Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
kedatangan tamu


__ADS_3

Kini Nisa, Latya tengah berada di bandara bersama juga adam, mengantarkan kedua orang tuanya kembali ke kota kediamannya. Setelah kepergian kedua orang tuanya Latya merasa sangat sedih, rasanya ia ingin mengikuti kedua orang tua untuk pulang dan menjalankan kegiatannya bersama mereka.


Nisa tersenyum melihat Latya. "Kamu jangan sedih begitu dong, kamu nanti bisa pulang kalau magang kamu sudah selesai." ucap Nisa mengelus punggung Latya karena melihat menantunya itu terlihat sedih sekali.


Latya cemberut mendengar ucapan mertuanya itu. "Masih lama dong!" ucapnya seraya memanyunkan bibirnya.


"Gak lama ah, waktu tidak akan terasa jika kita menikmati waktu sebaik mungkin." sambung Nisa menghibur Latya. "Nanti kamu bisa ajak suami mu untuk kesana ya, sekalian liburan itung-itung bulan madu." goda Nisa cekikikan.


Latya menatap Nisa dengan wajah malu nya. "Emmh bunda..." teriak nya pelan.


Nisa semakin cekikikan, Adam yang melihat istrinya terus menggoda mantu nya pun ikut bicara. "Sudah Bun jangan godain mantu kita terus kasihan dia." bela Adam pada Latya.


"Benar tuh ayah, bunda Nisa godain aku terus. Lagian siapa juga mau bulan madu sama batu es. Ooops." ucap Latya tidak sadar langsung menutup mulutnya dengan cepat.


Adam dan Nisa tertawa mendengar ucapan Latya yang menyebutkan anak pertama nya di sebut batu es oleh istrinya sendiri membuat Latya tersenyum kaku, ia merasa jadi tidak enak karena menjelekkan Rey yang sekarang sudah menjadi suaminya itu.


"Maaf bunda.... ayah." lirih nya.


"Haha tidak apa-apa, memang Rey itu sifatnya seperti itu kamu jangan kaget, karena kamu sudah tahu sendiri dari kalian masih kecil dulu." balas Adam menatap Latya.


"Ya sudah ayah mau berangkat, kalian bisa kan pulang sendiri?" ucap Adam.


"Ya sudah kamu berangkat saja, aku dan Latya nanti kita pulang naik taksi online." ujar Nisa.


Mereka pun berjalan keluar dari bandara, Adam berangkat kerja sedangkan Nisa dan Latya menunggu taksi pesanan. Saat mereka menunggu sebuah pesan masuk ke handphone Nisa dan Nisa langsung membacanya.


'Nisa sekarang aku ada di Jakarta, nanti sore aku akan mampir ke rumah mu sebentar!' SMS itu pun di terima oleh Nisa.


Nisa tersenyum setelah membacanya. "Ok baiklah, aku tunggu." balas nya.


Nisa menatap ke arah Latya lalu mengajak nya tersenyum. "Sepertinya sore ini kita akan kedatangan tamu." ujar Nisa memberi tahu Latya.


"Tamu? Siapa bunda?" tanya Latya, ia penasaran.


"Emh nanti bunda akan kenalkan sama kamu ya." ucapnya dan Latya mengangguk.


"Lalu apa kita harus berbelanja untuk menjamu tamu nanti?" tanya Latya.


"Sepertinya ide yang bagus!" pikir Nisa dengan cepat.


Lalu mereka pun langsung berbelanja untuk membeli kebutuhan yang akan mereka butuhkan nanti setelah taksi online nya sudah datang.


***


Sore hari Nisa sibuk dengan menyiapkan masakan untuk tamu yang akan datang, di bantu oleh Latya yang penasaran siapa tamu itu secara bunda Nisa begitu ingin memperkenalkan nya dengan tamu tersebut.


Satu jam sudah masakan mereka pun akhirnya selesai di iringi dengan bunyi nya bel rumah mereka.


"Sepertinya tamu kita sudah datang sayang, coba deh kamu buka pintunya ya bunda mau cuci tangan dulu." ijinnya dan di angguki oleh Via Latya.


Latya berlari kecil menghampiri pintu rumah berniat untuk membuka pintu tersebut.

__ADS_1


"Assalamualaikum." ucapnya terdengar sebuah ucapan salam.


"Wa'alaikumussalam." sahut Latya dari dalam rumah, terdengar juga di luar seperti gumamam suara orang itu artinya tamu yang datang tidak hanya satu orang saja melainkan lebih dari satu orang.


Di bukanya pintu depan itu dan dengan menampilkan senyum manisnya Latya menyambut kedatangan tamu itu.


Saat di bukanya pintu tamu itu pun tersenyum namun sedikit terkejut. "Ini benar kan rumah Nisa." tanyanya.


"Iya benar." jawab Latya dengan masih tersenyum manis. "Silahkan masuk." tawar nya mempersilahkan kedua tamu itu masuk, terlihat satu perempuan berusia seperti bunda Nisa dan satu gadis berusia seperti tak jauh dengan Latya.


"Emh terimakasih." ucapnya lembut.


