Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku

Kakakku Polisi Ku Kakakku Suami Ku
penyesalan


__ADS_3

"Bagaimana dok?" tanya Rahma saat dokter keluar dari ruangan dimana Maura di tangani.


"Pasien sudah sadar, namun untuk saat ini saya belum bisa memberikan informasi tentang keadaan pasien, karena saya akan mengecek kembali keadaan nya. Di khawatir kan jika pasien mengalami hal yang serius, menurut penuturan pasien kepalanya tadi sempat terkena mobil yang menabraknya. Tadi saya sudah menyuruh pasien untuk beristirahat dulu." ujar dokter menjelaskan keadaan Maura saat ini.


"Terima kasih dok, saya harap tidak ada hal yang serius mengenai keadaan keponakan saya itu." ucap Rahma penuh harap.


"Iya semoga saja ya Bu, kita berdoa saja supaya tidak ada yang serius di bagian kepala pasien." jawab dokter menenangkan.


"Ya semoga saja." sahut Rahma pelan.


Setelah kepergian dokter itu, Rahma pun menghela nafasnya panjang. Lalu menatap Rey dengan tatapan sulit di artikan. "Rey, Tante harap kamu bersikap baik pada Maura, karena Maura mengalami kecelakaan ini gara-gara menolong kamu." ucap Rahma tegas.


Rey tersenyum sinis. "Ya saya akan membalas Budi saya pada Maura karena saya juga tahu diri." balas nya. "Walaupun sebenarnya saya lebih baik mengalami kecelakaan supaya saya tidak usah membalas Budi." ucapnya pelan namun jelas sekali terdengar oleh Rahma.


"Apa maksud kamu Rey?" tanya Rahma tidak mengerti.


"Tidak ada maksud tante." balas Rey sedikit geram.


"Oh ya tante, karena Maura sudah sadar dan juga Maura sedang istirahat, saya mau pamit, masih ada tugas yang belum saya kerjakan." pamitnya meminta ijin pada Rahma. "Besok jika saya tidak sedang ada tugas saya akan melihat keadaan Maura lagi." tambahnya.


"Kamu tidak mau menunggu Maura?" tanya Rahma.


"Maaf tante saya tidak boleh mangkir dari tugas negara." balas nya tegas. "Permisi Tante." sambung nya menatap Rahma dan juga Faris yang masih setia menunggu Rahma di sampingnya.


"Ya." balas Rahma pasrah karena pekerjaan Rey sebagai polisi yang tidak bisa ia tinggalkan.


Di perjalanan, Rey yang menuju tempat dimana rekannya masih berada di tempat kejadian kecelakaan tadi, terlihat rekan nya itu tengah mengamankan pelaku yang menabrak Maura.


"Jadi ini orang yang sudah menabrak Maura?" tanya Rey pada rekan nya itu.


"Iya Rey, elu udah beres bawa korban ke rumah sakit? Namanya Maura? Gimana keadaan pasiennya?" tanya rekan Rey.


"Iya nama dia Maura, Tadi sih dokter bilang pasien sudah sadar tapi gue belum dapat informasi lagi, dokter akan mengecek kembali kondisinya besok." ujar Rey menjelaskan.


"Elu kenal sama tuh korban? Kok bisa tahu nama nya Maura?" tanya rekan nya penasaran.


"Enggak, gue tahu dari keluarga korban tadi udah pada datang ke rumah sakit." kilah Rey malas.


*

__ADS_1


*


*


"Bang kenapa sih?" tanya Latya merasa khawatir suamiku itu gelisah dari tadi saat ia memperhatikan nya.


"Hemm gak apa-apa." sahut nya cepat.


"Sini." ajaknya seraya menepuk-nepuk kasur di sampingnya.


Latya menuruti keinginan suaminya. Duduk di samping yang ia tepuk tadi. Latya tersenyum dengan manis membuat Rey pun membalas senyuman itu.


"Sayang." panggil nya lembut seraya menyelipkan rambut Latya ke belakang telinga nya. "Tadi ada kejadian yang membuat Abang hampir di tabrak orang." terang nya.


"Di tabrak? Apa ada yang lecet, Abang gak apa-apa kan?" tanya Latya cemas seraya meraba semua tubuh Rey takut jika ada yang lecet.


Rey tersenyum. "Abang gak apa-apa, seperti yang kamu lihat, sehat walafiat kan." jelasnya dengan riang.


"Lalu?" tanya Latya bingung.


"Maura yang menyelamatkan Abang dari kecelakaan tadi, dan kamu tahu, Maura tertabrak sampai tadi dia tidak sadarkan diri, sekarang Maura masuk rumah sakit dan di rawat di sana." jelas Rey lembut menceritakan apa yang terjadi hari ini padanya.


"Hah." Latya membuang nafas nya kasar. "Sekarang Abang mulai terenyuh dengan perbuatan Maura itu?" tanyanya mencoba tegar.


"Hemm jangan cemburu, cinta abang hanya untuk kamu seorang." balas nya seraya menarik tubuh istri kecilnya dalam pelukannya dengan begitu erat.


