Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
pengakuan cinta tak terbalas


__ADS_3

Malam ini Andre begitu kesal, kesal pada Rey sahabatnya, ntah kenapa rasanya sulit untuk mendengarkan penjelasan yang Rey jelaskan padanya, ia sungguh sangat kecewa.


Andre pun berniat pergi ke mana pun yang akan membuat dirinya bisa melupakan rasa sakit hatinya.


Sebuah cafe tujuan akhirnya, dia memarkirkan motornya di sebuah parkiran cafe coffee yang cukup ramai oleh pengunjung.


Ia pun memesan segelas coffee ice untuk merendamkan hati nya yang memanas akibat rasa cintanya yang mungkin takkan terbalaskan.


Andre pun meminum minumannya dengan sesekali melihat kesekitar lingkungan nya, dan saat ini ia terpaku dalam satu tatapan pada seorang wanita yang tengah duduk sendirian dan semakin di lihat ternyata dia sangat mengenalnya.


"Sedang apa dia di sana? Sendirian?" gumamnya pelan.


"Hemmm apa aku kesana saja ya?" gumamnya lagi seraya menghampiri wanita itu setelah berpikir berulang kali.


"Hai... sendirian saja?" sapa Andre.


"Briptu Andre." ucapnya seperti terkejut melihat Andre ada di hadapannya.


"Boleh aku duduk gabung dengan kamu?" ijinnya.


"Oh boleh, silahkan." ucapnya mempersilahkan.


"Anda sendirian saja?" tanya Andre yang dari tadi melihat Bripda Desti sendirian dan terlihat murung.


Bripda Desti tersenyum tipis. "Ya seperti yang anda lihat." jelas nya.


Andre menatap sekilas pada wajah Desti, ia memang begitu terlihat murung walaupun dia berusaha menyembunyikan nya.


"Apa anda sudah tahu tentang kabar Rey?" tanyanya langsung, karena Andre tahu sekali jika rekan kerjanya yang ada di hadapannya itu memiliki perasaan pada Rey sahabatnya dan itu bukan rahasia lagi, semua sudah tahu.


"Yeah aku sudah tahu itu, sejak lama." jawab Bripda Desti.


Andre menautkan kedua alisnya dia tidak mengerti dengan jawaban Desti. "Sejak lama?" tanya Andre mengulang kembali pertanyaannya.


"Yah." sahut nya yakin.


"Sejak kapan?" tanya Andre penasaran. "Dan apa anda tahu siapa yang menjadi istri Rey?" tambah nya.

__ADS_1


Bripda Desti mengangguk. "Sudah lama, dan istrinya adalah Latya." jawab santai. Lalu ia pun menatap wajah Andre yang seakan-akan ingin tahu itu. "Apa masalahmu?" Desti malah berbalik untuk bertanya.


"Ya aku hanya penasaran kenapa anda bisa sesantai itu saat tahu Rey sudah menikah dan istrinya itu adalah Latya, aku pikir kamu akan kesal atau marah begitu?" sarkasnya.


Bripda Desti tersenyum simpul. "Untuk apa aku marah toh tidak akan membuat Briptu Rey berpaling padaku dan menjadi milikku." jawab nya membuat Andre terdiam.


"Ya aku sakit, sakit saat mengetahui jika laki-laki yang selama ini aku sukai sudah memiliki kekasih, terlebih kekasih nya itu aku tahu dia. Aku tidak menyangka saja, tapi ya sudahlah mungkin Briptu Rey memang bukan jodohku, karena dari awal saja dia sudah menolak ku, jadi untuk apa aku berharap lagi padanya. Aku akan mencoba membuka hati untuk laki-laki lain saja yang akan mencintaiku dengan setulus hati nya." jelas Bripda Desti terdengar menyayat hati.


Andre masih diam dia hanya jadi pendengar saja sebelum dia menanggapi ucapan Desti ini.


