Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
preman suruhan


__ADS_3

Saat di perjalanan Latya yang masih cemberut karena Rey selalu saja merebut jajanan yang ia beli untuk Latya.


"Kamu kenapa?" tanya Rey melirik Latya yang diam saja.


"Sebel." sahut nya.


"Hemm sebel kenapa?" Rey berpura-pura tidak tahu.


"Tahu ah!" jawabnya.


Rey tersenyum. "Marah karena makanan nya Abang makan?"


Latya mendengus kesal. "Huh baru sadar!"


"Abang sadar kok gak ilang ingatan." goda nya membuat Latya semakin cemberut.


Saat mereka berdebat tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan orang-orang yang datang menghadang mobil yang Rey bawa. Sekitar lima orang dengan menggunakan motor. Ada yang mencoba memepet mobil Rey dan ada yang terus mencoba menghalangi.


"Shit! Cari masalah mereka!" umpat Rey kesal karena mereka terus saja mengganggu perjalanan Rey dan Latya.


"Abang kenal sama mereka? Apa mereka musuh Abang? Abang punya musuh?" rentetan pertanyaan itu Latya lontarkan dengan nada panik karena melihat orang-orang itu seperti para preman apalagi jumlah mereka lebih banyak.


"Abang gak kenal sama mereka." jawab Rey cepat.


"Tapi kenapa mereka mengejar mobil kita? Abang aku takut!" Latya semakin ketakutan para preman itu terus saja memepet mobil yang Rey kendarai.


"Berhenti elu!" teriak para preman itu, Rey masih dengan kendaraan yang melaju cepat.


"Kamu pegangan Latya!" titah Rey.


"Abang jangan ngebut aku takut!" teriak Latya ketakutan.


"Shit! Mereka mau apa sih?" kesal Rey.


"Abang mereka semakin dekat!" kata Latya melihat kebelakang dan para preman itu semakin dekat.


"Kamu ambil handphone Abang dan cari nomor Andre!" titah nya pada Latya.


"Handphone Abang di simpan dimana?" tanya Latya bingung.


"Di saku celana." jawabnya seraya menundukkan wajahnya ke arah saku celana.


Latya mendengus. "Kenapa Abang simpan handphone di situ sih!" omel Latya.


"Aduh Latya ini bukan waktunya untuk berdebat!" kesal Rey. "Buruan ambil lalu cari nomor Andre." ucapnya cepat.


"I...iya." sahut Latya.


Dengan ragu dan takut Latya mencoba mengambil handphone Rey yang berada di saku celananya itu.


"Ayok Latya buruan!" teriak Rey tidak sabar.


"I...iya sebentar!" ucapnya gugup.


"Kenapa sih kamu lama banget, Abang lagi nyetir makanya nyuruh kamu untuk ambil handphone Abang." jelasnya karena istrinya itu tidak mengambil handphone yang Rey suruh.


Karena Rey terus saja menyuruh Latya mengambil handphone nya itu mau tidak mau Latya pun mengambil handphone itu di dalam saku celana yang Rey pakai.


Karena saku Rey itu agak dalam dan sempit otomatis handphone yang ada di dalam nya itu sangat sulit untuk Latya ambil.


"Aduh Abang susah banget sih ambil nya!" kesal Latya.

__ADS_1


"Ya ampun Latya mana bisa handphone itu ke ambil kalau tangan kamu nya saja cuma setengah aja masuk ke dalam saku!" Rey semakin tidak sabar dan semakin kesal karena Latya terlihat ragu-ragu. "Jangan mikir macam-macam. Buruan ambil sekarang!" titah nya.


Tanpa pikir panjang lagi Latya yang merasa terpepet pun langsung memasukkan tangannya pada saku celana Rey yang ketat dan dalam apalagi posisi Rey yang sedang duduk. Latya memasukkan tangannya itu dan mencoba meraih handphone Rey, namun saat akan menarik handphone itu Latya tidak sengaja menyentuh barang pusaka Rey.