*


*


*


Hari ini Rey pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Maura dan ingin tahu juga bagaimana keadaan Maura. Apa kecelakaan parah atau tidak, namun saat akan berangkat Rey di cegah oleh bundanya, ia tahu jika Maura kecelakaan, kabar itu ia dengar dari Rahma yang kemarin menceritakan bagaimana kecelakaan itu terjadi. Nisa berniat untuk mengucapkan rasa terima kasih nya.


"Rey kamu hari ini mau ke rumah sakit kan, bunda ikut ya sekalian bunda juga mau jenguk Maura di rumah sakit." ujar Nisa.


"Bunda tahu darimana Maura di rumah sakit?" tanya Rey heran dia belum bercerita tapi bunda nya sudah tahu kabar ini.


"Kemarin tante Rahma telpon bunda dan bilang kalau kamu pergi meninggalkan Maura di rumah sakit. Bunda jadi gak enak sama tante Rahma, karena cerita yang bunda dengar Maura kecelakaan karena menolong kamu, sedangkan kamu malah pergi, ya walaupun kamu memang pergi untuk bertugas." balas Nisa merasa tidak enak hati.

__ADS_1


Rey mendengus sebal. "Ya makanya sekarang Rey mau jenguk Maura di rumah sakit." balas Rey.


"Ok kalau begitu ayok kita berangkat!" ajak Nisa seraya menaiki mobil yang akan di bawa oleh Rey.


Rey menghela nafasnya. Ntah kenapa hatinya tidak tenang, kalau saja kecelakaan ini tidak terjadi mungkin saat ini sebisa mungkin Rey tidak akan bertemu dengan Maura, ini demi hubungan nya dengan istrinya yaitu Latya.


Tinggal beberapa bulan lagi Rey mendapatkan ijin untuk bisa menikah, menunggu masa itu Rey merasa waktu begitu lambat, ia ingin segera menjadikan Latya istrinya yang di akui tidak hanya oleh agama tapi oleh negara dan juga kantor dimana Rey bertugas.


"Bun apa ayah tidak bisa menyegerakan pernikahan aku bersama Latya menjadi pernikahan yang sah secepatnya?" tanya Rey pada bundanya.


"Ya gak bisa lah Rey, beberapa bulan lagi kan, tunggu aja sih, Kenapa memang?" tanya Nisa penasaran. "Hemm buru-buru begitu?" tanyanya lagi.


"Ya biar bisa tenang aja gitu, kalau orang tanya kan aku bisa jawab dan membuktikan nya pada orang." jelas keinginan Rey.


"Memang selama ini ada orang yang bertanya tentang hubungan kalian?" tanya Nisa lagi. "Perasaan bunda, tante Rahma saja yang pernah bertanya hubungan kalian, selain dia tidak pernah ada yang bertanya karena mereka tahu jika Latya hanya tinggal sementara dan mereka pun tahunya jika Latya masih kerabat kita." sambung nya.


"Justru Rey ingin memperlihatkan surat nikah itu pada tante Rahma." balas Rey datar dengan masih fokus pada jalanan.


"Untuk apa Rey tante Rahma tahu kok kalau kamu itu sudah bertunangan dengan Latya." ujar Nisa.


Rey menghela nafasnya panjang. "Bunda tidak tahu saja tante Rahma itu selalu mendekatkan Rey dengan Maura." ucap Rey memberi tahu Nisa.


Nisa membetulkan perkataan Rey. "Iya kamu benar, tapi bunda sudah bilang jika kalian memang sudah lama memiliki hubungan, bunda rasa tante Rahma sudah mengerti." sahut Nisa.


"Belum Bun, sampai sekarang tante Rahma masih mendekatkan Maura, bunda tahu tante Rahma sudah mengancam Latya untuk menjauhi Rey. Dan Rey tidak terima Bun memang tante Rahma siapa aku!" Rey kesal dengan bersungut-sungut.


"Mengancam bagaimana maksud kamu Rey? Mana mungkin Rahma seperti itu." ucap Nisa tidak percaya.


"Kamu tahu darimana jika Rahma mengancam Latya?" tanyanya dengan selidik.


"Latya sendiri Bun, kemarin dia baru cerita sama Rey, Rey gak habis pikir kenapa tante Rahma begitu memaksa, Rey tahu jika hidup Maura memang menyedihkan, tapi tante Rahma gak ada hak untuk memaksa Rey agar mencintai Maura." terang Rey tidak terima.


"Apalagi aku sudah menikah dengan Latya." sambung nya.


"Bunda nanti yang akan bicara pada tante Rahma." ucap Nisa tegas setelah tahu apa yang terjadi selama ini pada anak-anak nya.


"Ya aku harap setelah bunda meyakinkan tante Rahma, dia bisa terima jika hidup Rey tidak bisa di paksa!" ucap Rey kesal.


Nisa terdiam ia merasa tidak bisa mengambil keputusan sebelum tahu yang sebenarnya. 'Kenapa Rahma melakukan hal itu, Rey anakku!' kesal Nisa saat ia tahu cerita seperti itu dan ia akan merasa kecewa jika itu benar.

__ADS_1


__ADS_2