
Dengan mimik muka panik, Rey tiba-tiba mengingat istrinya itu. "Latya?" ucapnya panik.
Dengan segera Rey memanggil nomor Latya yang ada di handphone nya itu, namun Latya tidak menjawab panggilan Rey, membuat Rey semakin khawatir.
"Ayok Latya angkat telepon nya, kamu lagi apa sih?!" kesal Rey hatinya semakin tidak tenang.
Berkali-kali Rey mencoba menelpon Latya namun sama sekali tidak Latya jawab. Tidak mau menunggu lama Rey pun dengan cepat keluar dari ruangan nya untuk mencari Latya dan menanyakan nya pada rekan-rekannya yang ada di sana.
"Elu lihat Latya gak?" tanya Rey cepat melihat Andre yang sedang bercanda dengan rekannya.
"Enggak, gue gak lihat Latya dari tadi." sahut Andre cepat.
"Elu lihat gak?" tanyanya pada rekannya yang lain, dan rekan nya pun menggelengkan kepalanya tidak tahu.
Adam menghela nafasnya. "Apa dia sudah pulang ya?" gumam nya bertanya pada hatinya.
"Coba elu tanya Bripda Desti, dia kan yang sering bareng sama Latya." ucap Andre memberi tahu.
"Ah iya!" seru Rey tanpa pamitan atau pun ucapan terima kasih dia langsung pergi begitu saja walaupun Andre terus memanggil namanya.
"Dasar si Rey!" kesal Andre pada sahabat nya itu padahal ia penasaran kenapa Rey sepanik itu saat menanyakan keberadaan Latya.
Rey pun tanpa memperdulikan sapaan rekan nya yang melihat Rey berjalan dengan langkah yang sangat cepat dan terlihat tergesa-gesa, kini di dalam pikiran nya hanya satu yaitu keberadaan Latya.
Bripda Desti begitu terkejut sekaligus bahagia karena melihat Rey masuk kedalam ruangan nya dan terlihat berjalan menuju ke arah dimana ia duduk. Dengan mempersiapkan dirinya di hadapan Rey ia pun menyiapkan senyumannya yang paling manis siapa tahu Rey akan meleleh dengan senyum manisnya itu.
"Bripda Desti dimana Latya?" tanya Rey cepat tanpa basa-basi ataupun melihat bagaimana rekan kerja nya itu sedang salah tingkah karena dirinya.
"Emmmh... Laa.. Latya?" ucapnya gugup membuat Rey yang sedang terburu-buru jadi kesal karena ucapannya yang terbata-bata bukan langsung menjawab.
"Iya Latya dimana dia sekarang?" tanya Rey kembali dengan nada kesalnya.
"Latya sudah pulang Briptu Rey. Baru saja, karena sudah waktunya dia pulang kan?" ucap Desti heran kenapa Rey terdengar seperti tidak sabaran.
Rey mendesah frustasi. "Ah kenapa tidak bilang dari tadi sih!" kesal nya seraya pergi meninggalkan Desti yang tiba-tiba mengerutkan keningnya karena heran.
Desti mengusap dada nya yang tadi berdebar-debar saat dekat dengan Rey apalagi tadi begitu sangat dekat. Tapi dia kesal dan juga kecewa karena Rey datang ke ruangan nya hanya untuk menanyakan keberadaan Latya.
Bripda Desti mendengus kesal. "Briptu Rey kenapa kamu cari orang yang tidak ada, aku harap kamu datang kesini karena mencari ku bukan mencari Latya, memang sih dia itu Ade sepupu kamu sedangkan aku bukan siapa-siapa kamu." batin Desti begitu amat kecewa.
Sedangkan Rey ia terus berlari keluar untuk mencari Latya dengan terus mencoba menelpon Latya tanpa henti. Ia begitu khawatir dengan Latya, bagaimana jika pelaku pembunuh pak Rangga akan mencelakai Latya. Sungguh sangat takut Rey membayangkan nya.
"Hallo Latya kamu kemana saja? Kenapa baru jawab panggilan Abang dan sekarang kamu dimana?" tanya Rey cepat dengan rentetan pertanyaan yang membuat Latya sulit untuk menjawab, saat Latya mengangkat panggilan telepon nya itu, dengan suara Rey yang begitu khawatir dan juga takut.