"Bukan yang itu Latya!" cegah Rey dengan gelak tawanya. "Abang suruh kamu tarik handphone nya bukan tarik barang pusaka Abang." seru Rey menggoda Latya di tengah kepanikan, ada saja cerita menggelikan.


"Ih aku gak sengaja." ucap Latya menarik tangan nya yang ada di saku celana Rey lalu menonjok lengan Rey. "Abang ambil sendiri aja lah!" titahnya kesal. Karena merasa panik dan terburu-buru Latya menyentuh barang keramat itu.


"Aduh kamu gak lihat Abang lagi nyetir! kita masih di kejar preman itu. Buruan ambil!" titah Rey seraya serius mengendarai mobil dengan kecepatan yang tinggi.


Dengan mantap dan tanpa ragu Latya mencoba kembali mengambil handphone itu dan akhirnya bisa juga handphone itu di tangan Latya. Setelah handphone sudah di tangan Latya langsung mencari nomor Andre dan menelponnya.


"Aduh bang Andre gak di angkat-angkat!" ucap Latya kesal.


"Coba hubungi dia terus, bilang kita butuh bantuan." ucap Rey tegas.


"Eh berhenti elu!" teriak para preman itu.


"Shit! Mobil gue rusak!" umpat Rey. Masih bisa-bisanya dia memikirkan keadaan mobil nya itu.


"Dre kemana aja sih elu, gue butuh bantuan elu sekarang gue lagi di jalan xxxx gue di kejar sama para preman!" teriak Rey saat panggilan pada Andre sahabat nya di jawab oleh Andre.


"Ah seriusan elu, ya udah ntar gue sama yang lain kesana!" jawabnya di seberang sana.


Para preman itu berhasil membuat mobil Rey berhenti. "Ah sial!" kesal Rey. "Mereka ini mau apa sih?" heran Rey.


"Keluar elu!" teriak preman itu seraya menggedor kaca mobil.


"Jangan bang Rey bahaya!" cegah Latya panik.


"Buka!" titah nya dengan muka galak.


"Tapi bang!"


"Abang akan hadapi mereka kamu cari bantuan." ucap Rey dan di angguki oleh Latya dengan pelan.


"Hati-hati bang." Latya khawatir.


Rey pun keluar dengan segenap keberanian yang ia miliki, menghadapi lima preman yang ada di hadapannya.


'Ada urusan apa mereka sama gue?' batin Rey.


"Heh, elu polisi yang namanya Rey?" tanyanya begitu bengis.


"Ya itu gue." jawab Rey tanpa takut.


"Gue kasih peringatan sama elu ya. Hentikan penyelidikan kasus yang sedang elu tangani!" ucapnya.


'Oh jadi ini ada hubungannya dengan kasus yang sedang gue jalani.' batin Rey dengan senyum sinis menatap satu persatu pada wajah para preman itu.


"Apa kalian tidak takut, kalian ini sedang mengancam seorang polisi?" tanya Rey santai namun serius.


Cuih! Preman itu meludah. "Untuk apa kami takut! Gue ingetin sama elu jangan pernah lagi menyelidiki kasus pembunuhan atas nama Rangga!" ucapnya penuh ancaman.


"Kenapa? Gue tekankan sama elu semua gue gak akan mundur. Gue seorang polisi, tugas gue adalah menangkap para penjahat seperti kalian semua ini!" ucap Rey tanpa ada rasa takut. "Gue gak akan membiarkan para penjahat bahagia di luar sana karena perbuatannya." sambung nya.


"Sombong elu!" ucapnya geram. "Hajar dia!" perintah nya pada rekannya.


Bag bug bag bug. Rey dan para preman itu saling adu jotos. Latya yang melihat perkelahian di depan matanya itu berteriak, dia tidak bisa diam begitu saja, ia terus saja meminta bantuan namun Andre tak kunjung datang.


Latya keluar dari mobilnya karena melihat Rey hampir kalah karena jumlah mereka tak sebanding dengan Rey, Rey memang memiliki ahli bela diri, namun jika di keroyok seperti itu ia pun tidak akan kuat untuk melawan.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruh kalian hah?" geram Rey di tengah kesakitan nya.