Desti tersenyum canggung. "Maaf aku malah menjadi curhat kepada anda." ucapnya tidak enak hati pada sahabat laki-laki yang ia sukai.


"Oh tidak apa-apa, aku senang jika anda bercerita, setidaknya aku bisa membuat mu lebih tenang." ujar Andre merasa simpatik.


"Iya aku merasa lebih baik sekarang setelah anda mendengar perasaan ku yang sebenarnya, maaf aku jadi menceritakan sahabat anda itu." ucapnya tak enak hati.


"Tidak apa-apa, aku pun sama sedang merasakan bagaimana rasanya cinta yang tidak tersampaikan." ucap Andre yang membuat Desti yang sedang melihat ke arah lain untuk tidak melihatkan kesedihannya langsung menatap Andre sekilas.


"Aku yakin kamu akan menemukan pengganti Rey." ucap Andre lagi meyakinkan Desti. Padahal dirinya nya sedang patah hati karena tidak bisa memiliki Latya sebagai kekasihnya.


"Ya kita sama, sama-sama tidak bisa memiliki orang yang berarti untuk kita." balas Andre dengan tersenyum malu menertawakan dirinya sendiri.


"Kalau boleh aku tahu siapa perempuan yang membuat mu patah hati seperti ini? Karena yang sering aku lihat anda itu orangnya santai dan aku perhatikan juga banyak perempuan yang suka kepada anda." tutur Desti tidak percaya seorang Andre bisa patah hati.


"Aku manusia, sama seperti yang lainnya, ada perempuan yang membuat ku merasa kecewa, aku sudah lama berharap lebih padanya, namun ternyata dia adalah istri orang, dia sudah menikah dengan laki-laki yang sangat aku kenal selama ini." ujarnya ada kekecewaan saat Andre menceritakan nya.


"Rasanya cerita cinta kita hampir sama, sama-sama di tinggal menikah." ucap Desti dengan senyum candaannya.


Andre tersenyum tipis. "Ya sama-sama di tinggal menikah, dan pasangan kitalah yang meninggalkan kita itu, pasangan yang belum sama sekali berhubungan dengan kita." batin Andre sungguh miris. Ia mengingat cinta nya yang bertepuk sebelah tangan dengan Latya dan cinta Desti bertepuk sebelah tangan dengan Rey.


"Ya sudahlah biarkan mereka bahagia dengan pasangannya." ucap Desti dengan lega setelah bercerita pada Andre.


"Ya seperti nya kita memang harus merelakan orang yang ada di hati kita untuk mereka bahagia, setelah aku bicara dengan anda rasanya aku akan lebih bisa menerima kenyataan ini memang bukan dialah orang yang terbaik untuk kita." ujar Andre mulai menyadari kekesalan nya pada sahabatnya itu tidak ada gunanya.


Ia harus menerima semua keputusan Rey, Rey sudah lama bersahabat dengan nya, namun Andre tidak mau gara-gara masalah perempuan mereka menjadi renggang, persahabatan mereka lebih penting, walaupun Andre bersikeras tidak bisa menerima kenyataan ini toh Latya tidak akan pernah menjadi milik nya, dia tidak mau mengganggu hubungan rumah tangga orang lain apalagi rumah tangga sahabat nya sendiri.


Melihat dan mendengar dari sikap dan ucapan Desti itu Andre mulai sadar, masih banyak perempuan di luar sana yang bisa menjadi pendamping hidupnya, ia akan terus berkelana mencari perempuan yang cocok untuk bersanding dengan nya di suatu saat nanti, dan satu yang harus di ambil dari kejadian ini adalah ia harus dengan cepat melangkah jika suatu saat nanti ia menemukan perempuan yang membuat dirinya jatuh cinta kembali, ia bertekad bulat tidak akan lama untuk mengajak nya ke pelaminan bersama nya.

__ADS_1


Mereka pun menjadi asyik mengobrol, membicarakan pekerjaan, kelurga dan juga lainnya yang membuat mereka nyaman dan asyik.


