
"Ahhhh bang Rey sakiiiit..." rintihnya. "Pelan-pelan dong!" kesalnya.
"Ini juga pelan sayang, lubang nya sempit dan kecil." ucap rey sedikit frustasi.
"Ah Abang payah, masukin barang kecil begitu saja tidak bisa." ledek Latya mengejek.
Rey mendengus kesal. "Ya sudah kamu saja yang masukin sendiri!" kesalnya.
"Hehehe sama abang aja ya." ucap Latya cengengesan.
"Ini barang nya bengkok jadi susah untuk masuk, lubang kamu kecil banget sih." gerutu Rey dengan bercucuran keringat di keningnya.
"Aw jangan di paksa dong bang, sakit tahu!" emosi Latya saat tiba-tiba Rey memasukkan nya dengan kasar.
"Udah ah Abang nyerah, capek!" Rey menyerah frustasi.
"Ah nanggung bang. Aku lagi enak ini." rengek Latya merasa kecewa.
"Abang capek, gak masuk-masuk itu barang nya." balas Rey.
"Pakai minyak bang biar licin." usul Latya.
"Udah ah Abang malas. Kamu aja!" tolak nya cepat.
"Ih rese nanggung banget ini!" kesal Latya.
"Kalian itu lagi ngapain sih, ucapan kalian berdua itu bikin orang salah sangka lho." celetuk bunda Via melihat anak dan menantunya itu sedang berduaan di ruang keluarga.
"Kenapa memang nya Bun, kita gak ngapa-ngapain kok." Latya tidak sadar dengan ucapan tadi.
"Tadi kalian lagi ngapain?" tanya Via memastikan.
"Oh aku minta tolong bang Rey pasangin anting aku copot, aku nanggung lagi makan rujak. Mau Bun?" jelasnya seraya masih asyik memakan rujak yang Rey belikan tadi dan menawarkan pada bundanya itu.
"Oh... Ih bunda ngilu banget lihat rujak kamu, jangankan makannya, lihat nya aja udah berasa." balas Via bergidik asem.
"Ini enak tahu." sahut Latya.
"Lha iya kamu lagi hamil, pasti bilang enak." celetuk Via masih memperhatikan Latya dengan lahap nya.
"Enak Bun apalagi yang beli bang Rey hehehe." sambung nya cengengesan.
"Huh tadi mencat-mencat gak mau dekat-dekat suami kamu, sekarang malah asyik!" ucap bunda Via sebal.
"Rujak ini kata bang Rey sebagai ucapan maaf dari nya jadi ya udah aku terima aja. Pas banget lagi pengen rujak lagi." ucapnya dengan mulut yang penuh.
"Pelan-pelan yang kalau makan! Jangan ngomong saat mulut penuh begitu." omel Rey melihat istrinya berbicara dengan mulut penuh.
"Ya nanti kamu keselek lagi!" sambung bunda Via mengomel.
"Ish kan bunda yang ajak aku ngomong!" cebik nya kesal.
***
Malam pun tiba, Rey masih di rumah bunda Via untuk menginap semalam di rumah mertuanya itu. Ini kali pertamanya ia masuk ke dalam kamar Latya setelah mendapatkan ijin dari mertua dan juga istri nya tentunya.
Melihat masuk ke dalam kamar istrinya itu, yang pertama kali ia lihat adalah nuansa kamar yang ada di dalam nya, yang mana kala semua cat kamar berwarna pink yang membuat Rey setengah bergidik.
"Dasar anak manja." gumam Rey dengan senyum tipisnya menghiasai bibir nya. "Istri manja dan calon ibu manja." sambungnya bergumam pelan.
"Hah" Rey mendesah. "Kok bisa aku nikah sama gadis manja dan heran aku malah suka." ejeknya pada diri sendiri dengan di iringi dengan senyuman.
"Bang Rey ini handuknya." ucap Latya seraya menyerahkan sebuah handuk pada suaminya.
Rey terbangun dari lamunannya dan langsung menerima handuk pemberian Latya. "Makasih sayang." ucapnya lembut.
"Gak gratis ya itu!" celetuk Latya terkekeh.
"Ya nanti Abang bayar." sambung Rey dengan mencubit hidung mancung Latya dengan gemas sampai terlihat memerah.
"Sakit tahu." kesalnya dengan mengusap-usap hidungnya yang Rey cubit.
"Gemas, gregetan..."goda Rey.
__ADS_1
"Udah sana mandi yang bersih!" titah Latya seraya mendorong tubuh Rey.
"Kamu gak mandi juga?" goda Rey.
"Gak, aku masih wangi, baru mandi juga, hus sana mandi!" titah nya lagi.
"Mandiin ya..." pintanya bercanda.
"Ih gak!" tolak Latya cepat.
"Hahaha." Rey tergelak. "Kirain mau, nanti Abang bayar dua kali lipat." tawarnya.
