
"Maura lihat tante bawa makanan yang kamu suka." ucap Rahma seraya membawa kotak makanan yang Maura suka di tangan nya. "Maura... Maura..." panggil Rahma saat ia tidak melihat Maura di dalam ruangan rawat nya. Rahma mencari memanggil nama Maura seraya mencari ke kamar mandi ke kolong ranjang kemanapun namun Rahma tidak menemukan Maura berada.
Lalu Rahma pun memanggil suster dan menanyakan dimana keberadaan Maura, tapi suster yang sedang bertugas pun tidak mengetahuinya kemana pasien yang bernama Maura itu.
"Cepat bantu saya menemukan keponakan saya, dia masih sakit sus." pinta Rahma dengan penuh rasa khawatirnya.
"Baik Bu." jawab nya.
"Maura kamu dimana sayang." lirih Rahma ia sangat cemas dengan keadaan Maura yang masih begitu lemah. "Sebenarnya ada apa sih, sampai kamu mengamuk seperti itu dan hilang seperti ini." gumam Rahma tidak mengerti.
Rahma semakin khawatir dengan Maura, semua petugas rumah sakit di kerahkan untuk mencari Maura melalui cctv yang ada di rumah sakit.
***
"Sudah selesai?" tanya Rey pada Latya yang tengah berdiri di hadapannya.
"Udah dong makanya aku ada di depan Abang juga." sahut nya dengan muka cemberut karena hari sudah sore moodnya yang lelah membuat Latya menjadi kesal yang ia rasa.
Rey menjembel kedua pipi Latya dengan gemas. "Hemm capek ya, ayok kita langsung pulang!" ajaknya dengan menarik tangan nya dan membawa Latya ke dalam mobil setelah ia membukakan pintunya untuk Latya.
"Ih sakit." rengek nya manja seraya mengusap pipi nya yang di jembel oleh Rey.
"Hehehe sakit ya." ucap Rey lembut dengan mengusapkan salah satu pipi Latya dengan lembut. "Maaf sayang habis nya Abang gemes sama kamu." godanya.
"Ih gombal!" kesal nya.
"Abang gak pernah gombal." ucapnya tak terima.
"Iya...iya." ucap Latya malas. "Emmh bang magang aku hampir selesai, mungkin semingguan lagi aku udah pulang ke rumah bunda Via dan aku mulai masuk kuliah, aku tinggal minta tanda tangan pimpinan di kantor sama dapat nilai prakerin selama aku magang di sini." jelas Latya memberi tahu Rey dengan tatapan sendu.
"Kok udahan sih?" tanya Rey sedikit kecewa.
"Ya aku kan memang sudah selesai waktu magangnya, jadi mungkin kita akan berjauhan selama aku menyelesaikan kuliah aku." jelas Latya.
"Hah." Rey membuang nafas nya dengan kasar. "Kita bakal berjauhan dong, Abang gak bisa bolak-balik." Rey merasa kecewa karena keterbatasan waktu untuk bertemu dengan istrinya itu.
"Gak apa-apa kita LDR-an aja, kita bisa video call atau kirim-kiriman pesan." ujar Latya membujuk Rey agar tidak merasa kecewa.
"Ah tapi beda sayang, kita gak bisa kangen-kangenan sampai tuntas kalau hanya di telepon." ujar Rey cemberut.
"Ya mau gimana lagi aku kan harus selesaikan dulu kuliah aku bang, emang Abang mau aku gak lulus." cebik Latya.
"Ya gak gitu juga, masa iya kamu gak lulus, percuma dong ikut magang kalau kamu gak lulus." Rey mengalah demi kepentingannya bersama.
"Ya makanya Abang ngertiin aku, dan aku nanti juga akan lebih sibuk sepertinya." ucap Latya pelan memberi tahu.
Rey menghela nafasnya. "Ok gak apa-apa, asalkan kamu jangan lupa hubungi Abang." titah nya.
Latya tersenyum. "Kita ngomongin apa sih bang, ngomongin hal yang gak jelas, padahal santai aja kan masih ada waktu hehehe. Lagian ya kita hidup di jaman modern banyak alat komunikasi yang begitu canggih agar kita selalu terasa dekat." ucap Latya cengengesan.
"Hal yang gak penting? Bagi Abang ini penting sayang, apalagi waktu kamu di Jakarta seminggu lagi." ucap Rey kesal pada Latya.