__ADS_1
"Abang banyak banget sih pertanyaannya aku bingung harus jawab yang mana dulu!" sebal Latya dengan wajah cemberut menggemaskan jika melihatnya, namun sayangnya Rey tidak melihat ekspresi itu.
"Ok maaf Latya. Sekarang kamu dimana?" tanya Rey tidak mau berdebat lagi.
"Aku lagi di seberang jalan, aku menuju pulang sekarang." jawab nya santai.
"Seberang jalan mana?" tanya Rey tidak sabar.
"Seberang jalan dekat kan...tor." belum beres Latya menjawab Rey langsung memberikan instruksi pada istrinya itu.
"Ok kamu tunggu di sana jangan kemana-mana dan ingat cari tempat yang ramai ok! Tunggu Abang kesana!" ucapnya cepat menutup panggilan telepon itu dan terdengar panik membuat Latya mengerutkan keningnya heran.
"Tadi Abang bilang aku suruh pulang sendiri karena ada pekerjaan, tapi... sekarang malah suruh nunggu! Aneh?" gerutu Latya mematikan handphone nya namun saat ia akan masukkan handphone itu ke dalam tas handphone itu pun bergetar menandakan sebuah panggilan tertera disana. Rey memanggil kembali.
"Hallo ada apa lagi...?" tanya Latya kesal.
"Tunggu Abang di sana jangan kemana-mana!" ucapnya tegas.
"Iya bawel banget sih!" Latya pun semakin kesal ada apa dengan suaminya itu.
"Jangan di matikan!" ancamnya.
Latya mendengus tidak menjawab ucapan Rey dia hanya melakukan apa yang di perintahkan oleh Rey.
Tak lama Rey pun muncul dari dalam kantor dan ia melihat Latya di sana, sama seperti Latya ia pun melihat Rey sedang memegang handphone melangkahkan kakinya menghampiri nya yang sedang ada di seberang jalanan.
Namun ia melihat seorang nenek-nenek yang akan menyeberang, Latya melihat seorang nenek-nenek itu merasa kesulitan saat ia akan menyeberang. Terlihat dari ia memajukan dan memundurkan tubuhnya terlihat ragu ketika akan menyeberang.
Latya yang sedang menunggu pun merasa kasihan melihat nenek-nenek tersebut. Tanpa pikir panjang dan tanpa meminta ijin dari rey Latya mendekati nenek-nenek itu dan mencoba menolong nenek itu untuk menyeberang.
Rey yang melihat Latya bergerak dari posisi semula pun menjadi panik, jalanan yang sangat ramai membuat Rey kesulitan untuk berjalan lebih cepat.
"Latya kamu mau kemana? Diam di tempat!" titah nya tegas.
Namun Latya tidak memperdulikan Rey menyuruh untuk diam dan kembali pada posisi tadi.
Rey melihat ke arah kiri dan kanan mencari apa ada yang mencurigakan di sana atau tidak karena Rey sekarang sedang terusik dengan ancaman si pelaku pembunuhan atas nama pak Rangga, karena bukan hanya dirinya yang terancam tapi orang yang berada dekat dengannya pun menjadi sasaran pelaku itu untuk menghalangi penyelidikan kasus yang ia tangani sekarang.
"Aaaaaaaa." teriak Latya begitu kencang saat di hadapannya ada mobil berwarna merah melaju dengan kecepatan tinggi dan BRUG Latya terjatuh ia tertabrak mobil itu dan mobil merah itu mengegas kembali lalu pergi dengan kecepatan tinggi meninggalkan Latya setelah ia memastikan jika target sudah ia tabrak.
"Latya!" panggil Rey terkejut melihat kejadian di hadapannya , Rey langsung berlari dengan cepat menerobos orang-orang yang berlalu lalang. Semua orang yang melihat kejadian tabrak lari itu pun menjerit karena korban yaitu Latya tubuhnya terpental agak jauh karena tabrakan itu.
Rey mendekat melihat tubuh Latya berlumuran darah di sana dengan begitu banyak orang yang berkerumun melihat Latya yang tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Latya bangun!" teriak Rey memeluk tubuh Latya. "Latya!" panggil nya.
"Cepat panggil kan ambulans!" teriak Rey cepat.
Andre dan rekan nya yang melihat ada keramaian di jalanan tepat di depan kantor kepolisian pun menghampiri tempat itu, mereka terkejut melihat Rey yang sedang memeluk Latya dengan tubuh berlumuran darah itu pun dengan cepat memanggil ambulans untuk menolong Latya.