'Gadis ini siapa ya? Perasaan Nisa hanya memiliki dua anak laki-laki, lalu gadis ini siapa nya Nisa?' pikir nya dalam hati dengan terus memperhatikan Latya dari ujung kaki dan ujung kepala.


Merasa di perhatikan oleh tamu tersebut Latya langsung meminta ijin kepada tamu itu untuk memberitahukan bahwa tamu nya sudah datang kepada Nisa. "Di tinggal dulu sebentar, aku panggil kan dulu bunda Nisa nya ya." ucap Latya tidak sadar.


Tamu itu mengangguk namun merasa heran juga karena gadis di hadapannya ini memanggil Nisa sedang sebutan bunda. "Bunda?" batin nya penuh dengan pertanyaan.


Tak lama Nisa pun datang dengan minuman yang ia bawa dari dapur untuk tamu yang datang itu.


"Hai..." teriak Nisa seraya melangkahkan kakinya dari arah dapur ke arah dua tamu yang sedang duduk manis itu.


"Hai Nisa.... sumpah aku kangen banget sama kamu." sambutnya dengan senang seraya berdiri dari tempat ia duduk.


"Hai Rahma udah lama banget ya kita gak ketemu, terakhir kalinya kita ketemu pas jaman kita kuliah dulu." ucap Nisa antusias.


"Iya aku juga kangen sama kamu Nisa, apa kabar kamu? Makin cantik aja deh kamu." pujinya.


"Kabar ku baik alhamdulilah, bisa aja kamu, kamu juga cantik banget sekarang udah kayak bule hahaha." goda Nisa dan Rahma pun ikut tertawa.


"Halo Maura, saya tante Nisa sahabat Rahma waktu kita kuliah dulu." Nisa pun memperkenalkan dirinya pada Maura.


"Maura tante." jawab nya dengan membalas uluran tangan Nisa lalu mencium punggung tangan Nisa.


Nisa tersenyum melihat gadis di hadapannya ini ia merasa mengingatkan nya pada seseorang yang mungkin pernah ia lihat sebelumnya, namun Nisa tidak mengingat siapa orang yang mirip dengannya itu.


"Oh ya tadi ada gadis yang bukain pintu, dia siapa?" tanya Rahma penasaran.


Nisa agak sulit untuk menjawab, ia bingung jika ia mengaku gadis itu menantunya maka pernikahan Rey dan dan Latya akan di ketahui, padahal belum saatnya orang tahu soal pernikahan anaknya itu. "Emh... oh dia Latya anak dari sahabat kecil aku." jawab Nisa.


"Oh, tapi tadi aku denger dia panggil aku bunda, sedekat itu kalian berhubungan?" tanyanya lagi semakin penasaran.


"Iya deket malah aku anggap anak sendiri, dia itu dari kecil sudah sangat dekat dengan keluarga kita, sekarang dia lagi magang di sini makanya untuk sementara tinggal di sini dulu." ujar Nisa menjelaskan kenapa Latya ada di sini.


'Maaf Latya sayang bunda harus tutupi identitas kamu dulu sebagai menantu bunda.' batin Nisa tidak enak.


"Oh gitu, pantesan tadi aku kaget, gue kira salah rumah, setahu aku kan anak-anak kamu itu laki-laki kayak anak kamu." pikirnya.


"Oh ya anak kamu mana?" tanya Nisa merasa di ingatkan.


"Anak aku gak mau ikut dia masih di luar." jawab Rahma cepat.

__ADS_1


"Emh tante boleh tidak aku pinjam toilet nya, aku mau kebelakang." ijin Maura dengan sopan.


"Emh boleh, toiletnya di sana ya." tunjuk Nisa pada arah dimana toilet berada.


Maura pun mengikuti arah kemana telunjuk Nisa. "Iya, aku ke toilet dulu ya tante." ijinnya mengarah pada arah Rahma dan di iyakan oleh Rahma.


Setelah kepergian Maura ke toilet nisa yang dari tadi penasaran ingin tahu siapa gadis yang bersama sahabatnya itu pun langsung bertanya.


"Rahma, Maura itu siapa kamu, calon mantu?" tanya Nisa aneh-aneh saja.


"Hahaha bukan, laa masa iya anak ku masih sekolah udah mau aku nikahin sih!" ucapnya merasa lucu dengan pertanyaan Nisa barusan. "Maura itu ponakan ku Nisa...anak nya om aku, om Rangga. Kamu pasti tahu dong om Rangga laki-laki yang dulu tergila-gila sama kamu." goda Rahma dengan cekikikan.


Nisa terkejut jika gadis yang ia kenalkan dari Rahma itu adalah anak dari Rangga, laki-laki yang pernah berurusan dengan suaminya itu. "Shuuut jangan bahas itu gak enak ntar ada yang denger ah." cegah Nisa merasa risih jika masa lalunya di ungkit. "Pantas saja aku merasa gak asing lihat wajah Maura, tapi hanya sedikit dia mirip sama pak Rangga?" ujarnya.


"Iya Maura lebih mirip pada ibunya, mbak Axel." sambung Rahma lirih.