"Hehehe iya maaf bang, abis muka kamu serius banget aku jadi pengen meluk deh." goda Latya seraya memeluknya lengan Rey dengan erat.
"Abang lagi nyetir ya jangan godain Abang!" cegah nya tegas karena apa? Karena dada Latya yang menempel di lengan Rey membuat Rey tidak fokus.
"Aku gak godain, aku cuma pengen meluk Abang aja." ucapnya manja membuat Rey tersenyum tipis melihat tingkah istrinya itu.
Rey menarik nafasnya panjang. "Kamu gak tahu aja." gumamnya seraya melirik pada lengan nya yang di peluk erat oleh Latya.
Saat Rey sedang asyik mengendarai mobilnya, handphone nya pun tiba-tiba berdering. Sebuah nomor yang ia namakan dengan nama tante Rahma pun memenuhi layar handphone nya.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Latya sambil melirik pada layar handphone Rey. "Tante Rahma mau apa lagi bang?" tanya Latya penasaran.
"Udahlah biarin aja." balas Rey cuek.
"Bang dia orang tua juga lho, siapa tahu tante Rahma memang ada keperluan sama Abang." ucap Latya meyakinkan Rey.
"Abang angkat dulu ya." Rey meminta ijin pada Latya setelah ia menepi ke pinggir jalanan dan Latya pun mengangguk.
Latya menghela nafasnya panjang seraya menyenderkan punggungnya pada kursi mobil. Latya kesal selalu saja tante Rahma menelpon Rey ketika mereka sedang berduaan seperti ini. "Mengganggu saja." gerutu Latya pelan namun terdengar oleh Rey dan Rey pun mengusap kepala Latya dengan lembut dan tersenyum tipis menenangkan istrinya. Sedangkan Rey menjawab telepon dari Rahma.
"Iya Tante." ucap Rey santai.
"Apa?" Rey terkejut.
"Ok Rey kesana sekarang!" ucapnya cepat.
Tut. Panggilan itupun terputus Rey terlihat gusar setelah menerima panggilan dari Tante Rahma membuat Latya yang melihatnya pun merasa cemas.
"Ada apa bang?" tanya Latya penasaran.
Rey menghirup nafas nya dalam-dalam. "Maura naik ke atas gedung rumah sakit di lantai paling atas, dan dia mencoba untuk bunuh diri." jelas Rey lemas.
"Apa? Serius kamu bang?" tanya Latya sama-sama terkejut.
Rey mengangguk pelan dengan mengusap wajahnya frustasi. "Kita kesana sekarang, kamu temani Abang ya. Tante Rahma bilang Maura terus saja berteriak menyebutkan nama Abang." terang Rey seraya mengemudikan kendaraannya.
"Ya Allah, Maura senekad itu? Memang ada kejadian apa yang membuat Maura jadi nekad begitu?" tanya Latya penasaran.
"Maura sudah tahu kalau Abang sama kamu sudah menikah." jelas Rey cepat.
"A... apa? Abang yang beri tahu Maura?" tanya Latya lagi dan Rey mengangguk.
"Kenapa Abang beri tahu sih, ini kan belum waktunya dan belum saatnya Maura tahu, apalagi Maura sedang sakit bang sekarang!" kesal Latya dengan ketidaksabaran Rey.
Latya terdiam, di dalam lubuk hatinya ia sangat bahagia mendengar perkataan Rey yang sangat tegas menolak Maura, tapi di sisi lain Latya merasa ada kekhawatiran dalam hatinya.
Latya tersenyum. "Maaf aku tidak berniat untuk menyalahkan Abang, aku cuma khawatir aja bang." lirih Latya.
"Makanya temani Abang ya, Abang butuh kamu yang selalu ada di sisi Abang." ucapnya memohon.
Latya tersenyum. "Ok baiklah aku akan temani Abang kemanapun Abang pergi." balas Latya penuh semangat.
"Kita lalui bersama ya." ajak Rey kembali yang membuat Latya tersipu.
Latya mengangguk lalu tersenyum bahagia. Walaupun selalu ada yang menggangu hubungan mereka berdua, jika kita lalui bersama, hubungan tidak akan terasa sedang bermasalah, malah semakin ada masalah yang menghampiri maka semakin menguat cinta yang akan mereka rasakan.
Sesampainya di rumah sakit, banyak sekali di bawah gedung sedang melihat dan meneriaki orang yang tengah berdiri di atas gedung tinggi rumah sakit. Iya orang itu adalah Maura yang Rey dan Latya kenal.