"Rey, tenang ambulans sedang dalam perjalanan ke sini." Andre menenangkan sahabat nya itu yang berteriak-teriak memanggil nama Latya.
Tak lama ambulans pun datang. "Tolong anda semua minggir!" teriak Andre mengatur masuk nya ambulans yang terhalang oleh kerumunan orang yang menyaksikan kecelakaan tersebut.
Latya pun di bawa oleh ambulans itu dan Rey masuk menemani Latya di sana karena Latya tidak mau meninggalkan istrinya sendiri. Dengan panik, khawatir dan rasa cemasnya Rey terus memanggil nama Latya.
"Latya sayang bangun... Abang di sini nememin kamu, kamu harus kuat Latya. Abang gak mau kehilangan kamu." ucapnya tanpa sadar ia memanggil Latya dengan kata sayang membuat Andre yang ikut menemani Rey di dalam ambulans merasa heran, sebegitu sayang kah Rey pada sepupunya itu.
"Latya sadar sayang sadar, Abang sayang kamu Latya." Rey terus saja meracau dengan kata-kata sayang untuk istrinya itu, ia tidak peduli jika nanti Andre sahabat nya itu merasa heran dengan sikap nya.
"Latya... Bangun... jangan tinggalkan Abang." panggil terus-menerus.
Sesampainya di rumah sakit pihak rumah sakit pun langsung membawa tubuh Latya masuk ke dalam IGD untuk segera di tangani. Rey dan Andre kini sedang menunggu Latya yang sedang di tangani oleh tim medis di depan tidak jauh dengan tempat dimana Latya diperiksa.
Rey gusar dia merasa tidak tenang rasa cemasnya dan khawatir nya membuat Rey tidak bisa diam. Rey mondar-mandir di depan ruangan itu. Ketika Rey sedang dalam kecemasan dan sekaligus ketakutan sebuah panggilan telepon dari nomor telepon yang sama tadi pagi menelponnya pun terlihat memenuhi layar handphone nya.
"Hallo." dengan cepat Rey menjawab panggilan telepon itu.
"Hallo Briptu Rey, bagaimana? Apa anda masih tetap mau menyelidiki kasus itu setelah kejadian ini?" ucapnya terdengar santai namun Rey tahu jika pelaku ini sedang tersenyum penuh kemenangan karena ancaman nya itu tidak main-main.
"Kenapa anda diam Briptu Rey? Anda kira saya main-main?" telak nya.
"Anda salah polisi muda, karena anda sudah macam-macam dengan saya, anda tahu saya tidak akan pernah main-main walaupun anda adalah seorang polisi yang saya hadapi sekalipun, saya tidak takut." ucapnya dengan nada sesantai mungkin.
"Semakin Anda semangat menyelidiki kasus itu semakin banyak orang yang anda sayangi celaka!" ancamnya.
"Saya tidak takut dengan ancaman anda, anda yang harusnya takut karena anda sudah membuat saya semakin geram kepada anda, anda harus mendapatkan hukuman apalagi anda sudah mencelakai orang yang saya sayang, semakin anda mengancam saya semakin saya akan terus mencari keberadaan anda karena sekarang saya mencari anda bukan karena kasus pembunuhan pak Rangga saja, tapi saya sekarang akan mencari pelaku yang sudah mencoba mencelakai keluarga saya!" ucap Rey tegas dan tidak takut.
"Pasal anda sekarang bertambah maka tunggu saja hukuman yang pantas untuk anda nanti!" Tut panggilan Rey pun ia tutup dengan kesal.
"Berengsek! Dia pikir aku takut dengan ancaman itu, aku akan pastikan dia mendekam dalam penjara." gumam Rey begitu geram.
Rey menghirup nafas nya dalam-dalam ia pun menyandarkan tubuhnya pada tembok lalu memukul-mukulkan kepalanya pada tembok itu dengan frustasi. Ia sangat takut kehilangan Latya dan kini Rey begitu sadar sekarang di dalam hatinya sudah ada cinta untuk Latya. Cinta yang begitu amat besar kepadanya.
"Latya kamu harus sadar aku tidak mau kehilangan kamu Latya, aku sungguh sangat mencintai kamu." batin Rey.
"Lihat saja aku akan membuat pelaku itu menyesal karena sudah membuat orang yang aku sayangi celaka!" batin Rey semakin mantap untuk mencari pelaku itu.
__ADS_1