"Emoh aku! Sana mandi sendiri seperti anak kecil saja, minta di mandikan!" cebik Latya heran padahal udah mau jadi bapak.
"Hahaha." Rey tergelak lagi dengan keisengannya seraya pergi masuk ke kamar mandi, ia rindu menggoda istri manja nya itu.
"Dasar aneh!" kesal Latya.
Setelah selesai mandi, Rey melihat istrinya sedang sibuk dengan memangku laptop ia terlihat sibuk.
Rey mendekat ke arah ranjang dan melihat apa yang di kerjakan Latya.
"Hemmm sibuk apa ini?" tanya Rey.
"Tugas kampus bang, aku masih banyak tugas malah semakin banyak." sahut nya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari laptop.
Rey duduk di samping Latya lalu mengelus lembut pucuk kepala istrinya dengan sayang. "Jangan terlalu lelah kamu kan lagi hamil, jangan tidur malam-malam juga." titah nya lembut.
"Hemmm." hanya gumamam Latya menjawab.
Lalu Rey pun beranjak bangun dari ranjang lalu melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamar. "Mau kemana kamu bang?" tanya Latya menatap sekilas suaminya yang akan keluar kamar.
"Mau ambil minum." sahut nya.
"Emh..." balas Latya singkat.
Rey pun keluar kamar tanpa menoleh lagi menuju ke dapur, di dalam dapur ia melihat dus di sudut meja, lantas ia pun meraih benda tersebut itu.
"Bang Rey lama banget ambil minum aja, apa jangan-jangan dia ngobrol sama ayah? Tapi kok sepi!" gumamnya.
Latya kembali menatap ke layar laptopnya itu lalu mengerjakan kembali pekerjaan kampus nya.
"Ini minum yang!" titahnya lembut.
"Apa itu?" tanya Latya.
"Susu untuk ibu hamil, tadi Abang belum lihat kamu minum susu. Ini bagus untuk bayi kita, kamu kan dari tadi muntah-muntah terus."! ujar Rey. "Ayok minum!"
Latya meraih susu itu lalu meminumnya dengan sedikit. "Habiskan!" tegas Rey.
"Gak mau!" tolaknya.
"Habiskan! Biar sehat kamu sama janin nya, ayo!" titah nya agak galak.
"Ish." Latya berdesis kesal namun menghabiskan susu itu tanpa ragu lagi.
"Good sayang." puji Rey tersenyum. "Yang sehat ya." ucapnya seraya mengelus perut Latya dengan lembut.
Rey duduk di samping Latya kembali, lalu memperhatikan istrinya yang sangat serius sekali, sedangkan Rey memilin rambut istrinya sebagai kode keras, tapi Latya tidak peka. Melihat istrinya saat ini yang terlihat sedikit berisi dan pipi nya yang cabi membuat Latya terlihat menggoda bagi nya.
"Yang bobo yuk, udah malam lho, ingat lagi hamil tidur jangan malam-malam." ucap Rey.
Bukan nya menjawab Latya malah mengendus-endus. "Bau apa sih ini?" tanyanya seraya terus mengendus.
"Ooooeee." ia ingin muntah.
"Bang Rey mandi nya tadi bersih gak sih?" tanyanya.
"Bersihlah." jawabnya tidak terima.
"Kok aku mau muntah ya, mual gak kuat sama aroma Abang." jelas Latya menyakitkan.
"Enak aja Abang bau! Abang gak pernah bau ya!" kesalnya gak terima.
__ADS_1
"Tapi aku mau muntah." ucapnya menutup mulutnya dengan tangan. "Sana ah jangan dekat-dekat!" ucapnya.
Rey mencium kedua ketiak nya dan tubuhnya. "Wangi kok, orang Abang udah mandi." cebik nya kesal.
Latya menutup laptopnya lalu berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perut yang membuat nya mual.
"Ooooeee." berulang kali Latya memuntahkan nya. Rey yang mendengar pun langsung menghampiri untuk memijat tengkuk lehernya dengan lembut.
"Gimana udah enakan?" tanya Rey lembut.
Latya mengangguk lemah dan memegang perut nya. Lalu Rey pun membopong Latya ke kasur.
Rey jadi mengingat saat ia mual jika dekat dengan Maura, mungkin begini rasanya saat dia bilang bau padanya padahal sedikit pun tubuh nya tidak bau.
Rey menghela nafasnya panjang. "Apa masih bau? Kalau gak kuat sama aroma Abang, Abang tidur di sofa aja." ucap Rey mengalah, karena ini pasti efek dari kehamilan istrinya seperti itu.
"Jangan! Tidur sama aku sini!" ajak nya dengan menepuk kasur di sampingnya dengan manja.
"Tapi nanti kamu mual sayang, kamu nanti muntah-muntah lagi." ucap Rey.