Setelah lama mereka mengobrol Andre yang saat ini berada dekat dengan Bripda Desti pun merasa kagum padanya. Ia melihat wajah Desti yang cantik dan satu lagi kelebihan nya, ia polwan yang memakai jilbab, dan saat ini ia sedang mengenakan pakaian biasa, sangat cantik jika terlihat dari jarak yang sangat dekat seperti ini. Andre mengakui kecantikan Bripda Desti.


***


"Bang Rey, apa bang Andre sudah Abang jelasin tentang kita?" tanya Latya di tengah kehangatan yang mereka lakukan di dalam kamar, kini posisi mereka sedang berpelukan, Rey memeluk Latya dari belakang sedangkan Latya memunggunginya.


"Sudah, tapi dia masih belum bisa menerima seperti nya." balas Rey seraya kepalanya menelusup ke ceruk leher istrinya itu. Rey butuh kekuatan dari istrinya itu sebagai amunisi baginya.


"Lalu bagaimana? Apa yang akan bang Rey lakukan?" tanya Latya pelan.


Rey menghela nafasnya panjang. "Abang akan coba minta maaf lagi dan mencoba menjelaskan lagi agar dia bisa mengerti. Ya Abang gak mau aja pertemanan kita jadi berjarak seperti ini."


Latya merasakan tidak enak nya masa ini, saat suami nya menghela nafasnya yang terasa di lehernya. "Apa aku juga ikuti jelaskan saja sama bang Andre, siapa tahu kalau aku yang bicara padanya bang Andre akan mengerti." tawar nya.


"Apa kamu mau seperti itu?" tanya Rey memastikan.


"Ya aku yakin, karena aku gak mau hubungan kalian jadi merenggang seperti ini, ini juga kan ada hubungannya dengan ku, walaupun aku baru tahu kalau bang Andre ternyata memiliki perasaan sama aku, aku akan mencoba memperbaiki hubungan kalian, karena bang Andre itu orang nya baik dia juga orang nya sabar dan dewasa, aku yakin bang Andre bisa lebih mengerti." tutur Latya menilai Andre selama ia kenal saat dirinya magang.


Rey tiba-tiba bangun lalu mengarahkan wajah Latya agar menatap nya, saat Latya menatap nya Rey pun menatap Latya dengan tatapan tajam nya.


"Kenapa sih Abang lihat aku seperti itu?" heran Latya. "Apa ada yang salah?" tambah nya lagi.


Rey mendengus tidak suka. "Jangan memuji laki-laki lain!" kesal nya.


"Ya ampun bang Rey, aku kan cuman ngomong apa ada nya, bang Andre kan memang baik makanya cocok banget sahabatan sama Abang, iya kan?!" tanyanya membenarkan.


"Ya tapi jangan puji-puji dia dong, Abang gak suka!" ketus nya dengan tegas.


Latya memutar bola matanya malas. "Mulai deh kumat cemburunya!" kesal Latya seraya memunggungi Rey kembali.


"Eh kamu gak sopan ya membelakangi tubuh suami!" sebal Rey karena Latya malah marah padanya.


Dengan cepat Latya pun menghadap ke arah dimana Rey berada yang sedang merajuk karena cemburu tidak berarti nya. Lalu Latya pun menarik kepala Rey itu lalu ia dekap di dadanya yang sudah sangat besar, sehingga Rey pun diam dan terus menelusup manja dan Latya mengelus kepala suaminya itu dengan lembut, dan tangan Rey terus mengelus perut Latya yang semakin besar, Ini lah tempat ternyaman yang membuat Rey diam dan tidak akan marah lagi.


"Nah gini dong, bikin hati suami tenang dan nyaman." gumamnya dengan seringai senyum di bibirnya namun sayangnya istrinya tidak tahu jika dia sedang tersenyum merasa menang.

__ADS_1


__ADS_2