Dengan terburu-buru Rey yang diikuti oleh Latya pun naik ke atas gedung di lantai paling atas dengan mengunakan lift untuk segera menemui Maura.
"****!" umpat Rey pelan. Ia sungguh kesal dengan apa yang dilakukan oleh Maura, apalagi ini ada hubungan dengan dirinya.
"Bodoh!" geramnya kesal.
"Bang tenang." Latya mengusap lengan Rey agar suaminya itu tenang.
Rey terus menghela nafasnya panjang, selama mereka berada di lift.
Kini Rey dan Latya pun sudah berada di puncak gedung yang kini Maura sedang di bujuk oleh beberapa petugas medis dan terlihat juga tante Rahma yang begitu khawatir melihat Maura yang seperti orang depresi.
"Maura sayang, please jangan lakukan hal bodoh yang bisa membahayakan diri kamu sayang, ayok kemari lah!" ajak Rahma lembut merayu Maura agar ia tidak melakukan tindakan yang aneh.
__ADS_1
"Gak tante, aku mau mati!" teriaknya.
"Untuk apa aku hidup, hidup ku sudah tidak berguna lagi, orang-orang yang aku sayangi pun sudah meninggalkan ku, jadi untuk apa aku hidup, bahkan tubuh ku saja sakit. Lebih baik aku mati tante supaya aku tidak selalu merepotkan Tante." ucapnya frustasi.
"Maura sayang Tante sayang sama kamu, tante juga tidak merasa kamu repotkan, ayok sayang mendekatlah jangan lakukan itu sayang, ayok tante mohon..." pinta Rahma seraya mendekat berniat untuk menarik tangan Maura.
"Jangan mendekat! Kalau kalian mendekat aku akan lompat!" ancam nya tidak main-main.
"Maura..." panggil Rahma lemas, ia benar-benar sedih melihat keadaan Maura saat ini. Nisa dan Adam yang berada di sampingnya setelah tahu kejadian ini Nisa yang sebelumnya di telepon Rahma pun langsung datang menemani.
"Bagaimana ini Nisa, aku takut Maura nekad." cemas dan khawatir yang kini Rahma rasakan.
Rey yang dari tadi menyaksikan bagaimana Maura bertindak pun angkat bicara mencoba mengajak atau merayu Maura agar bisa turun dari sana dengan aman.
"Maura." panggil Rey lembut memanggil nama Maura, dan Maura yang tadi berteriak-teriak pun diam lalu menoleh pada laki-laki yang memiliki suara pemilik hati nya itu. Suara yang selalu membuat nya merasa damai.
Maura tersenyum sinis. "Untuk apa kamu Rey kesini?!" kesal nya. "Oh mau melihat aku mati." ucapnya sinis.
"Kamu tahu Rey hidup ku sudah tidak berguna lagi, apalagi kamu juga sudah menolak ku, dan memilih Latya, untuk apa aku hidup, kamu akan melihat aku mati di sini, ini semua karena kamu Rey." ucapnya lemah.
"Ya aku sadar aku bukan wanita yang sempurna tapi aku butuh kebahagiaan, dunia ini begitu kejam, kenapa orang-orang yang aku sayangi meninggalkan aku, papa meninggal, mamaku yang di penjara dan sekarang kamu Rey, hidup terasa tidak adil padaku, aku bahkan memiliki tubuh yang sakit-sakitan. Jadi untuk apa aku hidup!" teriak nya frustasi.
"Maura, aku minta maaf karena sudah membuat hati kamu terluka, tapi aku minta sama kamu jangan lakukan hal bodoh seperti ini, masih banyak orang yang sayang sama kamu, jadi jangan berpikir macam-macam, kami semua di sini sayang kamu Maura." bujuk Rey dengan lembut seraya mendekat ke arah dimana Maura berada.
"Bohong!" teriaknya.
"Aku tidak bohong Maura, kamu mau apa sekarang? Ayok kita bicarakan dengan baik-baik." bujuk Rey terus mendekati Maura yang sudah terlihat tenang.
Maura yang sedikit sadar jika Rey mendekat pun berteriak kembali. "Jangan mendekat kamu Rey, kalau kamu mendekat aku akan lompat!" ancam nya membuat Rey menghentikan langkahnya.
"Aku tidak percaya dengan kata-kata kamu Rey, kamu bohong!" teriaknya dengan seraya berjalan terus ke pinggir gedung. Semua orang yang menyaksikan aksi nekad Maura pun berteriak histeris karena Maura yang lemas terlihat akan jatuh.
