini lagi." ujarnya.
"Baik pak maaf." ucap Latya lemas.
"Kalau begitu saya permisi." ucap dosen itu menatap Rey dan menatap Latya bergantian.
Rey mengangguk dan Latya menjawab dengan mempersilahkan dosen itu pelan.
Latya menghela nafasnya panjang. Rey menatap Latya dengan lekat. "Aku antar kamu pulang ya." tawar nya.
"Tidak usah Abang lagi tugas, aku gak mau jadi masalah buat Abang nantinya." tolaknya lembut.
"Abang bisa bicara dengan pak Irham nanti untuk meminta ijin nya." Rey kekeh untuk mengantarkan Latya.
"Sudahlah jangan memaksa aku udah biasa kok dan harus terbiasa mengalah dengan pekerjaan Abang." terang Latya.
"Tapi aku mau mengantarkan istriku, apa salah?" tanyanya memastikan.
Latya menghirup nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan tanpa menjawab lagi omongannya Rey yang tidak mau mengalah.
Rey tersenyum merasa menang. "Abang pergi dulu ya, nanti Abang akan suruh kedua teman kamu untuk menemani kamu di sini, sebelum kamu pulang." jelas Rey tidak terbantahkan.
"Hemmm." sahut Latya malas menanggapi.
Rey gemas melihat istrinya itu kesal oleh nya karena akan mengantarkan ia pulang. Rey pun mendekati Latya, lalu mengecup kening Latya dengan sayang dan cukup lama seraya mengusap perut Latya dengan lembut.
"Abang sayang kamu." bisik nya lembut.
Setelah mencium kening Latya dan berbisik kata sayang pada istrinya itu, Rey pun melangkahkan kakinya lalu pergi keluar, dan menyuruh kedua temannya Latya untuk masuk ke dalam ruangan dimana Latya berada, sedangkan dia menyelesaikan dahulu tugasnya dengan pak Irham.
Sedangkan Latya ia tersenyum senang akan sikap Rey padanya yang terasa manis itu. "Kamu senang nak, akhirnya kamu di elus juga oleh ayah mu, padahal bunda belum minta, hehehe bunda masih gengsi buat minta elus." gumam nya seraya mengelus perutnya sendiri dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
"Duh bumil lagi seneng nih gak bakal uring-uringan lagi kayak nya." goda Heidi saat melihat Latya sedang tersenyum tanpa sadar kedua temannya sudah masuk dan memperhatikan nya.
"Ya ni sampai gak sadar kalau kita udah datang dari tadi." sambung Geisha.
"Eh ada kalian di sini, sejak kapan kalian di sini?" tanya Latya mengalihkan perhatian, pasalnya dia malu karena ketahuan betapa senangnya bertemu dengan suaminya tanpa ia duga.
"Sejak elu tadi pingsan kita udah nunggu elu kok di luar, ya kan Geis?"
"Hooh, tadi suami elu yang ganteng itu datang suruh kita buat nunggu elu dulu di sini." ujar Geisha.
"Makasih ya kalian tuh selalu ada buat gue. Kalian best banget deh pokoknya." ucap Latya penuh haru.
__ADS_1
"Kita kan best friends forever... hahaha." sahut Heidi dan juga Geisha kompak.
Latya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.