"Elu gak usah tahu!" jawab preman itu dengan senyum sinis nya.


"Yang pasti kita akan bikin elu terancam jika elu masih bersikeras untuk melanjutkan penyelidikan itu." ancam nya.


Rey tertawa sinis. "Gue gak takut sama ancaman elu semua!"


Bug.. pukulan itu terus mengenai tubuh Rey.


"Bang Rey!" teriak Latya. "Jangan sakiti dia!" ucap Latya tegas.


"Wow ada perempuan cantik rupanya di sini!" goda preman itu menatap ke arah Latya.


"Jangan sakiti bang Rey!" teriak nya.


'Aduh Kenapa Latya keluar dari mobil?' kesal Rey pada Latya.


Preman itu masih saja menggoda Latya, namun karena Rey sudah mulai lemah dan sepertinya dia juga tidak akan menang melawan mereka yang jumlahnya lebih banyak.


Dengan cepat Rey bangun. "Latya lari!" titahnya, sedangkan Rey terus berusaha untuk melawan para preman itu. "Ayok Latya cepat selamat diri kamu!" teriak Rey.


Latya pun dengan ragu dan takut serta khawatir melihat suaminya babak belur seperti itu mau tidak mau dia harus menyelamatkan dirinya dari para preman itu.


Salah satu preman itu pun mengejar Latya kemana pun dia berlari. Dengan takut Latya terus berlari agar jangan sampai tertangkap. Kini dia masuk ke sebuah gudang kosong, untuk bersembunyi dari para preman yang mengejarnya.


Latya bersembunyi di sebuah ruangan gelap dimana hari itu sudah masuk sore. Rasa takut yang ia rasakan saat ini. Dia tidak menyangka jika dirinya akan mengalami kejadian seperti ini. Dia takut juga bagaimana keadaan Rey disana.


Saat Latya bersembunyi tiba-tiba ada tangan membekap mulutnya dan menarik tubuh nya dengan cepat untuk masuk ke dalam ruangan sempit dan gelap membuat Latya memberontak untuk bisa terlepas dari orang yang membekap nya itu. Latya berteriak namun karena mulutnya di bekap jadi tidak ada suara yang keluar.


Saat akan berteriak kembali tiba-tiba orang yang membekap itu maju ke depan menghadap ke tubuh Latya yang di depan nya. "Ini Abang." bisik nya dengan jari ia tempelkan di bibir Latya yang mulai pucat.


Latya merasa lega karena yang membawanya adalah Rey. Terdengar sayup-sayup suara para preman itu.


"Kemana mereka? cari di semua ruangan!" terdengar seperti itu.


Kini posisi Rey dan Latya bersembunyi, berada di tempat yang sangat sempit hanya cukup satu orang sebentar, namun karena mereka berdua supaya tidak terpisah dan menghindari dari preman itu mau tidak mau mereka harus bersembunyi disana.


Posisi mereka saat ini saling berhadapan bahkan berdempetan, tubuh Latya yang kecil hampir tertutup oleh tubuh Rey yang tinggi. Bahkan detak jantung mereka pun sama-sama saling terdengar. Deru nafas mereka saling menghangatkan, karena begitu dekat nya. Ruangan sempit itu membuat tubuh mereka saling menempel, bahkan dada Latya kini menempel di tubuh Rey yang berdiri di depannya. Karena tidak ada celah untuk mereka.


Rey mendekap tubuh mungil istrinya itu, ada rasa khawatir jika sampai istrinya itu tidak bisa ia jaga. Preman itu masih terdengar suaranya di sana membuat Latya memeluk Rey, dia sungguh takut akan kejadian ini. Apalagi melihat wajah Rey yang ada di hadapannya itu babak belur. Rey merasa Latya merasa ketakutan dia pun memeluk Latya dengan erat. Ia akan menjaga istrinya dengan segenap jiwa nya dan memberikan keamanan pada Latya.


pemanis


ini Latya





ini Rey




o


__ADS_1


__ADS_2