"Axel? Jadi istri pak Rangga Axel, pantas saja aku lihat Maura itu mengingat aku sama Axel tunangan pak Rangga, yang pernah ketemu waktu itu." tutur Nisa semakin jelas.


"Kamu tahu mba Axel?" tanya Rahma penasaran kok bisa Nisa tahu.


"Tahu, waktu itu aku ketemu sama dia di tempat super market yang pak Rangga miliki, aku lagi hamil Rey waktu itu dan gak sengaja aku ketemu pak Rangga, dan saat itu Axel datang, dia sempat salah paham juga sih karena pak Rangga ajak aku ngobrol." singkat Nisa bercerita saat pertemuan nya dengan Axel.


"Emh gitu ya aku baru tahu, tapi sayang Nisa rumah tangga om Rangga tidak berjalan lancar, mereka bercerai saat setelah Maura dilahirkan. Dan sampai sekarang om Rangga masih aja betah sendiri, menduda bertahun-tahun. Padahal kita sering suruh dia buat nikah lagi cari istri supaya ada yang mengurus nya, tapi tetep aja dia gak mau, ya alasannya sih simpel karena Maura." ujar Rahma menceritakan kisa hidup Rangga yang miris.


"Karena Maura?" tanya Nisa bingung.


Rahma mengangguk. "Iya Maura, aku kasihan sama ponakan ku Nisa, dia itu sudah tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu dari kecil, dia juga memiliki penyakit bawaan dari semenjak ia di lahirkan." lirih Rahma dengan sesekali ia melihat ke arah toilet takut keponakan nya itu mendengar pembicaraan antara dia dan juga Nisa.


"Makanya om Rangga bersusah-payah untuk menjaga Maura supaya dia tidak merasa kesepian dan membuat dia selalu bahagia, apapun itu akan dia lakukan, karena om aku sayang banget sama Maura. Apalagi dengan kondisi tubuh Maura yang lemah yang bisa saja sewaktu-waktu Maura dalam kondisi tidak baik, dokter sih nyaranin jangan sampai Maura sedih dan juga terkejut, karena itu akan membuat tubuh nya tidak bersemangat dan itu yang akan membuat dia dalam bahaya." ujar Rahma menjelaskan.


Nisa manggut-manggut tanda jika ia mengerti maksud Rahma. Saat itu pun Maura sudah terlihat menghampiri Nisa dan juga Rahma yang sedang berbicara. Bersamaan Latya yang beres mandi pun ikut gabung bersama Nisa dan juga kedua tamu nya. Setelah saling memperkenalkan diri tak lama terdengar suara mesin motor terdengar.


Latya melihat ke arah luar dengan posisi yang masih duduk bersama Nisa di sampingnya. "Itu kayak nya bang Rey deh Bun." ucap Latya memberi tahu pada Nisa.


"Iya sepertinya itu Rey, coba kamu lihat sana!" titah nya agar Latya menyambut kedatangan suami saat pulang bekerja.


Latya pun mengikuti apa yang di perintahkan oleh Nisa setelah meminta ijin keluar pada Rahma dan juga Maura. Dan Rahma sedikit aneh namun ia tidak peduli karena mungkin Latya memang sudah sangat dekat.


Latya kini berada di depan pintu menyambut kedatangan Rey. Agak ragu dan juga malu Latya menarik tangan kanan Rey lalu mencium punggung tangannya itu. Rey tidak keberatan dia ulurkan tangan nya membiarkan istri kecilnya itu. Latya tersenyum saja mereka begitu masih canggung.


Latya dan Rey masuk beriringan, menghampiri orang yang berada di ruang tamu.


"Rey kenal kan ini tante Rahma sahabat bunda, dan gadis yang ada di sampingnya itu Maura keponakan tante Rahma." ujar Nisa memperkenalkan sahabat dan juga keponakan nya.


Rey mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Rahma dan juga Maura. Maura melihat Rey untuk pertama kalinya, ia sangat terpesona melihat Rey yang tampan dan berseragam polisi yang sangat rapi dan juga gagah, menatap Rey dengan penuh kekaguman saat ia berjabat tangan dengan tantenya itu, begitu sangat dekat sampai wajah Rey yang tampan terlihat sangat rupawan.


Latya yang berdiri di samping Rey dan melihat bagaimana ekspresi Maura melihat suaminya itu dengan begitu terpesona.


Latya melirik ke arah Rey yang terlihat cuek saja, dan di lirik nya ke arah Maura yang masih menatap Rey.


Dengan menampilkan senyuman termanisnya Maura membalas uluran tangan Rey dengan manisnya ia menyelipkan rambut ke belakang telinga nya dan terlihat malu-malu. "Maura." ucapnya dengan begitu lembut membuat Latya tersenyum malas melihatnya.

__ADS_1


'Sepertinya dia menyukai bang Rey, terlihat sekali dari tatapan nya.' batin Latya merasa tidak suka.


'Eh Kenapa aku jadi kesal begini ya!' batin nya setelah ia sadar karena ia merasa tidak suka jika ada yang menatap Rey seperti itu.


__ADS_2