"Oh jadi Abang gak mau tidur sama aku!" kesal nya.
"Eh bukan gitu maksudnya?" Rey bingung tadi istrinya itu mengusir nya sekarang meminta nya untuk tidur di samping nya.
Latya cemberut marah. Ia pun naik ke kasur dengan cepat dan menyelimuti tubuhnya itu dengan selimut.
Rey pun menggaruk dahi nya yang tiba-tiba gatal. Dengan cepat Rey melompat ke atas kasur dan langsung memeluk Latya dengan erat ia tidak mau sampai istrinya marah lalu tidak mengijinkan untuk tidur di sampingnya.
saat Rey memeluk nya, Latya tidak menolak sama sekali membuang Rey tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan marah ya Abang gak mau kamu marah terus sama Abang, gak enak tahu di cuekin terus." sendu Rey di samping Latya seraya terus memeluk. "Kita juga baru aja baikan, masa udah marahan lagi." sambung nya.
Latya diam tidak menjawab. "Hemm sayang kamu udah tidur ya?" Rey mendusel-dusel hidungnya pada bahu istrinya itu.
"Ih geli..." ucap Latya seraya mencegah kelakuan suaminya itu namun Rey terus saja melakukan hal itu membuat Latya tertawa-tawa di buatnya.
"Abang..." rengek nya.
"Apa sih yang, Abang gak ngapa-ngapain ih." goda nya.
"Uh.... hahaha." mereka pun pada akhirnya saling bercanda.
*
*
*
Sebulan kemudian, setelah pertemuan nya dengan Latya menjadi lebih baik tanpa ada nya pengganggu di antara mereka berdua lagi, tinggal menunggu hari dimana mereka meresmikan pernikahan mereka. Rey sudah mengajukan permintaan untuk menikah pada pihak kantor, untung saja pernikahan Rey segera ia daftarkan setelah mendapatkan informasi ijin menikah, karena yang pertama Latya sudah hamil dan kabar Rey sudah menikah pun hampir menyebar dan itu akan membuat Rey dalam masalah.
Rekan-rekannya yang sesama anggota kepolisian tidak tahu siapa perempuan yang Rey nikahi, karena mereka pun terkejut Rey yang kaku dan terlihat cuek pada perempuan malah yang pertama daftar nikah setelah di ijinkan nya menikah dengan rekan seangkatannya sesama satu angkatan.
"Wah gila elu Rey gercep banget udah gak kuat ya? Apa jangan-jangan elu hamilin anak gadis?" hardik Andre dengan penuh selidik saat ia tahu Rey mendaftar untuk menikah dan mendengar desas desus kabar tentang sahabat nya itu.
"Apa sih elu? Jangan dengerin omongan orang, memang nya elu percaya kalau gue berbuat hal seperti itu." Rey pun menanggapi nya dengan santai.
"Iya sih gue percaya sama elu, tapi kenapa orang pada gosipin elu kayak gitu?" heran Andre.
"Ya mungkin mereka syirik gue mau nikah." jawab nya cuek.
"Para polwan di sini pada patah hati yang gue denger, hahaha hebat tuh yang jadi calon istri elu. Kalau boleh tahu siapa sih cewek yang bakal jadi istri elu Rey?" Andre penasaran perempuan mana yang dapat meluluhkan hati Rey dan membuat Rey begitu yakin calon nya itu sebagai ibu Bayangkari nya.
"Nanti elu juga tahu, elu datang ya ke acara nikahan gue nanti!" seru Rey santai.
"Ah elu Rey sama temen aja masih pakai rahasiaan segala." Andre tak terima jika masih ada rahasia di antara mereka.
"Gue takut elu kaget terus elu punya niatan jahat sama gue buat batalin pernikahan gue nanti." ujar Rey dengan tatapan serius.
"Gue gak sejahat itu, lagian buat apa gue batalin nikahan elu Rey?" Andre semakin bingung dengan ucapan sahabatnya itu.
Rey tersenyum sarkas. "Jangan pikirin omongan gue, pokonya elu gue undang sebagai tamu istimewa gue." lanjut Rey pun berkata seraya pergi meninggalkan Andre yang terlihat kebingungan.
"Maksud dia apa coba?" batin nya penuh tanya.
__ADS_1
"Latya apa kabar ya dia? Hemmm apa gue datang ke rumah nya langsung lamar dia aja ya? Haha gila gue gimana kalau dia tolak gue? Ck. Pesona Andre tidak mungkin di tolak secara gue sama si Rey gak jauh beda. Hahaha." batin nya Andre berguyon.
Andre pun tersenyum menertawakan kelakuan dirinya sendiri yang begitu yakin jika Latya akan menerimanya ketika dia melamar nanti, memang sih Andre gak jauh beda sama Rey hanya saja Andre lebih pecicilan tidak kalem seperti Rey.