"Apa kita panggil petugas yang bisa menangani hal seperti ini Nisa. Aku khawatir sekali." ucap Rahma tidak sanggup melihat Maura yang masih kekeh untuk melakukan aksi bunuh diri.
"Kita lihat saja dulu siapa tahu Rey bisa menenangkan Maura, karena masalah ini Rey yang buat." ucap Nisa.
Latya yang melihat aksi Maura pun hanya diam saja, ia tahu Maura melakukan ini karena kecewa pada bang Rey yang sudah menolaknya.
"Ok Maura apa yang kamu inginkan sekarang? Aku akan melakukan apa yang kamu mau?" tawar nya, Rey sudah tidak bisa membujuk kerasnya hati Maura itu. Mungkin penawaran ini akan membuat Maura luluh.
"Aku mau kamu Rey." ucapnya dengan suara bergetar.
Deg. Duarr. Rey diam dan Latya terkejut. penasaran apa yang akan di lakukan Rey suaminya, Maura meminta dirinya yang menginginkan nya.
Rey memejamkan kedua matanya lalu menengok ke arah Latya yang tidak jauh berdiri mematung di dekatnya, menatapnya dengan lekat dengan tatapan gamang nya. Lalu Rey pun kembali menutup kedua matanya untuk mengambil keputusan yang benar-benar berat untuk nya.
"Ok Maura jika kamu menginginkan aku, kamu jangan lakukan hal bodoh itu, kemarilah!" bujuk nya dengan lembut.
"Apa kamu bersungguh-sungguh Rey?" tanya Maura berbinar dan memastikan kebenaran ucapan Rey.
"Iya, kemarilah!" ajak nya lagi seraya mendekati Maura yang masih berdiri di pinggir gedung.
Maura diam tidak memberontak karena percaya dengan ucapan Rey. Setelah Maura benar-benar sudah tenang Rey pun meraih tangan Maura dan membawa Maura ke tengah gedung agar tidak berbahaya, posisi itu tidak jauh dengan posisi dimana Latya berdiri.
Maura langsung memeluk Rey dengan erat, seperti ia memeluk seorang kekasih, Rey dengan berat membalas pelukan Maura namun tidak seerat Maura, membuat Latya yang menyaksikan pemandangan itu sungguh membuat nya sakit. Dan Latya pun tidak mengerti apa maksud Rey yang menyetujui jika Maura boleh memiliki nya, memiliki dirinya? Seutuhnya? Lalu bagaimana dengan nya?
Semua orang yang menyaksikan adegan mereka pun kembali berteriak mereka merasa lega akhirnya perempuan yang memakai pakaian rumah sakit yang mencoba melakukan bunuh diri pun selamat karena laki-laki tampan berseragam polisi sudah menenangkan nya dan membawa nya ke tempat yang sudah aman.
Maura masih memeluk Rey lalu karena tubuhnya yang masih belum begitu sehat Maura pun akhirnya pingsan di pelukan Rey, Rey dan beberapa petugas medis pun langsung membawa Maura ke dalam ruangan inapnya agar Maura di periksa kembali oleh dokter.
Tak lama Maura pun tersadar dari pingsannya setelah menerima pemeriksaan dari dokter dan juga suster di sana, melihat Rey masih berada di ruangannya Maura pun tersenyum lemah lalu meminta Rey untuk memeluknya kembali padahal di samping Rey ada Latya yang juga sedang menunggu nya. Mungkin Maura sengaja untuk membuat Latya sakit hati dan cemburu. Ya Latya merasakan cemburu yang sangat amat cemburu.
__ADS_1
Rey merasakan apa yang di rasakan istrinya itu, namun ia tidak mau kejadian aksi nekad Maura terjadi kembali, sungguh membuat Rey menjadikan dilema di buatnya.
Latya yang merasakan sakit di hatinya dan merasa sesak di dadanya membuat ia ingin pergi saja dari ruangan itu, Latya tanpa pamit, pelan-pelan ia berniat untuk pergi namun Rey mencegah nya dengan tangan Rey yang menahan Latya untuk pergi. Tangan Latya Rey genggam dengan erat seolah Rey meminta Latya untuk tidak pergi meninggalkan nya sedangkan di pelukannya Maura tengah memeluknya dengan erat. Posisi mereka seperti posisi dimana cinta segitiga.